My Angel Baby

My Angel Baby
Diundur lagi


__ADS_3

"Tapi bu, apa tidak lebih baik kalau kami selesaikan dulu ujian nasional kami? Saya janji sama ibu, setelah selesai ujian nanti saya akan melaksanakan perintah ibu untuk mengeksekusi Sam sesuai permintaan ibu" untuk kesekian kalinya Lian berusaha untuk mengulur waktu karena Eri yang lagi-lagi memaksanya agar segera menghabisi Samuel.


"Apa ada alasan lain yang bisa dipertimbangkan untuk menunda eksekusi untuk bocah itu?" tanya Eri sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara, membuat Lian semakin berfikir keras.


Lian hanya ingin ada sebuah kenangan manis bersama Samuel sebelum menyetujui permintaan Eri. Setidaknya meski nanti setelah proses eksekusi itu selesai, Lian juga tahu kalau nanti pasti dia akan dijadikan kambing hitam. Lian juga sedang mempersiapkan diri untuk semuanya.


"Ehm, setidaknya biarkan kami lulus dan berstatus tamatan SMA, bu. Meski nanti semuanya hanya akan menjadi sebuah simbol" cicit Lian dengan suara hampir tertelan oleh kesedihannya. Membayangkan bagaimana nantinya jika Sam akan mati di depan matanya sendiri.


Eri melihat wajah sedih itu dengan seksama, rupanya masih ada hati nurani di dalam kotornya pikiran wanita yang dipenuhi dengan dendam itu.


Eri menghela napas panjang, dan kembali meniupkan asap rokok ke wajah Lian hingga membuat gadis itu menahan nafasnya sambil menutup mata dan menunduk.


"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu. Karena wajahmu itu sangat menyedihkan. Tapi ingat Lian, sehari setelah ujian kalian selesai, aku akan segera melakukannya. Dan tugasmu adalah memastikan jika bocah ingusan itu ada di tempat yang sudah kita rencanakan sebelumnya" ucap Eri.


Lian mendongak dengan mata berbinar mendengar hal itu, setidaknya ada beberapa hari untuk merajut kenangan manis bersama Samuel yang memang selalu membuat Lian merasa lebih berarti dalam menjalani hidupnya.


"Terimakasih, bu" ucap Lian sedikit lega.


Eri berdiri setelah mematikan api rokoknya diatas asbak. Lalu mengenakan tas brandednya di pundak sambil memperbaiki roknya yang sedikit terkesiap. Meski merepotkan, Eri sangat suka memakai rok mini dan high heels.


"Belajarlah yang rajin, pastikan kau mendapatkan nilai yang bagus agar aku tidak sia-sia mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkanmu" kata Eri sebelum melenggang pergi.


"Pasti bu, saya janji tidak akan mengecewakan ibu" jawab Lian dengan senyuman yang tulus.


Eri hanya meliriknya singkat dan segera beranjak keluar dari rumah itu.




Sudah seharian Viviane tidak diberi makan, rasa lapar membuat perutnya berbunyi untuk minta diisi.



Tapi meski sudah mendapatkan kepercayaan dari Junet dan Is yang bertugas menjaganya, mereka berdua tidak berani untuk memberikan makanan tanpa seizin Eri. Mereka takut dihukum jika ketahuan membantu Viviane.



Sudah sejak beberapa menit yang lalu Junet dan Is nampak kelelahan dan mulai tertidur. Viviane yang tersadar jika kedua orang itu sudah terlelap karena kerasnya dengkuran mereka membuatnya nekat untuk mengambil tindakan.



"Bagus, mereka sudah terlelap" gumam Viviane.



Perlahan dia mendekat ke arah Junet dengan cara merangkak karena kedua kaki dan tangannya yang terikat. Kalau meloncat seperti pocong, Viviane takut menimbulkan kegaduhan yang bisa membuat kedua orang itu akan terbangun.



"Berhasil" gumam Viviane setelah deket dengan posisi tidur Junet.



Perlahan tapi pasti, Viviane merogoh saku jaket Junet karena yakin kalau pria itu menaruh ponselnya disana.



Brugh!


Tangan hitam Junet tiba-tiba saja bergerak dari yang tadinya terangkat di atas kepalanya kini menepuk dadanya, padahal tangan Viviane sudah hampir tiba disana. Sontak Viviane sangat terkejut dan kembali menarik tangannya.



Ternyata Junet hanya menggaruk dadanya dan kembali mendengkur dengan suara seperti ayam terjepit lehernya.



Viviane kembali berusaha mengambil ponsel butut Junet dan beruntung percobaannya kali ini berhasil.


__ADS_1


"Ah, bagus. Aku dapatkan ponselnya" gumam Viviane dengan hati gembira.



Segera dia mengusap layar ponsel yang sudah retak itu. Terpampang foto seorang anak kecil laki-laki yang Viviane yakini adalah anak Junet.



"Ah, preman ini manis sekali" gumam Viviane sambil tersenyum, jemarinya lantas menekan beberapa angka yang merupakan nomor dari suaminya, Vicky.



Tidak melakukan panggilan suara, Viviane hanya mengirim pesan SOS agar suaminya tahu jika dia ada di tempat Ruby.



"Ah, sudah selesai" gumam Viviane senang.



Setelah dia takin jika pesannya sudah terkirim, Viviane segera menghapusnya dan tak lupa meminta agar Vicky tidak meneleponnya.



Baru saja berhasil memasukkan ponsel itu ke dalam saku jaket Junet seperti sedia kala, pria itu tiba-tiba membuka matanya dan melotot padahal Viviane masih ada didepannya.



"Ngapain lo?" tanya Junet dengan tampang bantal yang menyeramkan.



"Ehm, eh .. Anu bang. Itu ada nyamuk di pipinya bang Junet. Saya mau menepuk pipinya bang Junet tapi masih mikir dulu. Takut di tabok balik sama bang Junet, gitu" jawab Viviane, entah mendapatkan ide darimana.



"Lo mau ngambil hape gue?" tanya Junet sedikit membentak.




Junet tak percaya, segera dia melihat ponselnya dan mengeceknya. Beruntung semua log aktivitas sudah Viviane hapus dari ponsel Junet.



"Benar kan bang, saya tidak berbohong" kata Viviane.



"Iya juga sih" gumam Junet sambuk memasukkan ponselnya.



"Ada apaan sih, berisik amat" giliran Is yang terganggu tidurnya.



"Kagak ada apa-apa" jawab Junet yang melihat Viviane merangkak ke ranjang.



"Kasihan banget lo, neng. Kalau nggak perintah si bos buat ngiket elo, sudah gue buka ikatannya" komentar Junet.



"Nggak apa-apa, bang. Biar nanti kak Ruby menerima balasannya sendiri" jawab Viviane dan lagi-lagi perutnya berbunyi nyaring.



"Duh, lapar banget saya" kata Viviane lirih.

__ADS_1



Junet dan Is saling pandang. Bingung harus bagaimana. Di satu sisi mereka kasihan pada wanita sebaik Viviane, tapi di sisi lain mereka takut pada Ruby.



"Bentar gue cariin cemilan ya neng, meski nanti kagak bikin kenyang setidaknya bisa buat ganjal perut" kata Is yang langsung berdiri dan bersiap membuka pintu.



Tapi dia dikejutkan dengan seseorang yang juga membuka pintu dari arah luar.



"Mak de kipeh" kata Is spontan, latah dia rupanya.



"Apa?" bentak Ruby yang baru datang.



"Eh, kagak bos. Mau keluar saya, mau ke wc. Tapi si bos buruan datang" jawab Is.



Ruby hanya meliriknya singkat dan meneruskan langkahnya ke Viviane yang masih duduk diatas ranjang.



"Bagaimana kabar kamu, wanita sialan?" tanya Ruby sambil mengibaskan rambutnya yang diwarna pirang.



"Baik, kak. Kak Ruby sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Viviane.



"Tidak usah sok perduli padaku. Oh iya, sebentar lagi kamu duluan yang akan aku eksekusi" kata Ruby sambil duduk di tepian ranjang.



"Sebenarnya aku ingin anakmu yang bodoh dan masih sekolah itu yang akan aku eksekusi terlebih dahulu, tapi karena satu alasan , aku pikir kalau lebih baik kamu duluan saja" kata Ruby.



Viviane terkejut, rupanya Ruby juga tahu perihal Samuel. Tidak bisa dibiarkan.



"Aku mohon kak, jangan sakiti anak-anakku. Kau boleh saja membunuhku, tapi aku mohon jangan sakiti mereka" kata Viviane memelas.



"Memangnya aku perduli pada rengekanmu? Hah?" tanya Ruby yang tiba-tiba menampar wajah cantik Viviane.



"Ah, sakit kak. Apa kau sudah gila?" bentak Viviane yang hanya bisa merasakan kebasnya pipi mulusnya.



"Hahaha. Iya, aku memang sudah gila. Dan semua kegilaan ini karenamu, wanita brengsek" jawab Ruby sambil tertawa seperti orang yang sedang kesetanan.



Junet dan Is saling pandang, mereka mulai meyakini jika bosnya itu memang sudah gila. Mereka pikir Ruby memang sangat iri pada apa yang sudah Viviane capai meski tak tahu apa itu.



Junet dan Is semakin yakin untuk membantu Viviane entah bagaimana caranya nanti.

__ADS_1


__ADS_2