
...MAB by VizcaVida...
...|38. First Impression With Calon Mertua|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Robert menarik turun handle pintu kamar mamanya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat punggung sempit mamanya menatap keluar jendela. Wanita yang mengandungnya itu terlihat memperhatikan seseorang dari sana. Robert bisa menebak, Jenita sedang melihat kepergian Louis dan Angel di luar sana.
Robert melangkah masuk. Suara decit sole karet sepatu yang dikenakan Robert membuat Jenita mau tidak mau menoleh ke sisi bahu untuk tau siapa yang datang. Tidak mungkin Hutama karena pria itu sedang berada diluar negri dan di jadwalkan pulang tidak lebih dari hari Rabu.
“Mama sudah makan?” tanya Robert memulai pembicaraan.
Jenita diam tak menjawab. Ia kembali melihat keluar jendela lantai dua ini. Di luar sana, ia bisa melihat dengan jelas Louis dan Angel masuk kedalam mobil, kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Benar tebakan Robert kan?
“Kenapa kamu nggak ajak Rebecca kesini?” tanya Jenita mengalihkan topik. Selain mengubah arah pembicaraan, Jenita memang sedang merindukan cucu pertamanya itu. Sudah hampir satu Minggu Rebecca tidak mengunjunginya.
Robert mendekat, ia mengambil jarak tidak terlalu jauh dari mamanya berdiri, kemudian memasukkan telapak tangannya pada saku celana. Ikut menatap keluar jendela yang sekarang sudah tidak ada pemandangan apapun selain halaman luas yang dipenuhi tanaman hias dan garasi yang dipenuhi beberapa mobil mewah koleksi papanya.
“Stefany ngajak Rebecca kerumah orang tuanya. Tadi sebelum datang kesini, Robert sendiri yang antar mereka.” jawab Robert memberi penjelasan pada sang mama kenapa dia tidak mengajak putrinya berkunjung kesini. Semoga saja, jawaban itu membuat mamanya itu percaya dan tidak curiga dengan rencananya bersama Louis.
Jenita menghela nafas berat. Dua putranya yang begitu ia sayangi, punya jalan yang berbeda. Robert yang bisa membuatnya memberi restu dengan cepat, sedangkan Louis, Jenita terlalu berat melepas anak bungsunya itu. Dia seperti tidak ingin kehilangan sosok Louis dalam hidupnya. Ia terlalu menyayangi putra bungsunya itu karena di masa lalu, Louis lah yang paling berani bicara membelanya didepan papanya yang saat itu mulai goyah.
Jenita masih ingat, saat Louis yang dengan sangat berani berkata lantang akan membawa Jenita pergi dari rumah, dan bersumpah akan membuat papanya itu menyesal jika tidak berhenti membuat mama nya sakit. Ia masih ingat betul bagaimana putra nya itu memperjuangkan dirinya mati-matian.
“Mam, Louis cuma ingin mama menghargai pilihannya.” kata Robert. “Dulu, dia menerima dan berusaha untuk membuat mama percaya padanya, meskipun pada akhirnya, dia harus rela berpisah dari perempuan yang sangat dia cintai tanpa kita tau alasan nya menyembunyikan sebab dirinya menyerah.”
Jenita bergumam dalam hati karena dia tau persis alasan Louis berpisah dari Caca, tanpa sepengetahuan anggota keluarga.
“Kamu sudah tau alasan mama yang dulu, dan sekarang, Rob. Jadi jangan coba merayu mama untuk satu hal ini.” kata Jenita dengan nada suara tenang. “Mama tidak ingin adikmu jatuh di tangan wanita yang salah.”
Robert menatap wajah mamanya yang masih saja cantik diusia yang sudah lewat separuh abad itu. “Angel baik mam. Dia juga satu keyakinan dengan kita. Apalagi yang harus dipertimbangkan dari—”
“Asal-usul keluarganya. Masalalu keluarga perempuan itu bisa menjatuhkan reputasi dan nama baik papa mu. Kamu mau, keluarga kita jadi perbincangan banyak orang diluar sana hanya karena mama menjadikan perempuan itu menantu mama?” ketus Jenita mulai tersulit emosi. “Mama tau, Louis tidak akan tinggal diam jika mama terus menolaknya. Untuk itu, mama membiarkannya berfikir dan mengambil keputusannya sendiri setelah mendengar apa yang mama katakan tadi.”
__ADS_1
Robert menundukkan kepala. Sepertinya mamanya ini belum tau betapa Louis bersungguh-sungguh dengan Angel.
“Mam, Louis tidak akan mengubah keputusannya kali ini.”
Kalimat Robert berhasil membuat Jenita menatap lekat pada putranya itu. Ada degup jantung yang terasa lebih cepat ketika menunggu Robert menyelesaikan kalimatnya. Berbagai ketakutan juga tiba-tiba muncul dalam benak Jenita, tapi dengan rapi dia menyembunyikan semua itu dari ekspresi wajahnya yang tetap datar.
“Louis akan tetap menikahi Angel, meskipun tanpa restu dari mama.” lanjut Robert memberitahu. “Untuk itu, tolong berikan Restu pada mereka berdua. Agar hidup Louis dan Angel tenang, mam. Restu adalah do'a, mam. Ini untuk kebaikan putra mama juga.” pinta Robert masih berusaha mengubah arah hati Jenita yang keras agar melunak.
Jenita membuang wajahnya ke arah lain. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya tersayat saat membayangkan Louis lebih memilih perempuan itu dibanding dirinya.
“Tidak. Mama tidak akan pernah melakukan itu.”
“Mam, please. Beri mereka kesempatan untuk membuktikan jika apa yang mereka pilih, adalah yang terbaik untuk mereka berdua.”
Jenita diam. Dia hanya menatap keluar pintu gerbang, dimana beberapa saat lalu Louis pergi melewatinya.
“Mama akan memberikan restu, jika wanita itu bukan Angel.”
Jenita masih keras kepala dan tidak ingin mengubah keputusannya untuk tidak memberikan restu meskipun mereka berdua. Robert sudah hampir putus asa mendengar keras kepala mamanya sendiri yang tidak mau mengerti tentang keadaan Louis.
***
Bandara Juanda pagi ini sangat cerah. Louis bergegas menuju bagasi untuk mengambil koper miliknya dan milik Angel, kemudian mendorong keluar kedua koper tersebut bersama langkah Angel yang menuju salah satu pintu keluar bandara.
“Mami ku udah nunggu di exit dua, katanya.” kata Angel setelah mengecek isi pesan yang baru masuk beberapa detik yang lalu di ponselnya.
Giara juga antusias menyambut putrinya yang sudah hampir tiga tahun tidak pulang. Selain itu, dia juga penasaran pada sosok yang di ajak sang putri pulang yang akan diperkenalkan padanya sebagai calon suami. Ya, Angel sudah menceritakan jika dirinya akan menikah dengan seorang pria bernama Louis yang bekerja satu kantor dengannya. Hanya cerita singkat, tapi mampu membuat hati Giara berdebar.
Saat keduanya berhasil keluar dari Exit dua yang sempat menjadi pusat perhatian banyak orang karena visual mereka, Angel dengan mudah menemukan sosok sang mama. Wanita itu datang ke bandara, menyetir mobil pribadinya sendiri.
“Mam.” panggil Angel kencang membuat Giara dan beberapa orang lain menoleh. Angel melambaikan tangan dan berlari kecil mendekat pada sang mama, lalu memeluknya erat karena rindu.
“Wah, kenapa kamu makin cantik gini toh sayang?” kata Giara dengan logat medok khas Surabaya nya dalam pelukan Angel.
“Mami bisa aja.” jawab Angel lalu melepas pelukan dan menjauhkan diri dari Giara.
“Ini—” tanya Giara, menunjuk Louis yang baru saja sampai didepannya bersama dua koper dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
Angel menoleh, lalu tersenyum dan meraih pergelangan tangan Louis untuk berdiri di sampingnya. “Ini Louis, calon mantu mami.”
Giara memicing, memperhatikan penampilan casual Louis dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia adalah seorang pemilik butik, jadi dia tau seperti apa dan seberapa mahal penampilan pria yang berdiri di sisi putrinya itu tanpa harus bertanya harga benda yang memeluk tubuh tegap dan gagah pria bernama Louis itu.
Lengan Louis terulur, jam tangan Rolex tertangkap indera penglihatan Giara. Calon mantunya ini, bukan orang sembarangan. Bahkan jam tangannya saja, bisa buat beli rumah atau buka usaha dengan modal gede.
“Louis.” katanya memperkenalkan diri. Sedangkan Giara yang sibuk sendiri menilai siapa itu Louis, terkesiap dan tertawa kikuk.
“Ahahah, saya Giara, mami nya Angel.”
Keduanya berjabat tangan dan bicara basa-basi sedikit hingga Angel memutuskan mengajak pulang dan melanjutkan pembicaraan dirumah.
“Biar saya saja yang menyetir, tante.” tukas Louis yang di iyakan oleh Giara sembari menyerahkan kunci mobil Fortuner nya.
Angel dan Giara masuk terlebih dahulu, dan Louis masih sibuk memasukkan dua koper ke dalam bagasi mobil. Setelah itu, mereka bertiga meluncur menuju kediaman Giara yang letaknya ada di salah satu kawasan perumahan cluster menengah yang tidak jauh dari bandara.
“Kalian kerja satu kantor?”
“Iya, mam.” jawab Angel dan membiarkan Louis fokus pada jalan yang ditunjukkan oleh map.
“Lalu, kapan kalian akan melakukan pemberkatan?”
Louis dan Angel saling tatap sejenak, kemudian Louis tersenyum hangat.
“Hari Sabtu, minggu ini, Tan?” kali ini, Louis yang memberikan jawabannya.
Giara mengerutkan kening. Tiba-tiba sekali? Apa ada insiden?
“Kenapa tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi antara kalian?” tanya Giara mulai menelisik dan menilai gelagat keduanya yang amat sangat tenang hingga sama sekali dia tidak bisa menebak apa yang sedang disembunyikan dua pribadi didepannya itu.
“Maksud mami, kejadian yang seperti apa dulu?” tukas Angel mulai tidak setuju melihat tatapan menyelidik sang ibu. “Kami tidak melakukan apapun. Dan kalau mami berfikir Angel hamil diluar nikah, mami salah.” sergahnya meluruskan asumsi yang mungkin sedang memenuhi otak sang mama.
“Saya mencintai dan mengasihi Angel dengan tulus, Tante. Untuk itulah saya memutuskan untuk segera meminangnya.” jelas Louis yang membuat Giara bernafas lega karena Angel tidak melakukan hal aneh hingga menimbulkan sesuatu yang akan memperburuk namanya. “Ya, meskipun memang ada satu hal yang membuat kami Mau tidak mau mempercepat rencana pernikahan.”
“Kami akan menceritakan pada mami, nanti dirumah.” kata Angel penuh kelembutan dan tatapan sendu, berharap mami nya mengasihi, memberikan restu tanpa harus dia dan Louis menambah beban perjuangan demi cinta mereka. []
###
__ADS_1
Anyway, Gimana reaksi Giara nanti saat tau Angel dan Louis nggak dapat restu dari pihak keluarga Louis, ya?