
"Bagaimana kabar kamu, Lia? Maaf baru bisa datang menjenguk" kata Silvi yang membawa bucket bunga besar berisikan mawar kuning sebagai tanda persahabatan.
"Aku sudah baikan kok, Sil. Hari ini sudah bisa pulang. Nggak betah aku kalau berlama-lama di rumah sakit" jawab Lia sambil meletakkan bunga dari Silvi diatas nakas.
"Kamu kelihatan kurang sehat, Sil" kata Lia sambil memandangi wajah Silvi yang terlihat sedikit kurus.
"Masak sih? Nafsu makanku sedikit menurun dua hari ini, mungkin itu yang membuatku terlihat kurusan" jawab Silvi tersenyum dan mendekat untuk duduk di dekat Lia.
"Apa kak Bayu sudah datang menjengukmu?" tanya Silvi yang memang menghilang beberapa hari belakangan ini, diapun tak tahu menahu tentang Ruby yang kini menjadi buronan.
"Bukan hanya menjenguk, bahkan kak Bayu yang membawaku dan merawatku dengan tangannya sendiri saat aku terluka kemarin, Sil. Aku sangat kagum akan kemampuannya sebagai seorang dokter, aku sangat ...." Lia tak meneruskan perkataannya saat melihat wajah Silvi yang menunduk seolah menyimpan rasa.
"Ehm, maafkan aku. Kamu sendirian?" Lia mengalihkan pembicaraan agar Silvi tak semakin terluka.
"Iya, aku sendiri. Tak ada yang mengerti perasaanku, Lia. Tak sepertimu yang dikelilingi orang-orang yang sangat mencintaimu. Bahkan orang tuaku pun selalu sibuk sendiri" kata Silvi yang hampir menangis, entah mengapa perasaan Silvi seolah mudah terluka saat ini. Dia terlihat sangat rapuh.
"Tentu tidak, Sil. Aku sangat perduli padamu. Kau hanya perlu membuka matamu dan melihat bahwa banyak sekali yang menyayangimu. Bahkan kau punya fans yang selalu memberimu hadiah. Aku tak punya yang seperti itu. Seharusnya kau bersyukur dengan semua itu, Sil" kata Lia sambil memegangi kedua tangan Silvi yang bergetar.
"Tidak semua yang kau lihat sempurna itu menyenangkan, Sil. Semua orang berdiri diatas masalahnya masing-masing. Kau hanya tinggal menjalani jalan takdirmu dengan tulus dan tetap berada di jalan yang benar. Maka kau akan menemukan keindahan setelah badai berlalu dari hidupmu, Sil" Lia menasehati sahabatnya sebisa mungkin.
Lia pikir tak ada jalan hidup yang sulit yang Silvi alami. Bahkan banyak keberuntungan yang berpihak padanya tanpa dia sadari dan syukuri.
"Tak ada hati yang mampu mengerti aku, Lia. Bahkan orang yang sangat aku sayangi dan aku cintai bahkan lebih memilih untuk mengacuhkanku. Kau tak tahu rasanya memendam rasa hampir setengah dari usiamu. Itu rasanya sangat pahit, Lia" ucap Silvi yang sudah berkaca-kaca.
"Kau tahu, Sil. Rasa cinta berlebihan akan menumbuhkan ambisi dalam hatimu untuk memiliki. Tapi rasa cinta yang tulus, akan berusaha untuk mengerti jika cinta itu tak harus memiliki. Karena sedikit saja kau mau berusaha membuka hatimu, maka kau akan melihat begitu banyak pria yang mengantri untuk mau mendapatkan cintamu, Sil. Kau hanya perlu untuk sedikit membuka hatimu" kata Lia, entah darimana dia bisa berbicara selancar itu tentang percintaan.
Padahal dia sendiri sebenarnya sangat bodoh akan hal itu.
"Hah, mungkin kau benar, Lia. Aku hanya perlu membuka hatiku dan melupakan obsesiku. Tapi jika nanti aku gagal, aku tidak yakin untuk tak berusaha mengejar cintaku meski dengan berbagai cara" kata Silvi sambil membuang nafasnya, menengadahkan kepala dan berusaha menghapus jejak air mata yang sudah menggantung.
Silvi sangat tertekan, rapuh dan entah mengapa dia jadi sangat cengeng.
"Sudahlah, jangan membahas hal yang akupun tak mengerti. Ehm, bagaimana pekerjaanmu? Apa kau tidak ada jadwal pemotretan sampai kau bisa datang kemari dan menjengukku, Sil?" tanya Lia.
"Lusa aku terbang ke Cina, ada launching sebuah produk baru disana. Dan aku dipercaya untuk menjadi bintang iklannya. Ini adalah job pertamaku untuk berlakon di layar kaca meski bukan di sebuah film" kata Silvi penuh rasa percaya diri.
Tok .. Tok .. Tok ..
__ADS_1
Suara derit handle pintu membuyarkan obrolan dua sahabat. Keduanya kompak melihat ke arah pintu yang memunculkan empat orang tua yang kebetulan juga baru sempat menjenguk Lia.
"Kakek, nenek, aku sangat merindukan kalian" ucap Lia manja sambil membuka lebar tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih sedikit ngilu saat digerakkan.
"Oh sayang. Kami juga sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Suzy.
"Lia sudah lebih baik, nek. Nanti sore Lia sudah boleh pulang" kata Lia sambil memeluk satu per satu orang tua yang baru saja hadir.
"Bagaimana kau bisa dilepaskan sendirian begini, sayang? Asal kau tahu, begitu banyak musuh yang bertopeng baik yang sudah siap untuk menusukmu jika kau tidak berhati-hati, sayang" ucap Meryl sambil sesekali melirik ke arah Silvi.
"Oma Meryl terlalu parno, semuanya akan baik-baik saja. Bukankah sudah ada banyak penjaga yang berdiri di luar pintu" jawab Lia yang memang belum tahu akan pengkhianatan yang Silvi lakukan terhadapnya.
"No, kadang orang terdekatmu yang menjadi pengincarmu, nak" kini Guntur yang berucap.
"Pak Guntur juga terlalu negatif thinking pada orang lain" jawab Lia sambil tersenyum, menganggap pembicaraan kedua orang tua itu adalah candaan semata.
"Jangan menjadi bodoh dengan terlalu percaya terhadap orang lain, Lia" ucap kakek Abra.
"Baiklah, aku memang kalah pengalaman daripada kalian. Terimakasih atas nasehat yang sudah kalian berikan. Untuk ke depannya, Aku akan berusaha menjadi orang yang lebih berhati-hati" akhirnya Lia ingin menyudahi aksi sindir menyindir yang para orang tua lakukan setelah melihat ke arah Silvi yang hanya bisa menunduk.
"Sebenarnya kami ingin membahas sesuatu denganmu, tapi topik pembahasan yang akan kami utarakan padamu sedang mengawasimu, jadi kami akan tunggu sampai saat yang tepat itu datang dan kita bisa bicara dengan nyaman" kata Meryl.
"Sepertinya sangat penting, memangnya membicarakan apa sih kek?" Lia terlihat sangat penasaran.
"Ehm, siapa dokter yang bertanggung jawab atas dirimu disini, Lia?" celetuk Guntur.
"Tentu saja kak Bayu, pak Gun. Asal kau tahu saja kalau dia yang membawaku, merawatku hingga tak memperbolehkan ada dokter lain yang menanganiku selain dirinya" ucap Loa dengan begitu berbinar, rupanya Lia sedikit melupakan keberadaan Silvi. Memendam rasa bahagia itu ternyata cukup sulit, Lia sangat ingin membicarakan semua kebaikan Bayu kepadanya.
Mendengar hal itu membuat tangan Silvi terkepal kuat untuk mengurangi rasa sakitnya. Entah siapa yang pengkhianat disini, Lia yang tiba-tiba menyukai Bayu atau Silvi yang berusaha menggapai cintanya?
"Lalu dimana dia sekarang?" lanjut Meryl yang semakin semangat untuk menyindir Silvi.
"Dia sedang melakukan operasi, jadwalnya agak sibuk sampai siang ini karena dia habis cuti untuk menemaniku kemarin malam" jawab Lia.
"Oh iya, apa kakek tahu dimana Johan? Aku tak melihatnya sejak tadi pagi" tanya Lia.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak perduli. Karena ulah mamanya kau jadi seperti ini, nak" ucap Abra.
__ADS_1
"Tapi kek, yang jahat itu tante Ruby bukannya Johan. Jadi kakek tidak boleh memarahi Johan. Dia sudah terlalu tertekan sejak kecil dengan perbuatan mamanya. Aku kasihan sekali padanya" kata Lia.
"Ehm, sepertinya tubuhmu sedikit berubah Gadis cantik. Apa kau tak ingin memeriksakan kondisi kesehatanmu mumpung kau sedang berada di rumah sakit" perkataan Meryl membuat semua orang beralih pandang terhadap Silvi. Sedangkan yang ditatap jasi salah tingkah.
"Memangnya aku kenapa, tante?" tanya Silvi.
"Sepertinya iya, Sil. Kau terlihat sedikit pucat dan lemas. Aku jadi ikut khawatir padamu" kata Lia.
"Itu karena nafsu makanku yang berkurang, Lia. Tak ada masalah apapun" jawab Silvi.
"Tidak, lebih baik kau memeriksakan diri saja, Sil. Aku mohon, aku hanya tak ingin kau kenapa-kenapa" ucap Lia.
"Baiklah, aku akan segera ke dokter spesialis. Lagipula jadwalku sedang longgar hari ini" ucap Silvi bersiap, tidak nyaman sekali berada diantara penyindir uling seperti Meryl dan si gendut Guntur.
"Bagus kalau kau mengerti, nak" ucap Suzy, dia masih belum bisa percaya jika sahabat cucunya adalah seorang pengkhianat.
"Aku pergi dulu, Lia. Semoga kau bisa lekas sehat" pamit Silvi sambil mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya.
"Hubungi aku jika ada sesuatu atau jika kau memerlukan sesuatu" kata Lia.
"Bagaimana jika aku memerlukan kak Bayu?" pertanyaan Silvi membuat semua orang kompak menoleh ke arahnya.
"Tentu kau bisa menghubunginya sendiri. Kita sama-sama punya nomor ponselnya, bukan" jawab Lia tanpa ada rasa curiga sedikitpun, lain dengan empat lansia yang masih nampak sehat itu.
"Baiklah aku pergi dulu, Lia" kata Silvi benar-benar pergi.
Gadis itu melangkahkan kakinya santai tapi pikirannya sedang bingung.
"Mau ke dokter apa aku ini?" gumam Silvi.
Tapi mengingat nasehat dari Ruby di pertemuan terakhir mereka, kini Silvi dengan langkah mantapnya menuju ke spesialis kandungan.
Entah apa yang ada di benaknya, yang jelas mau tak mau dia harus melanjutkan rencananya karena dia sudah melangkah sejauh ini.
Sampai di poli kandungan, Silvi duduk diantara para ibu hamil yang tengah ditemani oleh suami mereka dengan penuh kasih. Sedangkan dia datang sendiri tanpa ada yang menemani.
Sampai namanya dipanggil, Silvi tak merasa berdebar sedikitpun. Karena jika memang dia sedang hamil, berarti memang dia harus lebih keras untuk melanjutkan rencananya.
__ADS_1