
"No! Liaannn" teriak Sam saat melihat tubuh Lian mulai bergerak.
Tapi sebenarnya sejak tadi Sam sudah mengambil ancang-ancang untuk mengantisipasi apapun yang akan terjadi pada Lian.
Berkat fokusnya yang baik atau mungkin refleksnya yang memang bagus, tangan Sam langsung terulur untuk memegang apapun dari bagian tubuh Lian yang bisa dia jangkau.
Beruntung Sam bisa segera memegang kaki Lian dan menggenggamnya dengan erat agar Lian tak terjatuh.
"Aaahhhh" teriak orang-orang yang berada dibawah, begitu juga pengunjung yang ikut terjebak di roller coaster itu.
"Lepasin Sam! Biarkan aku pergi selamanya dari dunia ini. Biarkan aku bersama ibuku saja di alam sana. Jangan berusaha menolongku, Sam" teriak Lian, entah sejak kapan dia menangis.
"Nggak akan. Kalau lo mati, gue juga ikut sama lo" teriak Sam tak kalah nyaring, berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan Lian dan menjaga keamanannya sendiri.
Sam masih ingin menikmati hidup panjangnya bersama wanita yang dia cintai.
"Tolong Sam. Lepasin aku. Biarkan aku mati saja" kata Lian lagi, air matanya semakin deras.
Sudah sangat lama Lian berusaha untuk tidak menangis meski kehidupan keras seolah tak mau jauh darinya. Nasibnya selalu tak baik.
Sam melihat ke sekitarnya, dibawahnya sudah nampak banyak sekali orang yang berusaha menolong Lian apabila benar-benar terjatuh.
Terlihat beberapa petugas pemadam kebakaran yang bergerak cepat dengan menggelar jaring berukuran cukup besar dengan matras diatasnya untuk menangkap Lian.
"Tolong perhatiannya!" kata salah seorang petugas pemadam kebakaran melalui speaker kecil setelah semua peralatan dianggap siap.
Sam membuka matanya dan melihat ke bawah, ke arah sumber suara.
"Kami sudah menyiapkan alat penolong. Kamu bisa melepaskan gadis itu sekarang, nak. Semoga dia bisa jatuh di tempat yang tepat" ujar bapak itu masih melalui mikrofon.
Sam mengangguk, tangannya memang sudah merasa terlalu lelah untuk menahan berat badan Lian yang semakin lama seolah terasa semakin berat saja.
Sam berusaha melihat keakuratan alat pengaman itu seandainya dia sudah yakin untuk melepas kaki Lian.
Dengan pertimbangan yang cukup, Sam mulai menghitung dalam hatinya untuk benar-benar yakin melepaskan pegangan tangannya.
"1.. 2.. 3.." gumam Sam yang langsung melepaskan genggamannya.
Sementara terdengar suara teriakan lantang dari Lian selama dia terjatuh. Rupanya dia merasa takut juga.
Brugh!
Akhirnya tubuh Lian mendarat tepat diatas matras yang telah disiapkan oleh para petugas keamanan bersama petugas pemadam kebakaran.
Suara tepuk tangan terdengar lantang melihat kesuksesan para petugas yang terkait untuk menyelamatkan Lian.
Beberapa saat setelah Lian berhasil selamat, rollercoaster itu mulai kembali berjalan pelan. Para pengunjung yang tadi sempat terjebak kini bisa kembali bernafas lega.
__ADS_1
"Maafkan atas insiden yang terjadi" ujar beberapa petugas taman hiburan itu kepada semua penumpang yang ditolong untuk turun dari wahana itu.
Semua penumpang duduk bergerumbul diatas rumput karena digiring oleh petugas yang ada.
Satu persatu diberi minuman untuk menenangkan kekhawatiran mereka yang selamat dari insiden siang itu.
Sementara Sam langsung berlari untuk menemui Lian yang tadi dibawa petugas keamanan dengan melupakan rasa sakit di tangannya karena menahan berat badan Lian selama hampir lima belas menit.
"Mau dibawa kemana, pak?" tanya Sam, Lian yang masih terisak sedang didorong dengan kursi roda oleh salah seorang petugas disana.
"Ke unit kesehatan, dik. Dia datang bersamamu?" tanya petugas itu.
"Iya pak, kami datang kesini hanya berdua" ujar Sam.
"Baiklah, mari ikut saya" kata petugas itu dengan ramah.
Merekapun bersama menuju ke unit kesehatan yang ada untuk mengecek kondisi Lian.
Ada dokter jaga di klinik itu yang bergerak cepat saat melihat Lian yang sudah memasuki ruangan.
"Tunggu disini ya, kami akan periksa pasien dulu" kata dokter itu, menahan sam dan petugas taman yang sejak tadi mendorong kursi roda Lian.
"Baik dok" ucap keduanya kompak.
"Tunggu, kamu kan yang tadi menolong gadis itu saat masih tergantung diatas?" tanya sang dokter dan Sam hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Baik dok" kata Sam menurut, disisi lain Sam masih mengkhawatirkan Lian yang tak kunjung reda tangisannya.
Sementara si petugas taman memutuskan untuk menunggu di depan klinik.
Setengah jam berlalu, baik Sam maupun Lian sama-sama dalam kondisi yang baik. Tak ada cedera yang berarti. Hanya mungkin esok hari, pundak dan tangan Sam akan terasa kaku akibat gerakan spontan dan menahan berat badan Lian.
"Kalian sudah selesai pemeriksaannya?" tanya petugas taman hiburan itu. Rupanya rasa tanggung jawab membuat orang itu rela menunggu Sam dan Lian yang sedang diperiksa.
"Sudah pak. Kami baik-baik saja. Terimakasih atas perhatian bapak" ujar Sam, dan Lian masih menunduk saja daritadi.
"Sama-sama. Oh iya,ini kartu nama saya. Jika besok ada keluhan yang kalian rasakan, bisa langsung menghubungi nomor itu dan saya akan teruskan ke perusahaan agar menanggung semua biaya pengobatan kalian" ujar petugas taman yang ternyata bernama Yono.
"Sekali lagi terimakasih, pak. Semoga saja tidak ada keluhan lanjutan dari kami berdua" jawab Sam.
"Iya, semoga saja kalian baik-baik saja" kata petugas itu.
"Kalau begitu kami permisi ya pak. Sekali lagi terimakasih" ujar Sam sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat.
Dan merekapun memutuskan untuk duduk dulu barang sebentar di bangku di dalam taman hiburan itu untuk melepas ketegangan.
"Nih buat lo" kata Sam memberikan sebotol minuman dingin pada Lian yang sejak tadi terlihat murung.
__ADS_1
Lian menerima minuman itu tanpa ucapan terimakasih seperti biasanya. Entah bagaimana cara untuk menenangkan wanita yang sedang terdiam seperti ini, Sam jadi bingung sendiri.
"Lian, lain kali lo jangan sampai berfikir untuk mengakhiri hidup lo lagi ya. Kalai sampai lo nekat, gue bakalan ikut kemanapun lo pergi" kata Sam yang berinisiatif untuk membuka mulut terlebih dahulu.
"Jangan Sam. Jangan begitu. Hidup kamu terlalu berharga untuk segera diakhiri. Tidak seperti hidup aku yang sejak dulu tak pernah merasakan apa itu bahagia. Mungkin takdirku untuk merasakan bahagia di alam lain, Sam. Dan jika memang itu adalah takdirku, aku ingin segera menjemput kebahagiaan itu" ucap Lian yang kembali berair mata. Padahal biasanya seburuk apapun nasib mempermainkannya, Lian tak pernah sudi untuk kalah darinya.
"Kalau lo merasa begitu, biar gue yang bakalan ngasih lo kebahagiaan di masa depan, Lian. Jangan sampai lo merasa sendiri, karena sekarang ada gue yang bakalan selalu ada buat lo" ucap Sam serius, tak pernah dia merasa jatuh sedalam itu pada satu wanita.
"Nggak Sam. Kamu nggak boleh punya perasaan spesial buat aku. Jangan Sam" kata Lian semakin terisak, bahkan dia harus menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Ssttt. Lo tenang saja. Gue sudah yakin dengan perasaan ini. Dan apapun yang akan terjadi nanti, gue harap lo mau untuk terus selalu berada di samping gue untuk sama-sama berjuang" kata Sam tulus.
"Lo mau kan jadi pacar gue, Lian?" tanya Sam yakin setelah Berjam-jam lamanya dia berusaha untuk memberanikan diri bertanya hal itu pada Lian.
Bungkam, hanya itu yang bisa Lian lakukan. Gadis itu tak menyangka jika Sam akan secepat itu takluk padanya.
"Aku bukan cewek yang istimewa, Sam. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari jika ternyata aku nggak seperti yang kamu pikirkan" ujar Lian berharap agar Sam ragu dengan pertanyaannya.
"Nggak Lian. Gue sudah yakin sama lo. Dan gue janji bakalan selalu setia sama lo, selamanya" ujar Sam sambil memegang kedua tangan Lian.
"Tapi Sam, status kita masih pelajar. Aku takut kalau sekolah kita akan terganggu jika ada hubungan spesial diantara kita" kata Lian yang ingin mengulur waktu agar Eri tak segera melancarkan aksi balas dendamnya.
"Oke, kalau itu mau lo. Gue akan setia menunggu sampai kita lulus sekolah nanti. Saat kita sudah menjadi mahasiswa, gue akan kembali menanyakan hal yang sama. Dan gue harap, lo nggak akan mengecewakan gue nantinya" kata Sam.
Lian semakin bersedih, karena perasaan Sam sudah sedalam itu padanya.
"Kita ulur waktu sampai lulus sekolah ya Sam. Sekarang kita harus fokus belajar dan berusaha menjadi yang terbaik" kata Lian sedikit bersemangat jika membahas masalah pendidikan.
"Oke. Kita saingan ya, dua tahun lagi saat kelulusan tiba, yang terbaik berhak meminta satu hal dari yang kalah. Dan yang kalah wajib melakukan apa yang dipinta oleh si pemenang. Bagaimana?" tanya Sam yang yakin jika dia akan menjadi pemenangnya.
Lian sedikit berfikir, dan ini adalah satu-satunya kesempatan baginya agar bisa meminta Sam untuk menjauhinya kelak jika dia bisa memenangkan taruhan ini.
"Oke! Deal ya" kata Lian sembari menjulurkan tangannya untuk berjabat dengan Sam.
"Oke deal. Dan satu lagi, selama kita masih terikat perjanjian ini, maka tidak boleh diantara kita dekat apalagi sampai menjalin hubungan dengan lawan jenis kita, bagaimana?" tanya Sam.
"Oke" jawab Lian mantap, karena memang tak ada dalam otak Lian untuk melakukan hal lain selain belajar demi mengubah masa depannya.
Dan perjanjian itu menjadi awal dari lika-liku perjalanan mereka untuk bisa sampai di garis finish.
.
.
.
.
__ADS_1