My Angel Baby

My Angel Baby
Berusaha mencari


__ADS_3

"Ugh! Sakit sekali badanku" gumam Viviane yang mulai tersadar.


Pendaran cahaya lampu membuat matanya terasa silau. Sedikit demi sedikit dia membuka matanya hingga berhasil menilik ruangan dimana dia berada sekarang.


"Dimana ini?" gumamnya dalam hati.


Ruang tidur dengan satu ranjang kecil dengan nakas yang kecil pula. Tapi lampunya sangat terang. Viviane tak habis pikir bagaimana pemilik kamar ini bisa tidur dengan lampu seterang itu.


Tak ada gambar maupun foto di dalam sini. Hanya terisi ranjang dan nakas saja dengan cat tembok berwarna putih bersih.


Sepertinya ruangan ini baru saja direnovasi karena bau catnya masih sangat menusuk hidung.


"Loh, ternyata tanganku terikat" kata Viviane.


"Kakiku juga" sambungnya.


"Sebenarnya aku sedang berada dimana sih?" herannya.


Masih belum juga terasa panik melanda pikirannya. Viviane masih berusaha untuk mengingat kejadian sebelum dia sampai di tempat ini.


"Ah iya.. Aku dibawa oleh orang tak dikenal sewaktu perjalanan pulang dari panti" katanya lirih, mulai ingat dengan semuanya.


"Hiks... Hiks... Bang Vicky.. Tolong aku. Apa kau sudah tahu kalau aku hilang, bang? Sudah berapa lama aku berada di tempat ini?" gumamnya lirih.


Bahkan ponsel dan tasnya tak ada disini. Viviane yakin jika semua barangnya terjatuh di tengah kebun tebu itu. Atau orang-orang yang membawanya kesini juga turut membawa semua barangnya?


"Kalau ponselku berada di tempat ini juga, pasti bang Vicky akan segera menemukanku. Karena di dalam ponselku terdapat chip untuk melacak keberadaannya, bukan?" secercah harapan mulai bersarang di benak Viviane, semoga Vicky segera menemukannya.


"Tapi bagaimana jika ponselnya tidak dibawa? Pasti bang Vicky akan kesulitan menemukan aku" batin Viviane ketakutan kali ini.



"Ada sensor yang menemukan keberadaan ponsel Bu Viviane, pak" kata penyelidik yang Vicky percaya untuk mencari istrinya.



"Bagus. Dimana titiknya berada?" tanya Vicky sambil ikut mengamati tampilan layar laptop si hacker yang terlihat peta dengan beberapa titik berwarna-warni.



"Ponselnya terlihat berada di tengah perkebunan tebu" kata si hacker sedikit heran.



"Apa disana ada bangunan atau semacamnya?" tanya Vicky.



"Tidak ada pak. Perkampungan juga jaraknya lumayan jauh. Para pengurus perkebunan itu harus menggunakan motor untuk sampai kesana. Dan kebanyakan dari mereka bekerja secara berkelompok untuk menjaga keselamatan bersama" jawab hacker itu.



"Ah sial" umpat Vicky.



"Lalu bagaimana keadaan supir yang membawa Viviane kemarin? Apa keadaannya sudah membaik?" tanya Vicky pada anak buahnya yang selalu stand by di dekatnya.

__ADS_1



"Dia masih pingsan pak. Pendarahan di kepalanya cukup parah hingga proses pemulihannya memakan waktu cukup lama menurut penjelasan dokter" jawab anak buah Vicky.



"Ah! Sial" sekali lagi Vicky mengumpat.



Hatinya sangat kacau, dia takut kehilangan Viviane untuk kedua kalinya. Gusarnya hati membuat Vicky mengusap wajahnya dengan kasar. Membuat wajah putih yabg masih menampakkan ketampanannya itu memerah karena menahan amarah.



Dia teringat sang putri yang sudah beranjak dewasa. Dia dan timnya yang tak kalah solid mungkin sudah menemukan satu harapan tentang keberadaan istri tersayangnya itu.



Vicky merogoh kantong celananya, mengambil ponselnya dan segera menghubungi Lia.



"Hallo sayang, apa kau sudah berhasil mendapatkan kabar mengenai mamamu?" tanya Vicky, getar suaranya sangat terdengar jika dia panik dan khawatir.



"Sudah pa. Pasti papa juga tahu kalau ponsel mama ada tengah perkebunan tebu, kan? Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mendatangi tempat itu. Mereka sudah berada di tkp tapi masih belum ada informasi lanjutan, pa" jawab Lia yang sudah selangkah lebih maju dalam penyelidikannya daripada tim Vicky.



Sejenak Vicky merasa bangga pada anaknya, karena tim dari Lia jugalah yang telah menemukan supir Viviane dalam keadaan terkapar di jalan sepi yang menuju panti asuhan.




"Papa sudah melakukannya. Tapi kita juga tidak bisa tinggal diam kan, nak. Papa takut akan keselamatan mamamu" ucap Vicky.



"Ya. Papa benar. Pihak kepolisian pun sekarang masih mencari petunjuk di sekitaran tempat pak supir ditemukan, dan dua orang bodyguard yang juga menghilang. Hanya menyisakan sebuah mobil yang dibawa oleh mereka" kata Lia tak kalah panik.



"Jangan kau beritahukan pada Samuel tentang hilangnya mamamu, Lia. Papa takut sekolahnya akan terganggu jika ikut memikirkan tentang mamamu" kata Vicky.



"Iya. Papa tenang saja. Sudah ada pelindung untuk Samuel. Jadi kita bisa fokus dulu untuk pencarian mama" jawab Lia.



"Argh, sebenarnya kemana mamamu pergi? Dia itu selalu tak mau mendengarkan laranganku. Dan selalu saja terjadi hal yang tidak diinginkan kalau mamamu membantah" oceh Vicky melupakan perasaannya.



Tak biasanya pria itu bersikap lembek. Dan semua itu bisa dia perlihatkan hanya pada keluarga terdekatnya saja. Pada Viviane atau Lia yang sudah sangat dewasa dalam menyikapi hidup.

__ADS_1



"Papa tenang saja. Lia yakin kalau mama pasti bisa kita temukan dalan keadaan selamat. Dan aku pastikan jika para penculik mama akan menanggung semua akibatnya karena telah berani mengusik keluarga kita" kata Lia penuh ambisi. Sudah sangat lama dia tidak berurusan dengan urusan yang berbau kriminal dan keselamatan seseorang.



Lia merasa sangat tertantang untuk segera bisa memecahkan kasus mamanya. Bersama tim Nirwana, Lia yakin jika semua akan baik-baik saja.



"Ya. Papa harap juga begitu, nak. Papa hanya takut kehilangan mamamu untuk kedua kalinya" kata Vicky lirih.



Lia mengerti itu. Bagaimana perjuangan cinta kedua orang tuanya hingga bisa berkumpul bersama seperti sekarang. Meski masih belum ada ucapan restu dari orang tua Viviane.



Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Lia mencari tahu sendiri keberadaan kakek dan neneknya di Surabaya.



Dengan kecerdasannya, Lia bahkan bisa berbicara dengan omnya. Tanpa sepengetahuan Vicky maupun Viviane.



"Kenapa muka lo, Sam?" tanya Mawan siang ini.


Tak biasanya Sam seperti orang linglung meski sudah ada Lian disampingnya.


"Sejak kemarin gue telepon mama, tapi kenapa nggak pernah diangkat ya, Wan?" tanya Sam sambil melihat layar ponselnya yang menyisakan keterangan bahwa sambungan teleponnya gagal.


"Lagi sibuk kali mama lo" jawab Mawan.


"Sesibuk-sibuknya mama, pasti akan menelepon balik kalau tahu ada telepon masuk dari gue, Wan. Tapi sejak kemarin mama cuekin gue" kata Sam dengan tampang sedihnya.


"Coba lo tanya sama bokap lo, atau kakak lo" saran Mawan yang tiba-tiba ikut cemas hingga tak terasa Mawan menatap Lian dengan tajam, seolah Lian tahu sesuatu.


Ditatap seperti itu tentu membuat Lian merasa risih.


"Aku tidak tahu apapun Wan, sungguh" ucap Lian refleks.


"Apaan sih?" tanya Sam sambil memandang Mawan dan Lian satu per satu.


"Nggak ada apa-apa kok, Sam. Lo coba hubungi keluarga lo yang lain dong" jawab Mawan untuk mengalihkan perhatian Sam yang terlihat curiga.


"Sudah Wan. Papa bilang kalau mama lagi sibuk, sementara kakak gue bilang nggak tahu. Lo tahu sendiri kalau kakak gue nggak akan merubah jawabannya meski gue desak seperti apapun" jawab Sam.


"Lagian ngapain tiba-tiba telepon mama lo?" tanya Mawan lagi.


"Ya nggak apa-apa, Wan. Gue cuma rindu. Lo mah enak tiap hari bisa ketemu sama emak lo. Lah gue, hidup jauh dari orang tua kan bisa membuat hati jadi rindu, Wan" jawab Sam yang sudah seperti kertas basah.


"Begitu banget rasanya rindu emak ya, Sam. Gue nggak pernah tahu sih. Emak gue cerewet banget" gumaman Mawan terdengar oleh kedua temannya.


"Kecerewetan itu yang akan lo rindukan kalau jauh dari emak lo, Wan" kata Sam sedikit lirih.


Kini mereka bertiga dalam keadaan slow, suasana tiba-tiba terasa redup dan tak seriang biasanya.

__ADS_1


"Gue jadi ikutan rindu emak gue, Sam" gumam Mawan yang membuat kedua temannya kompak menoleh padanya.


__ADS_2