
...MAB by VizcaVida...
...|36. Restu?|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Home sweet home.
Sebuah istilah yang mengibaratkan kenyamanan sebuah tempat tinggal, yang akhir-akhir ini ditentang oleh Louis. Menurutnya, tidak ada yang menyenangkan dirumah selain menjadi tempat istirahat melepas penat.
Louis mengusuk rambutnya yang basah setelah mengguyur tubuhnya di bawah Shower. Semalam, dia memutuskan untuk pulang karena tidak ingin mengganggu acara iya-iya kakak laki-laki dan juga kakak iparnya. Louis juga tidak ingin telinga sucinya ternoda oleh suara laknat dua orang yang sedang ... ah, sudahlah.
Jam menunjuk angka sepuluh pagi ketika ia membuka mata. Itu sebabnya ia buru-buru mandi, dan bersiap sarapan dengan apapun yang ada di dalam lemari pendingin. Nah, beginilah tidak enaknya hidup sendiri. Mau makan saja harus menyiapkan terlebih dahulu. Jika tidak, ya harus memesan makanan siap saji. Tapi Louis belajar mengurangi konsumsi makan makanan siap saji dan juga junk food karena mulai sadar efek makanan tersebut begitu buruk di tubuhnya seiring bertambahnya usia yang semakin jompo. Oh, tidak jompo juga sih karena masih tiga puluh satu tahun. Masih termasuk usia produktif bagi seorang pria.
Louis duduk di meja dapur hanya menggunakan under wear yang membungkus area pribadinya. Tiba-tiba ia berfikir dan menerawang kembali bagaimana nanti sikap mamanya ketika ia pulang bersama Angel dan membawa kabar yang pasti amat sangat mengejutkan nantinya.
“Tuhan, salah apa aku dimasa lalu sampai Engkau menghukum ku seperti ini.” de-sah Louis putus asa dengan kisah percintaannya. Bukan hanya satu kali, ini adalah yang kedua kalinya, dia juga terancam tidak mendapatkan restu atas tujuan baiknya membangun bidak rumah tangga.
Tatapan matanya jatuh pada cincin yang melingkar di jari manis nya. Ia tersenyum karena wajah Angel berkelebat di ingatannya begitu saja.
“Tapi, andai saja semuanya mudah tanpa harus seperti ini, mungkin aku juga tidak akan bisa merasakan nikmatnya sebuah perjuangan.” lanjutnya masih berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Louis berusaha menerima dan berdamai dengan keadaan. “Ya, anggap saja ini perjuangan untuk sebuah hal besar yang akan aku miliki selamanya. Perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan di akhir hidup.”
Setelah berhasil membuat pertahanan dirinya kukuh, Louis berjalan menuju pantry. Ia mencari kopi, minuman wajib yang harus ia konsumsi dalam kondisi apapun. Otaknya akan bekerja dengan baik dan aktif atas bantuan caffein yang terkandung didalamnya. Tidak semua orang seperti Louis, tapi Louis adalah salah satu dari segelintir orang yang mengandalkan caffeine untuk membuat dirinya tetap sadar akan banyak hal.
Dan tanpa terasa, waktu bergerak begitu cepat. Louis bahkan sudah siap dengan setelah kaos polos berwarna abu-abu dan celana Jeans gelap untuk menuju dan menjemput Angel di rumahnya.
Rencana mereka berdua akan terlaksana hari ini.
***
Angel sempat menerima wejangan dari sang ayah untuk sebuah hubungan yang pasti akan terjadi dalam hidupnya.
Cintai pria yang mau menerima dan menyayangi kamu meskipun sudah mendengar keadaan keluarga kita yang berantakan seperti ini, karena tidak semua orang bisa menerima keadaan kita karena memandang strata.
Dia pria sejati yang akan terus mencintai kamu dan anak-anak kamu dalam situasi kondisi apapun.
Dan ya, Angel sudah menemukan sosok itu sekarang. Orang itu adalah Louis, pria yang sedang berdiri disisinya, yang menemaninya menanti keputusan yang akan mereka dapatkan untuk hubungan mereka berdua.
Hari ini, Louis dan Angel datang untuk bertemu Jenita dan Hutama untuk menyampaikan maksud dan meminta do'a, kerelaan, serta restu mereka.
Tidak ada sambutan hangat atau kalimat basa-basi mengajak duduk dan mengobrol santai ketika mereka datang.
Lalu, apa yang mereka dapat?
__ADS_1
Sebuah tatapan tajam dan sorot sinis mengintimidasi dari Jenita, adalah jawabannya. Wanita itu masih belum mau menerima kehadiran Angel diantara kehidupannya yang semula sudah sedikit tenang.
“Mau apa lagi kamu datang kesini?”
Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada Louis, melainkan untuk Angel yang berdiri di samping Louis dengan airmuka tenang. Ia tidak ingin terprovokasi dan ketakutan. Angel sudah meminta pada dirinya sendiri agar lebih tangguh dan tidak cengeng.
Robert belum datang, mungkin jalanan sedang macet sehingga datang lebih lambat daripada jam yang sudah mereka tentukan sebelumnya.
“Kami hendak meminta—”
“Mama bertanya sama dia. Bukan kamu!” bentak Jenita kepada Louis. Ia tau ini akan terjadi, dan mungkin Louis sudah menyiapkan banyak hal jika nanti sampai dia masih memilih keras kepala. Jenita hafal peringai putranya itu. Ia tidak akan goyah sedikitpun.
“Mam, kami datang secara baik-baik. Tolong hargai kami. Hargai Angel.” pinta Louis tulus. Dia masih memegang teguh sebuah hormat meskipun dia sendiri merasa kecewa atas sikap mamanya saat menyambut kedatangan dirinya bersama Angel di rumah ini.
“Omong kosong. Seharusnya, dia yang menghargai mama. Dasar perempuan tidak tau malu.”
Mendengar Angel mendapatkan kalimat seperti itu dari birai mamanya sendiri, Louis merasa terluka. Bibirnya sudah hampir kembali bicara jika Angel tidak menahannya untuk tetap ada dalam batas kesabaran.
“Kedatangan kami kesini, untuk meminta restu mama.” sahut Louis sudah tidak tahan berada disini terlalu lama. Tensi sudah mulai naik. Suasana hati mamanya sudah terlihat semakin buruk. Louis dapat melihat dari tatapan mata dan gelagat yang di tunjukkan oleh Jenita.
“Restu?” tanya Jenita sembari memperlihatkan senyuman sinis diujung bibir. Lengannya terangkat didepan dada, kemudian menyilangkannya angkuh.
“Louis akan menikahi Angel dalam waktu dekat, Mam.”
Sontak ucapan Louis itu membuat Jenita tersentak kaget. Ia bahkan membuka kedua matanya lebar-lebar sebagai bentuk rasa kejutnya pada apa yang baru saja disampaikan oleh Louis didepan wajahnya.
“Iya, mam.” jawab Louis tenang, ia bahkan menyunggingkan senyuman hangat untuk sang mama, kemudian menoleh pada Angel yang membalas senyumannya.
Robert datang, namun tidak mengubah situasi pelik yang mulai naik ke permukaan.
“Mama ingin Lou menikah bukan? Dan sekarang Lou akan mengabulkan keinginan mama.”
Raut wajah Jenita mengeras. Apa Louis itu bodoh? Bagaimana bisa dia yang memiliki darah Hutama menikah dengan seorang perempuan dari keluarga yang sudah hancur berantakan itu?
Tidak. Jenita akan menentang putranya. Ia tidak ingin Angel yang berada disamping Louis. Ia hanya ingin Liana yang menggandeng lengan putranya, karena mereka terlihat serasi. Cocok, menurut Jenita.
Kaki jenjang Jenita yang dibalut wedges mahal itu melangkah mendekat pada dua presensi di hadapannya, dimana salah satu diantaranya ia anggap tidak lain hanya seperti debu yang sebentar lagi akan dihempas oleh angin. Lalu, ia menatap Angel dengan sorot sengit tanpa ampun. Jenita merasa sakit hati, sebab hanya karena seorang wanita yang tidak jelas kehidupannya ini, Putranya sampai berani membuat keputusan sepihak seperti itu.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Angel hingga ia jatuh tersungkur di atas lantai yang sontak membuat Louis dan juga Robert terbelalak dan berlari ke arah Angel. Louis meraihnya terlebih dahulu, kemudian menatap nyalang pada mamanya yang sekarang berdiri angkuh dengan air muka tenang seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Robert kembali bangkit, kemudian berjalan menuju Jenita. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat Jenita memberi isyarat dengan lambaian tangan agar dia berhenti.
“Apa yang kamu lakukan pada putraku sampai dia rela melakukan hal ini pada ibunya, huh?!” tanyanya dingin penuh dominasi kepada Angel yang berusaha bangkit dengan bantuan Louis. Sudut bibirnya berdarah. “Menjual tubuhmu? Atau, memberikannya cuma-cuma?”
Louis mengeraskan rahang. Rasanya percuma datang dan bicara seperti yang dikatakan Angel. Mamanya akan tetap menjadi mamanya yang tidak akan pernah mengubah apapun. Hatinya pun sudah sekeras batu.
“Mam, apa yang mama lakukan? Angel tidak salah apapun, kenapa mama seperti ini?” tutur Robert lembut, mulai melakukan pembelaan, dan tentu saja berusaha memberi pengertian pada sang mama.
“Perempuan seperti dia pantas menerima itu.” katanya masih teguh pada pendirian.
__ADS_1
“Dia—”
“Jadi, mama tidak akan memberikan restu untuk kami?” sahut Louis, memotong ucapan Robert dan Jenita yang sedang bersitegang.
“Tidak. Kamu pikir, mama akan berubah pikiran?” kata Jenita dengan senyuman jumawa. Louis perlu mendengar ketegasan dan keteguhan hatinya.
Louis membuang muka dan tersenyum remeh. “Terima kasih sudah melakukan ini lagi kepada Louis, mam.” kata Louis sendu. “Louis nggak ngerti, kenapa mama sampai hati melakukan ini pada ku.” lanjutnya, kembali memutar kepala untuk menatap mamanya. “Apa Louis pernah melakukan kesalahan yang membuat mama sampai mama harus membalasnya seperti ini?”
Angel meraih satu lengan Louis dan mengusapnya agar Louis tidak terbawa emosi. Bagaimanapun, wanita itu adalah ibunya, Angel tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan hubungan seorang ibu dan anak. Kedatangannya hanya ingin membuat hubungan yang sempat merenggang karena permasalah pelik yang terjadi itu, mereda dan berakhir damai. Tapi, semuanya terasa mustahil sekarang.
“Tinggalkan perempuan itu dan kembalilah ke mama.” perintah Jenita tidak ingin di ganggu gugat.
“Mam, Louis sudah dewasa dan bisa memilih keputusannya sendiri. Dia memiliki hak, mam. Jangan mengikatnya seperti ini.” kata Robert kembali melerai. Ia juga merasa kasihan pada adik nya yang sejak dulu selalu berjuang demi sebuah cinta.
Jenita menoleh pada putra sulungnya, lalu tersenyum di sudut bibir. “Hak? Mama juga berhak atas hidup putra mama, Rob. Dan mama tidak rela jika putra mama jatuh ketangan perempuan yang berasal dari keluarga berantakan seperti dia. Apa kata orang nanti, dan bagaimana nasib mereka kedepannya? Apa kamu pikir, psikis perempuan yang mengalami hal itu tidak terganggu? Dia bisa saja meninggalkan Louis suatu saat nanti. Sama seperti yang dilakukan kedua orang tuanya, dia pasti akan memilih berpisah jika merasa bosan dan sudah tidak cocok. Kamu pasti paham tujuan mama.” cerocos Jenita panjang lebar menyampaikan maksudnya menolak Angel.
“Itu hanya asumsi mama.” sahut Louis lantang. “Itu hanya ketakutan tidak berdasar yang ada di dalam kepala mama.” lanjutnya tak kalah mengintimidasi.
“JANGAN MEMBANGKANG SAMA MAMA, ATAU KAMU AKAN MENYESAL NANTI DI KEMUDIAN HARI!”
“Mam,” de-sah Robert frustasi dengan kedua bahu yang luruh. Jangan sampai ucapan mamanya itu menjadi do'a untuk sang adik. “Please.”
Jenita menoleh pada tiga orang yang hadir di dalam rumahnya saat ini secara bergantian, kemudian mengangguk paham dan menurunkan lipatan kedua lengan dari depan dadanya.
“Menikahlah, tapi jangan harap mama memberikan restu mama untuk kalian. Dan satu lagi,” Jenita sengaja menjeda, mempertajam tatapan matanya pada Angel supaya perempuan itu sadar diri. “Jangan pernah membawa dia ketika datang ke tempat mama. Mama nggak suka.”
Angel masih setia bertahan, menahan semua rasa sakit yang terus di hujamkan pada hatinya. Ia menatap sendu pada punggung Jenita yang sudah berbalik dan berjalan menjauh. Tak berbeda jauh dengan Angel, Louis juga menyorot dengan hati yang hancur berkeping. Lalu, ia berkata lembut untuk sang mama.
“Maafkan Louis, mam. Kali ini, Louis akan tetap pada pendirian Louis.”
Sungguh, dia tidak ingin keadaan seperti ini kembali terjadi padanya. Satu sisi dirinya yang lain, tidak ingin melukai perasaan sang mama. Tapi biarkan saja seperti ini dulu sampai suasana sedikit mereda.
Jika dulu Caca berakhir lepas darinya, sekarang Louis tidak akan melakukan hal itu pada Angel. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan melepaskan orang yang ia cintai dan berakhir menyedihkan.
“Louis akan tetap menikahi Angel meskipun mama tidak merestui kami.” lirih Louis menarik atensi wanita berusia lewat paruh baya itu.
Jenita menghentikan langkah, menoleh pada satu sisi kanan sebatas bahu. Kemudian berkata, “Terserah. Mama tidak mau peduli lagi pada keinginanmu. Semoga kamu tidak akan pernah menyesali keputusan yang kamu buat hari ini dimasa depan, Lou.”
Jenita mempercepat langkah meninggalkan semua presensi yang membatu. Setelah diam cukup lama, Robert menatap Louis dan menyusul Jenita.
Sedangkan Louis, menarik lembut telapak tangan Angel dalam genggamannya. Ia menyematkan senyuman hangat dan tatapan teduh menenangkan kepada Angel, mengusap sudut bibir wanita cantik itu yang terluka dengan penuh kasih.
“Ayo, kita bicara dengan kedua orang tua kamu.” []
###
Ambil sisi positifnya ya teman-teman, buang yang negatif ☺️
__ADS_1