
...MAB by VizcaVida...
...|39.Hari Pernikahan|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Jadi, kamu menjadikan Angel sebagai alasan agar perjodohan yang dilakukan orang tua mu itu, tidak terjadi?” ketus Giara setelah mendengar duduk permasalahan dan alasan mereka menikah. Sebagai seorang ibu, dia tidak bisa menerima alasan tersebut dan menjadikan putri semata wayangnya sebagai objek yang bisa dimanfaatkan begitu saja.
“Jujur, awalnya memang seperti itu,” kata Louis pelan. Ia sengaja menjeda untuk menunggu reaksi Giara tentang tujuan menikahi Angel pada awalnya. “Maafkan saya atas hal itu. Tapi, sekarang keadaannya sudah berbeda. Saya mencintai Angel, dengan sangat tulus.”
“Itu bukan hanya bualan kamu, kan? Tante nggak mau kalau sampai Angel jadi korban kejahatan pria yang hanya ingin memanfaatkan kebaikannya saja.”
Angel melebarkan mata. Ia tidak menyangka, maminya juga ikut terpancing suasana dan sulit menyetujui hubungan rumit yang sedang ia jalani bersama sang kekasih. “Mam, itu tidak akan terjadi.”
“Mami punya firasat kuat, Ngel. Kamu jangan mudah termakan rayuan.”
Giara belum tau siapa seorang Louis yang akan sangat mencintai wanita yang berhasil menempati hatinya.
“Dia tidak pernah merayu Angel, mam.”
“Hubungi Daddy mu. Mami akan merestui kalian kalau Patrick memberikan restu untuk kalian. Mama tidak mau disalahkan kalau suatu hari nanti, terjadi sesuatu sama hubungan kalian.”
Louis bisa mengerti bagaimana posisi Giara saat ini. Sama seperti mamanya, Giara pasti juga memiliki insting yang kuat dan didominasi oleh rasa takut. Ditambah lagi singkatnya hubungan yang terjalin antara keduanya, dan cerita mengenai Louis, membuat Giara tidak mau melepas Angel begitu saja. Itulah sebabnya restu sangat sulit ia berikan.
“Baik. Tapi, apa Daddy tidak sedang beristirahat?” tanya Angel sembari melirik jam tangannya. Ia yakin, saat ini sang ayah sedang beristirahat, mengingat perbedaan waktu di negara tempatnya tinggal, dengan negara tempat ayahnya tinggal, memiliki selisih cukup jauh.
“Saya akan membuktikan kesungguhan saya benar-benar mencintai Angel, tante. Saya akan membahagiakan dia.”
Giara menyorot Louis tajam. “Apa yang akan kamu lakukan untuk membuktikan itu?”
“Saya—
Suara Louis terhenti ketika Angel berbicara pada sambungan telepon.
“Daddy, are you sleep now?” tanya Angel pelan.
“Eum. What happen, baby?”
“Mommy want to talk to you, dad.”
Giara meraih ponsel Angel dan mulai berbicara dengan Patrick yang sudah lebih dari beberapa tahun tidak pernah ia ajak bicara. Giara jarang sekali menggunakan bahasa asing nya ketika berbicara dengan sang mantan suami, Patrick juga sedikit banyak mengerti apa yang dikatakan Giara tanpa merasa kebingungan.
Selama menunggu sang ibu berunding dengan sang ayah, Angel memilih duduk di samping Louis, menggenggam telapak tangan besar pria itu dengan sebuah senyuman menenangkan yang terbit di bibirnya.
“Tidak perlu khawatir. Mereka akan memberikan restu untuk kita, sayang.”
__ADS_1
Dan setelah lebih dari sepuluh menit melakukan pembicaraan serius di telepon, Giara kembali ke ruang tamu dimana Angel dan Louis berada saat ini. Ia lalu menyerahkan ponselnya pada Angel.
“Daddy mu ingin bicara. Pakai bahasa aja, biar laki-laki itu ingat kalau punya anak disini.”
Angel hampir menyemburkan tawanya mendengar kekesalan si mami pada Daddy nya. Tingkah manja maminya itu selalu saja muncul ketika sedang berada diantara Daddy dan dirinya.
“Iya, kanjeng mami.” kelakar Angel yang juga hampir membuat Louis ikut menyemburkan tawa. Keluarga Angel terlihat begitu menyenangkan, tapi mengapa kedua orang tuanya itu memilih berpisah?
Setelah itu, Angel kembali mendekatkan ponsel di telinganya. Melakukan percakapan serius dengan ayahnya di telepon.
“Kami yakin pria itu baik, sayang?”
“Iya, dad. Angel sudah mengenalnya lebih dari empat tahun di tempat kerja.”
Tidak ada jawaban penyangkalan dari Patrick. Hingga pria itu kembali bersuara.
“Tolong berikan telepon kamu sama dia. Daddy ingin bicara.”
Angel menatap Louis yang juga sedang menatapnya lekat.
“I-iya, dad.”
Dengan gerakan ragu, Angel menjauhkan telepon dan menyerahkan pada Louis.
“Daddy ingin bicara,”
“Halo, selamat malam, Om” sapa Louis ramah.
“Selamat malam. Kamu, calon suaminya Angel?”
Louis mengangguk. “Iya.”
“Saya tidak akan menghalangi pernikahan kalian, karena ini pasti sudah rencana dan jalan Tuhan menyatukan kalian.”
Diam-diam, Louis menghembuskan nafasnya lega.
“Tapi tolong, jaga putri saya dengan baik. Jangan pernah membuatnya menangis, apalagi sampai menyakiti fisiknya. Saya tidak akan tinggal diam jika tau hal itu terjadi padanya.”
“Iya, om. Saya janji akan menjaga dan membahagiakan Angel dengan segenap jiwa dan raga saya.”
Giara yang mendengarnya pun menyorot Louis. Tidak ada kebohongan, yang ada hanya ketulusan yang terpancar dari wajah pemuda tampan itu. Giara mulai luluh.
“Saya juga tidak akan pernah menyakiti Angel dalam bentuk apapun. Baik fisik maupun psikis, saya tidak akan pernah melakukan itu. Karena saya, sangat mencintai Angel dengan sungguh-sungguh.”
Diseberang sana, Patrick mengembuskan nafas besar. Ia percaya pada Louis yang baru saja diperkenalkan Giara sebagai calon menantunya.
“Restu Daddy untuk kalian. Semoga Tuhan memberkati dan memberikan kebahagiaan untuk kalian berdua.”
Rasa bahagia membuncah menyelimuti setiap inci hati Louis. Matanya berair, dan tanpa ia duga jatuh menetes beberapa kali di pipinya.
__ADS_1
“Tapi maaf, Daddy tidak bisa hadir kesana karena tugas yang diembankan negara kepada daddy.”
Louis mengangguk paham. “Kami yang akan datang mengunjungi Daddy kesana jika ada waktu memungkinkan untuk bisa pergi kesana.”
Giara tau, Patrick tidak akan mencegah mereka. Dan sekarang, keputusan ada ditangannya sendiri karena Patrick sudah setuju dengan pernikahan putrinya.
Dan setelah panggilan telepon itu berakhir dengan Giara yang kembali bicara dengan Patrick, akhirnya restu itu turun. Giara juga memberikan restu untuk Angel dan Louis. Dia juga memberitahu akan datang ke Jakarta untuk menyaksikan pernikahan mereka hari Sabtu mendatang.
“Terima kasih, mam.” ucap Angel bahagia sambil memeluk Giara dengan sangat erat dan lelehan airmata yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Setelah itu, Louis pun ikut berterima kasih dengan bersimpuh di hadapan Giara dengan perasaan lega dan bahagia tak terkira hingga berderai airmata. Seandainya mamanya seperti mami nya Angel, dia akan sangat bahagia seperti sekarang, dan pastinya akan memeluk ibunya dengan penuh rasa bangga dan ucapan syukur tak terhingga. Tapi kenyataannya berbeda. Louis harus bisa menerima kenyataan yang sudah di rencanakan Tuhan padanya dan juga Angel.
“Ingat, jaga Angel baik-baik. Atau kamu akan berurusan dengan perwira tinggi angkatan laut New Zealand, oke?!”
Louis meneguk salivanya sudah payah. “I-iya, tante.”
“Panggil mami,”
“Iya, mami.”
Giara tertawa melihat kegugupan Louis yang terlihat lucu. Ia pun membawa Louis bangkit dan memeluknya.
“Angel bukan gadis kuat. Dia hanya sok terlihat kuat didepan orang lain. Tolong jaga dia untuk kami.”
Louis mengangguk. “Akan saya lakukan.”
***
Sabtu, hari yang ditunggu.
Giara sudah tiba di ibu kota sehari yang lalu, dan nanti sore, harus sudah kembali ke Surabaya karena besok pagi ada proyek besar dengan seorang klien.
Gaun pengantin yang dikenakan Angel begitu cantik. Warna putih tulang dengan brukat dan aksesoris Payet warna senada sangat serasi dengan kulit Angel yang putih bersih. Gaun itu adalah design buatan sang mami secara dadakan. Riasan tipis dan tatanan rambut yang mempercantik penampilan dan wajah Angel, berhasil membuat pria yang akan menjadi suaminya itu terperangah. Sedangkan Louis, menggunakan tuxedo berwarna sama dengan gaun yang dikenakan Angel. Keduanya berdiri didepan pastor dan melakukan pemberkatan pernikahan.
Keduanya, mengucap janji sehidup semati, disaksikan oleh Giara, Robert, Stefany, juga Hutama dan Patrick melalui sambungan internet dari iPad milik Louis.
Dan semua berjalan lancar tanpa hambatan.
Penyematan cincin dilakukan. Dalam sesi ini, Louis yang memakaikan cincin di jari manis Angel, menitihkan airmata. Ia teringat sang mama yang benar-benar tidak datang di acara sakralnya yang ia bersumpah, hanya terjadi sekali seumur hidup.
Tak berbeda jauh dengan Louis, Angel pun turut meneteskan air mata saat melihat Louis menangis. Ia pun ikut merasakan kesedihan yang terpancar dari raut wajah Louis yang terlihat begitu jelas. Lantas, setelah Angel juga menyematkan cincin pernikahan mereka di jari Louis, pria itu mengecup singkat kening Angel dan punggung tangannya.
“I love you, Angel-ku.”
“I love you too, Hubby-ku. []
###
Akhirnya ...
__ADS_1