
"Mawan bilang ruangan pertama di sebelah kiri adalah sebuah gudang minuman, ruangan kedua adalah kantor pimpinan, dan berseberangan dengan ruangan itu Mawan tak mengetahui isinya" ucap Bayu sedikit berbisik, lorong itu nampak samar dengan penerangan minim dari pendaran lampu kecil berwarna kuning.
"Itu jika kita lewat pintu di bar. Sedangkan kita lewat pintu keluar saat Mawan berusaha pergi dari sini. Berarti ruangan pertama di sebelah kanan kita adalah kantornya, kak" kata Lia.
"Kau benar, Lia. Apa perlu kita masuk ke kantor itu?" tanya Bayu.
"Sepertinya tidak perlu kak. Kita hanya butuh untuk menemukan tempat mama dan segera menyelamatkan mama, itu prioritas kita" jawab Lia.
"Menurutku tante Vivi tak ada di ruangan manapun di lantai ini. Karena penyekapan butuh ruangan khusus yang tidak diketahui orang lain, bukan" pendapat Bayu ada benarnya.
Lia memberhentikan langkahnya dan menelisik semua ruangan di sana. Dan dia menemukan apa yang dicari.
"Kenapa Lia?" tanya Bayu.
"Ada tangga darurat di dekat kakak. Kita lewat tangga ini saja" kata Lia.
"Apa kau yakin ingin ke lantai atas?" tanya Bayu.
"Aku yakin" jawab Lia.
Bayu mengangguk, tangannya masih menggenggam erat tangan Lia saat menaiki satu per satu anak tangga yang terbuat dari besi itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi yang nyaring.
Perlahan mereka menapakinya, hingga mulai terlihat sebuah lorong yang berhadapan dengan semacam laci besar dengan kunci yang tergantung. Tempat dimana Junet melarikan diri.
Bayu dan Lia meneruskan langkahnya. Rupanya hanya ada satu pintu disana, dan sebuah toilet di dekat mereka berdiri sekarang.
"Kita masuk ke ruangan itu?" tanya Bayu.
"Iya kak" jawab Lia.
Keduanya berjalan pelan, berusaha mendekati satu-satunya ruangan besar di lantai ini. Kiranya apa isi ruangan itu.
Sampai di dekat pintu, Bayu mendekatkan telinganya ke daun pintu. Berusaha untuk mendengarkan jika ada orang di dalam sana. Tapi nihil, pria itu tak mendengarkan apapun.
"Sepertinya tidak ada orang di dalam sini" bisik Bayu yang merasa bertambah khawatir.
"Apa kita masuk saja?" tanya Lia.
Bayu mengangguk, memegang handle pintu yang ternyata terkunci.
"Dikunci" kata Bayu.
"Pakai ini saja" ucap Lia sambil melepaskan jepitan rambut kecil dari kepalanya.
"Cara klasik, semoga saja masih berhasil" ucap bayu dengan senyum kecil.
Tapi dia mencobanya juga. Memasukkan jepitan rambut itu ke dalam libang kunci dan berusaha memutarnya. Namun berkali-kali mencoba tetap saja Bayu tak bisa membukanya.
Hingga suara derap langkah kaki dari beberapa orang yang terdengar mendekat, membuat Bayu dan Lia segera berlari untuk mencari tempat persembunyian.
Ruangan besar itu nampak lengang dengan sedikit properti, membuat keduanya kesulitan dalam mencari tempat.
Disaat genting, tak sengaja lengan Bayu menyenggol laci besar yang tadi mereka lewati hingga membuatnya terbuka.
Setelah keduanya beradu pandang dalam beberapa saat, seolah mengerti telepati, mereka masuk ke dalam laci kayu besar itu yang di dalamnya terdapat banyak sekali saklar dan kabel yang berwarna-warni.
"Pusat listriknya ada disini" bisik Bayu di dalam ruangan sempit itu.
__ADS_1
Lia hanya bisa mengangguk dan berdiri agak berjongkok karena tinggi ruangan itu mungkin hanya sekitar satu setengah meter saja.
Hati Bayu berdesir hebat saat tubuhnya berposisi terlalu rapat begini dengan Lia. Meski keadaan sangat genting, Bayu malah merasa bahagia.
Dia malah berdoa dalam hatinya adar Tuhan sedikit memperlambat waktu yang berjalan. Bayu masih ingin berada di posisi itu bersama Lia.
Tak jauh berbeda dengan Bayu, posisi Lia yang berada di depan Bayu membuatnya bisa merasakan hembusan nafas Bayu di bahunya yang tertutupi kaos tipis.
Terasa agak panas dan beraturan. Punggungnya yang menempel di dada Bayu juga membuat Lia merasa agak risih. Tapi kondisi yang darurat membuat Lia berusaha diam dan lama kelamaan diapun merasa nyaman juga.
"Ah sial! Jangan sampai Lia merasakan detakan jantungku yang tidak normal" keluh Bayu dalam hatinya dengan pandangan lekat pada gadis yang sangat dicintainya itu.
Langkah kaki yang berderap terdengar sampai ke depan laci besar dimana Lia dan Bayu bersembunyi.
Dalam keremangan ruangan, netra Bayu dan Lia masih sempat beradu pandang dan mengerti jika harus tetap diam.
Entah bagaimana bisa, dalam keadaan fokus berdiri malah membuat Lia hampir terjatuh.
Reflek tangan Bayu melingkar di perut Lia untuk menahannya. Sedikit terkejut, Lia yang hampir jatuh dengan posisi menungging malah membuat pant*tnya menempel di pangkal paha Bayu.
"Ah sial" gumam Bayu dalam hati sambil berusaha menetralkan dirinya dan memejamkan mata dengan tangan masih melingkar di perut Lia.
"Oh, sorry" kata Lia dengan gerakan bibirnya yang mengerti jika posisi itu membuat Bayu merasa sangat tidak nyaman.
Lia yang berusaha berdiri dengan memegang dinding tak sengaja menekan salah satu saklar disana hingga membuat beberapa lampu di bar menjadi padam.
"What's going on?" keluh Johan yang ditinggal terlalu lama oleh kedua temannya yang pergi ke toilet.
Lampu bar yang padam itu berada tepat diatas meja Johan hingga membuat pria bule itu menggeleng tak suka.
"Perbaiki segera" bentak Johan pada siapapun yang dia yakini adalah pegawai disana.
"****! Kemana Lia dan si brengsek Bayu itu" kekesalan Johan dilampiaskan dengan menenggak alkoholnya dalam satu kali tegukan.
Tentu tenggorokan Johan terasa terbakar hingga membuat pria itu memejamkan matanya sebentar sampai tenggorokannya terasa lebih baik.
"Kenapa lampunya tak menyala juga?" teriak Johan gemas, ingin sekali dia menghancurkan tempat itu.
Rasa kesalnya dia lampiaskan dengan melemparkan sebuah gelas kaca kosong bekas minumannya hingga membuat keadaan ricuh.
Rasa lelah setelah perjalanannya dari Singapura, tiba-tiba Johan diminta ikut untuk dibiarkan sendirian di dalam bar membuatnya merasa agak kecewa.
Kericuhan itu membuat perhatian pegawai tertuju pada Johan.
"Ada apa?" tanya Ery yang sudah duduk sejak beberapa menit di singgasananya.
"Pengunjung baru membuat ulah" jawab pengawalnya.
"Kenapa sampai berulah?" tanya Ery lagi.
"Lampu yang berada tepat diatas kepalanya padam. Tapi sudah ada yang ditugaskan untuk mencari teknisi agar menghidupkan lampunya kembali. Pria itu terlihat marah" jawab pengawalnya.
"Apa dia pelanggan kita?" tanya Ery lagi.
"Bukan. Sepertinya orang baru. Karena hanya dia satu-satunya bule yang mengunjungi bar ini" jawab pengawal Ery.
"Bule?" tanya Ery menegaskan.
__ADS_1
"Ya" jawab pengawalnya.
Rasa hati Ery mulai tak karuan mendengar anak buahnya menyebut kata 'Bule'. Ery takut jika pria yang disebutkan itu adalah Johan. Sementara dia sendiri belum menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan putranya dalam keadaan seperti ini.
Maksudnya dengan dandanan menor khas wanita penghibur dengan pakaiannya yang juga sangat minim bahan. Ery takut jika nantinya Johan akan semakin kecewa padanya.
Bagaimanapun sebagai seorang ibu, pasti ingin terlihat sebagai orang yang baik di depan anaknya.
Tapi rasa penasaran membuat Ery ingin turun tangan. Jika bule yang dimaksud bukanlah Johan, Ery bisa langsung meminta maaf agar nama barnya tidak semakin buruk.
"Bisa kau antarkan aku ke tempat pria bule itu? Aku akan meminta maaf atas kelalaian pegawai kita" tanya Ery.
"Tentu bos" ucap si pengawal menyambut uluran tangan Ery yang minta dibantu untuk berdiri.
Saat tiba di bar tadi, Bayu memang memilih meja yang agak sedikit di belakang. Tapi dari tempat itu dia bisa melihat ke segala arah untuk memastikan keadaan.
Dan kini, saat Ery ingin mendatangi meja itu, dia harus sedikit berjalan karena jaraknya yang cukup jauh dari singgasana yang biasa dia tempati.
"Disana orangnya, bos" tunjuk pengawal Ery.
Dan terlihat sebuah punggung tegap yang kini tengah menopang kepalanya dengan kedua tangan.
Pria itu nampak sangat mengenaskan. Duduk sendirian di meja gelap dengan posisi tertunduk.
Ery semakin mendekat. Dan ketika sudah berdiri di dekat pria itu, tangannya terulur untuk menyentuh pundak si pria.
"Excuse me sir. Maaf jika keadaannya membuatmu merasa tak nyaman" ucapan Ery yang terdengar di telinga Johan tak lantas membuatnya menengadah.
Johan yang merasa familiar dengan nada suara itu masih mencerna semuanya dan mencocokkan dengan ingatannya.
Ingatannya di masa lalu saat meminta sang mommy untuk menemaninya mengerjakan tugas sekolah, dan sang mommy langsung memarahinya dengan berbagai alasan agar tak mendampinginya untuk mengerjakan tugas.
Johan yang kala itu masih anak TK hanya bisa tertunduk saat lagi-lagi dia harus mengerjakan tugasnya bersama nanny.
Nada suara yang membuat Johan merasa terasingkan saat wanita yang dia panggil mommy itu dibawa paksa oleh polisi karena terbukti melakukan kejahatan dengan berusaha menculiknya dan juga Lia.
Nada suara yang kadang dia rindukan saat meringkuk sakit di dalam kamarnya di Polandia. Saat dia hanya berdua dengan dady nya dan berusaha kuat dan tetap ceria demi menjaga hati sang daddy.
Nada suara yang kini Johan yakini adalah milik mommynya.
Akankah Johan sanggup untuk menatap mata mommynya lagi kali ini?
Akankah Johan sanggup untuk melupakan masa lalunya yang kelam sebagai anak dari narapidana?
Akankah Johan sanggup melewati fase dimana dia harus dipertemukan lagi dengan mommynya?
Perlahan Johan menengadahkan kepalanya setelah hatinya merasa mantap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Johan berharap jika nada suara itu bukanlah milik Ruby Eria.
Tapi harapan hanya tinggal harapan saat matanya bertubrukan dengan bola mata berwarna coklat yang dihiasi warna eye shadow di sekitarnya.
Johan dan Ery sama-sama terkejut. Tubuh keduanya menegang, bahkan tangan Johan terkepal.
Entah harus bagaimana menghadapi situasi ini. Keduanya sama-sama terdiam dan terbelalak.
"Mommy?"
__ADS_1
Hingga satu kata dari mulut Johan membuyarkan lamunan keduanya. Ery tersadar dan kebingungan kali ini. Semua isi otaknya menjadi tak beraturan.