
Eri tengah berdiri di depan sebuah gerbang tinggi dari rumah mewah yang bertuliskan nama Handoko.
Wanita itu masih sangat yakin jika pria pemilik rumah inilah yang bertanggung jawab atas harta peninggalan orangtuanya.
Tak ada bel, bahkan jika kau mengetuk pintu pasti tak akan terdengar dari dalam. Tapi memang sudah dipersiapkan sebuah intercom untuk menghubungi security yabg selalu berjaga di pos.
"Dulu rumahku juga semewah ini" gumam Eri sambil memandangi kecanggihan teknologi yang tersaji di depan matanya.
"Maaf dengan siapa?" tanya sebuah suara dari sebuah alat kecil yang dipasang di dinding pagar.
"Saya Eri, ingin bertemu dengan Pak Handoko apa bisa?" tanya wanita itu.
"Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya suara dalam mesin itu lagi.
"Belum pak. Hanya saja tolong sampaikan kepada Pak Handoko bahwa Anak dari Bapak Roberto Erry ingin bertemu" kata Eri memohon.
"Baiklah, saya sampaikan dulu sebentar sama tuan besar. Sebentar lagi akan saya kabari ibu, ya. Tolong tunggu sebentar" ucap security itu ramah, mungkin dia merasa iba dengan kondisi suara Eri.
Cukup lama menunggu, Eri yang merasa bosan hampir saja melangkah pergi untuk mencari udara segar terlebih dahulu saat suara pria dari intercom itu terdengar lagi.
"Selamat pagi, nyonya. Maaf lama menunggu. Tuan bilang nyonya boleh masuk" belum sempat Eri membalas ucapan pria itu, tapi gerbang besar di depan mata Eri sudah mulai bergeser dengan sendirinya.
Perlahan namun pasti, gerbang itu terbuka semakin lebar dan membuat Eri bisa melihat keadaan halaman rumah mewah tersebut.
"Silahkan masuk, nyonya. Anda akan diantarkan oleh seorang security yang sudah menunggu anda di halaman" ucap pria itu lagi.
Meski sedikit bingung, Eri tetap saja melangkahkan kakinya memasuki halaman itu dengan sedikit ragu, menengadah dan seolah sedang mencari sesuatu.
Ya, ternyata semua pergerakannya terpantau oleh CCTV yang terpasang di beberapa penjuru.
"Selamat siang, nyonya. Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu kedatangan nyonya" ucap security wanita yang ditugaskan menyambut kedatangan Eri.
"Terimakasih" jawab wanita itu ramah.
Keduanya berjalan tanpa ada yang bersuara. Memasuki bangunan mewah yang disebut rumah dengan desain minimalis modern yang sangat elegan.
Eri tak diajak masuk lewat ruang tamu, tapi lewat pintu samping. Meski sedikit heran, wanita itu tetap saja ikut security itu demi bisa bertemu dengan pria bernama Handoko.
__ADS_1
Tok... Tok ....Tok..
Suara ketukan pintu yang si security lakukan membuat Eri kembali memfokuskan pandangannya yang sejak tadi sibuk menelisik isi bangunan megah itu.
"Masuk" kata orang yang ada di balik pintu dengan sedikit berteriak.
"Maaf tuan, ini tamu anda sudah saya bawa kesini" kata security.
"Kamu boleh pergi" kata seorang pria setengah baya dengan kacamata yang sedikit melorot dari tempatnya.
Security itu pergi setelah mengangguk sebentar. Kepada Eri pun wanita itu masih mengangguk sebelum benar-benar pergi.
"Selamat siang, tuan Handoko. Saya anak dari Pak Roberto Erry ingin menanyakan sesuatu pada tuan" kata Eri sopan.
"Iya, saya mengerti. Ehm, kapan anda keluar dari penjara? Kenapa anda tidak langsung mengabari saya?" tanya Handoko.
"Baru kemarin saya keluar, tuan. Saya tak bisa menghubungi tuan karena saya tidak punya ponsel" ucap Eri dengan jujur.
"Oh kasihan sekali. Siapa nama nyonya? Maaf saya sedikit lupa, tapi yang saya ingat bahwa nyonya adalah istri dari tuan Alexander" kata Handoko.
"Itu hanya kepingan masa lalu saya saja, tuan. Nyatanya Vicky menceraikan saya sebelum saya mendekam di penjara. Dan dari berita yang saya dengar, kalau dia sudah menikah dengan mantan pacarnya" kata Eri yang nada suaranya sangat jelas dengan kedendaman.
"Bukan, panggil saja saya Eri, tuan" jawabnya.
"Tunggu, bukankah nama anda adalah ----" belum lagi Handoko menyelesaikan perkataannya, Eri sudah menyelanya.
"Nama saya Ruby Eria, dan saya sudah tidak menyematkan nama Alexander di belakang nama saya. Dan satu lagi tuan, saya lebih suka dipanggil Eri untuk sekarang karena saya ingin menghapus jejak masa lalu saya yang menyedihkan" tutur Eri dengan hati yang mulai memanas.
"Ehm, jadi anda ingin mengubah nama panggilan anda, ya? Hem, menarik. Kenapa anda melakukannya?" tanya Handoko.
"Saya belajar darinya, tuan. Dari mantan pacar yang sekarang menjadi istri dari Vicky" kata Eri mulai menjelaskan.
"Saya belajar darinya yang mengubah nama panggilan demi menghilangkan jejaknya di masa lalu, tapi kini dia telah berbahagia diatas penderitaan saya" kata Eri penuh dendam.
"Oh, baiklah. Lantas, apa yang membuat anda kesini dan mempercayakan semua cerita anda ini? Apa anda tidak merasa takut kalau saya juga akan mengkhianati anda?" tanya Handoko.
"Tidak, saya yakin tuan akan selalu ada di pihak saya karena yang saya tahu jika tuan juga tidak menyukai keluarga itu" kata Eri.
__ADS_1
"Haha, ya. Anda memang benar. Saya sedikit tidak suka dengan keluarga Alexander. Ehm, kembali ke topik kita. Kira-kira apa yang membuat anda kemari?" tanya Handoko pura-pura tidak tahu.
"Saya ingin menanyakan perihal harta kekayaan orang tua saya sebelum mereka meninggal, tuan. Kenapa saya tak bisa menemukan apapun di dalam rumah peninggalan orang tua saya? Dan dimana sertifikat rumah itu?" tanya Eri.
"Oh begitu. Baik, akan saya jelaskan pada nyonya Eri" ucap Handoko.
Kini, dengan penuh keseriusan Eri duduk dan memperhatikan Handoko dengan baik.
"Jadi begini, nyonya. Sebelum meninggal, ayah anda yang terkena stroke karena mendengar anda dipenjara membuatnya harus keluar masuk rumah sakit untuk mengobati sakitnya itu. Sementara mama anda yang tidak pernah punya pengalaman di bidang bisnis tentu tidak bisa menghandle jalannya perusahaan ayah anda yang memang diambang kehancuran" kata Handoko.
"Hal itu membuat perusahaan ayah anda harus dijual untuk menutupi hutang yang ada. Dan ternyata, semua hasil penjualan dari perusahaan ayah habis untuk menambal hutang perusahaan dan juga biaya pengobatan ayah anda yang cukup mahal" lanjut Handoko.
"Sepeninggal ayah anda, ternyata harta yang tidak ikut terjual adalah rumah yang dulu ayah dan mama anda huni. Selebihnya, semua habis terjual" ucap Handoko.
"Saya dengar, mama juga sempat membeli mobil kan, tuan?" tanya Eri.
"Ya, tapi mobil itu ikut hancur saat mama anda mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mama anda tidak tertolong. Dan satu-satunya harta peninggalan yang orang tua anda sisakan adalah rumah itu saja" kata Handoko.
"Tapi saya mohon maaf karena tidak bisa ikut merawat rumah itu karena ya, saya sudah cukup sibuk. Hanya saja, sertifikat rumah itu masih ada di saya untuk diamankan dan tentu akan saya berikan pada anda jika anda sudah keluar dari penjara" ucap Handoko.
Mendengar juka sertifikat rumahnya masih aman, tentu membuat Eri merasa sedikit tenang.
"Tapi kondisi rumah itu sudah hampir hancur, tuan. Dan saya tidak punya cukup uang untuk memperbaikinya" kata Eri lirih, dia jadi terlihat sangat menyedihkan jika berwajah seperti itu.
"Bagaimana kalau anda jual saja rumah itu" saran Handoko.
Eri mendongak, mendengar saran Handoko sepertinya bukanlah hal yang buruk.
"Sepertinya itu ide yang bagus, tuan. Tapi pasti akan butuh waktu yang sangat lama untuk menjualnya. Sedangkan saya sudah butuh uang untuk menyambung hidup saya" ucap Eri.
"Ehm, saya ada sedikit penawaran dengan anda" ucap Handoko dengan wajah liciknya.
Eri yang ada di posisi terdesak seperti sekarang tentu akan merasa senang jika pria itu akan memberinya saran yang bagus.
Kiranya, saran seperti apa yang akan Handoko berikan pada wanita itu?
.
__ADS_1
.
.