
"Bagaimana?" tanya Eri setengah berbisik saat bertemu dengan Tomi.
"Sejauh ini, aku sudah berhasil mengumpulkan sepuluh orang yang merasa senasib dengan kita. Nanti malam kita bertemu di depan kamar mandi sebelum bar buka" kata Tomi.
"Apa tidak berbahaya?" tanya Eri.
"Di jam itu biasanya madam sedang berhias di kamarnya" jawab Tomi pelan.
"Oke, sampaikan pada yang lain kita akan segera bertindak" kata Eri penuh semangat. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri penderitaannya.
Merekapun melanjutkan langkahnya setelah selesai berbagi informasi. Eri yang sudah rapi dengan seragam cafenya, dan Tomi dengan setelan serba gelap dan tak lupa senjata tajam terselip di pakainya.
"Aku sangat khawatir dengan keselamatan kalian, Eri" ucap Wina yang kini mengenakan baju yang sama dengan Eri.
"Tenanglah, Win. Rasa sakit sudah berteman denganku, jadi jika nanti ada kegagalan dari kisi ini maka aku sudah terbiasa untuk menahan rasa sakit jika madam Norita dan anak buahnya akan menyiksaku" kata Eri tenang, seolah kejahatan sudah sangat familiar baginya.
"Tapi, Eri" belum sempat Wina meneruskan ucapannya, Madam Norita terlihat berjalan di hadapan mereka dengan gaya angkuhnya. Membuat keduanya terdiam.
Kini, nampak sudah bagaimana sebenarnya sifat dan tabiat Norita yang sesungguhnya.
Jika dulu Norita terkesan lemah lembut dan sangat mengayomi saat Eri sedang sakit, maka tak ada lagi perilaku seperti itu yang Norita perlihatkan.
Gaya angkuh dan bossy membuat siapapun anak buahnya akan berfikiran sama dengan Eri yang ingin sekali memisahkan kepala dengan tubuhnya.
Ya, Norita memang semenjengkelkan itu!
"Sstt! Sudah waktunya" Tomi berbisik pada Eri yang memang sudah sangat menantikan saat ini.
"Yang Lain sudah berkumpul?" tanya Eri.
Tomi hanya mengangguk dan berjalan santai untuk mengecoh anak buah Norita yang lain. Berharap tak ada yang curiga pada gerakan mereka.
Eri segera bersiap, meninggalkan Wina yang meremas tangannya karena terasa dingin akibat rasa cemas. Cemas karena memikirkan keselamatan teman-temannya yang ternyata lebih berani darinya.
Tomi dan Eri cukup terkejut saat menjejakkan kakinya di depan kamar mandi, tempat pertemuan pertama mereka akan dilakukan, karena menurut informasi yang Tomi dapatkan hanya ada sekitar sepuluh orang yang mau bergabung bersama mereka berdua, tapi kenyataannya lain, sudah ada sekitar tiga puluh orang yang terkumpul untuk bergabung dalam misi pengkhianatan yang Eri cetuskan.
Ini artinya, hampir 75% dari keseluruhan anggota di bawah naungan Madam Norita yang berhasil Eri dan Tomi rekrut.
Melihat hal itu semakin membuat semangat Eri semakin bertambah untuk bisa segera bebas dari jeratan Norita.
__ADS_1
"Selamat sore semuanya, gue senang banget karena kalian mau bergabung dengan kami dan bersama kita bertekad untuk melengserkan Norita yang sudah terlalu semena-mena terhadap kita" kata Tomi memulai orasinya, dengan tanggapan serius dari semua anggota barunya.
"Perjuangan kita baru mencapai titik awal, kita harus optimis jika kekuatan kita melampaui apa yang Norita punya. Kita harus semangat" ucap Tomi menggebu, seolah dia sudah sangat siap dengan pertarungan ini.
Semua orang di tempat itu mengangguk setuju.
"Gue harap nggak ada satu orangpun pengkhianat di dalam tubuh baru kita ini. Karena kalau sampai gue temukan adanya pengkhianatan, maka tindakan tegas bakalan gue lakuin" ucap Tomi sambil mengeluarkan sebuah pistol dari selongsong yang terselip di ikat pinggangnya.
"Pistol ini masih berfungsi dengan baik, dan ini akan mengeluarkan pelurunya saat gue temuin pengkhianat disini, paham semuanya?" tanya Tomi tegas, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh para anggotanya untuk menghindari kecurigaan dari Norita.
Dan Eri hanya bisa terkagum-kagum melihat ketegasan Tomi dalam pidatonya. Mungkin Tomi sudah sangat ingin mengakhiri penderitaan yang selama ini dia rasakan akibat ulah Norita sejak dia masih belia.
Tapi tanpa Eri dan Tomi sadari, jika sejak awal sudah ada satu mata-mata yang menyusup dalam kelompoknya. Seorang pengkhianat yang berkhianat dalam organisasi para pengkhianat juga. Lucu memang, tapi itulah yang terjadi.
Norita bertepuk tangan setelah Tomi mengakhiri orasinya. Hal itu membuat Eri sangat terkejut karena waktu untuk Norita turun dari kamarnya masih tiga puluh menit lagi, tapi tanpa sepengetahuannya, seseorang telah membocorkan kegiatan Eri hingga membuat Norita merasa jengkel.
"Bagus! Orasimu sangat mengena di hati kami, Tomi!" ucap Norita sambil melangkah pelan dan tetap bertepuk tangan.
"Dan kamu Eri! Aku tidak menyangka jika semua pengorbananku tak kau anggap sedikitpun" kata Norita berlagak sedih.
"Coba pikir kalau tidak ada aku, pasti kau masih disiksa oleh Handoko yang kejam itu. Tapi balasanmu seperti ini rupanya. Dasar manusia tidak tahu terimakasih" kata Norita penuh amarah.
"Tangkap mereka semua, ikat dan siksa sampai mereka tahu apa itu artinya penderitaan yang sesungguhnya!" perintah Norita pada anak buahnya.
Dua kubu itupun saling serang. Meski pendukung Norita kalah jumlah, tapi skill mereka tetao berada diatas Tomi dan kroninya.
Beberapa menit berlalu dengan saling serang membuat banyak kawan Tomi berguguran di tangan anak buah Norita.
Tapi Tomi dan semua yang tersisa masih tak mau menyerah.
Sementara Norita yang melihat Eri lengah dengan hanya melihat pertarungan itu dengan pandangan miris, membuat wanita tua itu berkesempatan untuk mencelakai Eri.
Menggunakan pisau dapur yang tergeletak di lantai, Norita mendekati Eri dan bersiap untuk menusuk bagian punggungnya dengan pisau itu.
Tapi rupanya fokus Eri tak hanya pada teman-temannya yang semakin berguguran, tapi juga pada sebuah kaca di pintu kamar mandi yang memantulkan bayangan Norita yang ingin mencelakainya.
Sedikit berfikir, Eri membalik badannya saat Norita sudah cukup dekat dengannya. Dan segera saja Eri merampas pisau dari tangan Norita.
Dengan gerakan yang lebih lincah karena faktor usia, Eri segera menarik tangan Norita setelah mendapatkan pisaunya dan memiting kepala Norita.
__ADS_1
"Berhenti semuanya! Atau aku habisi wanita tua ini" teriak Eri.
Melihat bosnya dalam bahaya, segera saja anak buah Norita menyudahi perkelahian itu dan berdiri mematung di tempatnya. Takut kalau bosnya kehilangan nyawa.
"Bagus! Berhenti atau aku habisi dia!" kata Eri sedikit santai.
Tomi bertindak cepat dengan menembak tangan salah seorang anak buah Norita yang ingin melemparkan senjata ke arah Eri, hingga membuat semua merasa terkejut dengan suara tembakan itu.
"Oh, masih ada yang berani rupanya. Baiklah, kalian anggap ucapanku main-main ya? Kalian pikir aku tidak berani menghabisi nyawa wanita tua ini?" tanya Eri berapi-api.
Rasa marah pada keadaan, kekecewaan terhadap nasib yang buruk, tidak suka terhadap orang-orang yang telah menyakitinya membuat Eri memiliki keberanian seribu kali lipat.
"Tolong jangan lakukan itu, Eri. Aku tahu kau adalah wanita yang baik. Dan aku yakin kalau kau tak akan melakukan kejahatan terhadap siapapun" kata Norita memelas, takut juga dia kali ini.
"Kau pikir semua manusia akan takut padamu, dasar nenek tua tak tahu diri!" umpat Eri.
Tawanya yang seperti kemasukan iblis membuat tangannya seolah bergerak sendiri untuk menggorok leher Norita dengan pisau dapur yang dirampasnya.
Tak ada rasa takut, tak ada penyesalan pula saat pisau itu sudah berhasil membelah kerongkongan Norita hingga menimbulkan luka menganga tapi kepalanya masih tersambung dengan badannya karena tulang leher yang sulit dipotong dengan menggunakan pisau dapur.
Semua orang terkejut melihat cara Eri menghabisi Norita. Sementara para wanita hanya visa berteriak dan menangis melihat kelakuan Eri.
"Hahaha. Lihat apa yang bisa aku lakukan pada orang jahat itu!" kata Eri dengan lantang saat tubuh Norita masih kejang karena nyawanya yang sedang keluar dari tubuh.
"Jika salah satu dari kalian masih ada yang ingin berkhianat dan membuka mulut, maka nasib kalian tak akan jauh berbeda dari wanita tua ini. Dan aku pastikan kalau tanganku sendiri yang akan mengeksekusi para pengkhianat. Paham kalian?" teriak Eri yang berlumuran darah.
Semuanya terdiam, takut pada sisi gelap yang Eri tunjukkan pada mereka hingga membuat semua yang ada disana mengangguk setuju.
Bahkan anak buah Norita yang tersisa kini berada di pihak Eri untuk menjadikan wanita itu sebagai penerus Norita.
Kekuasaan baru berada di tangan Eri, dengan Tomi dan Wina yang menjadi orang kepercayaannya.
Kini Eri telah berubah menjadi sosok yang lebih tangguh setelah di gembleng oleh berbagai penderitaan selepas dari tahanan.
Akankah kekuasaan membutakan mata Eri hingga ia menjadi Norita yang selanjutnya?
Ataukah dia akan lebih memanusiakan mereka yang setia padanya?
.
__ADS_1
.
.