
...đź’žđź’žđź’ž...
...MAB by VizcaVida...
...|50. Kunci Yang Terbuka|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Seperti biasa, Angel selalu menyiapkan semua kebutuhan Louis sebelum bekerja. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, sarapan, bahkan dasi yang dikenakan, semua Angel yang mengurus.
Hari ini adalah tepat sebulan yang lalu kejadian yang membuat Angel down, terlewat. Louis bisa bernafas lega karena sekarang Angel sudah baik-baik saja dan terlihat tenang.
“Aku berangkat dulu.” pamit Louis sambil mengecup puncak kepala Angel, kemudian membungkuk dan mengecup purut rata istrinya yang sekarang, membalasnya dengan mengusap lembut rambut hitamnya yang telah rapi dan di pomade. “Jadi anak baik ya sayang. Jangan rewel, kasian mama. Jaga mama untuk papa.” bisiknya, kemudian mengecup lagi perut yang sekarang telah memiliki penghuni kecil itu.
Angel tersenyum, kemudian mengikuti gerakan Louis yang kembali berdiri didepannya. “Hati-hati. Jangan ngebut bawa mobilnya.” kata Angel berpesan pada Louis yang kembali menyarangkan kecupan tepat di bibirnya.
“Tentu saja sayang.” Jawa Louis sambil mengusap perut Angel dengan gerakan melingkar yang penuh kasih sayang dan kelembutan. “Jaga diri baik-baik. Ingat, jangan buka pintu untuk orang yang nggak dikenal.” perintah Louis pada Angel dengan ucapan serius.
“Baik tuan Louis yang paling tampan di dunia. Papanya adek.”
Astaga, Louis gemas mendengarnya. Dia kembali mencium bibir Angel.
“Aku berangkat.”
Angel mengikuti langkah Louis menuju pintu dan melepas kepergiannya dengan lambaian tangan dan senyuman termanis yang ia punya. Setelah itu, Angel kembali masuk kedalam dan mulai melakukan aktifitas seperti biasa. Membersihkan rumah, dan beristirahat setelahnya.
Matahari sudah berada tepat diatas kepala saat Angel pergi keluar untuk membeli sesuatu di mini market yang tidak jauh dari apartemen. Dia butuh sesuatu untuk memasak makan malam nanti. Tapi, tiba-tiba ponselnya bergetar, nomor tidak bernama muncul pada displaynya.
Angel berusaha acuh, namun panggilan itu tak mau berhenti hanya dengan empat kali panggilan tidak terjawab.
Langkahnya kembali terjeda saat ponsel miliknya kembali bergetar untuk ke lima kalinya. Nomor itu masih terus menghubungi dan Angel kesal sendiri, untuk itu ia menjawab dan berniat menanyakan alasan si penelpon menghubunginya berkali-kali dan terasa begitu mengganggu.
“Halo,” sapa Angel dengan nada datar dan sedikit ketus.
“Angel?”
Angel mengerutkan kening. Suara yang ia dengar sangat familiar di telinganya. Suaranya seperti ... Jenita.
“Ya?”
“Ini aku, mamanya louis.”
Damn. Jantungnya berubah berpacu cepat. Semua kata-kata buruk Jenita terputar jelas di otaknya, membuat Angel merasa tidak nyaman.
“I-iya, mam. A-ada apa, mam?”
Untuk beberapa detik, panggilan suara itu terjeda. Angel sendiri menunggu apa yang hendak dikatakan Jenita selanjutnya, hingga suara itu kembali terdengar.
“Apa aku tidak boleh menghubungimu?”
Astaga, bukan itu maksud Angel berkata demikian.
“Tidak, bukan begitu—”
“Aku ingin bertemu denganmu.” sahut Jenita ketus, memotong suara Angel yang mencicit.
__ADS_1
Angel semakin gelisah. Sensor bahaya dalam dirinya bekerja cepat, membuat semua perilaku negatif Jenita padanya berputar begitu saja dalam bayangannya. Bagaimana kalau Jenita melakukan sesuatu padanya, atau pada anaknya? Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi pikiran Angel karena merasa terancam. Ia bahkan tidak tau harus menjawab apa.
“Tidak perlu takut. Aku hanya ingin bicara santai bersamamu.”
Angel meremas ujung kaos berukuran besar yang dia kenakan. Dia benar-benar takut bertemu Jenita yang notabenenya adalah ibu dari suaminya.
“Datanglah kerumah,” pinta Jenita dengan nada suara rendah yang belum pernah Angel dengar selama mengenal wanita tersebut. “Aku ingin bicara berdua denganmu.”
“Ba-baik.”
Angel menyimpan ponselnya kembali, menarik nafas dan mengembuskannya kasar, lantas mengambil langkah kembali ke apartemen sebelum pergi memenuhi keinginan Jenita untuk bertemu di rumah utama.
“Nggak akan kenapa-kenapa. Positif thinking saja, Ngel.” bisiknya pada dirinya sendiri. Dia juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan. Langkah Angel mantap untuk bertemu Jenita.
***
Suasana sedikit canggung ketika menantu dan mertua ini saling duduk berhadapan diruang tamu luas rumah keluarga Hutama. Tatapan Jenita tidak senyalang sebelumnya. Angel dapat melihat tatapan Jenita yang sekarang sedikit lembut untuknya.
“Naik apa kamu kesini tadi?”
Angel berjengit kaget saat Jenita tiba-tiba bersuara.
“Naik bus, mam.”
“Astaga, kenapa tidak naik taksi atau minta jemput supir saja? Louis bisa menggantung ku jika tau aku memintamu datang kesini dan membiarkanmu naik kendaraan umum seperti itu.”
“T-tidak, mam. Dia tidak akan melakukan itu.” sahut Angel cepat, tidak ingin ada salah paham.
Jenita menurunkan kaki yang sebelumnya menyilang, ia mengambil teh dari atas meja dan menyesapnya pelan.
Jenita berdehem, kemudian bertanya dengan nada kaku karena canggung. “Jadi, berapa usia kandunganmu sekarang?”
“Periksa dimana? Aku punya rekomendasi dokter kandungan bagus yang pernah menangani Stefany waktu mengandung Rebecca dulu.”
Entah mengapa, hati Angel terasa menghangat. Meskipun ketus dan kaku, Jenita ternyata sedang berusaha memperhatikannya.
Oh God, thank you.
Kalimat syukur Angel ucapkan dalam hati. Ia juga menahan senyuman di bibirnya karena Jenita yang terlihat peduli padanya.
“Eum, dokter Tristan juga merekomendasikan kami untuk datang ke dokter Anita. Kami juga sudah datang ke sana.” jawab Angel lembut penuh kehati-hatian dalam berbicara. Ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apapun setelah Jenita perlahan mulai membuka hati untuk menerima dia dan anaknya.
“Lalu, bagaimana kata dokter Anita?”
Angel memberanikan diri untuk tersenyum. “Janinnya sehat, mam.”
“Lalu kamu? Kenapa badanmu jadi kurus begitu?”
Kali ini, Angel tidak bisa lagi membendung rasa senang dalam hatinya. Ia memberanikan diri mengangkat pandangan dan menatap manik mata sang ibu mertua.
“Ini cuma karena saya mengalami morning sickness, mam.” kata Angel, menyembunyikan kenyataan bahwa dokter Anita telah memberitahukan jika kemungkinan besar dia menderita Hyperemesis Gravidarum karena Angel sering sekali muntah dengan intensitas lebih dari 3-4 kali dalam sehari.
“Makan dan minum yang banyak. Biar kamu juga sehat.”
Anget tersenyum lebar. Jika saja tadi Louis ikut, pasti suaminya itu akan senang mendengar Jenita mengkhawatirkan Angel dan anaknya.
“Iya, mama. Angel juga sudah ada vitamin dan nggak pernah telat minum.”
Jenita mengangguk paham. Morning sickness memang menyiksa, dia pernah mengalami itu dua kali. Kehamilan Robert dan Louis tidaklah mudah. Jenita bahkan hampir kehilangan Louis saat itu karena tanpa sengaja terjatuh dan mengalami pendarahan.
__ADS_1
“Jaga dirimu dan janinmu baik-baik. Hati-hati kalau melakukan sesuatu. Jangan melakukan pekerjaan yang berat.”
Angel menganggukkan kepala dengan sangat antusias.
“Bagaimana kesehatan mama? Terakhir saat saya periksa ke dokter Tristan, beliau bilang jika mama datang untuk memeriksakan diri karena—”
“Aku baik-baik saja sekarang.”
Angel mendengus lega. “Syukurlah.”
Suasana kembali sunyi saat dua orang itu kehabisan topik pembicaraan. Hingga suara Jenita kembali menginterupsi pendengaran Angel.
“Maaf, selama ini sudah membuat kalian kesulitan karena aku tidak memberikan restu.”
Angel terkejut bukan main dan menahan nafas ketika Jenita kembali membuka bibirnya untuk bicara.
“Ada satu hal yang membuatku tidak rela melepas Louis. Hal itu berhubungan dengan masalalu yang pernah menimpaku dulu.” terang Jenita mulai membuka penyebab dirinya menolak kehadiran Angel dengan alasan strata sosial.
Lalu, mengapa mama Jenita juga berusaha menjodohkan Louis jika dia tidak mau melepaskan putranya itu?
Seperti terbaca oleh Jenita, Angel dibuat terkejut oleh mama mertuanya yang menyahut.
“Aku hanya tidak ingin dipandang sebelah mata oleh orang lain. Dan saat itu, Liana adalah putri dari seorang pengusaha sukses. Tapi aku sadar sekarang, dia tidak lebih baik dari kamu.”
Sekali lagi, Angel merasa menjadi wanita paling beruntung yang diberi hadiah oleh Tuhan, seorang Louis. Semua cobaan seperti sudah menemukan titik terang dan solusi. Jenita sudah membuka gembok hatinya yang rapat, dan mempersilahkan Angel masuk kedalam kehidupannya lagi.
“Terima kasih atas pujian mama. Saya terharu.” Angel membungkuk kecil, yang membuat Jenita sontak berdiri dan berjalan cepat untuk berada di samping Angel, kemudian mengusap bahu menantunya penuh perhatian.
“Ngapain kamu membungkuk begini? Seharusnya mama yang melakukan itu. Mama yang memiliki banyak salah sama kalian.” katanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat kembali kesalahannya pada putranya sendiri, dan perempuan baik seperti Angel dihadapannya ini. “Mama minta maaf karena pernah menolak kamu dan tidak memberi restu untuk kalian berdua.”
Angel menatap sendu, lalu membalas pelukan yang tiba-tiba ia terima dari Jenita.
“Sekali lagi, maafkan atas sikap keterlaluan dan egois mama—”
“Mama tidak salah. Angel dan Louis yang—”
“Maafkan mama, ya?!”
Angel memberanikan diri mengusap punggung ibu mertuanya dengan gerakan ragu.
“Tidak. Mama tidak perlu meminta maaf.”
Ini adalah pertama kalinya dia mendengar suara tangis pilu seorang Jenita. Wanita itu tergugu dalam pelukan Angel.
“Semua baik-baik saja, mam. Louis juga tidak menyalahkan mama untuk hal yang sudah terjadi dulu, hingga sekarang.”
Jenita tau, Angel hanya tidak ingin membuatnya malu dengan berkata demikian.
Sekarang, Jenita berjanji akan menyayangi Angel, apapun keadaan dan masalalu perempuan yang sudah rela berjuang bersama Louis.
“Mama, merestui kalian.” kata Jenita yang seketika itu juga membuat Angel membatu ditempatnya duduk.
Ia tidak menduga, Jika Jenita akan memberikan restunya, hari ini. Tepat di hari kelahirannya.[]
###
Bagaimana menurut kalian tentang bab ini?
Semoga suka ya ... 🥰
__ADS_1