
Rencana Ruby sedikit meleset gara-gara kehadiran Johan yang memecah konsentrasinya.
Seharusnya sudah sejak tadi dia mengeluarkan pistol yang dia dapatkan dari balik jas Handoko dulu, yang ingin dia gunakan untuk memecahkan kepala Sam hari ini.
Tapi malah Johan ikut datang dan mengecoh perhatiannya. Ruby jadi harus mencari jalan lain agar bisa keluar untuk melakukan tugasnya yang ingin menghabisi Sam dengan tangannya sendiri.
Ah, sebuah ide muncul di otaknya. Mengingat doa masih menyisakan anak buah yang tadi terpencar, kini Ruby menghubungi mereka dan meminta mereka untuk datang ke tempatnya kini berada.
Beruntung mereka bisa mengecoh para bodyguard Sam dan pergi entah kemana untuk mencari mereka berdua yang berhasil sembunyi.
"Bagus, cepat datang ke tempat yang telah aku sharelok pada kalian berdua. Serang pria bule yang menggangguku, tapi ingat jangan sampai melukainya hingga parah karena dia adalah putraku" perintah Ruby sangat tidak masuk akal demi ambisinya.
"Menarik sekali, baiklah akan segera kami laksanakan, bos" jawab kedua anak buahnya dengan semangat yang masih menggebu.
"Segera lakukan agar pekerjaan jita segera selesai dan kita segera pergi dari kota ini" kata Ruby.
"Baik, bos" ucap anak buahnya dan segera melakukan tugas mereka.
Ruby menunggu dengan sabar sambil terus memperhatikan Sam yang berduel imbang dengan Tomi sementara Johan masih berusaha meyakinkannya dari luar jendela mobil.
Tak butuh waktu lama, anak buahnya sudah tiba dan langsung menyerang Johan.
Ruby tertawa melihatnya, menjalankan rencana yang sedikit meleset namun menyenangkan. Setelah ini dia akan meminta maaf pada putranya.
Melihat Johan yang kelabakan, Ruby segera mengambil pistol dari dalam tas jinjingnya. Dan bersiap untuk menembak Sam sesuai rencananya dengan Lian dan Tomi yang sudah diatur dengan begitu rapi.
Tapi Ruby lupa untuk mengisi dengan penuh pistolnya dengan peluru. Beruntung masih ada dua peluru yang tersemat di dalamnya.
"Sial! Pelurunya hanya ada dua. Aku harus ekstra fokus agar peluru ini cukup untuk menembus kepala dan dadanya. Lalu kita ucapkan selamat tinggal pada anak bodoh itu" gumam Ruby sambil bersiap turun dan melepaskan alas kakinya.
Berjalan diatas aspal panas tak membuat langkah Rubu terasa berat karena ambisinya untuk menghabisi Sam sudah diambang kesuksesan.
"Bersiaplah anak tampan" kata Ruby yang sudah membidikkan pistolnya ke arah Sam yang berduel dengan memunggunginya.
"Satu... Dua... Tiga...." ucap Ruby menghitung maju dengan jari telunjuk yang sudah ditekan di pelatuk pistolnya dengan mata tertutup sebelah untuk membidik. Ruby pernah belajar menggunakan senjata semasa belia dulu, masih ingat beberapa poin penting saat akan menarik pelatuk dan membidik sasaran bergerak di saat bersamaan.
Dor!!!!
Satu tembakan dari pistol Ruby terdengar nyaring hingga membuat Johan dan kedua lawan duelnya berhenti bertarung dan melihat ke arah pistol dalam genggaman Ruby yang masih menyisakan kepulan asap tipis.
Semua orang terkejut dan memandangi Sam yang nampak masih sehat dan berdiri tegak setelah menjadi incaran dari mulut pistol Ruby.
Lantas siapa yang tertembak?
__ADS_1
Seseorang telah tergeletak tak jauh dari tempat Sam yang terkejut. Ternyata sudah ada Lian yang terbaring diatas tanah.
"Lian... Nooo" teriak Sam dengan begitu miris.
Tapi sebelum menghampiri Lian yang tergeletak, terlebih dahulu Sam mengambil sebongkah batu yang teronggok di dekatnya dan menggunakan batu yang cukup besar itu untuk dilemparkan ke kepala Tomi.
Tindakan spontan ya itu berhasil membuat Tomi yang masih terkejut dengan suara tembakan, kini merasa semakin terkejut saat kejatuhan batu besar di kepalanya.
"Aahhh" teriak Tomi yang kesakitan dan sudah melihat banyak darah yang menetes dari kepala belakangnya.
Sam segera menghampiri Lian yang sudah tidak bergerak.
"Lian, no!! Kenapa lo lakuin ini semua, Lian? Kenapa lo korbanin diri lo demi gue?" tanya Sam dengan tangis yang tak bisa dibendung.
Pria ceria yang jauh dari kata menangis itu nyatanya tak bisa menahan diri lagi untuk tetap terlihat tegar. Sam menangis saat melihat Lian terbaring tak berdaya dalam pangkuannya.
Melihat hal itu, membuat Johan yang teringat sedang mengirim share lok terhadap Lia berinisiatif untuk meminta gadis itu agar menghubungi Ambulance.
"Panggil ambulance, Lia. Keadaan disini sangat gawat. Cepatlah datang karena Sam sedang dalam keadaan gawat" sebuah pukulan bersarang di kepala Johan setelah pesan suara itu terkirim pada Lia yang sudah dalam perjalanan menuju tempat dimana Johan berada.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kak" tanya Lia bingung dan khawatir dengan keadaan di tempat Johan berada.
"Lakukan saja apa yang Johan pinta. Katakan pada petugas Ambulance untuk segera datang ke lokasi" kata Bayu dengan penuh konsentrasi dan menyetir dengan kecepatan yang ugal-ugalan.
Lia melakukan apa yang Johan dan Bayu perintahkan. Dan petugas Ambulance pun bergerak cepat sesuai arahan dari Lia.
Sementara di tempat Sam berada, Ruby sangat menyayangkan sikap Lian yang mau mengorbankan dirinya.
"Dasar anak bodoh! Baiklah, matilah bersama Romeo mu!" kata Ruby yang kembali membidik Sam sebagai sasarannya dengan satu peluru yang tersisa.
"Tiga.... Dua.... Satu...!"
Dor!!!
Kembali suara dentingan pistol terdengar menggelegar, dan Ruby yang tadinya terpejam kini membuka matanya untuk melihat keakuratan tembakannya.
"Oh Tidak.... No..." kini Ruby berteriak dan berlari ke arah tubuh yang terbaring tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sementara Sam masih menangisi Lian yang nampak masih sadar meski ada sebuah peluru yang bersarang di kepalanya.
"Jangan menangis, Sam. Please" kata Lian lirih, diapun menangis karena tak kuat menahan sakitnya luka yang berdarah di kepalanya.
"Kenapa lo lakuin ini semua, Lian?" tanya sam sambil meninjui aspal hingga tangannya terluka.
__ADS_1
"Cukup Sam. Kamu terlalu berarti untuk terluka. Banyak orang yang menyayangimu dan berharap keselamatan atas dirimu. Tidak seperti aku yang hanya menjadi bidak catur dari keegoisan seseorang" kata Lian dengan terbata dan sesekali membuka matanya yang terasa kian berat.
"Lo terlalu berharga buat gue, Lian. Kehidupan yang bahagia bersama lo yang gue mau" rengek Sam dalam tangisnya.
"Maafkan aku ya, Sam. Karena semua tuduhan Mawan selama ini memanglah benar" ucap Lian kian lirih.
"Aku adalah pesuruh dari ibu Ery untuk menghabisi nyawamu. Tapi aku selalu mengulur waktu hingga dua tahun telah berlalu" kata Lian.
"Kini aku sadar jika akupun menyayangimu, Sam. Aku mencintaimu. Biarlah aku mengungkapkan perasaan ini meski terlambat. Agar nanti saat aku mati, tak ada lagi rasa yang tertinggal karena aku sudah mengutarakannya kepadamu" kata Lian.
"Maafkan aku yang mencintaimu dengan salah, Sam. Aku ternyata sangat mencintaimu" kata Lian yang sudah menutup matanya yang terasa kian berat.
"Lian... No, Lian.... Buka mata lo. Please" teriakan S melemah di akhir ucapannya.
Sam memeluk tubuh lemah itu dengan begitu eratnya sambil terus menangis. Kucuran darah dari kepala Lian menetes hingga mengotori baju seragam putih yang Sam kenakan.
Tembakan kedua Ruby pun tepat sasaran, tapi bukan pada tubuh Sam. Rupanya Johan yang tadi berlari dan membiarkan dirinya terluka oleh tembakan sang mommy.
"Johan! No Johan! Please ini hanya sebuah mimpi" tangis Ruby yang berlari setelah membuang pistolnya sembarangan. Melihat putra semata wayangnya limbung dan terjatuh, Ruby jadi kelabakan.
Wanita itu bersimpuh, mengambil kepala Johan untuk ditidurkan dalam pangkuannya sambil menangis dengan kerasnya.
"Johan... Apa yang kamu lakukan, sayang. Kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa sayang?" tanya Ruby sambil berteriak diatas tubuh Johan yang tergeletak.
"Apa mommy sudah puas? Apa sudah tak ada dendam dalam hati mommy?" tanya Johan lemah karena tembakan yang Ruby berikan menancap tepat di perutnya.
Sakit dan perih Johan rasakan, tak sesakit saat melihat kilatan amarah penuh dendam dari mata mommynya.
Saat Johan merasa tak bisa mengubah jalan pikiran mommynya, biarlah dia mengorbankan dirinya agar tak lagi melihat sang mommy yang pasti akan kembali menderita dan mendekam dibalik jeruji besi.
Semoga dengan kepergiannya, mommynya akan sadar untuk tidak lagi memupuk dendam. Lagipula meneruskan hidupnya adalah sesuatu yang memalukan bagi Johan.
"No Johan. Mommy sangat menyayangimu. Maafkan mommy, Johan. Mommy akan ikut denganmu pergi jauh dari kota ini setelah semua ini berakhir. Tapi kenapa kamu malah ingin meninggalkan mommy, nak?" tanya Ruby dalam tangisnya yang menjadi alas tidur putranya yang kesakitan.
Sementara kedua anak buahnya yang tadi ditugaskan untuk menghajar Johan kini sudah melarikan diri. Tak ingin untuk ikut tertangkap karena melihat ponsel Johan yang masih on dengan pesan WA yang aktif dengan seseorang bernama Lia.
Mereka berdua memutuskan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Berlari meninggalkan mobilnya tetap dilokasi kejadian. Lagipula itu juga bukan mobil mereka. Dan kabur adalah jalan terbaik.
Tak berselang lama, rombongan Lia datang hampir bersamaan dengan dua ambulance yang tadi Lia hubungi.
"Sam... Apa kamu baik-baik saja?" teriak Lia yang langsung turun dari mobil dan berlari ke arah adiknya.
Lia memeluk Sam yang sedang menangisi Lian yang terkapar. Tak memperdulikannya dirinya sendiri yang kondisi lukanyapun belum sembuh total.
__ADS_1
Dan bergerak dengan hentakan seperti itu membuat luka di lengan Lia kembali berdarah. Rembesannya terlihat dari luar baju yang dia gunakan.