
"Kau memang masih terlalu cantik untuk usia yang hampir empat puluh tahun, Eria. Dan pria tua seperti Handoko yang busuk itu tentu akan tergila-gila padamu" tutur Eri sambil bercermin, melihat kesempurnaan penampilannya malam ini.
Handoko si pria hidung belang itu sengaja memberinya gaun berwarna hitam yang panjangnya hanya beberapa centimeter dari pant*tnya.
Dengan belahan dada super rendah dan ditambah dengan high heels dua puluh centimeter yang semakin membuatnya tak bisa berjalan dengan cepat.
Eri sebenarnya suka dengan gaun dan penampilan seperti itu, bahkan di tiap kesempatan memang dia selalu tampil cantik. Tapi entah kenapa ada rasa tidak suka saat malam ini penampilan itu seperti dikhususkan untuknya menjemput nama sebagai seorang j*l*ng.
"Heh, riasan sempurna ini hanya untuk menambah kesan burukku sebagai seorang wanita. Dan semua berawal dari kalian. Tunggu saja pembalasanku, keluarga Alexander keparat" tekadnya sudah sangat bulat.
Meski semua kejadian itu adalah kesalahannya sendiri,masih saja Eri menyalahkan orang-orang dari masa lalunya.
Tok... Tok ... Tok...
"Maaf nyonya, anda sudah ditunggu oleh tuan di bawah" ucap Sumi.
Tanpa banyak kata, Eri segera menyudahi aksi menyanjung dirinya sendiri. Dengan langkah malas, dia beranjak dari tempatnya.
"Mari saya antarkan nyonya" kata Sumi yang menurunkan pandangannya setelah melihat pintu terbuka dan Eri keluar dari kamarnya.
"Iya" jawab Eri singkat.
Berjalan gontai dibelakang Sumi, memang aura Eri terlihat sangat sempurna malam ini. Apalagi setelah seharian melakukan perawatan tubuh dan wajahnya, sungguh Eri terlihat semakin mempesona.
Rupanya Handoko telah menyulap halaman belakangnya menjadi tempat dinner romantis dengan bantuan sebuah restoran mewah untuk menyiapkan hidangannya.
Terlihat pria itu sudah menunggu, duduk dengan tenang di kursinya sambil memainkan ponsel dan ada selinting sigaret yang tengah membara dan terjepit diantara bibirnya.
"Oh, rupanya tua bangka itu perokok juga" umpat Eri dalam pikirannya, sembari menatap jijik pada pria tua yang kini menjadi sumber materinya.
Saat telinganya mendengar ada suara ketukan dari langkah Eri yang memakai high heels, Handoko segera mengambil batang rokoknya dan segera mematikan diatas asbak, lantas menatap penuh kekaguman pada wajah dan tubuh Eri yang memang sangat sempurna.
"You are so beautiful, honey. Kau seperti seorang bidadari yang turun dari kahyangan" puji Handoko dengan mata berbinar dan air liur yang hampir tumpah.
"Oh, terimakasih tuan" jawab Eri santai.
__ADS_1
Sudah sering telinganya mendengar pujian dari pria hidung belang macam Handoko. Bedanya, dulu dia tak pernah menggubrisnya sedangkan kali ini dia harus bisa bersikap manis demi melancarkan rencananya.
"Kemarilah sayang, kita akan makan malam dulu. Isi perutmu sampai puas karena aku sudah sangat menginginkanmu" ucapan tabu yang keluar dari mulut tua Handoko semakin membuat Eri merutuki keluarga Alexander yang dia anggap sebagai pemicu dari semua kesialannya.
Dengan langkah anggunnya, Eri berjalan mendekati Handoko yang segera mengambil tangannya dan mencium punggung tangan mulusnya.
Meski sebenarnya terasa jijik, tapi Eri harus rela melakukannya.
Tak sampai disitu, setelah mencium punggung tangan Eri, Handoko menarik tangan Eri hingga membuat tubuh wanita itu berputar dan membelakangi Handoko. Dengan sigap pria itu mencium pundak mulus Eri dan mendekap tubuh langsingnya.
Meski sedikit terkejut, Eri harus terbiasa dengan perlakuan pria tua itu terhadap dirinya. Karena dia sangat sadar jika kali ini dia hanyalah seorang gundik yang harus patuh pada tuannya.
Handoko menyesap bau parfum Eri dari kecupannya, dan memejamkan mata sebentar untuk memuaskan lonjakan gairah di dalam dirinya.
"Ayo kita makan, sayang. Aku sudah tidak sabar untuk selanjutnya memakanmu" ucap Handoko penuh arti.
Eri hanya terdiam dan beranjak ke tempat duduknya. Lalu mengikuti serangkaian kegiatan makan malam yang sudah Handoko rencanakan.
Table manner bukanlah hal yang sulit bagi Eri, karena dulu orang tuanya sudah membekali Eri dengan ilmu itu sampai hafal di luar kepala. Hingga makan malam kali ini membuat Handoko semakin terkagum melihat cara Eri menyikapi makanan.
"Ada lagi yang tuan dan nyonya butuhkan?" tanya pelayan restoran setelah hidangan penutup sudah selesai kedua customernya nikmati.
"Sudah cukup. Terimakasih atas pelayananmu malam ini. Ini tips dari saya dan kamu boleh segera kembali ke tempatmu" ucap Handoko sambil memberikan beberapa lembar uang sebagai tips untuk pelayan itu.
"Terimakasih tuan. Saya permisi dulu" pamit pelayan itu sambil membawa nampan berisi alat makan kotor diatasnya.
Meninggalkan Handoko berdua saja dengan Eri di halaman belakang yang cukup luas.
Tiba-tiba Handoko mengambil sebuah remot kecil dari dalam saku jasnya. Yang ternyata, setelah Handoko memencetnya maka akan ada semacam dinding kaca yang bergerak lambat untuk menutup halaman belakang agar menjadi ruangan tertutup yang beratapkan langit malam.
Eri hanya bisa melihat dengan kagum ke arah sekelilingnya dengan sedikit kagum. Hingga dia sedikit berputar untuk melihat dinding kaca yang menutup sempurna.
"Kau sungguh sangat cantik, sayang. Kemarilah, duduk di pangkuanku" kata Handoko dengan nafsu yang sudah hampir tak bisa di cegah.
Mau tak mau, Eri beranjak dari duduknya. Berdiri dengan anggun dan berjalan berlenggok menuju kursi specialnya.
__ADS_1
"Oh, you are my angel" ucap Handoko setelah Eri duduk diatasnya.
Tangan tua Handoko sudah tak bisa diam lagi. Telapaknya mengusap pelan seluruh tubuh bagian belakang Eri dengan gerakan lambat.
Sementara bibirnya sudah tak tahan untuk tak menyesap bibir merah Eri yang seolah mengundangnya untuk segera dinikmati sejak kedatangan Eri tadi.
Dengan gerakan liarnya, kedua orang dewasa itu saling memberi dan menerima. Eri harus sedikit berfantasi dengan membayangkan wajah tampan Vicky yang tengah menikmati dirinya agar diapun semakin semangat untuk melayani pria tua itu.
Puas dengan bibir merah Eri, Handoko menghentikan aksinya setelah lebih dari lima belas menit dia bertahan dengan bibir seksi itu.
"You are so sweet, honey" ucap Handoko dengan napas tersengal-sengal, sambil mengusap bibir Eri yang basah karena ulahnya.
Sementara satu tangannya lagi mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Yang ternyata sebuah cambuk yang tersimpan rapi dengan bentuk yang kecil.
"Ayo berdiri, sayang" ucap Handoko.
Meski merasa sedikit aneh, Eri mematuhi perintah pria itu dan berdiri sedikit menjauh dua langkah dari Handoko yang sedang menimang cambuk kecil yang sudah dia panjangkan. Cambuk itu sudah tak terikat rapi seperti tadi.
"Kita akan bersenang-senang, sayang" ucap Handoko dengan seringai aneh di wajahnya.
Eri sedikit bergidik, membayangkan apa yang Handoko maksudkan dengan kata "Bersenang-senang".
Tangan tua Handoko mulai merobek gaun yang Eri kenakan dengan kasar. Menyisakan cel**a dalam saja karena Eri tak memakai bra demi memperlihatkan lekuk tubuhnya saat mengenakan gaun hitam tadi. Hanya sepasang cover ****** untuk menutup sebagian kecil dari payudara nya.
"Apa yang akan tuan lakukan terhadap saya?" tanya Eri sambil berusaha menutupi kedua gundukan di dadanya dengan menyilangkan tangannya.
"Tenanglah sayang. Nikmati dan rasakan saja. Kita akan sedikit bermain malam ini" ucap Handoko sambil melepaskan jasnya dengan lambat dan menaruhnya disenderan kursi.
Sementara Eri hanya bisa berdiri kikuk dan sedikit takut. Nasib buruk apa lagi yang akan menimpanya?
.
.
.
__ADS_1
.