
"Selamat ya, nyonya Silvi. Anda telah diberi kepercayaan oleh Tuhan dengan menitipkan seorang malaikat kecil di dalam rahim anda" ucap dokter Lina, dokter spesialis kandungan yang tengah memeriksa kondisi Silvi siang ini.
"Saya benar-benar hamil, dokter?" tanya Silvi tak percaya. Bingung harus senang atau sedih.
"Tentu. Dia masih sangat kecil. Masih sebesar biji kacang. Tolong jaga dan rawat dia dengan sangat hati-hati karena dia masih sangat rentan" kata dokter Lina memberi nasehat.
Mereka tengah memandangi layar monitor dimana keadaan di dalam perut Silvi bisa terlihat dengan jelas.
"Apa yang harus saya lakukan, dokter?" pertanyaan itu membuat dokter Lina dan asistennya menjadi bingung, tapi mereka anggap itu wajar karena Silvi adalah seorang ibu baru.
"Saya sarankan untuk nyonya Silvi segera melakukan serangkaian tes untuk memastikan kondisi kesehatan anda. Anda bisa segera melakukan tes tersebut di rumah sakit ini. Dan jika anda bersedia, asisten saya bisa untuk membantu nyonya melakukan tes tersebut sekarang juga demi mengetahui kondisi kesehatan nyonya dan calon bayi nyonya" kata dokter Lisa.
Silvi masih terdiam, karena dengan kehamilannya maka dia harus segera menjalankan misinya untuk menaklukkan Bayu. Atau dia dan karirnya akan segera hancur.
"Bagaimana nyonya, apa anda setuju?" tanya dokter Lina sekali lagi.
"Baiklah, dokter. Memang hari ini jadwal saya sedang kosong. Jadi lebih baik disegerakan saja" jawab Silvi sambil memperbaiki pakaiannya setelah dokter selesai memeriksa kandungannya.
"Bagus. Memang kondisi kesehatan harus diprioritaskan" kata dokter Lina.
"Suster, tolong antarkan nyonya Silvi ke laboratorium. Dan topong panggilkan suster lain untuk menemani saya disini" ucap dokter Lina sambil menuliskan surat rujukan kepada Silvi agar bisa segera melakukan tes laboratorium.
"Baik dok" jawab suster.
"Mari nyonya Silvi, saya antarkan anda ke ruang laboratorium" ajak sang suster kepada Silvi yang terlihat masih sering melamun setelah mengetahui keadaannya.
Silvi mengangguk dan mengikuti kemana sang suster melangkah. Melewati beberapa lorong untuk bisa sampai ke laboratorium yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
Gadis itu membiarkan saja saat suster memberikan map yang berisi informasi kesehatannya pada petugas lab.
Dan saat namanya dipanggil untuk tes pertama, Silvi sedikit terkejut.
"Nyonya Silvi, silahkan ke toilet untuk menampung air seni anda di tabung ini. Setelah selesai, tolong anda kemari lagi untuk kita lakukan tes darah ya" ucap suster bagian laboratorium, sementara suster yang menjadi asisten dokter Lisa tadi sempat berpamitan sebentar untuk memanggilkan asisten lain agar membantu tugas dokter Lisa.
Silvi paham, sudah beberapa kali dia melakukan tes urin selama perjalanan karirnya. Diapun tidak merasa kesulitan untuk melakukan tes itu.
Setelah urusannya dengan toilet selesai, Silvi kembali ke ruang lab dan menemui suster lagi.
__ADS_1
"Ini sus, saya sudah selesai" kata Silvi lemah.
"Baiklah, sekarang silahkan nyonya masuk ke ruangan dokter untuk melakukan tes darah ya" kata suster sambil memberikan berkas kesehatan Silvi kepada asisten dokter Lina.
"Mari saya antarkan, nyonya" ajak suster itu.
Silvi mengangguk dan beranjak dari tempatnya. Memasuki ruangan dokter yang entah membuat hati Silvi merasa berdebar. Khawatir akan masa depan yang belum pasti. Silvi masih berusaha tegar.
"Silahkan masuk, nyonya" kata suster.
Silvi mengangguk dan melihat ruangan dokter yang seperti biasanya.
"Silahkan duduk, nyonya Silvi" ucap dokter setelah membaca laporan kesehatan milik Silvi.
"Maaf karena saya harus mengambil sedikit darah anda untuk kami periksa. Ini adalah hal yang lumrah dilalui oleh ibu hamil baru. Jadi nyonya tidak usah merasa terlalu khawatir" kata dokter sambil menyiapkan peralatan yang dibutuhkan.
"Iya dokter" jawab Silvi sambil memberikan lengannya.
Membiarkan dokter memberikan sentuhan di lengannya dengan sebuah kapas yang terasa dingin saat menyentuh kulitnya.
Meski sudah mempersiapkan diri dengan baik, tapi tusukan jarum yang mengenai lengannya masih juga terasa ngilu terutama saat darahnya disedot meski hanya sedikit.
"Aku harus segera menghubungi bu Ery dan merencanakan langkah selanjutnya" gumam Silvi dalam hatinya.
"Sudah selesai, nyonya. Hasil tes laboratorium akan keluar paling cepat besok. Untuk hasilnya bisa langsung anda ambil ke rumah sakit sekaligus akan kami bahas tentang kondisi kesehatan anda" ucap dokter sambil melepas sarung tangannya dan menyemprotkan hand sanitizer ke telapak tangannya.
"Jadi besok saya harus kesini lagi, dok?" tanya Silvi.
"Benar nyonya. Kami akan menghubungi nyonya untuk jamnya" kata dokter.
"Apa sudah selesai, dok?" tanya Silvi.
"Sudah nyonya, terimakasih" kata dokter yang mengerti akan kesibukan seorang model ternama seperti Silvi.
Merekapun tak menanyakan perihal ayah dari anak dalam kandungan Silvi karena banyak kalangan orang ternama yang tak mau untuk menyebutkan ayah dari bayi yang mereka kandung.
Mungkin Silvi adalah salah satu dari mereka. Yang tak mau atau belum mau untuk mempublikasikan perihal ayah dari bayinya.
__ADS_1
Silvi kembali diantar ke tempat dokter Lisa untuk mendapatkan beberapa nasehat dan resep yang harus dia tebus.
"Sebelumnya, saya ucapkan selamat atas kehamilannya. Apa ada keluhan yang nyonya rasakan?" tanya dokter Lisa.
"Tidak ada, dok. Hanya saja nafsu makan saya berkurang" jawab Silvi.
"Itu lumrah di trimester pertama kehamilan. Sebisa mungkin nyonya Silvi tetap harus makan apapun yang sekiranya tidak membuat mual. Saya akan resepkan obat pengurang rasa mual dan juga menguat kandungan. Semangat untuk nyonya Silvi. Hati-hati saat beraktivitas karena ada makhluk kecil yang juga harus nyonya perhatikan di dalam perut nyonya" kata dokter Lina yang sudah menuliskan resep obat yang harus Silvi tebus di apotik.
Selesai dengan urusan kandungannya, Silvi masih tak percaya dengan adanya janin di dalam kandungannya.
Memandangi dengan nanar foto USG janin kecilnya, Silvi tak bisa menahan tangis.
Tak ada siapapun yang tahu tentang kondisinya. Kini, sedikit penyesalan menghinggapi hatinya meski semua sudah terlambat.
Dengan air mata yang tak bisa dibendung, Silvi memasukkan foto USG nya ke dalam buku KIA yang dia dapatkan dan segera mengeluarkan ponselnya untuk berusaha menghubungi Ery.
Hatinya kian berkecamuk saat berkali-kali panggilannya pada Ery tak bisa tersambung. Silvi semakin merasa kalut dan hanya bisa menangis di dalam mobilnya.
Kali ini dia memberanikan diri untuk menghubungi Bayu dan melancarkan rencananya seorang diri.
"Halo kak Bayu, apa kau sibuk?" tanya Silvi saat Bayu mengangkat teleponnya.
"Hai Sil. Aku sedikit sibuk hari ini, karena aku harus menangani Lia yang merengek meminta pulang. Apa kau sudah melihat kondisinya?" pertanyaan Bayu malah membuat sepercik kebencian di hati Silvi terbakar pada Lia.
"Aku sudah menjenguknya pagi tadi. Ehm, apa kau ada waktu untuk menemuiku besok, kak?" tanya Silvi mendesak Bayu.
"Besok ya? Ehm... Sepertinya besok malam aku ada waktu luang. Bagaimana?" tanya Bayu.
"Bisa kak, tentu bisa. Tolong temui aku di hotel X besok jam delapan malam ya" jawab Silvi riang, rencananya hampir berhasil.
"Kenapa harus di hotel?" tanya Bayu curiga.
"Maksudku di restoran hotel X, kak. Disana menunya enak, sekaligus aku ingin membicarakan hal penting denganmu yang tak bisa aku bahas melalui telepon" Silvi beralasan.
"Baiklah, aku akan datang jam delapan malam. Sampai bertemu besok" ucap Bayu yang langsung mematikan ponselnya.
Bahkan sebelum Silvi membalas perkataannya. Silvi terdiam sambil melihat layar ponselnya yang meredup.
__ADS_1
Akankah kehidupannya akan seredup ponsel itu jika rencananya nanti gagal?
Silvi hanya bisa pasrah dan melakukan semampu yang dia bisa. Berusaha demi memuaskan nafsu di hatinya dan mengesampingkan akal sehatnya