My Angel Baby

My Angel Baby
Pengakuan Louis Tentang Masa Lalu


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|17. Pengakuan Louis Tentang Masa Lalu|...


...Selamat membaca...


...[•]...


“Auntie ... ” teriak Rebecca. Ia lari berhambur ke dalam pelukan Angel, alih-alih kepada Unclenya yang biasa ia peluk saat pertama datang, Louis.


Melihat itu, Louis mengerutkan kening. Ia cemburu.


“Oy. Rere sudah tidak sayang sama Uncle?”


Stefy yang melihat itu menggelengkan kepala. Mengapa Louis bisa protes tentang hal seperti itu kepada anak kecil yang bisa dengan labilnya berpaling.


“Rere nggak mau sama Uncle. Uncle jelek, tidak bawa mainan untuk Rere.”


Astaga. Louis memijat pelipisnya, lelah melihat kelakuan gadis berpipi gembil itu. Sedangkan Angel, ia hanya tertawa kemudian mencubit gemas hidung Rebecca.


“Pulang kerja Ngel?” tanya Stefy, mengajak mereka semua untuk duduk di kursi ruang tengah.


“Iya, mbak Stef.” jawab Angel sesuai realita.


“Kamu nggak capek? Mungkin Rere kemarin cuma sedang nggak pingin kehilangan teman barunya. Maaf lho jadi ngerepotin kamu.”


Angel menggeleng. “Saya punya janji sama Rebecca. Jadi saya harus menepatinya.” jawab Angel serius dan di angguki oleh Stefany.


“Dan kamu, Lou. Apa tujuan kamu datang kesini.”


Louis kembali dari dapur kecil yang ada didekat ruang tengah sambil membawa sepiring kue yang para women buat sehari yang lalu, dan sekotak jus instan dingin dari dalam lemari pendingin. “Minta makan.” jawabnya enteng.


“Kebiasaan!” sembur Stefany tidak perlu sungkan pada adik ipar yang dulu adalah teman sekelasnya itu. “Nggak malu sama jam tangan kamu?”


Louis melirik pergelangan tangannya. Memang, jam tangan nya itu sangat mahal. Bahkan bisa di gunakan untuk membeli satu unit rumah cluster menengah. Tapi payahnya, dia makan saja minta orang.


“Beda dong sista. Ini urusannya sudah beda jauh.” kelakarnya yang membuat wajah Stefany semakin seram dan suram.


“Kamu nggak usah dateng kesini lagi deh. Robert nanti—”

__ADS_1


“Mam, jangan begitu sama Uncle. Nanti siapa yang ajakin Rere main Lego kalau uncle Lou nggak boleh datang lagi ke sini?” protes Rebecca pada Stefany. Ia tak terima pamannya di larang datang.


Rebecca ini, usianya memang masih belum genap menyentuh angka lima. Tapi saat berbicara, gadis cantik berkulit putih dan berpipi menggemaskan ini sama sekali tidak cadel. Ia lancar sekali saat berbicara, selancar aspal tol yang tidak pernah macet. Bebas tanpa hambatan.


Louis menjentikkan jari bahagia karena mendapat pembelaan dari princess kecilnya dan berhasil membuat orang tuanya sendiri bungkam, diam seribu bahasa. “I love you, baby.” katanya bersemangat sambil membuat love sign dengan kedua jari telunjuk dan ibu jarinya yang saling di tumpuk. Ia tidak pandai melakukan itu—sebenarnya, dia hanya mencoba bisa karena terlalu sering melihat para artis kondang melakukan itu kepada semua penggemarnya, dan itu berhasil membuat semua mata menjerit. Tapi, kenapa Rebecca tidak menjerit senang seperti orang-orang itu?


Angel seketika menoleh, dan Louis mengedipkan satu matanya kepada Angel yang seketika itu membuat darah si gadis berdesir cepat. Baby, itu bagian dari namanya. Kedua orang tuanya dulu suka memanggilnya dengan nama itu.


Namun kembali lagi, Louis tidak bermaksud apapun dengan kalimat itu. Kalimat yang terucap karena spontanitas itu tidak ditujukan kepadanya. Baby yang dimaksud Louis bukan dirinya, melainkan malaikat kecil yang sedang berada dalam dekapannya. Angel berusaha menetralisir kembali hatinya agar tidak terlalu kecewa. Tapi semuanya sudah terlanjur, dia terlanjur mendengar dan berdebar. Mau bagaimana lagi, nikmati saja diam-diam, lagi.


“Auntie, main di kamar Rere yuk?!” ajak si gadis kecil, membuyarkan isi kepala Angel yang sudah semakin besar kepala tak tau diri.


Mendengar ajakan Rebecca, Angel menolah ke arah Stefany merasa tidak enak. Sedangkan Stefany menyuguhinya sebuah senyuman, lalu mengangguk.


“Rere sudah punya kamar sendiri setahun lalu. Dia pintar sudah berani tidur sendiri tanpa mama dan papanya.” kata Stefany sedikit memberi penjelasan pada Angel, dan pujian kepada sang putri. “Jadi, yang ditawarkan itu kamarnya sendiri. Bukan kamar kami.”


Angel mengalihkan pandangan matanya ke arah Rebecca dan mencolek hidungnya. “Oke, princess. Lets go.” ujarnya setuju. Bersama Rebecca benar-benar membuat Angel terhipnotis dan merasa sangat senang.


Ia lantas berdiri, sedangkan Angel sudah menggeliat turun dari dekapan Angel. Meminta untuk jalan mandiri dalam gandengan si Auntie teman barunya ini.


“Auntie nanti jadi princess nya ya? Soalnya Auntie cantik kayak Barbie beneran.”


“Re, Auntie ini manusia. Bukan boneka.” protes Louis mendebat. Ia tidak begitu setuju dengan pendapat Rebecca tentang Angel. Pasalnya, Angel jauh lebih cantik dan sempurna dari sebuah boneka Barbie.


Stefany menyemburkan tawa ketika mendengar panggilan Angel untuk Louis. Pak? Kayak udah jompo saja. Jompo jomblo lebih tepatnya.


“Ya sudah, sekalian saya masakin makan malam. Nanti makan disini bareng kami ya, Ngel.”


Angel menoleh diantara tarikan Rebecca yang sudah tidak sabar ingin bermain yang seru-seru dengan Auntie barbie-nya.


“Saya makan di rumah saja, mbak. Saya merepotkan mbak Stefy nanti.”


“Enggak. Sekalian mumpung Robert pulangnya nggak terlalu malem.”


Tak ada lagi alasan menolak ajakan Stefany, Angel pun mengangguk meng-iyakan.


Setelah melihat dua orang bergandengan tadi menghilang di balik pintu kamar yang sekarang sudah tertutup rapat, Stefany melihat Louis yang asyik mengudap makanan di atas pangkuannya.


“Kamu udah tau asal-usulnya?” tanya Stefany tiba-tiba. Louis pun menolah kasar demi mendapatkan presensi Stefany.


“Memangnya untuk apa, Stef?”

__ADS_1


Stefany melayangkan satu pukulan telak di bahu Louis. “Heh, aku kakak ipar mu, ya! Jangan panggil aku dengan sebutan nama tanpa embel-embel kak. Kalau Robert tau, kamu bakal di geprek—”


“Iya, Kakak. Tuh, sudah.” sahut Louis dengan senyuman jumawa.


“Dia perempuan baik. Sama seperti Caca, dia juga sayang sama Rere.” kata Stefany, mengambil duduk di kursi lain dan menyalakan televisi sebelum memulai acara masak ribet di dapur untuk makan malam nanti.


Nama itu lagi, Louis sampai menghentikan aktifitas mengunyahnya demi mengingat kembali semua kenangan yang pernah ia dapat dari seorang Caca. Tapi yang membuat Louis sedikit merasa tidak sreg adalah, hal ini dilakukan oleh orang berbeda. Namanya Angel, dan perempuan itu adalah sekretaris nya sendiri di kantor. Apa kata penduduk kantor nanti?


“Ya tapi mereka orang yang berbeda, kak.” jawab Louis, menekan kata ‘kak’ agar Stefany tidak menegurnya lagi. “Memangnya, kakak setuju kalau aku sama dia?”


Stefany mengangguk sedikit ragu. Ia takut keputusannya ini nanti di iyakan oleh Louis, lalu menjadi boomerang untuk adik iparnya ini, sekali lagi. Karena Stefany juga tau bagaimana seorang Jenita yang tidak akan diam ketika melihat putranya dekat dengan seorang wanita. Dia adalah salah satu korban Jenita dulu ketika baru pertama kali dekat dan menjalin hubungan dengan Robert. Tapi, berbeda dengan Caca yang tidak mendapatkan restu, dirinya lolos kualifikasi Jenita dan berhasil menjadi mantu di keluarga Hutama tanpa kesulitan. Semua itu juga tidak jauh dari jasa Louis yang juga meyakinkan mamanya. Beruntung karena mereka berteman, dulu.


“Bahkan Robert juga setuju kalau dia menggantikan Caca di hati kamu.” jawab Stefany membuat Louis melongo. Sejauh apa kakak dan kakak iparnya itu membicarakan Angel dan dirinya?


“Jadi, apa kamu juga ada rasa buat dia?”


Louis menunduk, menatap piring yang sudah hampir kosong, lalu menggeleng. “Enggak. Sama sekali enggak.”


Stefany menghela nafas besar. Ia menatap adik iparnya lekat. “Coba buka hatimu, Lou. Ingat, Caca udah nikah. Dia udah punya suami. Nggak baik kamu masih berharap sama istri orang. Yang ada nanti kamu malah buat masalah baru kalau mencoba lagi dekat sama dia.”


Louis masih diam. Dia tidak memiliki jawaban untuk kalimat yang tepat sasaran menyentuh relung hatinya. Apa dia harus melakukannya? Melakukan apa yang di katakan Stefany? Membuka hati?


“Saran ku, coba alihkan perhatian kamu ke dia. Aku yakin kamu bisa. Hanya perlu membuka diri dan hati kamu, melihat apa yang ada didepan kami saat ini dari pada terus menengok ke belakang.”


Sumpah. Louis ingin sekali meneriaki dirinya sendiri yang bodoh dan keras kepala itu untuk terus menutup mata dan hatinya sendiri bagi orang lain, selain wanita yang pernah menempati hatinya itu. Ia hanya perlu menghapus semua masa lalu bersama Caca, dan melihat lurus kedepan.


“Coba terima semuanya. Berdamai lah sama masa lalu, dan sekarang coba buka lembaran baru, untuk orang lain.” kata Stefany terus memberi dukungan psikis untuk Louis yang terlihat belum bisa berdamai dengan apapun. Berdamai dengan keadaan, berdamai dengan masa lalu. “Aku tau, ini memang nggak mudah buat kamu. Apalagi mama.”


Mendengar kata mama, jemari Louis mengepal. Ia kembali teringat pada perjuangannya bersama Caca yang begitu berat saat itu.


“Apa ... aku bisa? Apa aku pantas mendapatkan itu setelah semua kesalahanku yang membuat Caca memilih pergi dariku?”


Stefany mendelik lebar. Apa hari ini ia akan mendengar satu alasan besar yang membuat dia dan Caca berakhir?


“Memangnya, apa yang membuat Caca sampai memilih pergi dari kamu? Apa ini alasan kamu sulit membuka hati?”


Louis mengangguk. Ia tau, inilah saatnya ada orang lain yang tau alasannya berakhir dari Caca. “Caca tau saat aku ... tidur dengan wanita lain.” []


###


Pandai sekali kau buat anak gadis orang kepayahan, Lou? ish ish ish ...

__ADS_1


Apakah Stefany terkejut dengan kenyataan yang dikatakan Louis?


__ADS_2