My Angel Baby

My Angel Baby
Kesempatan Kedua untuk ayah


__ADS_3

Beberapa menit menjelang makan siang, Vicky datang dengan terburu-buru sambil menenteng beberapa barang di tangannya.


Pria itu tahu jika kedua wanitanya sedang merajuk karena menunggunya datang ke kantor hari ini.


"Selamat siang, cantikku" sapa Vicky yang langsung menuju ke tempat Lia yang sedang duduk menghabiskan cemilannya.


Beruntung pekerjaan yang Ayu berikan sudah selesai beberapa menit yang lalu.


Kalau sampai Vicky tahu bahwa Ayu memberikan pekerjaan kantor pada Lia, bisa dipastikan kalau nasib Ayu sedang tidak baik meski masih ada Ane yang akan menjadi tameng.


"Kau sedang apa, Lia?" tanya Vicky, pria itu bahkan langsung mengambil Lia dan mendudukkannya diatas pangkuan.


"Papa darimana saja? Aku sangat bosan menunggu papa disini" keluh Lia dengan bibir manyun.


"Maafkan papa ya. Ada sedikit urusan yang harus papa kerjakan diluar sana. Tapi semuanya sudah selesai. Papa bawakan makan siang dan mainan untukmu" tutur Vicky memperlihatkan apa yang ditentengnya tadi dari luar kantor.


"Kita makan siang disini?" tanya Lia.


"Iya, papa sudah membelikan makanan kesukaanmu. Tapi kalau kau ingin kita pergi ke luar juga tidak masalah" ucap Vicky.


Lia terdiam, memandangi wajah tampan sang papa yang sedikit berpeluh. Sepertinya papanya kelelahan. Dan itu tentu membuat Lia tak tega untuk memaksakan kehendaknya.


Lama hidup sebagai orang biasa membuat rasa toleransi di hati Lia tumbuh subur.


"Tapi sepertinya papa sangat lelah. Kita makan di sini saja deh" kata Lia mengalah.


Senyum indah terukir di bibir Vicky setelah mendengar penuturan anaknya itu. Dan membuat Vicky semakin bangga pada putri kecilnya.


"Terimakasih, sayang. Papa sangat bangga sama kamu. Lain kali kita jalan-jalan ya" ucap Vicky menjanjikan ganti atas rencana Lia yang tak kesampaian hari ini.


"Iya pa" jawab Lia sambil mengangguk dan tersenyum.


Sepertinya Lia pun sudah menerima kehadiran Vicky dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Memang kentalnya ikatan darah tak akan bisa menandingi apapun.


"Kau tahu kan kalau dua minggu lagi Johan ulang tahun?" tanya Vicky, sementara Ane masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Tahu pa. Aku bahkan sudah membelikan hadiah untuknya" jawab Lia.


"Oh ya? Kau perhatian sekali" kata Vicky.


"Tentu saja pa. Bagaimanapun Johan kan sekarang sudah menjadi saudaranya Lia. Pasti dia akan sangat senang saat menerima hadiah dariku nanti. Papa sendiri sudah membelikan hadiah juga kan untuk Johan?" tanya Lia yang masih betah berada diatas pangkuan papanya.


"Sudah sayang. Hadiah yang sangat Johan inginkan" kata Vicky.


"Bagus. Papa harus lebih banyak memperhatikan Johan juga. Karena selama ini Johan selalu bercerita pada Lia kalau dia sangat kesepian" kata Lia yang lagi-lagi mengingat Vicky untuk meluangkan waktunya untuk Johan.


"Setelah ini, papa yakin kalau Johan tidak akan merasakan kesepian lagi, sayang" tutur Vicky lembut sambil mengelus rambut putrinya yang sudah panjang.


"Saat kita semua berkumpul lagi ya pa? Pasti Johan senang kalau satu sekolah lagi denganku" kata Lia.


Lia tahu jika kedua orangtuanya audah berencana untuk memasukkan Lia ke sekolah Johan nanti saat mereka menetap di Jakarta. Bahkan semua keperluan administrasi sudah mereka berikan agar saat nanti mereka tinggal di Jakarta, maka Lia akan langsung sekolah bersama Johan.



__ADS_1


Seharian ini Lia menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Setelah Ane selesai dengan urusan kantornya, mereka bertiga bersenang-senang bersama. Dari makan, nonton bersama dan juga shopping.



Vicky sangat senang bisa membahagiakan kedua wanitanya. Rasa lelahnya seolah hilang lenyap entah kemana saat melihat senyum bahagia dari mereka.



Kini, saat Vicky memutuskan untuk menginap di mess Ane membuat Lia berkesempatan untuk tidur sendiri.



Tapi sebelumnya, Lia masih ingin menghubungi Johan. Karena sudah cukup lama mereka tidak saling bertegur sapa karena ujian yang sama-sama mereka lalui bersama.



"Hai Jo, apa kabar? Apa kau tidak merindukanku?" tanya Lia dengan bibir manyunnya, yang selalu sukses membuat Johan merasa gemas.



"Tentu saja aki rindu padamu, Lia. Bukankah memang beberapa Minggu ini kita sama-sama sibuk dengan ujian kita. Ehm, by the way bagaimana ujianmu? Apa semuanya lancar?" tanya Johan, pria kecil itu juga sedang rebahan diatas ranjang besarnya yang sangat nyaman.



"Semuanya lancar. Kau tahu kan kalau aku ini pintar" sombong Lia sambil cekikikan.



"Ya ya, aku tahu. Kau memang pandai, pemberani, dan juga jago karate. Aku sangat bangga padamu, nak" tutur Johan menirukan suara orang dewasa.




"Sebentar lagi kita akan tinggal bersama, Jo. Papa dan Mama bilang kalau kami akan tinggal di Jakarta setelah aku naik kelas" kata Lia dengan senangnya, berharap Johan akan melupakan keinginannya untuk tinggal dengan ayahnya yang Lia anggap adalah penjahat.



"Ya, dan semoga kita bisa bersama kelak. Tapi jika memang kita tak bisa bersama, aku janji untuk terus menjadi teman terbaikmu, Lia. Ikatan persahabatan kita tidak akan pernah bisa terputus meski jarak harus memisahkan kita berdua" ujar Johan.



Keduanya terdiam kali ini. Setelah Johan bertutur layaknya orang dewasa. Sekarang malah Lia yang merasa sangat bersedih dan tak ingin jauh dari Johan.



"Aku berdoa semoga kita bisa tinggal bersama, Jo. Sebagai saudara yang kompak dan saling menyayangi. Dan kita bisa tumbuh dewasa bersama dan menggapai cita-cita pun bisa bersama" kata Lia penuh harap.



Barandai-andai agar keduanya bisa saling rukun dan tetap tinggal dalam satu atap.



"Ya, semoga saja. Ehm, bagaimana harimu?" tanta Johan mengalihkan pembicaraan, berharap Lia melupakan keinginannya untuk memaksa agar tetap tinggal.

__ADS_1



"Hari ini aku sangat senang, Jo. Rasanya seperti memiliki keluarga utuh sejak lama saat kami bertiga menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama" ujar Lia dengan mata berbinar.



Mendengar penuturan Lia semakin membuat Johan meyakini keputusannya untuk tinggal dengan ayahnya saja.



Johan tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga itu dengan memaksakan diri agar diterima diantara mereka.



"Kau menghabiskan waktu dengan Papa dan Mamamu ya? Pasti itu sangat menyenangkan. Akupun pernah merasakan bahagia seperti itu saat mama Ruby mengajakku bermain, dan ternyata ada ayah Robi juga" kata Johan.



"Kami juga sangat bahagia meski aku masih belum tahu kalau ayah Robi adalah ayah kandungku saat itu. Tapi ayah Robi memperlakukan aku dengan sangat baik, Lia. Dia terlihat sangat menyayangiku" lanjut Johan menilai kebaikan ayahnya.



Dia hanya ingin agar penilaian Lia yang buruk terhadap ayahnya bisa berkurang dan membiarkannya memiliki keinginan agar kelak bisa memiliki kesempatan untuk tinggal dengan ayahnya saja meski nanti dia tak bisa hidup semewah saat menjadi pangeran dari keluarga Alexander.



"Sewaktu kita baru lepas dari penculikan itu ya? Dan asal jangan kau lupa satu hal, Jo. Ayahmu yang menculik kita saat itu" kekeuh Lia, masih sangat emosi pada orang tua Johan.



"Semua orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri, Lia. Dan aku berharap ayahku bisa menjadi orang yang lebih baik nantinya. Aku percaya dia adalah ayah yang baik" kata Johan bijak.



"Ya memang sih, semoga saja ayahmu bisa berubah ya, Johan" akhirnya Lia harus menyetujui ucapan Johan.



Sama sepertinya yang juga memberi kesempatan terhadap Vicky agar menjadi ayah yang lebih baik untuknya.



Kedua bocah itu masih asyik melakukan video call hingga hampir tengah malam dan sama-sama tak sadar jika mereka tertidur.



Sampai ponsel yang mereka gunakan mati dan pagi datang menghampiri. Lia dan Johan masih terlelap saat matahari sudah meninggi.



.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2