
...MAB by VizcaVida...
...|48. Kenyataan Pahit Yang Harus Diterima Angel Dan Louis|...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa untuk memberikan like, komentar serta berlangganan dan berikan vote serta hadiah jika berkenan....
...Terima kasih...
...[•]...
“Mau apa kamu datang kesini?!” sergahnya, membawa badannya berdiri.
Angel yang baru saja menginjakkan kaki diatas lantai marmer itu terjingkat karena suara melengking Jenita yang memenuhi seantero ruang tamu. Wanita itu terlihat tidak suka saat menatap ke arahnya. Dan tatapan itu, masih sama seperti yang ia lihat saat Louis memperkenalkan dirinya sebagai kekasih dulu.
Bukan Angel yang bergerak maju, melainkan Louis. Dengan tatapan mata lurus yang tak lepas dari milik sang mama, Louis meletakkan bungkusan berisi kue-kue buatan Angel diatas meja kaca yang luas dan tebal.
“Kue untuk mama, dari Angel.” kata Louis dengan suara rendah namun mengintimidasi. “Tolong hargai kerja kerasnya.” bisik Louis yang tentu saja mendapat perhatian yang berkebalikan dengan harapan Louis.
“Mau apa kamu ajak perempuan ini kesini?!” katanya lagi, masih dengan nada yang tidak diturunkan dari sebelumnya.
“Dia istri Louis, mam.” jawab Louis lembut, dia tidak ingin terprovokasi dan ikut terbakar amarah didepan Angel. “Dia juga punya nama. Jika mama lupa, biar Louis beritahu. Namanya—”
“Stop!” tegas Jenita sambil mengangkat tangan menghadap Louis, meminta putranya agar tidak menyebut nama wanita yang sangat ia benci itu. “Mama nggak pingin tau.”
Ada sengatan menyakitkan dalam hati Angel ketika mendengar Jenita mengatakan itu. Namun Angel berusaha mempertahankan senyuman dibibir nya meskipun sekarang terasa begitu kaku.
Sedangkan Louis, diam-diam mengepalkan tangan. Mamanya sangat keterlaluan.
“Jangan bawa dia lagi jika ingin bertemu mama.” ketus Jenita tanpa mau melihat presensi Angel di samping Louis.
Sumpah. Louis ingin sekali berteriak untuk menghentikan kalimat-kalimat sampah yang diucapkan mamanya itu. Dia ingin sekali mengatakan jika mamanya keterlaluan dalam berbicara, namun kembali lagi memeluk kodrat, Louis hanya seorang anak yang dipaksa hormat.
Menghela nafas panjang, Louis memijat pelipisnya yang terasa sakit. Ia juga melipat bibirnya ke dalam karena menahan kata-kata mutiara berduri yang hendak ia lontarkan untuk sang mama.
__ADS_1
“Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu pada mama.” katanya setelah berhasil mengusir sedikit rasa sakit di pelipisnya. Ia mengangkat wajah, menatap mamanya lurus namun begitu frustasi. Dalam hati dia berdo'a agar Jenita tidak berkata apa-apa lagi dan lebih memilih diam guna menahan marahnya nanti setelah ia memberitahu berita yang sedari awal membawanya untuk sampai disini.
Jenita menatap nyalang putranya sendiri. Rasa rindu yang ia tahan kepada sang putra nyatanya tak bisa luput dari wajahnya. Namun, semua tertutup oleh ego yang terus ia kokohkan.
“Angel, sekarang sedang mengandung anak Louis. Cucu mama.”
Bagai disambar petir disiang hari, Hati yang sudah terbakar emosi, sekarang semakin terbelenggu oleh amarah yang membara. Jenita menyorot Angel dengan tatapan bak melihat musuh, kemudian mengangkat dagu tinggi-tinggi dengan sebuah senyum jumawa.
“Usianya sudah memasuki lima Minggu. Louis—” lanjut Louis berusaha menyampaikan usia janin yang sedang tumbuh di rahim istri terkasihnya yang sangat ia cintai.
“Kamu ingin mama datang mendekat, lalu memeluknya dengan suasana hati gembira? Begitu?” sahut Jenita kasar. Ia tidak mau berbasa-basi dengan senyuman hangat dan tatapan lembut yang memberi harapan.
Kini, senyuman di bibir Angel benar-benar sirna. Jemarinya meraup kain dress dan meremasnya kuat. Apa yang akan dia dengar setelah ini? Pengakuan kah? Atau, kata-kata kebencian lainnya?
Louis tidak mengatakan apapun selain mengambil satu telapak tangan Angel untuk ia genggam, mencoba memberi ketenangan dan juga kekuatan. Kemudian, kepalanya menoleh untuk menatapnya lembut dengan isyarat agar Angel tidak mendengarkan apa yang akan dikatakan mamanya setelah ini.
“Jangan bermimpi kamu!” sengak Jenita sambil menunjuk wajah Angel.
Angel sendiri tidak bisa berkata apapun, ia hanya diam menahan air di matanya. Ia berusaha menerima, menguatkan hatinya sendiri meskipun sejak berdiri disini, semuanya sudah jatuh berantakan, runtuh sedikit demi sedikit.
“Meskipun Louis adalah putraku, aku tidak akan pernah mau mengakui, apalagi menerima anak itu sebagai cucuku, karena kamu yang mengandungnya.”
“Dan ini,” rupanya Jenita masih belum puas melempar kata-kata menyakitkan bak lumpur pekat ke wajah Angel. “Kamu membawa semua ini untuk merayuku? Untuk membuatku berubah pikiran agar aku iba? Agar aku mau menerima kamu dan anakmu?” tekannya pada Angel. Tatapan matanya begitu tajam mengintimidasi.
Jenita berjalan mendekat ke arah meja, meraih bungkusan berisi kue buatan Angel yang sudah ia buat susah payah dengan mengesampingkan semua rasa tidak nyaman di tubuhnya demi untuk sedikit membuat Jenita luluh dan mengasihinya. Tapi sepertinya tidak akan berguna sekarang. Wanita itu menarik naik tali pengikat bungkusan, kemudian melemparkan tepat didepan kaki Angel hingga detik itu juga, suara isak tangis Angel terdengar begitu menyayat hati. Louis yang melihat itu, berubah murka. Tidak ada lagi kata lembut dan ber-attitude yang ingin dia katakan untuk mamanya.
“Bawa kembali semua itu. Aku tidak mau memakan kue-kue sialan buatanmu itu.”
Louis memejam satu detik, kemudian kembali membuka mata dengan sorot marah.
“MAM!” teriaknya menggelegar, hingga sang ibu ikut terkejut. Tidak pernah Louis berkata dengan suara setinggi itu padanya. “Mama benar-benar keterlaluan!” geramnya marah. Ia bersumpah akan membawa Angel pergi dan memulai hidup baru dengan melepas semua atribut keluarga Hutama jika mamanya masih saja memperlakukan ibu dari calon anaknya itu dengan tidak patut. Dia rela melepas jabatan yang sedang ia lakoni di sana, dan membangun semua dari nol bersama Angel dan anaknya.
“Mama nggak mau munafik dan menerima dia sebagai anak mantu dan cucu—”
“Kalau begitu, lepaskan Louis dari keluarga ini!” sentaknya tak kalah keras dari suara mamanya. Suasana berubah tegang hingga Hutama tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah.
“Ada apa ini?!”
__ADS_1
Louis dan Jenita menoleh pada sumber suara, kecuali Angel. Dia masih tersedu dengan luka menganga di hatinya yang teramat menyakitkan. Hidupnya tidak pernah sebahagia orang lain. Sejak remaja dia berusaha bertahan hidup sendirian. Dan sekarang, setelah menemukan tambatan hati pun, dirinya masih berada diposisi yang salah Dimata orang lain. Lebih tepatnya di mata wanita yang telah melahirkan sang suami. Angel menyesal terlahir kedunia dengan keadaan menyedihkan seperti ini.
“Ada apa?!” tanya Hutama sekali lagi. Lantas berjalan cepat mendekat ketika merasakan suasana ruang tamu dengan atmosfir tegang itu begitu mencekam. Ia bisa melihat menantunya menangis tersedu, dan dia bisa melihat fitur wajah putranya yang terlihat mengeras penuh amarah. Dan satu lagi, dia melihat sebuah bungkusan jatuh dan isiannya sedikit keluar dan berantakan dilantai.
“Mama kenapa?” tanya Hutama, mencoba mencari duduk masalah. Tapi apa yang selanjutnya dia dengar dari bibir Louis, membuatnya tau semua hal pemicu ketegangan yang tercipta.
“Lou ingin mengundurkan diri dari kantor—”
“Untuk apa?!” tegas dengan suara keras, Hutama memotong ucapan Louis yang terdengar putus asa. “Apa yang membuat kamu sampai harus berhenti dari sana? Karena mama mu?”
Louis hanya diam. Ia tidak sanggup menahan air matanya, lalu membawa Angel kedalam pelukannya dan mengecup puncak kepala wanita itu berkali-kali disela tangis.
“Bukan karena mama, pa. Tapi karena wanita ***-*** yang sudah menggoda dan mempengaruhi putra kita—” teriak Jenita tak mau salah yang langsung terputus oleh teguran keras Hutama.
“Ma, dia menantu mama. Wanita yang dipilih putra kita untuk mendampingi hidupnya. Kenapa mama menyebut perempuan sebaik Angel dengan sebutan sekeji itu, hm?!” sentak Hutama berpihak pada Louis. Ia tidak pernah mau mengambil resiko dengan sikap Jenita yang memang terkadang terlalu posesif dan aneh.
Jenita menitihkan airmata. Ia tidak menyangka jika dia akan terpojok seperti ini didepan perempuan yang tidak pernah mau ia terima. Ini sangat memalukan.
“Bawa dia naik ke kamarmu, Lou.” titah sang ayah yang mencoba mengambil jalan tengah dengan menahan dan mencoba mencari jalan keluar dengan bicara dengan Jenita. Hutama ingin putranya dan sang menantu menuggu beberapa saat hingga dia berhasil menenangkan Jenita yang sedang di gelut amarah.
“Tidak. Louis mau membawa istri dan calon anak Louis pulang. Bukan disini rumah kami.” kata Louis sambil memungut kue-kue yang jatuh dilantai, kemudian menarik tangan Angel untuk membawanya pergi.
“Apa?” sahut Hutama terkejut. “Jadi—”
Tidak ada kelanjutan kalimat Hutama karena Louis sudah menarik pergi Angel yang masih tersedu untuk berjalan keluar dari rumah. Namun ia teringat sesuatu. Louis menghentikan langkah, kemudian memutar kepalanya untuk menatap dua presensi yang ia hormati.
“Maaf, jika Louis membuat mama kecewa. Dan terima kasih untuk papa, karena sudah mau menerima Angel dan calon anak Louis.” []
###
😔😔😌
Bentar lagi selesai. Jadi, jangan lewatkan bagaimana akhir dari perjuangan Louis dan Angel, ya teman-teman ...
Terima kasih untuk yang masih stay tune disini. Author sudah ada project baru sebagai pengganti dari cerita My Angel Baby yang sebentar lagi akan tamat. Jadi, tetap bersama dan temani Vi's berkarya disini, ya... 🙏
Terima kasih.
__ADS_1
Sekali lagi,
SELAMAT TAHUN BARU 2023 🎉🎉🎉