
* Lia POV
Lima langkah lagi kami berbelok, tapi entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres di belakangku. Ada suara langkah kaki selain langkah kami bertiga.
Rasa penasaranku membuat kepalaku refleks menolah dan melihat ada seorang wanita yang berdiri dengan seringai jahat di wajahnya.
Seringai yang sama jahatnya seperti saat wanita itu ingin membunuhku semasa aku kecil dulu. Dan aku tahu kalau wanita itu tidak sedang main-main karena dia membawa pisau lipat di tangannya yang terarah pada mamaku.
Tanpa banyak kata, wanita itu melemparkan pisau itu. Sontak saja aku langsung menggunakan tubuhku sebagai tameng mama.
Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mama. Aku sangat menyayanginya.
Dan hal itu membuat pisau kecil itu menancap di lenganku, rasanya perih. Beruntung tidak menancap di dadaku. Kalau tidak, aku bisa saja menyusul kelima orang yang baru saja kak Bayu habisi.
"Aahhh" aku berteriak kesakitan saat pisau itu tertancap di lengan kiri.
Aku melihat kak Bayu menoleh dengan cepat dan raut wajah kekhawatiran meliputinya. Ahh, dia terlihat sangat manis.
"Lia? Kau terluka" teriak kak Bayu yang langsung melepaskan pegangan tangannya pada mama.
Begitupun mama, wajah takut sangat terlihat jelas. Tapi aku bahagia karena bisa melindungi mama.
"Ah, banyak sekali darah yang keluar" kata kak Bayu yang langsung merobek lengan bajuku dengan pisau yang tadi sempat aku lepaskan dari lenganku.
Saat aku menoleh pada Tante Ruby, wanita itu nampak bahagia karena berhasil melukaiku dan dibelakangnya, ada Johan yang berteriak histeris.
"No mommy!" teriaknya dengan wajah muram.
Tante Ruby menoleh sebentar, dan setelah tertawa kecil, dia berlari entah kemana. Dan setelah itu baru aku merasa lenganku yang terasa perih.
"Seharusnya kau biarkan pisaunya menancap Lia. Agar tak semakin banyak darah yang keluar" sesal kak Bayu karena darah di lenganku masih saja merembes meski sudah dililit dengan jaket tipis milik mama.
"Aku tidak mengerti, kak. Melihat pisau ada di tubuhku, refleks saja aku menariknya" ujarku sambil meringis, sakit.
"Aku tidak membawa alat untuk menjahit luka. Semoga saja dengan ikatan ini darahnya bisa berkurang" ujar Bayu yang sudah memberi beberapa ikatan di ketiak dan di lukaku.
Baru kali ini aku melihat kak Bayu dalam jarak sedekat ini. Ternyata dia itu memang tampang. Dan semakin dia terlihat khawatir, wajahnya juga terlihat semakin tampan. Dengan peluh yang banyak keluar di dahinya lalu butiran kecil peluh itu menyatu hingga membuatnya menetes.
Turun dari dahi melewati hidungnya dan menetes dari pucuk hidungnya. Itu semakin membuatnya tak terjelaskan. Auranya menjadi berbeda.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau bisa jatuh cinta padaku" ucap kak Bayu yang sepertinya tahu jika sedang aku perhatikan meski matanya tak menatapku.
__ADS_1
Aku jadi tersipu karena ketahuan memandanginya. Bahkan kini aku tak merasakan perihnya lukaku saat fokus melihat wajah kak Bayu.
"Apa saat melakukan operasi, kakak juga bertampang seperti ini?" tanyaku iseng saat dia masih fokus pada lenganku.
"Tentu tidak. Pastinya rambutku akan kuikat rapi dengan memakai topi dan masker operasi. Serta ada suster yang juga fokus untuk mengusap keringatku agar tak jatuh ke meja operasi" jawab Kak Bayu tanpa melihat ke arahku.
"Sudah selesai. Sekarang kita tinggal menunggu papamu datang dan aku juga akan memanggil ambulance" kata kak Bayu lagi.
Kini dia terlihat sibuk dengan ponselnya dan dia benar-benar memanggil ambulance.
"Kau tidak apa-apa nak?" tanya Mama dengan wajah khawatir sambil memelukku dari bagian kanan yang tak terluka.
"Sudah lebih baik, ma" ucapku berbohong agar mama tak semakin khawatir, padahal selepas kak Bayu melepaskan tangannya tadi, rasa perih itu kembali datang hingga terasa berkedut-kedut.
Setelah beberapa saat, kak Bayu kembali datang dan duduk di hadapanku yang teronggok di lantai. Dia memandangiku lekat tanpa rasa malu meskipun ada mama disampingku.
"Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku pastikan wanita itu tidak akan pernah lagi melihat sisi indahnya dunia ini, Lia" ujar kak Bayu dengan tatapan sadis.
"Sudahlah kak. Aku juga baik-baik saja" jawabku.
"Kau tidak sedang baik-baik saja, Lia. Aku jamin nanti saat kau berdiri, pasti pandanganmu akan menggabur. Terlalu banyak darah yang keluar dari lenganmu. Sepertinya pisau itu mengenai arteri subklavia di lenganmu" kata kak Bayu menjelaskan keadaanku dan kembali memegangi lukaku dengan sedikit kencang.
"Peganganmu terlalu kencang, kak. Rasanya agak sakit" aku mengingatkannya.
"Tapi keadaannya tidak segawat itu kan, nak?" tanya mama khawatir. Selain khawatir melihat kondisiku, pasti mama juga merasa bersalah karena aki menjadi seperti ini karena berusaha menyelamatkannya.
"Semoga saja dia kuat, tante" jawab kak Bayu.
"Apa yang kakak lakukan pada lima orang itu?" tanyaku sambil menunjuk lima mayat di tengah lorong menggunakan daguku.
"Aku hanya menyuntik mereka saja" jawab kak Bayu.
"Dengan racun? Mereka mati dengan cepat" tanyaku.
"Tidak! Hanya air biasa yang aku pastikan tersuntik tepat di arteri karotisnya agar tak ada oksigen yang masuk ke kepala mereka dan otak mereka yang dimasuki air akan rusak dengan cepat seperti saat kau mencuci otak ikan yang lembut" jawab kak Bayu.
Aku hanya mengangguk. Sedikit mengerti dengan penjelasannya karena dulu aku masuk jurusan IPA saat masih sekolah.
"Kemana wanita itu pergi" gumam kak Bayu sambil celingukan.
Tak lama berselang, Johan datang dengan tampangnya yang acak-acakan. Dan raut wajahnya sangat tak bisa terbaca. Pasti dia sangat terpukul melihat mamanya yang kembali berusaha menyakiti aku dan mama.
__ADS_1
"Bagaimana kondisimu, Lia?" tanya Johan yang hampir menangis.
"Aku baik, Jo. Kak Bayu sudah merawatku dengan baik juga" jawabku agar dia tak terlalu merasa bersalah.
"Kau memang pria yang tepat sebagai pendamping Lia, bro" tiba-tiba Johan ngelantur, dan aku merasa deg-degan untuk pertama kalinya dalam hidupku.
"Kau jangan bercanda, Jo" ucapku, dan pipiku terasa sangat panas.
"Kau tahu Lia. Aju sangat merasa bersalah padamu, juga pada tante Vivi yang menjadi seperti ini karena ulah mommy ku lagi setelah sekian tahun sudah berlalu" ujar Johan sambil menunduk.
Aku dan mama hanya bisa saling pandang dan kembali bersiap mendengar curahan hati Johan lagi.
"Aku malu pada kalian, aku tak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Bahkan aku tak bisa mengejar mama yang tadi melarikan diri. Dia masuk ke sela-sela yang aku tak muat ke dalamnya. Kenapa mama bisa menemukan jalan kabur di tempat yang seperti itu" ucap Johan dengan nada suara yang bergetar.
Sungguh aku tak tega melihatnya. Padahal aku selalu memaafkan Johan, tapi tentu tidak dengan mamanya.
Dendam Tante Ruby sudah terpupuk terlalu tinggi. Tak ada cara untuk menghilangkannya selain melihat keluargaku hancur. Dan aku harus lebih berhati-hati ke depannya.
"Sudahlah Jo, ini semua bukan salahmu. Kau akan tetap menjadi saudara terbaikku untuk selamanya" jawabku dan membuat Johan mendongak untuk menatapku lekat.
"Saudara yang baik?" ulangnya.
"Tentu" jawabku sambil berusaha menampilkan senyuman meski rasanya sulit.
Tak berselang lama, terdengar derap langkah dari banyak orang mendatangi kami. Aku yakin itu adalah papa.
Dan benar saja, saat papa sudah berhasil sampai di tempat ini, sangat terlihat raut wajah kekhawatiran.
Papa berlari di barisan terdepan, diikuti beberapa anak buahnya dan juga para pria berseragam coklat.
Semakin dekat dengan kami, papa melewati geletakan mayat dengan sedikit lirikan pada mereka.
"Kalian baik-baik saja, kan? Kenapa ada ambulans yang datang?" tanya papa dengan wajah panik.
"Oh tidak! Kau terluka sayang" ucap papa yang sadar jika tangan kak Bayu memegangi lenganku yang terikat jaket mama.
"Hanya luka kecil, pa" ucapku sambil tersenyum manja, berharap papa tidak semakin khawatir.
Dan saat serombongan petugas medis datang dengan tandunya, aku berusaha bangkit dengan kak Bayu yang tak melepaskan genggamannya.
Benar saja, saat tubuhku baru saja bisa berdiri dengan baik, pandanganku langsung tak jelas. Semua terlihat berputar-putar dan perutku jadi terasa mual.
__ADS_1
Tapi belum sempat aku memuntahkan isi dalam perutku, pandangan mataku sudah menghitam.
Dan aku ambruk bahkan sebelum melangkah meski hanya satu langkah saja.