
*Family Magazine
Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Alexander?
Semua orang tahu tentang kejayaan dari dinasti keluarga itu. Dan hebatnya, salah satu dari mereka telah menggunakan jasa dari tempat kami untuk membuat sebuah kolase foto yang sangat indah yang telah kami sajikan dalam bentuk majalah keluarga.
Ya, hanya di Family Magazine
kalian bisa mengabadikan momen keluarga kalian yang sangat berharga agar nampak berseni dan cantik tentunya.
Daripada galerimu penuh,
Daripada foto dalam ponselmu hilang,
Silahkan gunakan jasa kami untuk mengedit dan mencetaknya dalam bentuk majalah*.
Rangkaian iklan telah selesai digarap dan disebar ke seluruh akun media sosial milik ke empat sahabat yang sudah memiliki banyak followers tentunya.
Dan yap, baru beberapa jam saja iklan itu dirilis ternyata sudah banyak sekali orang yang tertarik dengan hasil karya yang Ken buatkan untuk Lia kemarin.
"Aku lelah, Lia. Orang-orang ini seperti tidak ada habisnya saat bertanya" keluh Silvi yang sejak siang tadi sibuk membalas pesan berupa chatting maupun telepon untuk menanyakan tentang produk mereka.
"Sama, Sil. Ponsel ini juga seperti tidak ada habisnya untuk berdering" keluh Lia tak kalah letih.
"Sudah berapa banyak orang yang memesan Family Magazine?" tanya Lia sembari rebahan dan tak lupa menonaktifkan ponsel kerjanya.
"Di aku sudah sekitar sepuluh orang yang deal, lebih dari dua puluh orang yang masih membuat janji, dan beberapa orang yang tidak jadi memesan karena banyak sekali alasannya" keluh Silvi.
"Rasanya jari dan bibirku capek, Lia" kata Silvi yang nampak lemas dengan buku catatan di tangannya.
"Sama Sil, di aku juga sudah ada beberapa orang yang memesan. Dan tentunya sudah sampai ke kak Ken tentang pesanan itu" kata Lia yang juga sedang beristirahat.
"Kalian capek ya?" tanya Bayu yang baru datang bersama Ken setelah menyelesaikan tugas mereka tentang pesanan Family Magazine.
"Banget kak. Aku nggak nyangka kalau di hari pertama saja sudah seramai ini usaha baru kita" kata Lia yang memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Bayu saat cowok itu duduk di dekatnya.
"Kasihan sekali kamu sampai lemas begini" ujar Bayu yang membiarkan tingkah Lia yang sedang manja padanya.
__ADS_1
"Aku juga capek lih kak. Kok nggak diperhatikan sih" gerutu Silvi tak mau kalah, dan bibirnya sudah cemberut sempurna.
"Bahunya kak Bayu kan ada dua, Sil. Kamu senderan saja di bahu yang itu" kata Lia yang masih betah diposisi nya.
"Memangnya boleh, kak?" tanya Silvi sedikit ragu.
"Kenapa berebut, sih? Kan bahuku juga ada Sil" kata Ken dengan cuek, karena dia sendiri sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ih, kak Ken. Tau ah. Aku mau ambil minum, kalian mau sekalian dibawakan minuman?" tanya Silvi yang selalu perhatian meski bibirnya masih terlihat cemberut.
"Boleh deh. Aku susu rasa strawberry ya, Sil" kata Lia.
"Aku sama kayak Lia" ujar Bayu.
"Aku susu rasa coklat saja deh Sil. Makasih ya" kata Ken yang menyempatkan diri untuk sedikit tersenyum sambil berterima kasih.
Meski sedikit kesal nyatanya Silvi tetap saja mengambilkan pesanan teman-temannya. Ya, dia memang setulus itu dalam bersahabat.
"Tapi besok hari Senin kak. Selain sibuk dengan banyaknya tugas, masih ada ekskul karate yang harus aku ikuti. Terus bagaimana dengan ponsel ini?" tanya Lia.
Sebagai seorang siswa memang sudah sewajarnya jika sangat sibuk di hari Senin. Dan sepertinya dia tidak akan sanggup untuk dibebani sebuah ponsel kerja itu lagi karena banyaknya orang yang akan menghubunginya.
"Tidak perlulah khawatir Lia, aku sudah memikirkan hal itu. Dan tim editing merasa tidak keberatan untuk sekaligus membawakan ponselmu selama kamu dan Silvi sekolah" kata Ken.
"Uwah, bagus itu kak. Jadi sekolah kita nggak terganggu" sahut Silvi yang baru datang dengan susu kemasan dan beberapa camilan yang dibawakan oleh art Lia.
Mereka berempat memang sedang berkumpul di rumah Lia sejak tadi pagi untuk mencoba memulai membuka usaha baru yang sudah sejak sepekan lalu mereka rencanakan.
Dan ternyata hasilnya sangat diluar dugaan, karena sudah banyak sekali orang yang tertarik dan menghubungi mereka.
"Bagaimana kalau kita tambah saja dua orang untuk menghandle ponsel ini, kak? Bukankah dana awal kita masih tersisa banyak" kata Lia memberi saran.
__ADS_1
Untuk dana awal pembukaan Family Magazine berasal dari patungan uang tabungan dari ke empat sahabat itu. Dan dari dana itu ternyata cukup untuk membiayai semua yang mereka butuhkan.
Karena memang mereka tak berkantor, proses editing dan printing dilakukan di rumah Ken yang memang sudah dilengkapi dengan banyak hal yang menyangkut komputer dan segala \*\*\*\*\* bengeknya.
Entahlah, Ken memang sangat menyukai bidang itu dan orang tuanya ternyata memberikan padanya akses yang begitu besar untuk menyalurkan bakatnya.
"Bisa saja sih, Lia. Tapi dua orang itu akan ditaruh dimana? Kan kita tidak ada kantor" tanya Bayu.
"Numpang saja dulu di kantor papaku, bagaimana? Nanti aku akan meminta izin ke papa kalau kakak setuju" kata Lia.
"Boleh saja sih. Kalau begitu tugas kita selanjutnya adalah membuat iklan lowongan kerja, Ken" kata Bayu.
"Itu sangat mudah. Beri aku waktu lima belas menit untuk membuat iklan sederhananya. Dan juka sampai besok belum ada yang melamar, aku akan membuat iklan yang lebih bagus" kata Ken yang berpindah untuk menyibukkan diri dengan laptopnya kali ini.
Sementara Ken sibuk dengan tuts dan layar laptopnya, Lia menghubungi papanya untuk meminta izin agar diberi tempat di kantornya.
Dan Lia lebih memilih menghubungi papanya melalui telepon karena dia sedang malas untuk beranjak dari duduknya karena papanya juga sedang berada di ruang kerjanya.
Keduanya menyelesaikan tugas mereka hampir bersamaan. Dan ternyata papa Lia menyetujui keinginannya, bahkan kandidat calon customer servis yang akan direktur oleh Lia akan diwawancarai secara langsung oleh bagian HRD di perusahaan papanya agar mereka mendapatkan orang yang benar-benar kompetitif dan loyal.
"Bagaimana menurut kalian? Iklannya sudah bagus, kan?" tanya Ken.
"Bagus. Kalau begitu sekarang kamu aktifkan dulu saja ponsel itu, Lia dan Silvi. Nanti kalau ada yang tertarik dengan posisi pekerjaan itu kan bisa segera di approve" kata Bayu dengan bijaknya.
Lia dan Silvi menurut. Satu jam setelah iklan itu di publish, ternyata sudah ada beberapa orang yang menghubungi. Tentunya sesuai rencana, kalau kandidat mereka akan langsung di interview oleh perusahaan Alexander.
Beruntung sekali mereka yang usahanya langsung berjalan lancar meski baru saja di publikasikan.
.
.
.
__ADS_1
.