My Angel Baby

My Angel Baby
Sedang PMS kah?


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|45. Sedang PMS kah?|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Satu bulan lebih lima belas hari tepatnya, pernikahan Louis dan Angel sudah terlaksana. Louis yang baru saja mendaftarkan pernikahannya pada dinas catatan sipil beberapa waktu lalu, hari ini harus datang untuk mengambil akta nikahnya bersama Angel yang sudah resmi menikah secara agama di rumah ibadah saat itu.


Tidak sendirian, Angel juga menemaninya datang ke sana setelah memutuskan untuk mengambil izin tiga jam lebih cepat dari jam kerja yang sudah menjadi ketentuan.


Jalanan tidak terlalu padat karena hari masih siang. Matahari terik berada tepat diatas kepala saat ini, tapi tidak membuat Louis dan Angel malas melalui panasnya hari.


Sudah seminggu ini, Angel malas makan. Tubuhnya mudah lelah, dan ia selalu ingin berada didekat Louis. Jika diminta minum obat oleh Louis, Angel selalu merajuk dengan berbagai alasan. Dia malas melihat obat-obatan dan memutuskan untuk beristirahat saja sampai membaik. Tapi tidak ada perubahan hingga sehari yang lalu, kesehatannya seperti menurun. Dia juga sempat muntah di pagi buta ketika bangun dari tidur. Mungkin masuk angin, begitu katanya pada Louis kemarin karena pagi ini, dia sudah kembali segar.


Tapi sekarang, mual itu tiba-tiba datang tanpa diduga.


“Sayang, bisa tepikan mobil sebentar? Aku mual.” kata Angel mengusap satu paha Louis dengan wajah yang tiba-tiba memucat. Padahal, beberapa menit lalu ketika Louis menoleh, Angel terlihat baik-baik saja.


“Ah oke. Tahan sebentar. Aku harus cari area bebas parkir.” kata Louis sambil menajamkan mata melihat rambu-rambu di pinggir jalan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memutar stir pada sebuah jalanan masuk ke sebuah taman dan berhenti begitu saja karena Angel terlihat tidak lagi bisa menahan diri.


Angel tergopoh-gopoh melompat turun dari mobil, berlari menuju gorong-gorong kecil di pinggiran jalan, berjongkok dan mengeluarkan semua isi lambungnya hingga badannya lemas.


Louis yang menyusul dengan raut khawatir, berjongkok di samping Angel sembari mengumpulkan rambut wanitanya dalam genggamannya, lalu memijat lembut tengkuk leher perempuan yang sangat ia sayangi itu.


“Balik dari ambil akta nikah, kita kerumah sakit, ya?” bujuk Louis dengan nada memohon agar Angel setuju dengan usulnya kali ini. Dia tidak ingin terjadi apapun, atau hal-hal yang tidak dia inginkan pada Angel.


Angel yang merasa tubuhnya lemah pun hanya bisa mengangguk pasrah. Sudah seminggu ini badannya terasa sangat tidak nyaman. Pusing, mual, bahkan semua itu berimbas pada nafsu makan dan juga gerakan tubuhnya yang berubah malas, tidak produktif seperti biasanya.


“Kalau memang sakit, biar dapat obat dan penanganan dokter.” lanjut Louis masih berusaha meyakinkan karena Angel terlihat ragu.


Angel mencoba bangkit dengan bantuan Louis. Mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.


“Aku khawatir sama kamu, sayang.”


Angel menepuk pelan telapak tangan Louis yang memapah kedua sisi tubuhnya untuk kembali ke mobil. Ia mengangguk sebagai tanda jika dia baik-baik saja.


“Sudah mendingan? Apa perlu aku belikan minuman dulu? Mumpung didepan sana ada mini market.”


Angel mengedarkan pandangan mengikuti arah yang ditunjuk Louis. Ia setuju, menganggukkan kepalanya begitu saja. Dan mobil Louis pun bergegas menuju mini market yang berad tidak jauh dari titik semula tempatnya berhenti.


“Kalau ada, belikan sekalian permen yang rasanya agak asem ya, sayang. Mulutku pahit.” pinta Angel dengan raut memelas dan lemas. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi mobil karena pusing melanda tanpa diperintah.

__ADS_1


Louis mengangguk dan keluar dari mobil. Dari dalam mobil, Angel dapat melihat bagaimana para perempuan dari berbagai usia memperhatikan suaminya. Dia berdecih kesal. Angel cemburu.


“Awas saja kalau sampai aku melihat dari sini, dia melirik wanita-wanita itu. Nggak aku kasih jatah kalau dia minta.” ancamnya dengan raut kesal dan bibir maju seperti bebek.


Angel juga tidak sadar jika dirinya berubah posesif pada Louis seperti itu. Semua sistem kerja tubuhnya, berubah 360 derajat.


***


Angel memasukkan akta nikah mereka yang sudah jadi, kedalam tas yang ada di atas pangkuannya. Karena kejadian ketika berangkat tadi, Louis melarang Angel turun dari mobil dan meminta dia menunggu saja sambil beristirahat di dalam mobil.


Selain air mineral, Louis juga membelikannya tiga bungkus permen berbagai rasa, beberapa cemilan, dan beberapa bungkus roti sandwich isi coklat.


“Kita kerumah sakit, sekarang.” tegas Louis tak mau dibantah sambil memasang seatbelt dan menarik tuas rem tangan dan menginjak pedal persneling kemudian gas mobil untuk keluar area parkir dinas catatan sipil.


Selama perjalanan, Angel hanya diam. Dia sedikit kesal karena tadi melihat Louis menatap mbak-mbak mini market sambil tersenyum.


Bagaimana ya mengatakan perasaannya? Yang jelas, hatinya dongkol melihat Louis menebar senyum pada perempuan lain. Apalagi perempuan itu membalas senyuman pada Louis dengan tak kalah manis.


“Kenapa? Bibirnya kok manyun begitu?” tanya Louis setelah sempat menoleh sebentar dan melihat keadaan Angel yang terlihat lebih segar.


“Ngapain senyum-senyum sama kasir mini market?”


Astaga. Louis sampai hampir menginjak rem mendadak karena pertanyaan aneh Angel. Biasanya Angel acuh pada hal-hal seperti itu. Angel biasanya santai saja menanggapi dirinya yang memang ramah senyum kepada manusia lainnya.


“Mbaknya nawarin pulsa, sayang. Aku nolak nya sambil—”


“Kamu kenapa sih, sayang?” tanya Louis sedikit cemas, takut Angel marah. Louis pun mengulurkan satu tangannya mengusap belakang kepala Angel sambil tersenyum canggung. Angel tiba-tiba saja berubah aneh. Apa wanitanya ini sedang PMS?


“Maaf deh. Aku nggak akan senyum lagi sama orang lain.” bujuknya agar si istri tidak lagi merajuk. Sumpah demi permen yupi yang ada diatas dashboard mobil, Louis bingung sendiri dengan sikap Angel yang berubah hanya karena melihatnya tersenyum pada kasir minimarket. Padahal sudah jelas wanita itu tau, Louis cinta mati sama dia.


Angel terlihat sedikit tenang setelah Louis mengatakan itu. Dalam batin Louis tertawa, cemburunya Angel itu lucu. Jika memang karena PMS, Louis ingin Angel mengalami gejala PMS itu setiap hari agar dia setiap hari bisa melihat posesifnya seorang Angel. Tapi dengan catatan, jangan mens-truasinya yang setiap hari. Bagaimana nasib pejantannya nanti?


Louis tertawa tanpa suara, tapi Angel dengan tatapan sinis menyorot wajahnya hingga membuat Louis seketika kembali menghapus jejak tawa di bibirnya.


Mobil mulai mendekati area rumah sakit tempat dokter pribadi yang biasa menangani keluarga Hutama, praktek. Ia memutar kemudi ke kiri untuk masuk area parkir. Setelah itu dia membawa mobilnya untuk berbaris dengan mobil lain secara rapi. Dan setelah itu bergegas menyusul Angel yang terlihat masih kesal padanya. Diam-diam Louis kembali mengu-lum senyuman melihat tingkah laku Angel.


Sesampainya di depan meja informasi dan berlanjut ke meja administrasi, Louis kini menggandeng telapak tangan Angel menuju ruang tunggu dimana dokter Tristan sedang melakukan praktek. Louis sempat menghubungi dokter andalan keluarganya, tadi sebelum berangkat menuju kesini. Ia juga sudah membuat janji, sebab itulah dia dengan mudah mendapatkan akses masuk untuk bertemu dokter yang jam prakteknya hampir selesai itu.


“Nyonya Angelica, silahkan masuk.” panggil seorang suster yang mempersilahkan Angel beserta Louis untuk memasuki ruang praktek si dokter.


Setelah berhasil masuk, Louis menyapa akrab dokter Tristan yang menyambutnya dengan antusias.


“Wah, ini ya istrinya? Selamat atas pernikahan kalian ya Lou, nona Angel.” kata dokter Tristan ramah.


“Terima kasih, dokter.” jawab Angel dan Louis bersamaan.

__ADS_1


“Saya tau kamu menikah dari papa kamu yang beberapa waktu lalu bawa mama kamu kesini.”


“Mama? Kesini?”


Dokter Tristan mengangguk. “Iya, pusingnya kambuh.”


Hati Louis mencelos. Bahkan sekarang, mamanya tidak memberitahu jika sedang sakit. Louis mengangguk paham untuk dua hal. Pertama untuk informasi yang dibagi dokter Tristan, dan yang kedua untuk mamanya yang terkesan sudah tidak peduli lagi padanya.


“Ini, nyonya Angel keluhannya apa?”


“Sudah hampir seminggu ini, nafsu makan saya seperti hilang, dok.” kata Angel mulai memberitahu keluhannya pada dokter yang terlihat amat sangat ramah didepannya. “Mood saya cepat berubah. Kepala sering pusing dan perut saya juga mual.”


Tristan menatap Angel dan Louis secara bergantian.


“Sudah coba di tes?”


Tes? Tes apa?


Angel dan Louis saling tatap dengan ekspresi bingung.


“Maksud saya, sudah pernah melakukan tes urine? Siapa tau nyonya Angel sedang mengalami gejala kehamilan? Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali datang bulan?”


Sial, mengapa Angel tidak mengingat hal sepenting itu setelah menikah?


Dia merutuki kebodohannya yang melupakan perihal tamu bulanannya. Angel mengerutkan kening, mengingat kapan seharusnya tamu bulanannya datang.


Ah, seharusnya dua minggu yang lalu.


“Nah, sudah ingat. Kapan seharusnya tamu bulanannya datang?”


“S-seharusnya, dua minggu yang lalu, dok.” kata Angel dengan jantung berdebar tidak karuan. Seandainya memang benar yang dikatakan dokter Tristan, jadi sekarang dia sedang mengalami gejala kehamilan? Atau memang hanya sekedar kurang enak badan yang bisa menimbulkan kondisi tubuhnya berbanding terbalik dengan yang biasa ia rasakan.


“Coba di tes dulu dirumah. Nanti, kalau hasilnya positif, saya akan merekomendasikan dokter kandungan bagus dan handal yang pernah menangani Stefany. Tapi kalau negatif, nanti saya kirim resep lewat pesan WhatsApp saja.” kata dokter Tristan tenang. “Atau, mau melakukan tes disini?” tawarnya memberi pilihan.


“Nanti saja dirumah, iya kan sayang?” tanya Angel menginterupsi kediaman Louis.


Tidak jauh berbeda dengan Angel, Louis sampai membatu karena terkejut. Jika memang Angel sedang mengandung, dia akan menjadi seorang ayah kan? Lalu, bagaimana seharusnya dia mengungkapkan perasaan dalam hatinya?


Senang? Atau justru sebaliknya?


Berbagai pikiran berkecamuk menderanya. Louis tidak tau harus bagaimana sekarang. Dalam diamnya, dia kembali mengingat ucapan Jenita yang tidak akan pernah mau menerima anak dari Angel. Tapi, ucapan dari dokter Tristan seketika membuatnya kembali teguh, kembali pada kodratnya jika memang dia ditakdirkan dan dipercaya untuk menjadi seorang ayah.


“Anak itu anugrah, Lou. Tidak ada yang tau, kapan Tuhan akan mempercayakannya kepada kita.”


Louis menatap lurus pada dokter Tristan yang sedang memberinya petuah.

__ADS_1


“Jadi, jika memang nyonya Angel sedang mengandung sekarang, rawat dan jaga dia dengan baik.”


Benar, Louis akan melakukannya. Dia akan merawat, menjaga, serta menyayangi Angel sepenuh hati. Hanya itu yang perlu dia lakukan. []


__ADS_2