
...MAB by VizcaVida...
...|33. Masa Lalu Yang Diungkap Oleh Orang Lain|...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa like dan komentar, serta list favorit jika suka...
...Terima kasih...
...[•]...
“Astaga,” pekik Angel ketika tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang didepannya. “Maaf.” katanya sambil cepat-cepat membungkuk pada wanita cantik bergaya elegan nan anggun itu. “Maaf, salah saya yang tidak memperhatikan sekitar.”
Ini fotonya. Beritahu saya jika kamu sudah berhasil membuatnya merasa sadar dan tau akan sesuatu.
Gita tersenyum. Ia mengusap satu sisi lengan Angel dengan sangat lembut seperti seorang pemaaf.
Atau, beritahu dia langsung saja tanpa basa-basi.
Tidak. Gita akan bermain cantik untuk hal ini. Dia akan membuat semuanya seolah sebuah ketidaksengajaan. Dia butuh perhitungan matang yang tidak akan balik menyerangnya, bukan kecerobohan.
“Tidak apa-apa. Tenang saja.”
Dia tidak kenal aku. Bodoh jika Jenita menyuruhku tiba-tiba mengatakan pada perempuan ini tentang malam itu. Dia tidak akan percaya.
“Saya baik-baik saja.” kata Angel dengan senyuman merekah di bibir berwarna maroon nya.
Sial! Kenapa aku harus berurusan lagi dengan mereka?
“Kamu tidak apa-apa kan? Barang kamu tidak rusak?” tanya Gita, lagi. Memastikan jika apa yang sedang Angel bawa, baik-baik saja.
“Oh, ini hanya—” Angel menjeda ucapannya dan menunjukkan satu bungkus pembalut wanita pada Gita.
Mereka tertawa bersama sebagai seorang wanita yang sudah pasti mengalami siklus itu setiap bulan.
“Sekali lagi, maafkan saya sudah menabrak anda.”
Dia perempuan baik. Tidak seperti aku.
Dalam benak dia terus merutuki dirinya sendiri yang masih saja berputar di sirkle yang lusuh dan buruk.
“Sudah aku bilang, tidak apa-apa.”
“Baiklah kalau begitu, saya pamit.” kata Angel kemudian berlalu. Tapi, belum genap langkah ke lima, Angel kembali terhenti oleh suara Gita yang memanggilnya.
“Oh, saya mau bertanya sesuatu. Bisa bantu saya?”
Angel menoleh. Ia bahkan membawa dirinya kembali mendekati Gita. “Tentu, silahkan. Jika saya bisa, saya bantu.”
Gita sudah memikirkan ini beberapa waktu lewat. Bagaimana cara ia bertemu, bagaimana cara dia menyampaikan maksudnya, dan bagaimana cara dia meng-eksekusi tujuan utamanya menyusun semua rencana itu.
“Eummm ... itu, saya sebenarnya bukan penduduk asli sini dan saya ingin datang ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah saya datangi.”
Angel diam memperhatikan.
“Saya mendapat undangan dari teman saya SMA dulu. Katanya dia sekarang bekerja di sebuah stasiun televisi. Dia menjadi Presdir disana. Bisa saya minta tolong tunjukkan dimana alamat stasiun televisi W TV?”
W TV? Angel menatap lurus penampilan wanita berkelas didepannya. Tidak heran jika Louis memiliki teman seperti ini.
“Saya bekerja disana.” jawab Angel pelan dan sopan. “Saya bisa mengantar anda. Tapi hari ini, hari libur. Seluruh staff kantor sedang tidak beroperasi di hari akhir pekan. Kemungkinan pak Presdir juga mengambil cuti mingguannya.” kata Angel lancar karena mengingat jadwal Louis tidak terlalu padat beberapa hari ini.
“Kamu juga staff?” tanya Gita pura-pura ingin tau. Sedangkan Angel yang tidak tau menahu tentang rencana dibalik kehadiran Gita, hanya mengangguk dan tersenyum tulus.
__ADS_1
“Ya. Saya sekretaris disana.”
“Oh wow. Pantas saja kamu sangat cantik. Louis memang jeli memilih yang bening-bening begini agar tetap ada di jangkauan matanya.”
Angel tersipu. Bagaimana pun, dia manusia normal. Dia akan merasa senang saat mendapat pujian.
“Terima kasih.”
Gita tersenyum lagi dan lagi. “Jadi, bisa tunjukkan saya jalannya saja? Lusa saya akan datang ke sana sendiri. Kan lebih mudah kalau sudah tau arahnya.”
Angel mengangguk ragu, pasalnya dia tidak memiliki kendaraan untuk mengantar. Tapi, ya sudahlah, dia akan membawa wanita yang tidak ia ketahui namanya ini naik bus saja seperti dia biasa pergi ke kantor.
“Tapi, saya tidak punya kendaraan. Sebagai gantinya, saya akan mengantar anda dengan bus, apa anda bersedia?”
“Jangan khawatir, saya punya mobil.” kata Gita sambil memperlihatkan kunci mobil didepan mata Angel.
Angel merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa dia bisa berfikir membawa wanita Borjuis seperti itu dengan bus? Bodoh sekali jika otaknya itu berfikir wanita didepan nya ini tidak memiliki kendaraan pribadi.
“Ahahah ... maaf.” kata Angel, sungkan.
“Kamu suka sekali minta maaf, ya. Saya jadi kagum sama kamu. Jarang loh ada perempuan tinggal di kota, mau meminta maaf pada orang lain berkali-kali seperti kamu.” kelakar Gita dengan senyuman jumawa yang samar terlihat. Ia merasa iri dengan kepribadian Angel yang polos, terlihat suci, dan tentu saja tulus.
“Saya merasa tidak enak dengan anda,”
Gita mengulurkan lengannya, kemudian menyebutkan nama. “Gita.”
Angel menatap sekilas telapak tangan berkutek biru langit yang baru saja memperkenalkan diri.
“Angel.”
***
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit perjalanan dengan kendaraan pribadi. Angel duduk di kursi depan, tepat di sebelah Gita yang mengemudi. Dan lampu lalu lintas menyala merah. Gita menginjak pedal rem, kemudian menarik tuas rem tangan, dan memperhatikan Angel dari kaca spion yang berada di atas dashboard depan mobil.
“Kami pernah dekat.” kata Gita memulai.
“Kami juga sempat bertemu beberapa waktu lalu tanpa sengaja, setelah lama tidak pernah berjumpa.”
“Oh ya?” kata Angel penasaran sembari melebarkan mata berbinar. Wanita ini terlihat menyenangkan. Mungkin ini alasan Louis mau berteman dengan Gita, dulu.
“Eum. Saat dia di bar.”
Senyuman Angel perlahan luntur. Ia kembali menatap jalanan beraspal didepan.
Bar?
“Kami minum bersama, karena dia bilang sedang kalut saat itu. Hubungannya dengan tunangannya sedang tidak baik.”
“Itu berarti, kejadiannya masih belum lama.” batin Angel.
Angel memasang telinga lamat-lamat. Takut ada informasi yang terlewat atau lepas dari pendengarannya.
“Kamu, sudah lama bekerja sama Louis?”
Angel mengangguk. “Sudah hampir empat tahun lebih.”
Lampu berubah hijau, Gita menarik tuas rem tangan dan kembali menginjak pedal gas mobil.
“Wah lumayan lama ya? Jadi kamu tau banget tentang atasan kamu itu, termasuk kisah asmaranya yang denger-denger nggak berakhir baik. Sayang sekali.”
Angel setuju. Padahal, Louis dan Caca dulu terlihat begitu cocok. Tapi nahas saat hubungan keduanya tiba-tiba berakhir tanpa alasan yang sama sekali tidak diketahui oleh siapapun. Alasan itu begitu rapat tersimpan. Bahkan Louis sendiri, masih belum bisa membukanya pada Angel hingga saat ini.
“Apa kamu tau alasan mereka putus?”
Angel menggeleng. Ia berkata jujur apa adanya.
__ADS_1
“Oh, jadi rahasia, ya?” gumam Gita yang berhasil menarik perhatian Angel.
Angel menoleh kasar. Ucapan Gita seperti mengarah pada satu hal. Wanita itu seperti tau alasan mengapa Louis putus dari Caca.
“Maksud mbak Gita?”
Gita yang memang semula memiliki tujuan, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bicara.
“Ah, itu. Seharusnya saya juga tidak boleh menceritakan ini pada siapapun.” terang Gita dengan wajah tenang. “Tapi berhubung kamu sekretaris nya, saya rasa kamu pasti bisa menjaga rahasia atasanmu kan?”
Angel tidak memberikan jawaban apapun, melainkan hanya tatapan lurus penuh tanda tanya dan juga rasa penasaran yang membuncah. Ia menahan mati-matian agar tidak melayangkan sebuah pertanyaan dengan kondisi degup jantung yang memukul keras hingga membuat pandangannya berkunang.
Namun, namanya manusia, tetap saja ingin egois dan selalu ingin menentang hati. Dengan sedikit sisa kesadarannya, Angel berkata. “Ya, tentu saja.”
Gita tertawa. Ternyata prosesnya tidak sesulit yang ia bayangkan. Ia bisa bernafas lega dan menyingkir setelah ini. Tugas yang diberikan Jenita hampir tercapai. Ia akan bebas.
“Aduh, bagaimana ya? Sepertinya saya salah bicara.”
“Mbak Gita bisa percaya sama saya.” sahut Angel kepalang tanggung. Ia sudah terlanjur penasaran, ia memutuskan untuk mendengar dan menerima apapun yang hendak disampaikan oleh Gita padanya.
“Saya dan Louis sebenarnya sudah sepakat untuk menutup dan melupakan aib ini. Tapi, baiklah. Saya percaya sama kamu, Angel.” tutur Gita begitu manis hingga Angel tidak sadar jika ucapan yang akan ia dengar dari bibir Gita, adalah sebuah racun.
Angel menunjuk arah kanan, dan mobil pun berbelok ke arah yang sama. Sebuah gedung tinggi beserta tower terlihat tidak jauh lagi.
“Ah, itu ya?”
Angel menganggukkan kepala. Dalam hati dia masih menunggu apa yang akan dikatakan Gita selanjutnya.
“Jadi, Louis dan saya terlibat One Night Stand malam itu. Dia mabuk berat, dan kami tidak sadar melakukan apa yang seharusnya tidak kami lakukan.”
Bagai petir menyambar hatinya tanpa ada hujan, Angel merasa jantungnya seakan berhenti berdegup beberapa saat. Nafasnya tercekat di tenggorokan hingga membuatnya sulit meluapkan karbon dioksida dari tubuhnya. Perutnya mendadak mual, dan kepalanya tiba-tiba terasa pening.
One Night Stand? Apa ini yang disembunyikan Louis dari semua orang? Termasuk dirinya?
Siapa yang tidak tau dengan hubungan semalam itu? Wanita dan laki-laki yang melakukan hubungan badan hanya satu kali, lalu melupakannya? Siapa yang tidak paham?
Hubungan seperti itu tidak dibenarkan. Tapi, mengapa Louis sampai terjebak dengan hubungan seperti itu?
“Maaf jika terkesan mengumbar aib sendiri.” kata Gita masih tenang meskipun melihat ekspresi dan airmuka Angel sudah pucat pasi atas informasi yang ia bawa. “Tapi begitulah kenyataannya. Kami melakukannya, dan hal itu yang membuat Caca mengakhiri hubungannya dengan Louis.”
Haruskah dirinya juga melakukan hal yang sama pada Louis? Tapi, bagaimana dengan janjinya? Angel sudah pernah berkata akan menerima Louis apa adanya. Meskipun masa lalu pria itu kelam.
Tapi, haruskah dia mendengar semua ini dari orang lain, alih-alih kekasihnya sendiri? Seharusnya, dia akan baik-baik saja jika Louis sendiri yang membicarakan semuanya ini meskipun mungkin, rasa sakitnya akan terasa sama.
Ya, seharusnya masa lalu itu tidak diungkapkan oleh orang lain.
Lalu, bagaimana dirinya harus menyikapinya sekarang?
Sedih kah? Rasanya sudah terlambat bersedih. Atau, kecewa?
Tidak-tidak. Angel harus mendengar kebenarannya dari Louis terlebih dahulu.
Angel menghela nafas panjang, kemudian tersenyum pada Gita yang kini sudah membawa mobilnya bertandang pada area parkir gedung.
Lalu, satu senyuman dan tatapan teduh Louis terbesit dalam otaknya yang saat ini sedang kosong. Ia merasa harus menerima semua nya, termasuk informasi yang baru saja ia dapatkan.
“Jadi, sekarang Louis tidak disini? Padahal saya ingin menemuinya.”
Ada rasa tidak rela setelah tau, jika wanita di sampingnya ini adalah wanita yang pernah tidur dengan kekasihnya. Jiwa posesif Angel mendadak muncul ke permukaan.
“Anda harus membuat janji terlebih dahulu dengan pak Louis. Jika tidak, anda tidak akan bisa menemuinya.” Angel melepas seatbelt dan menarik handle pintu mobil milik Gita. “Ah, terima kasih juga untuk informasi penting itu, ya mbak Gita. Saya akan menyimpan semuanya. Saya pastikan aman.”
Rasa kecewa, sedih, marah, beradu dalam satu waktu. Angel akan meminta kejujuran Louis hari ini.[]
###
__ADS_1
Minta komen boleh, akak?