
...MAB by VizcaVida...
...|18. Sebuah Pertimbangan|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Apa ... aku bisa? Apa aku pantas mendapatkan itu setelah semua kesalahanku yang membuat Caca memilih pergi dariku?”
Stefany mendelik lebar. Apa hari ini ia akan mendengar satu alasan besar yang membuat dia dan Caca berakhir?
“Memangnya, apa yang membuat Caca sampai memilih pergi dari kamu? Apa ini alasan kamu sulit membuka hati?”
Louis mengangguk. Ia tau, inilah saatnya ada orang lain yang tau alasannya berakhir dari Caca. “Caca tau saat aku ... tidur dengan wanita lain.”
Stefany tercengang, nafasnya seperti tercekat di tenggorokan. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena alasan yang selama ini disembunyikan Louis dari banyak orang itu.
“Wa-wanita lain? Ka-kamu selingkuh?”
Louis tersenyum miris sembari menggelengkan kepalanya. “Lebih tepatnya, aku bodoh dan ceroboh.”
“Mak-sud kamu?” tanya Stefany terbata.
“Karena cemburu sama Nolan, Aku pergi ke bar dan minum.” kata Louis mulai bercerita. “Disana, aku bertemu salah satu teman SMP yang dulu cukup dekat dengan ku. Kami minum sampai aku lupa pada janjiku sama Caca untuk nggak lagi nyentuh minuman itu. Dan, kamu pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya antara aku dan wanita itu.”
Stefany menelan ludahnya susah payah. Ini tidak bisa dipercaya, bagaimana seorang Louis bisa terjebak oleh hal seperti itu. Setaunya, Louis adalah orang yang paling bisa memperhitungkan apa yang ada pada dirinya sendiri. Louis selalu tau porsi dirinya ketika melakukan sesuatu.
“Kamu di jebak?” tanya Stefany dengan nada sedikit meruncing dan bola mata yang melebar dan hampir keluar dari tempatnya.
Louis lagi-lagi hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
“Dia punya dendam masa lalu sama Caca. Dan saat tau aku adalah tunangan Caca, dia malah menjebakku untuk melakukan hal yang seharusnya tidak pernah terjadi. Aku bodoh. Aku gagal—”
“Nggak. Kamu nggak salah.”
“Tapi Caca nggak percaya, Stef. Dia nggak mau menerima apapun alasanku setelah melihat rekaman CCTV di rumah. Dan memang benar, kami melakukannya.” kata Louis putus asa mengingat kejadian dimana cintanya harus kandas karena kecerobohannya sendiri.
Stefany juga tidak bisa memungkiri kekecewaannya jika berada diposisi Caca. Tapi apa salahnya jika memang Louis sudah berkata jujur dan meminta kesempatan.
“Dia pantas dapat yang lebih baik dari aku. Untuk itulah aku mengalah dan melepaskan dia untuk pria lain yang pasti bisa menjaga dirinya.”
Stefany merasa prihatin. Selama ini Louis memendam rasa putus asa nya sendirian. Beruntung jika Louis tidak mengambil jalan lain yang mungkin bisa membuatnya kembali ke arah gelap sebelum Caca masuk ke kehidupan pria itu.
“Maaf, karena aku nggak bisa berbuat apapun demi kamu.”
__ADS_1
Louis menoleh dan tersenyum. “It's Okey. Semuanya sudah berlalu. Tapi semua itu seperti menjadi trauma untuk aku yang berdiri di tempat yang masih sama.” lanjutnya dengan suara parau. “Aku masih stuck karena ini adalah salahku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena—”
“Untuk sekarang, coba berdamailah dengan masa lalu, Lou. Tuhan masih menyayangimu.”
Louis tampak menimbang setiap ucapan Stefany. Dia mencoba untuk melakukan apa yang sedang membuat hatinya terkunci rapat saat ini. Ia ingin bebas dari rasa bersalah yang memuakkan, namun terpenjara oleh rasa itu sendiri, yang justru membuatnya semakin terperosok jauh ke dalam lembah kekecewaan dan juga penyesalan yang begitu menyiksa.
“Aku takut, jika aku membuka hatiku lagi, mama akan melakukan hal sama seperti yang pernah diterima Caca.
“Aku takut, jika aku membuka hati, aku akan melakukan kesalahan lagi yang bisa membuat orang yang sangat aku cintai, pergi dengan alasan jelas dan menyakitkan.”
Stefany dapat merasakan goresan luka yang menyakitkan dalam setiap rentetan kalimat yang di ucapkan oleh Louis.
“Dan untuk Angel,” Louis menjeda, menatap sendu pada Menik mata Stefany yang juga sedang menatapnya. “—aku ... coba akan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Karena aku yakin, mama nggak akan memberiku restu jika tau bagaimana kehidupan keluarga Angel.”
Apa yang salah? Stefany mengerutkan kening, tapi ia paham betul maksud dari perkataan Louis. Ia bahkan sudah menebak jika Angel berasal dari kehidupan keluarga yang tidak baik-baik saja, alias berantakan.
“Angel, memiliki cerita yang sama sekali tidak disukai oleh mama.”
***
“Aunty. Aunty bobok sama Rere disini saja ya?”
Rere yang sudah lelah bermain, sekarang memilih merebahkan diri diatas ranjang dalam pelukan Angel. Ia seperti menemukan teman dan kakak dalam satu waktu.
“Aunty akan sering main kesini. Tapi maaf, Aunty tidak bisa tinggal dan bobok sama Rere disini. Aunty kan harus kerja.” bujuk Angel sambil mengusap kening, dan menyibak poni Rebecca penuh kasih sayang. Suaranya pun dibuat-buat selucu mungkin agar Rebecca mau mendengarnya bicara. Ia benar-benar jatuh cinta dengan putri Robert, dan keponakan tersayang Louis ini.
Angel tersenyum. Gadis kecil ini memang selalu membuatnya kagum. Di usia sedini ini, pertanyaan yang diajukan kepadanya cukup membuatnya pusing sampai kelimpungan mencari jawaban.
“Papa kerja, Uncle kerja, Opung kerja, Oma juga kerja. Hanya ada mama dirumah dan mbak Mala.”
Mala itu nama baby sitter yang merawat Rebecca dari pagi hingga sore hari.
“Orang dewasa memang harus kerja, sayang.” tutur Angel mulai memberi pengertian. “Orang dewasa punya alasan besar untuk melakukan itu.”
“Apa alasannya, Aunty Barbie?”
Ah, Angel punya nama baru sekarang. Ia suka ketika Rebecca memanggilnya Aunty plus Barbie.
“Eummm, apa ya?” jawab Angel sambil menatap langit-langit kamar berwarna pink hello Kitty, lalu mengetuk dagunya pelan sebagai ekspresi berfikir. “Orang dewasa itu, punya tanggung jawab yang harus dipenuhi, Re. Contohnya, papa nya Rere bekerja agar Rere dan mama bisa belajar berdua, bisa makan enak, bisa beli mainan bagus, dan juga biar Rere nanti kalau masuk sekolah, bisa sekolahnya di tempat yang bagus juga. Biar bisa memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan Rere.” lanjutnya, memberi contoh yang mudah dipahami oleh anak seusia Rebecca.
“Tapi, kenapa harus bekerja?”
Rupanya, gadis kecil ini belum bisa mencerna isi jawaban yang disampaikannya. “Begini. Rere nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” tanya Angel dengan nada suara sabar dan halus.
“Dokter.” jawabnya ceria sambil mengangkat kedua lengannya tinggi.
“Uh, anak pintar.” puji Angel untuk Rebecca yang masih setia memamerkan deretan gigi putihnya yang begitu rapi. “Nah, papa harus kerja, biar nanti kalau Rere mau jadi dokter, papa punya uang banyak, supaya Rere bisa jadi dokter kalau sudah besar nanti.”
__ADS_1
Rere mengangguk paham sekarang. “Jadi itu alasan papa, Uncle, opung sama Oma kerja? Supaya Rere jadi dokter?”
Angel tertawa karena Rere masih mengalami miss komunikasi seorang diri. Oke, pilih simple nya saja.
“Iya.” Nah, mudah bukan? Rere sudah diam dan memilih memeluknya semakin erat. “Selain itu, Rere juga harus selalu mendo'akan mama, papa, Uncle Lou, opung, dan Oma supaya mereka selalu di berkati dan diberikan kebaikan oleh Tuhan. Supaya pekerjaan mereka lancar.”
Rebecca mengangguk meng-iyakan kalimat Angel yang baru saja diucapkan.
“Rere nggak mau aunty barbie pulang. Maunya aunty disini aja sama Rere.” rengeknya mengubah topik, dan suara Rebecca yang manja itu berhasil membuat Angel tersenyum hangat.
Menggemaskan, itu adalah satu kata yang sejak tadi ada didalam kepalanya ketika mendefinisikan seorang Rebecca.
“Oke deh, nanti Aunty tanya sama Uncle, mama dan papa Rere dulu, ya?”
“Asyik.” teriak Rere dengan kedua telapak bertepuk gembira. Angel tidak pernah menduga akan mempunyai teman kecil yang menyenangkan.
Dan keduanya menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara kenop yang ditarik turun oleh seseorang.
“Wah, seru sekali kelihatannya?” suara Louis bertanya melihat bagaimana senangnya Rere dalam pelukan Angel. Sedangkan perempuan yang sebelumnya begitu nyaman memeluk Rere, harus segera membenarkan posisi dan duduk di tepian ranjang.
“Ah, maaf saya—”
Seolah sudah memperediksi apa yang akan dikatakan Angel, Louis dengan cepat memyahut. “Nggak apa-apa. Cuma mau ngasih tau kalau makan malamnya sudah siap.”
Ah, sangking asyiknya bermain bersama Rere di kamar, Angel sampai lupa tidak membantu Stefany untuk membuat makan malam.
Rebecca yang sudah sudah merasa lapar pun melompat turun dari ranjang dan berlari keluar meninggalkan Angel dan Louis berdua didalam kamarnya.
“Yuk, makan dulu. Setelah ini aku antar kamu pulang.”
Angel mengangguk. Sikap dan perilaku Louis selalu berhasil membuat dirinya merasa begitu dipenuhi kasih sayang. Inilah alasannya jatuh cinta pada sosok Louis, meskipun dalam diam dan lebih pantas disimpan sendiri.
“Terima kasih sudah berbaik hati menerima kehadiran saya diantara keluarga bapak.”
Louis menatap Angel penuh perhatian. Ditatap lama begini, Angel terlihat begitu anggun dan cantik. Setiap tutur bicaranya selalu lemah lembut dan sopan. Perilakunya juga selalu santun. Sepertinya Louis harus memikirkan ulang ucapan Stefany.
Sepertinya dia harus mulai membuka hatinya untuk perempuan baru, selain masa lalu yang seharusnya sudah ia tanggalkan dan hanya dijadikan kenangan.
“Tidak. Saya yang seharusnya berterima kasih, karena kamu sudah hadir diantara kami.” kata Louis, memperhatikan Angel yang terlihat tersipu. Astaga, kenapa perempuan itu terlihat sangat menggemaskan dengan wajah merona begitu? Tidak, pertanyaan yang seharusnya muncul adalah, mengapa Louis baru menyadarinya sekarang?
Louis berdehem kecil. “Terima kasih ya, Ngel. Karena kamu sudah mau ada diantara kami, terutama ... untukku.” []
###
Apakah Louis akan benar-benar bisa membuka hatinya untuk Angel?
Boleh minta komennya dong akak... 😉
__ADS_1