My Angel Baby

My Angel Baby
Menyusup


__ADS_3

"Ternyata semua pria itu memang sama ya bro" perkataan Willy memecah konsentrasi Mawan.


"Maksud lo?" tanya Mawan tanpa mengalihkan pandangannya pada Eri dan ajudannya.


"Itu namanya Eri. Orang yang gue maksud sebagai pengganti Norita di sini" kata Willy yang malah ikut memperhatikan Eri.


"Gue rasa tadi disana nggak ada orang, kenapa dia bisa cepat banget ya bisa langsung duduk disitu? Padahal kalau mau kesana, seharusnya kan melewati meja kita ini, karena pintu ke dalam ada di ujung sana" tanya Willy.


"Lo yang kurang perhatian, gue kira lo memang tahu semuanya tentang tempat ini, ternyata hal sekecil itu saja lo nggak tahu" ejek Mawan yang sebenarnya ingin sekali mencari info dengan mudah melalui Willy, meski semua info itu harus dia kaji ulang.


"Memangnya lo tahu?" tanya Willy sedikit tidak suka, dia merasa menjadi seorang senior di tempat itu.


"Lo lihat ada semacam lukisan abstrak berwarna dominan ungu di dekat jendela sana?" tanya Mawan dengan isyarat dagunya.


"Tahu, kenapa?" tanya Willy.


"Mereka keluar dari sana, dan sepertinya gue tahu kode supaya bisa masuk kesana. Lo nggak ngerasa penasaran buat tahu isi didalam ruangan itu, Wil?" tanya Mawan dengan wajah serius.


"Lo jangan aneh-aneh deh, San. Jangan berfikir untuk mencoba masuk kesana meskipun gue juga merasa penasaran" jawab Willy.


"Gue rasa di dalam sana tempat mereka menyimpan banyak wanita cantik dan juga banyak minuman. Seandainya kita bisa masuk dan lo bisa ambil beberapa botol minuman mahal dari sana, terus kalau lo lagi beruntung nih, lo bisa sekalian kawin sama banyak betina di dalam sana. Apa lo nggak merasa jadi rajanya tuh?" perkataan Mawan semakin membuat Willy penasaran.


Willy terlihat semakin sibuk berfikir. Sedangkan Mawan masih saja memperhatikannya.


Bukannya Mawan merasa takut untuk masuk sendiri, hanya saja jika Willy menemaninya, dia bisa menjadikan Willy sebagai umpan atau bahkan tameng seandainya nanti mereka ketahuan.


Tidak ingin menjadi orang jahat juga, namun keselamatannya juga harus diperhatikan. Karena masih ada emak dan bapaknya yang sedang menunggu dia pulang kembali ke rumahnya tentu dalam keadaan selamat.


Ibaratnya sedia payung sebelum hujan.


"Gimana, lo setuju kalau kita masuk kesana?" tanya Mawan penuh harap.


"Gila lo, tapi gue mau sih. Bentar gue habisin minuman gue dulu biar gue punya sedikit tambahan keberanian" ucap Willy dengan otak yang sudah bertraveling kemana-mana.


"Bagus. Kita cari momen yang tepat biar bisa masuk kesana" ujar Mawan penuh semangat.


"Memangnya lo kenapa sering kemari, Wil?" tanya Mawan iseng saja.


"Gue broken home, bro. Ortu gue kaya, tapi lupa sama gue. Jadi ya gue kesini saja sambil membantu ortu gue buat menghabiskan uangnya" kata Willy sambil mengedipkan matanya.


Mawan jadi geli sendiri mengingat sekarang sedang marak juga kaum pelangi. Apalagi Willy yang kurang perhatian dari orang tuanya.


Perubahan penampilan Mawan tidak main-main malam ini. Menggunakan out fit yang jelas berbeda dari yang biasa dia kenakan. Ditambah dengan satu tahi lalat besar yang dia tempelkan di pipi kirinya dan rambutnya yang sengaja dia belah pinggir sedangkan biasanya selalu dia sisir rapi ke belakang.


Mata awas Mawan melihat Eri dan kedua ajudannya pergi setelah Eri menutup panggilan teleponnya.


"Wil, orangnya pergi tuh" kata Mawan.


"Kita bergerak sekarang?" tanya Willy dengan hati berdebar.

__ADS_1


"Ayo" jawab Mawan.


"Kenapa bawa tas?" tanya Mawan yang tak sadar jika sejak tadi ada sebuah tas ransel teronggok di bawah meja.


"Lah memang tas gue sih, San" jawab Willy.


"Lo mahasiswa?" tanya Mawan.


"Iya, sudah lo jangan banyak bacot. Ayo buruan, nanti mereka keburu datang lagi" ajak Willy.


Mawan mengangguk, melihat ke sekelilingnya ternyata banyak preman pengaman bertebaran.


Dari yang telah Mawan amati, mereka mengenakan sebuah pin kecil di dada kiri mereka. Awalnya Mawan pikir beberapa orang yang memakai pin tersebut adalah teman satu geng, ternyata setelah dia ingat dengan baik, ternyata semua pekerja disana mengenakan pin yang sama.


Dari mulai security yang memakai seragam, para juru pukul yang berbadan kekar, bartender yang suka pamer keahlian, sampai petugas cuci wc yang membawa berbagai peralatan. Mereka semua memakai pin kecil yang jika tak dilihat dengan seksama memang tak akan disangka kalau mereka adalah pekerja disana.


"Kita masuk sekarang saja, bartendernya sedang banyak pesanan, dia tidak akan tahu kalau ada penyusup" kata Mawan yang segera mendekati pintu itu.


Keahliannya yang sudah terasah tiap kali bisa keluar rumah saat emaknya melarang, ternyata sangat berguna kali ini.


Tanpa ada yang menyadari, Willy yang dibantu oleh kecermatan Mawan bisa masuk ke ruangan di balik tembok Bar yang sedang diguncang oleh musik.


"Lo gila sih, San. Bagaimana bisa kita masuk dengan selamat begini?" tanya Willy setengah berbisik, takut kalau ada orang lain disana. Kagum juga pada ketepatan perhitungan Mawan.


"Sstt, diam" kata Mawan dengan awas dan semakin memasuki sebuah lorong remang yang sepertinya menuju ke sebuah ruangan lain karena ada pintu lagi disana.


Sedikit berlari kecil, keduanya berhasil masuk ke sebuah lorong yang di kanan kirinya ada empat pintu yang tertutup.


Mawan melihat keadaan di sekitarnya, ada sekitar empat pintu disana. Dua pintu terlihat terang, sedangkan dua lainnya gelap dan berjejer.


Awalnya dia melangkah mendekati pintu yang gelap, dan salah satu pintunya terasa dingin.


"Gue rasa ini gudang botolnya, Wil. Coba lo masuk dan ambil saja kalau lo beruntung" kata Mawan.


Willy terlihat bersemangat meski agak tidak fokus, mungkin efek minum minuman keras membuat kesadarannya sedikit berkurang.


Diapun masuk ke dalam pintu dingin yang tak terkunci. Sedangkan Mawan melanjutkan langkahnya sesuai insting yang dia punya untuk mencari sesuatu yang diapun masih belum tahu.


Kini dia berdiri di depan pintu yang juga terlihat gelap, melihat ke arah gagang pintunya yang berbeda dengan gagang pintu lainnya.


Pintu ini dilengkapi dengan beberapa tombol yang menggantikan fungsi lubang kunci. Mawan kembali berfikir keras, apa kodenya sama dengan pintu yang di depan sana?


Dan tidak ada salahnya untuk mencoba, Mawanpun menekan beberapa tombol angka di dekat gagang pintu.


"Bodoh!" gumam Mawan dengan sedikit senyum samar karena pintu itu memang terbuka.


Untuk sisi keamanannya, Mawan rasa tempat itu sangat riskan untuk dimasuki penjahat semacam dia malam ini. Karena deretan angka pembuka pintunya saja sama, mudah sekali untuk di bobol.


Sedangkan untuk cctv, Mawan yakin jika banyak sekali cctv bertebaran di dalam sini, oleh karenanya, Mawan harus menyamar sebagai orang lain agar bisa selamat. Bahkan dia berjalan dengan sedikit pincang agar penyamarannya semakin memukau.

__ADS_1


"Bagus!" gumamnya lagi setelah mendapati jika ruangan yang dia masuki adalah ruang kerja yang terlihat sangat nyaman.


Melihat dinding di dekat pintu untuk mencari tombol saklar agar bisa menghidupkan lampu ruangan menggunakan penerangan dari senter hapenya, Mawan berhasil menghidupkan lampu ruangan.


Mawan melangkah masuk setelah memastikan kalau masih aman. Sedikit memindai ruangan itu. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah menghampiri meja kerja dan melihat keadaannya.


Setelah menutup pintu dengan baik, Mawan melihat meja yang terdapat beberapa laci disana.


Mawan membuka laci pertama di sebelah kiri, tak ada yang menarik karena hanya terisi kumpulan kosmetik.


Beralih ke laci kedua, mulai terlihat beberapa berkas di dalamnya yang terbungkus amplop coklat besar.


"Masak sih surat lamaran pekerjaan?" tanya Mawan dalam hatinya.


Mawan membuka salah satunya, memang berisi biodata seseorang, tapi itu bukanlah surat lamaran pekerjaan, melainkan biodata milik Johan.


"Siapa itu Johan?" gumamnya.


Tapi Mawan tak lantas membaca semuanya, dia hanya mengeluarkan dari amplop dan melihat isi dari amplop lainnya.


"Ini Biodata Lian, bagus" gumamnya lagi dengan perasaan lega bercampur tegang, dia harus segera menyelesaikan semuanya.


"Ini Samuel, great job, Sandi" gumamnya lagi memuji diri sendiri yang memakai nama Sandi sesuai KTP yang dia pegang.


Dan amplop selanjutnya adalah milik Norita, tapi Mawan sudah tidak membutuhkannya. Segera Mawan menaruh amplop milik Norita yang masih lengkap isinya, dan kini dia harus kembali berusaha agar bisa keluar dengan selamat dari tempat itu.


Sebelum keluar, Mawan memastikan jika biodata itu aman dan melipatnya agar bisa dia masukkan ke sela celana dan kaosnya lalu ditutupi jaket karena dia tidak membawa tas apapun.


Selesai dengan pekerjaannya, Mawan yang sudah berdiri di balik pintu menaruh telinganya di daun pintu untuk memastikan kondisi di luar ruangan masih aman.


"Masih sepi, gue harus segera balik nih" katanya sambil memencet lagi kode pintu agar bisa terbuka.


Tapi dia lupa satu hal, Mawan tak mematikan kembali lampu ruangan itu.


Sedangkan di dalam bar, Eri yang sudah kembali duduk di singgasananya berinisiatif membuka rekaman cctv melalui ponselnya. Yang dia takutkan adalah adanya orang lain yang masuk ke dalam ruang khususnya yang berisi beberapa kotak kaca yang salah satunya berisi mayat Handoko.


Tapi dia malah dikejutkan dengan tampilan lampu ruang kerjanya yang menyala, padahal seingatnya, dia selalu mematikan lampu saat keluar dari sana.


"Sial" gumamnya saat melihat seseorang berjalan mengendap di lorong.


"Ada penyusup" baiknya pada salah satu bodyguard di sampingnya dan segera memasang tanda bahaya.


"Kita bergerak dengan hati-hati, sudah lama tak ada musuh semacam ini" kata bodyguard itu dengan tampang bahagia sambil menekan jari-jari tangannya hingga berbunyi kretek.


"Ayo" ajaknya pada rekan kerjanya yang lain, meninggalkan Eri yang harus tetap di singgasananya agar si penyusup tidak curiga.


Bisakah Mawan keluar dari tempat itu dengan selamat?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2