My Angel Baby

My Angel Baby
Bertemu Dan Bicara Lagi Dengan Mama


__ADS_3

Sebelumnya, Vi's mau mengucapkan terima kasih untuk pihak Noveltoon yang bersedia mendengar jeritan hati author jelata seperti Vi's ini 😂


Dan untuk teman-teman pembaca yang sudah memberikan semangat dan do'a, terima kasih banyak. I LOVE YOU FULL❤️❤️❤️❤️❤️


Masalah sudah teratasi dengan baik. Jadi, cus let's go kita lanjut cerita Louis dan Angel.



...MAB by VizcaVida...


...|43.Bertemu Dan Bicara Lagi Dengan Mama|...


...Selamat membaca...


...[•]...


“Kita buka bareng kalau begitu.”


Kemudian mereka berjalan menuju lorong pintu dan membuka bilah aluminium tebal itu yang kemudian menampakkan sosok Gita diluar dengan wajah datar.


“Mau apa?!” tanya Louis tegas dan tidak membutuhkan basa-basi.


“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Lou.”


Louis yang sejak awal memang tidak menginginkan kehadiran Gita, menarik masuk Angel dan mengayunkan pintu itu untuk kembali tertutup.


“Ini tentang mamamu.” cegah Gita, berhasil menarik atensi Louis.


Mendengar mamanya di sebut, Louis langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak mendorong pintu. Ia menatap nyalang pada sosok Gita, benaknya bertanya sebenarnya apa mau wanita itu kembali lagi muncul di depannya setelah apa yang dia lakukan.


“Aku tidak ingin mengganggu rumah tangga kalian. Aku cuma ingin memberitahu sesuatu yang mungkin perlu kamu tau agar nggak salah paham sama aku, jika suatu saat mama kamu datang dan ngomong sembarangan tentang aku.”


Louis mengerutkan kening, mencoba menelisik ucapan Gita yang terdengar tidak masuk akal, tapi mengundang rasa ingin tau Louis sebagai anak yang tau peringai sang mama yang amat sangat keras kepala.


“Persingkat saja, apa mau kamu sebenarnya?”


Angel yang berdiri disamping Louis, mengusap lengan prianya yang sudah terlihat marah. Dada pria itu mengembang dan mengempis mengikuti nafasnya yang berubah semakin cepat.


“Oke.” kata Gita. Tidak di persilahkan masuk pun tidak masalah. Dia hanya ingin menyudahi perannya, karena Jenita berulah. “Aku mau minta maaf untuk kejadian pertemuan dengan dia yang sengaja aku rencanakan, waktu itu.” lanjut Gita sambil menunjuk singkat presensi Angel yang ada disamping Louis.


Baik Louis maupun Angel menatap lurus kepada Gita yang mulai bicara. Lalu, Angel memotong suasana yang mulai tegang itu dengan mengajak Gita masuk, namun Louis menahan dan melarang Angel membawa wanita lain masuk ke dalam rumah mereka. Rumah adalah Privasi. Bagi Louis, tidak semua orang bisa masuk ke rana pribadi miliknya. Terutama Gita yang pernah menjebaknya dan menjerumuskannya dalam lembah kehancuran.


“Dia tetap bicara disini, aku nggak akan kasih dia masuk ke rumah.” katanya pada Angel dengan nada tegas tak mau dibantah.


Gita tau, mungkin Louis masih tidak bisa mentolerir perbuatannya saat itu. Jika diposisi Louis, Gita pasti akan melakukan hal yang sama. Melarang orang seperti dirinya masuk kedalam rumah yang menjadi saksi kebusukannya waktu itu.


“Aku cuma nggak pingin di sebut wanita jahat yang kelewat jahat gara-gara muncul dan ganggu hidup kamu lagi, Lou. Aku cukup tau diri dan nggak akan ngulangi kebodohan itu lagi.”


Louis hanya diam, sedangkan Angel memperhatikan interaksi yang terjadi antara Louis dan Gita.


“Lalu, kenapa kamu tiba-tiba datengi Angel dan berpura-pura tidak mengenali dia? Bullshit kalau kamu bilang semua itu cuma kebetulan yang kamu rencanakan seorang diri.”


Gita tersenyum masam. “Coba tanya mama mu. Apa yang sudah dia lakukan padaku, Lou?”


Memang benar, apa yang dikatakan Gita. Jenita yang mendengar Gita gagal menghentikan Louis untuk menikahi Angel, merusak bisnis yang sudah dibangun wanita itu sudah payah. Semua tidak tersisa dan kini, namanya sudah tidak lagi bisa diterima semua orang dengan baik.


“Aku masih punya hati. Aku menolak permintaan mama mu karena aku sudah membuat kesepakatan dengan kamu saat itu. Tapi, mamamu yang tidak pernah aku kenal itu, memaksa. Apa kamu tau?” Gita menjeda ucapannya dan membuang muka menahan airmata. Bagaimanapun, dia hanya seorang perempuan yang mencoba untuk bisa menata hidupnya yang sejak semula sudah berantakan. “Sekarang, aku tidak bisa melakukan apapun disini. Aku tidak lagi bisa membawa diriku didepan umum, semua itu karena aku tidak bisa membuat kamu, dan dia berpisah.”

__ADS_1


Dada Louis bergetar, jantungnya berdegup kencang mendengar kenyataan bahwa mama nya memang ada di balik semua ini.


“Tapi, tidak apa-apa. Aku masih punya tempat untuk lari.” kata Gita, sendu menahan tangis. Bisnisnya hancur, orang tuanya juga tidak lagi mau menerimanya. “Aku akan pergi dari negara ini dan mencari kehidupan baru di tempat lain, meskipun mungkin tidak akan mudah bagiku.”


Louis mengepalkan tangan. Sedangkan Angel memberanikan diri bergerak mendekat dan mengusap satu lengan Gita secara lembut. Angel dapat melihat bagaimana sorot redup putus asa yang terpancar dari kedua manik mata Gita.


“Maaf,” bisik Angel tak memutus pandangan dari wajah Gita. Dan seketika, tangis perempuan itu tumpah. Tidak ada tempat bagi dia untuk menceritakan apa yang sedang dialaminya. Gita benar-benar sendiri. Dia hanya butuh seorang teman untuk mendengarkan keluhannya yang selama ini ia tahan. Ia hanya butuh seorang teman yang bisa mengerti sifatnya yang berbeda dengan orang lain karena selama ini, dia selalu tertekan dan nyaris menjadi orang yang tidak waras.


“Thank you.” jawab Angel berbisik dengan suara dan bibir bergetar.


Lalu, dengan gerakan pelan dia menarik diri, menjauh dari usapan Gita. Ia menghapus airmata dan mencoba kembali tersenyum dengan dagu diangkat tinggi. “Aku datang kesini untuk minta maaf atas semua perbuatan yang aku lakukan padamu, Lou. Selamat atas pernikahanmu. Semoga Tuhan memberkati kalian, dan semoga kalian bahagia sampai akhir nanti.” kata Gita tulus sembari melihat Angel dan Louis secara bergantian. “Maaf, dan aku pastikan tidak akan lagi muncul dihadapan kalian.”


Angel mengesat airmatanya diam-diam. Ternyata kehidupan yang dialami Gita jauh lebih sulit darinya.


“Bye.”


Louis yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, ikut prihatin atas hidup Gita.


“Maafkan mama.”


Louis selalu melakukan itu. Meminta maaf untuk mamanya, untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.


“Tidak masalah. Semoga kalian bahagia. Aku pamit.”


Gita benar-benar pergi. Dan Louis menatap penuh rasa bersalah pada wanita yang terlihat kuat namun rapuh itu. Kemudian, teringat jika ada mama nya masih saja berulah. Kali ini, Louis memantapkan diri untuk kembali menemui sang mama.


***


“Nanti, kamu pulang duluan ya sayang. Aku ada urusan.” kata Louis, memasukkan potongan wortel kedalam mulut.


“Iya. Hati-hati pulangnya.”


Louis meletakkan sendok dan mengusap kepala Angel. Kebiasaan kecil seperti ini terasa menyenangkan dan akan selalu Louis lakukan sebagai bentuk rasa sayangnya kepada Angel. Ia bangga memiliki wanita itu sebagai pendamping hidupnya. Ia akan membuktikan kepada sang mama, jika dirinya tidak salah menjatuhkan pilihan.


“Tentu saja, sekarang ada yang menungguku pulang. Jadi aku harus selalu berhati-hati jika tidak ingin membuat si cantik ini menangis.”


Angel mengerucutkan bibir. Kenapa Louis berkata begitu? Bikin khawatir saja.


“Sampai rumah kira-kira jam berapa?”


Louis kembali melahap sarapannya, dan menjawab Angel sekenanya. “Tidak tau. Kalau sampai jam makan malam aku belum sampai rumah, kamu makan aja duluan, ya.” pinta Louis sambil menatap sayang ke arah Angel. Louis sendiri tidak tau seberapa lama dirinya akan berdebat dengan sang mama nanti.


“Memangnya, kamu ada urusan apa sih?” cebik Angel sedikit kesal karena dibuat penasaran.


“Nanti saja, kalau sudah pulang aku kasih tau.”


***


“Nyonya, ada den Louis dibawah.”


Jenita yang sedang sibuk membaca buku, terinterupsi oleh suara salah satu asisten rumah tangga yang masih berada dirumah.


Sama seperti ibu yang lain, Jenita tentu merasakan rindu pada sang putra. Apalagi Louis adalah putra bungsu yang sangat ia sayangi.


“Sendirian?”


Wanita paruh baya yang masih berdiri diambang pintu itu mengangguk.

__ADS_1


“Katakan pada Louis untuk menungguku sebentar.” titah Jenita pada si asisten rumah tangga yang langsung meninggalkan kamar Jenita dan berlari menuju Louis berada.


Jenita menutup buku yang ia baca, lantas berjalan keluar kamar untuk bertemu Louis. Dari lantai atas, ia bisa melihat Louis duduk di sofa ruang tengah masih dengan setelan kerja yang ia kenakan. Tanpa sadar, senyuman Jenita mengembang.


Dengan suasana hati dipenuhi rindu, Jenita melangkah menuruni anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Ia baru saja sembuh sehari yang lalu dari rasa pening dan berputar di kepalanya. Lalu, dia bisa melihat bagaimana wajah lelah Louis ketika langkah miliknya itu sudah berhenti tidak jauh dari keberadaan Louis.


“Ada perlu apa datang kesini, Lou?”


Jika boleh menjawab dengan sebuah teriakan, Louis ingin melakukannya. Sayangnya, dia masih punya etika yang harus tetap ia pegang sampai kapanpun.


“Ingin bicara sama mama.” jawab Louis tak terlalu panjang namun bisa membuat Jenita sedikit merasa senang karena Louis masih mau mengajaknya bicara setelah dirinya menolak memberikan restu saat Louis dan Angel memutuskan untuk menikah.


“Bicara? Bicara tentang apa? Jika kamu masih meminta mama memberi—”


“Tentang gita.” sahut Louis tak ingin berbasa-basi karena dia ingin segera pulang agar Angel tidak menunggunya terlalu lama.


Dengan raut muka kelewat tenang, Jenita membawa dirinya untuk duduk di atas sofa tanpa melepas sedikitpun sorot matanya pada Louis.


“Gita? Mama sudah membuatnya bangkrut dan entah nasibnya seperti apa sekarang.” jawabnya santai tanpa rasa bersalah sedikitpun karena sudah menghancurkan karir dan hidup orang lain.


“Mam, kenapa mama melakukan itu?”


“Mau tau alasannya?”


Louis tidak bersuara, dia hanya menatap lurus pada ibunya yang kembali memasang wajah pongah dan arogan yang mendominasi.


“Karena dia tidak berhasil memisahkan kamu sama Angel.”


“MAM!” teriak Louis frustasi. Apa salahnya dia mencintai wanita yang memang dia cintai?


“Kamu berani teriak ke mama?” sergah Jenita tak mau kalah. Dia tidak ingin harga dirinya sebagai seorang ibu di injak putranya sendiri.


“Apa salah Angel sampai mama sangat membenci dia, hm?”


Jenita menyorot Louis tajam. Matanya terbuka lebar penuh amarah yang mulai merangkak naik dan membuat Louis turut terpatik emosinya.


“Dia wanita baik. Dia juga memenuhi semua kebutuhan Louis—”


“Mama tidak suka. KAMU DENGAR?! MAMA TIDAK SUKA!” sentak Jenita yang membuat Louis menggelengkan kepala tidak percaya.


“Mengapa mama seperti ini?” kata Louis dengan suara parau. Ia tidak lagi tau harus melakukan apa untuk membuat Angel menyentuh hati makanya ini. Tapi, ia tidak akan lelah berjuang dan meyakinkan agar Angel bisa diterima seperti halnya Stefany.


“Mama nggak suka wanita itu.”


“Dia baik, mam.” jawab Louis melunak dengan tatapan sendu. Maniknya bahkan sudah berkaca-kaca. Hanya didepan mamanya lah, Louis bisa memperlihatkan sisi dirinya yang seperti ini. “Dia sangat baik.”


“Mama tetap tidak akan menerima dia.” tegasnya keras kepala. “Jika kamu memang menyayangi mama, tinggalkan dia.”


Bak dihantam gada tepat di ulu hati, Louis merasa jantungnya dipaksa berhenti berfungsi beberapa saat. Matanya terbelalak, telapak tangannya mengepal kuat karena tidak percaya Jenita berbicara seperti itu. Dan semua semakin menyakitkan saat Jenita berkata,


“Aku tidak akan menerima apapun yang berhubungan dengan Angel, termasuk anak yang dikandungnya nanti.” []


###


Sebenarnya Jenita ini maunya apa? Hadeh 😌


Buat mamanya Louis, semoga cepat dapat hidayah

__ADS_1


__ADS_2