
"Soal ujiannya susah banget. Lo bisa semuanya, Sam?" tanya Mawan pesimis.
"Gampang. Awas lo nggak lulus" balas Sam menakuti.
"Gue kesulitan sih, tapi gue yakin bisa lulus" jawab Mawan.
"Lo sendiri gimana, Lian? Bisa dong pastinya" tanya Sam.
Lian tersenyum kecut, berharap satu minggu ini bisa dilalui agak sedikit lebih lama.
"Bisa, Sam. Waktu cepat sekali berlalu, tahu-tahu kita sudah ujian nasional ya, Sam" kata Lian sedikit menyesal, karena jika ujian sudah tiba, maka sudah dekat waktunya untuk menjalankan rencana Eri.
"Gue malah bahagia banget, Lian. Karena itu artinya, penantian gue buat mendengar jawaban dari lo juga sudah dekat. Ingat ya, Lian, gue nggak terima jawaban buruk. Seandainya kata yang keluar dari mulut lo kelak nyakitin hati gue, maka gue bakalan kurung lo jadi tahanan cinta gue" kata Sam masih saja ceria.
"Hadeh, omongan Lo Sam... Bikin cacing pita di perut gue mual. Mereka muntah di dalam perut gue, Sam. Geli gue dengernya" ejek Mawan.
"Makanya Wan, cari cewek dong. Lo mah kerjaannya ngintilin gue terus. Biar lo tahu artinya jatuh cinta, Wan" balas Sam mengejek sahabat yang ingin selalu menjaganya itu.
"Eh, tapi gue sedih banget nih, masak sih mama gue masih belum bisa gue hubungi. Setiap gue mau telpon, selalu saja nomornya sibuk. Tiap kali gue tanya ke papa atau kakak, jawabannya juga sama kalau mama lagi sibuk. Padahal kan gue kangen banget ingin di support gitu sama mama" keluh Sam yang masih juga belum bisa menghubungi sang mama.
Lian tertunduk lesu, dia tahu dimana mamanya. Tapi tak mungkin dia katakan semua itu pada Samuel.
"Nampaknya lo sedih banget, Lian?" tanya Mawan yang lagi-lagi menyudutkan Lian.
"Aku cuma sedih aja Wan, karena aku bahkan tah pernah tahu siapa dan bagaimana rupa ibu kandungku. Setiap kali aku tanya sama ayah, pasti ayah berkelit" jawab Lian jujur.
Memang dia tak tahu siapa ibunya, dan sekalinya bertemu seorang ibu, malah menyuruhnya menjadi wanita jahat.
Apalagi sudah sejak kemarin Ruby berada di rumah bersamanya. Lian semakin tak bisa bebas untuk melakukan sesuatu. Bahkan untuk makan saja dia harus menunggu instruksi dari wanita itu. Seharian kemarin dia bahkan hanya makan sekali saja, kebiasaannya untuk membuat mie instan untuk mengganjal perut bahkan harus dikesampingkan dulu.
"Tenang ya Lian, nanti gue bakalan bantuin buat cari info tentang ibu kandung lo. Setelah kita lulus dan hukuman gue dicabut sama kakak gue yang super tegaan itu" kata Sam.
"Semoga ya, Sam" jawaban Lian malah membuat Mawan semakin curiga.
"Harusnya lo optimis dong, Li. Malah semoga. Memangnya bakalan ada hal buruk gitu?" celetuk Mawan.
"Nggak lah Wan, maksudnya semoga saja nanti Sam bisa bantu aku buat cari ibu" jawab Lian yang audah sedikit terlatih untuk menjawab cepat.
Bangun sepagi ini, Viviane ingat jika Samuel sedang menjalani ujian nasional. Beruntung semalam Junet dan Is segera membantunya untuk mengobati pukulan yang Ruby lakukan padanya, hingga pagi ini tidak banyak lebam yang muncul.
__ADS_1
"Sudah bangun, neng?" tanya Junet.
"Sudah bang. Nggak nyaman banget tidur kalau badan sakit semua" kata Viviane.
"Maaf neng, bos nyuruh gue untuk mindahin neng ke kamar lain di lantai atas. Tapi gue cuma diijinkan untuk mengantar sampai tangga doang" kata Junet membawa kabar buruk bagi Viviane.
"Huft, kamar apaan bang? Kamar penyiksaan?" keluh Viviane.
"Gue juga kagak paham neng. Tapi neng sudah ditunggu sama penjaga lantai atas di ujung tangga. Neng bisa jalan sendiri atau butuh bantuan kita?" tanya Junet sedikit tak rela, takut juga dia kalau Ruby berbuat macam-macam terhadap Viviane.
"Saya jalan sendiri, bang" jawab Viviane dengan berat hati.
"Apa bang Vicky tak membuka pesan dariku? Atau dia terlalu kecewa karena aku yang tak menurut padanya dan membiarkan hal buruk apapun menimpaku?" batin Viviane mulai tak bisa berpikir sehat.
Tak pernah mendapatkan perlakuan buruk membuat mentalnya sedikit down. Dan kesukaran yang dulu pernah dia rasakan sudah terlupakan dengan kehidupan barunya yang amat bahagia.
Mental Viviane tak sekuat dulu.
"Apa kita bisa jalankan rencana malam ini juga, kak? Aku sangat khawatir dengan keselamatan mama" kata Lia dalam pertemuannya kali ini.
__ADS_1
"Aku rasa memang sudah saatnya. Lagipula Johan juga sudah dalam perjalanan pulang. Dia sangat penasaran dengan pembicaraan kami semalam" jawab Bayu.
"Bukankah seharusnya dia di Singapura selama satu minggu?" tanya Lia heran.
"Iya, tapi karena terlalu penasaran dengan orang yang aku katakan untuk kuperkenalkan padanya, dia jadi langsung pulang tanpa istirahat sedikitpun" jawab Bayu sedikit terkekeh, lega rasa hatinya membuat Johan kalang kabut.
"Kau jahat sekali, kak" ucap Lia.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Bagaimana, rencana kita nanti malam sesuai dengan yang sudah kita rencanakan, bukan?" tegas Bayu lagi.
"Apa kalian membutuhkan bantuanku?" tanya Silvi yang ada di dalam kelompok Lia kali ini.
"Sepertinya belum, Sil. Tapi tolong doakan semoga kami bisa menyelamatkan mama" jawab Lia.
Hati Silvi tersentil dengan penolakan itu. Meski dibalut dengan senyum persahabatan, nyatanya Silvi merasa terasingkan dalam pertemanannya kali ini.
"Tentu Lia. Aku yakin tante akan baik-baik saja dan bisa pulang dengan selamat" kata Silvi sambil memegang tangan Lia untuk menguatkannya.
Dengan penuh keseriusan, Silvi mendengar semua obrolan dari grup Nirwana nya atas misi penyelamatan Viviane.
Berharap dia tahu sedetail mungkin rencana mereka agar bisa dia katakan semuanya pada Eri. Dan tentunya diapun akan segera menjalankan rencananya bersama Eri agar bisa segera menjadi pendamping Bayu.
"Oke. Jadi, malam ini kita tetap membutuhkan Mawan? Tapi dia itu masih menjalani ujian nasional. Apa sebaiknya kalau kita biarkan saja dia fokus dengan ujiannya?" tanya Lia.
"Huft, benar juga" keluh Ken.
"Tapi dari pembicaraan kami semalam, sepertinya aku sudah hafal dengan pintu masuk dan keluar dari bar itu. Bagaimana kalau aku saja yang pergi bersama beberapa orang terlatih yang kita miliki? Dan kita biarkan Johan sebagai pancingan agar Ruby tetap fokus pada anaknya itu" kata Bayu.
"Aku ingin ikut denganmu, kak. Aku ingin menyelamatkan mama dengan tanganku sendiri" kata Lia.
"Tapi itu terlalu berbahaya, Lia" cegah Bayu.
"Ada kau yang bisa menjagaku kan, kak" tegas Lia.
Bayu mengambil nafas berat, keputusan untuk membiarkan Lia ikut memang terlalu berbahaya. Tapi dia pun tak pernah menyangsikan kecerdikan dan kepiawaian Lia dalam mengatur strategi dan bertindak sejak dia masih kecil dulu.
"Baiklah. Kita lakukan misi ini bersama. Dan kau, Ken. Awasi kami dalam jarak dekat di luar bar. Pastikan kami aman dalam durasi waktu penyelamatan yang sudah kita tentukan. Pastikan semua orang stand by di tempat masing-masing dan pastikan juga pihak kepolisian akan langsung datang saat kita dalam kesulitan" kata Bayu.
Melihat jiwa kepemimpinan yang keluar dari dalam diri Bayu siang ini, semakin membuat Silvi merasa jika memang Bayu lah satu-satunya pria idamannya.
Silvi bahkan sudah tidak tahan untuk bisa mendapatkan raga Bayu meski nantinya tak ada hati di dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Bagi Silvi, cinta itu harus memiliki meski pasangannya tak menaruh hati padanya.