My Angel Baby

My Angel Baby
Masih hari pertama, Sam!


__ADS_3

"Lo kagak ke kantin, Sam?" tanya Mawan yang melihat Sam masih saja anteng di bangkunya meski bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.


"Nggak, Wan. Tante gue ngasih bekal buat gue makan waktu istirahat" ucap Sam sambil memamerkan kotak makan berwarna pink milik Gita.


"Ya elah, segala kotaknya warna pink. Memangnya isinya apaan Sam? Gue jadi penasaran" ucap Mawan, setelah mengolok warna kotak makannya malah penasaran dengan isinya.


"Nggak tahu juga gue. Kita buka sama-sama saja biar tahu isinya" ujar Sam yang perlahan membuka kotak bekalnya dan melihat isinya.


Rupanya bento nasi goreng pedas berbentuk beruang lucu dengan mata yang terbuat dari sosis. Serta setumpuk naget ayam dan telur dadar berbentuk mie. Tak lupa ayam suwir disertai sayur selada dan wortel.


"Hahaha. Tante lo kocak Sam. Bocah SMA bekalnya kayak bocah SD. Tapi baguslah Sam kalau lo masih sempat bawa bekal. Gue dari jaman orok kagak pernah bawa bekal karena enyak gue sudah meninggal. Tinggal babe gue doang yang suka maen perempuan" kata Mawan tanpa ekspresi sedih.


"Oh iya, jangan sampai lo ilangin kotak bekalnya, Sam. Tabte lo bisa ngamuk seminggu lebih kalau kotaknya hilang" lanjutnya.


Sebenarnya Sam ingin bersedih mendengar cerita hidup Mawan, tapi dia urungkan karena Mawan sendiri tak merasa bersedih setelah bercerita.


"Lo mau? Kita makan sama-sama gimana?" tanya Sam menawarkan bekalnya.


"Beneran Sam? Lo kagak keberatan?" tanya Mawan dengan antusias.


"Nggak lah. Bekal doang" jawab Sam.


Mata Mawan berbinar, entah mengapa Sam jadi kasihan melihatnya. Perkara berbagi bekal saja sudah membuat Mawan sebahagia itu. Sam jadi lebih bersyukur meski masih lebih banyak rasa sesak di hatinya.


Dengan dalih menggembleng mentalnya, keluarganya tega menitipkan satu-satunya pangeran tampan di keluarga Alexander kepada Gita yang dianggap mampu mengajari makna hidup padanya, seperti Lia dulu.



Sementara di sekolah lamanya, Nathan, Hans dan Mila tengah merenung bertiga di kantin sekolah.



"Gara-gara kita nggak sih Sam jadi pindah sekolah?" tanya Hans.



"Maksud lo, gara-gara obrolan kita kemarin pagi? Tapi gue rasa dia nggak dengar kok" jawab Nathan dengan masih melamun.



"Hilang deh atm berjalan gue. Pangeran ganteng yang membanggakan saat diajak jalan" keluh Mila.



"Jadi lo pacaran sama Sam cuma karena tampang sama hartanya doang, Mil?" tanya Nathan.



"Apalagi? Suatu kebanggan bisa jadi pacarnya saat semua gadis ingin memilikinya. Tapi sekarang dia sudah pergi. Kira-kira siapa cowok most hunted selanjutnya ya?" tanya Mila tanpa malu.



"Gila sih Lo, Mil. Gue rasa Sam memang punya perasaan spesial buat lo, tapi elonya malah cuma main-main" ujar Hans.



"Sam? Nggak mungkin lah Hans. Lo kayak nggak tahu dia saja" kata Mila.



"Memangnya Sam pindah kemana sih?" tanya Nathan.

__ADS_1



"Nggak ada yang tahu. Bahkan pihak sekolah merahasiakannya atas permintaan keluarganya" jawab Mila.



"Mungkin ke luar negri" celetuk Hans



"Bisa jadi" timpal Nathan



Sementara sepulang sekolah, Sam sedikit kesal karena cuaca panas yang tak bersahabat membuat peluhnya turun dengan derasnya.


Sambil menyeka keringat di keningnya, Sam mendongak untuk melihat betapa bahagianya matahari yang sedang bersinar dan membakar kulitnya.


Duduk diatas motor maticnya, Sam masih sempat mengoleskan tabir surya di lengan dan wajahnya sebelum pulang demi menjaga kulitnya agar tak terbakar sinar matahari.


"Hahaha, banci banget cowok takut sinar matahari" ejek salah satu siswa yang entah sejak kapan sudah menggerombol di sekitar Sam.


"Daripada nanti wajah tampan gue butek kayak lo" balas Sam santai dengan tetap melakukan aktivitasnya.


"Lo pikir lo tampan?" teriak siswa itu cukup nyaring, hingga membuat beberapa murid lain yang ingin mengambil motor merekapun jadi terdiam untuk melihat tontonan gratis yang akan berlangsung.


"Ya memang gue tampan. Tanya saja sama semua teman lo, mata sehat pasti melihat wajah gue itu tampan, bro" ucap Sam sambil memasukkan tabir surya ke dalam tasnya dan memakai jaket serta helmnya untuk bersiap pulang.


"Hei banci! Ternyata selain banci Lo juga cemen ya. Hahaha" ejek siswa itu semakin tak terkendali.


"Huh! Apalagi ini? Baru juga hari pertama sekolah sudah ada saja yang menguji kesabaran gue" keluh Sam dalam hatinya sambil memandangi satu per satu wajah dari empat siswa yang menghadang jalannya.


"Mungkin mereka siswa ternakal di sekolah ini" gumam Sam yang melihat ke empat siswa itu berpakaian tidak teratur, topi yang banyak gambaran dari tipe x, dan juga sepatu berwarna putih yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah.


"Lo nantangin gue?" tanya siswa itu dengan mata melotot.


"Kalau lo takut mundur saja" tegas Sam lagi.


"Sialan lo! Lo pikir gue takut saka banci kayak lo?" tegas siswa itu sembari melayangkan bogem mentah ke arah Sam tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Sam yang belum siap tentu sedikit kelabakan dan bogem itu sempat mendarat di helm yang dia kenakan saat dia mengelaknya tadi.


"Serius nih ceritanya?" ujar Sam sambil menuruni motornya lagi dan melepaskan helmnya.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang kosong di area parkir dan mulai memasang kuda-kuda.


Aksi saling tonjok pun dimulai, Sam yang sudah dibekali ilmu karate oleh kakaknya kini merasa tertolong. Meski dengan malas saat berlatih dulu, nyatanya sekarang ilmu bela diri itu sangat berguna.


Aksi keduanya kini sudah menjadi tontonan umum yang gratis. Meski suasana panas mencekam, mereka masih semangat untuk melihat duel antara Sam dan preman sekolah.


"Kalau lo kalah, lo harus jadi anak buah gue" kata Sam disela pertarungannya.


"Berlaku sebaliknya" ucap siswa itu.


"Tidak masalah" jawab Sam santai dan kembali berduel dengan skill masing-masing.


Cukup alot memang duel yang Sam lakukan kali ini. Namanya juga preman sekolah. Pastilah mereka punya bekal khusus agar bisa ditakuti oleh murid lainnya.


Sorak sorai dari para murid yang menonton membuat suasana bertambah gaduh dan semangat keduanya jadi meningkat, ditambah dengan panasnya suasana dan suasana hati. Tak ada yang mau mengalah.


Bugh!

__ADS_1


Wajah tampan Sam terkena tonjokan dari tangan siswa preman itu.


"Sialan! Lo bikin wajah ganteng gue lecet, bego! Kurang ajar!" umpat Sam tak terima saat pipinya harus merasa kebas.


"Dasar banci!" ledek siswa itu.


Amarah Sam sudah memuncak kali ini. Rasa lelah, lapar dan amarah bercampur membuat Sam semakin memanas.


"Cukup, gue sudah malas ngeladeni elo" ucap Sam sambil meningkatkan serangannya dengan membabi buta.


Siswa itu mulai kelabakan. Dan akhirnya Sam bisa membuat siswa itu tumbang. Jatuh telentang diatas tanah berpaving dan diterangi teriknya matahari sore.


"Rasain tuh! Makanya jangan berani-beraninya lo ngerusak wajah tampan gue" kata Sam sambil menendang sekali lagi ke tubuh lemah dari siswa itu.


"Cukup! Kalian berdua ikut bapak ke ruang BP sekarang juga" kata seorang guru yang entah sejak kapan berada ditengah mereka.


"Hadeh! Masalah lagi" keluh Sam malas sambil mengikuti langkah guru itu dengan santai. Beriringan dengan siswa preman yang dibopong oleh ketiga temannya.


"Ayo masuk" ajak pak guru yang sudah membuka ruang BP.


"Ravi, kamu lagi-lagi bikin masalah ya" kata pak guru.


"Oh, nama nih anak Ravi rupanya" gumam Sam.


"Kamu siapa? Kenapa saya tidak pernah melihat kamu?" tanya guru itu.


"Bapak ini guru apa bukan sih? Masak sama muridnya nggak tahu?" kesal Sam.


"Saya murid baru di sekolah ini pak" lanjutnya malas.


"Kamu ini, masih baru tapi sudah bikin masalah" kata guru itu.


"Bapak guru BP disini? Tapi bukan saya yang bikin masalah pak. Nih anak ngeledek saya, jatuh dong harga diri saya sebagai seorang laki-laki jika tidak menyanggupi tantangannya" ucap Sam membela diri.


"Kalian ini sama saja. Pokoknya kalian berdua bapak hukum membersihkan toilet pria di sekolah ini. Kerjakan sekarang juga dan jangan pulang sebelum toiletnya bersih!"perintah sang guru.


"Tapi saya lapar pak. Besok saja deh hukumannya saya kerjakan" tawar Sam.


"Tidak bisa. Kamu masih bertenaga untuk berantem tapi hanya membersihkan toilet saja kenapa tidak bertenaga?" tanya pak guru.


"Ah bapak ini tidak asyik sekali" gumam Sam, bukannya bohong, tapi memang perut Sam sudah keroncongan di siang menjelang sore begini.


Sementara Ravi yang masih lemas dan ketiga temannya diam saja sejak tadi.


"Kerjakan sekarang atau saya hubungi wali kalian dan kalian akan di skors" ancam pak guru.


"Huft, beraninya main ancam. Yasudah, ayo kalian berempat ikut gue bersihin toilet" ajak Sam pada Ravi dan teman-temannya.


Kelima siswa bermasalah itupun beranjak pergi. Melangkah perlahan dengan Sam berada di depan.


"Hei Tunggu" kata Ravi menghentikan langkah Sam.


Berhenti dari langkahnya, Sam berbalik dan mendapati Ravi sudah berada di dekatnya.


"Apa lagi?" tanya Sam bersiap jika Ravi ingin meneruskan duelnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2