My Angel Baby

My Angel Baby
Permulaan


__ADS_3

"Kenapa kalian mengajakku ke tempat ini lagi? Apa kalian sedang sangat menyukai clubbing akhir-akhir ini?" tanya Johan yang bingung karena mobil mereka kembali ke bar Norita.


"Sepertinya lebih bagus bar yang ada di hotel X, kenapa kalian malah kesini?" masih heran, Johan menilai tempat itu terlalu kumuh untuk orang-orang kaya seperti Lia, Bayu dan juga Ken.


"Kita sedang ada urusan sebentar disini, Jo. Setelah itu kau boleh ke bar manapun yang kau mau" ucap Ken geram, banyak bicara sekali Johan malam ini. Padahal situasi sedang genting bagi yang lainnya.


Mereka sudah menemukan sebuah meja bagi semuanya. Dan dengan sikap awas, mereka memindai seluruh isi ruangan itu dan belum menemukan Ruby di singgasananya.


"Kalian ingin memesan sesuatu?" tanya waiters yang menghampiri meja mereka.


"Beri aku wine terbaik disini" segera Johan menimpali pertanyaan wanita berseragam minim bahan itu, dan langsung mencatatnya dengan cekatan.


"Ada yang lain?" tanyanya lagi.


"Sementara itu saja dulu, nanti kami akan memanggilmu jika sudah ingin memesan sesuatu" ucap Ken.


"Baiklah" ujar waiters itu sambil berlalu pergi dengan mata yang mencuri pandang pada Bayu, semua itu terlihat oleh Lia dan segera diapun melihat ke arah Bayu.


Memang pria yang cuek terlihat lebih menggoda daripada pria periang yang mudah memberikan senyuman pada semua wanita. Dan hati Lia mendadak bahagia entah karena apa.


"Sudah jam sepuluh" gumaman Bayu terdengar oleh Lia.


Saat dia menoleh ke tempat biasanya Ery duduk bersama timnya, belum terlihat wanita itu di singgasananya. Lia teringat akan keselamatan mamanya dan kembali rasa khawatirnya kian meninggi.


"Kita cari jalan lainnya saja, kak. Aku sangat mengkhawatirkan mama" kata Lia.


"Baiklah, sebentar aku tangani pria bodoh ini dulu" ucap Bayu sambil melirik ke arah Johan yang sedang menggerakkan badannya mengikuti irama.


"Hei Jo. Aku sedang ingin ke toilet, kau jangan pergi kemanapun selama aku pergi, ok" ucap Bayu beralasan.


"Kau kira aku anak kecil? Hei man, bahkan aku sudah menjelajahi hampir seluruh dunia ini" balas Johan sedikit tidak terima dengan ucapan Bayu, mungkin efek lelah membuatnya cepat emosi.


"Tenanglah Jo. Kami hanya ingin agar kau tetap disini, karena kami ingin memperkenalkan seseorang padamu. Dan ini sangat penting" kata Lia menenangkan Johan.


"Memangnya siapa sih yang mau kalian kenalkan padaku? Sepertinya penting sekali" tanya Johan penasaran, sejak kemarin dia tidak diberitahu siapa orang yang ingin teman-temannya pertemukan dengannya.


"Sebentar lagi pasti dia datang" jawab Bayu sambil berdiri dan bersiap pergi.

__ADS_1


"Ah bodo amat. Sudah sana kau pergi saja, Bay. Jangan kembali lagi kalau bisa" ucapan Johan membuat Bayu sedikit mengernyitkan dahinya sebelum pergi dan memberikan kode pada Lia yang hanya dijawab anggukan ringan oleh Lia.


Bayu pergi, berjalan pelan sambil membaca situasi di dalam bar itu. Semua hal yang Mawan katakan kemarin, Bayu lihat dengan seksama. Memang semua pegawai memakai pin kecil di dadanya. Satu hal yang semakin memudahkan Bayu agar tak terkecoh nantinya.


Kini Bayu berhenti di satu sudut ruangan, berdiri sambil menyandarkan punggungnya sambil menekuk tangannya di dada menunggu Lia datang.


Dalam hati Bayu terheran, bagaimana dia bisa mencintai gadis yang penuh masalah seperti Lia. Bahkan sejak kecil Bayu tahu seperti apa keluarga Lia, dia bahkan masih mau menerima segala kekurangan dari gadis itu.


"Ah, cinta memang tak bisa ditebak akan jatuh pada siapa" gumam Bayu sambil memejamkan matanya, membayangkan manisnya senyuman Lia yang sejak dulu selalu membuatnya candu.


"Kak, sedang apa?" tanya Lia yang tiba-tiba saja ada dihadapannya. Bayu sedikit terkejut tapi langsung saja tersenyum kecil, kebahagiaannya ada di depan matanya.


"Tidak ada. Kita lakukan sekarang?" tanya Bayu.


"Iya kak" jawab Lia.


Keduanya berjalan pelan menuju kamar mandi yang menurut Mawan adalah pintu keluar dari ruang inti bangunan ini yang rupanya adalah toilet wanita.


"Bagaimana cara kakak masuk?" tanya Lia.


Tangan Bayu terulur untuk membuka ikatan rambut yang ada di atas kepalanya. Memang rambutnya sedikit panjang di bagian atasnya dan selalu dia kuncir sewaktu kerja di rumah sakit.


"Hai cantik" ucap Bayu dengan nada suara perempuan yang dibuat-buat.


Lia tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan temannya. Sedikit mengobati kekalutan yang sejak kemarin melanda hidupnya.


"Ayo kita ke toilet" ajak Bayu masih dengan nada suara perempuan dan gestur tubuhnya yang juga dia samakan dengan seorang, banci, hihi.


Lia tertawa kecil sambil mengalunkan tangannya ke lengan Bayu.


Keduanya berjalan riang menuju toilet wanita. Dan memang disana sedang sedikit ramai oleh beberapa wanita penghibur yang siap meluncur ke lantai dansa, mereka sedang merapikan penampilannya.


"Hei, kau seharusnya ke toilet pria disana" cegah salah satu dari mereka.


"Kau pikir aku tak sama dengan kalian, hah?" tanya Bayu masih dengan nada suara wanitanya dan bersikap mencemooh mereka.


"Kalau diperhatikan dengan baik, sebenarnya kau itu tampan sekali. Kenapa malah belok?" tanya yang lain.

__ADS_1


"Bukan urusanmu. Cepat pergi sana. Kalau tidak mau pergi, aku saja yang masuk ke dalam toilet" ucapan bayu semakin membuat Lia tak tahan untuk tertawa, tapi sebisa mungkin dia bersikap acuh.


Bayu masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Meninggalkan Lia yabg masih berdiri diantara wanita penghibur.


"Kalau dia normal, aku mau dengannya" ucap salah satu wanita.


"Dia itu sebenarnya tampan, iya kan" tanya salah satunya pada Lia.


"Ehm, iya" jawab Lia sedikit ragu. Takut salah bicara.


"Ah sudahlah. Ayo kita turun, kita cari cuan yang banyak malam ini" ucapan salah seorang dari mereka membuat semuanya bubar.


Kegiatan ber make upnya sudah selesai. Mereka melenggak keluar dengan gaya masing-masing. Tentu dengan pakaian minim bahan khas wanita penghibur.


Bayu keluar setelah dianggap aman. Menemui Lia dan kembali menguncir rambutnya di bagian atas.


"Kakak memang seorang yang tampan" kata Lia sambil memperlihatkan lekat wajah Bayu, membuat pria itu merona.


"Kau saja yang tak pernah perhatian padaku, Lia" jawab Bayu.


Loa mengerucutkan bibirnya, tapi perhatiannya segera tertuju pada bilik toilet yang di pintunya tertulis sedang rusak.


"Mungkin pintu yang ini kak?" tanya Lia.


Bayu mengangguk dan segera membukanya. Dan memang benar jika di dalam bilik itu ada pintu lagi yang terlihat samar karena tertutupi oleh toilet duduk dan perlengkapan kamar mandi lainnya. Sangat diluar pikiran normal.


"Bagaimana mereka bisa terpikirkan jalan rahasia semacam ini" gumam Bayu sambil membuka pintu rahasia disana.


"Mungkin terlalu banyak rahasia yang tak boleh diketahui pihak luar. Kita harus bisa membongkarnya malam ini" kata Lia bersemangat, fokus utamanya tentu untuk menyelamatkan mamanya.


Pintu terbuka, Bayu bertatapan sebentar dengan Lia untuk saling menguatkan dan menambah keberanian.


Tangan Bayu menggandeng Lia untuk memasuki lebih dalam ruangan yang terhubung oleh lorong gelap yang mereka masuki dari salah satu bilik toilet.


Bisakah mereka menyelamatkan Viviane meski hanya berdua? Atau pihak Ruby bisa mengetahui keberadaan mereka dan membuat mereka menjadi tawanan baru yang datang dengan suka rela?


Perjuangan mereka baru saja dimulai.

__ADS_1


__ADS_2