My Angel Baby

My Angel Baby
Kebaikan hati Lian


__ADS_3

"Apa yang ibu inginkan dari saya?" tanya Lian lirih, memecah lamunan Eri yabg teringat akan anaknya.


"Ehm, apa kau tahu kalau ayahmu punya banyak hutang karena kalah judi di tempat ini?" tanya Eri sedikit kelabakan karena lamunannya yang terpaksa buyar.


"Saya tahu kalau ayah suka judi, tapi saya tidak tahu tentang hutang yang ayah saya punya, bu" jawab Lian jujur.


Eri sedikit berfikir, melihat anak gadis begini cantiknya, masih beruntung anak itu tidak dijual ke orang yang salah oleh ayahnya yang brengsek.


"Oke. Akan aku jelaskan sedikit. Jadi ayahmu berhutang cukup banyak karena kekalahannya dalam satu malam saja. Dan kau pasti tahu kalau ayahmu yang miskin itu tak bisa membayarnya, kan?" kata Eri.


"Jadi ayahmu itu menjadikanmu sebagai alat barter untuk membayar hutangnya disini" lanjutnya.


"Ibu mau menjadikan saya sebagai perempuan malam, begitu?" tanya Lian sedikit takut.


"Tidak, kau tenang saja. Aku tak sejahat itu. Hanya saja, kau harus bekerja di club malamku dan aku akan memotong upahmu sebesar 80%. Sisanya bisa kau gunakan untuk membeli makanan. Dan kau sendiri telah disediakan kamar tidur disini, semua yang bekerja disini sudah disediakan kamar tidur. Bagaimana, aku tak sejahat itu kan yang harus menghancurkan mimpimu?" tanya Eri.


"Baiklah bu. Kira-kira sampai kapan saya harus bekerja disini?" tanya Lian dengan polosnya yang langsung setuju dengan persyaratan yang Eri berikan.


"Tentu saja sampai hutang ayahmu lunas" jawab Eri.


"Iya, saya tahu bu. Berapa tahun itu?" tanya Lian.


"Hutang ayahmu itu sangat banyak. Mungkin sampai kau menua dan ayahmu mati baru hutangnya bisa lunas" jawab Eri santai.


"Itu sama saja ibu menjadikanku perawan tua disini" kata Lian.


Eri tertawa mendengar ucapan Lian yang polos. Sebenarnya ayah Lian itu sangat beruntung mempunyai anak secantik dan sebaik Lian, tapi dasar pria itu tak tahu diuntung. Berlian seperti Lian malah disia-siakan.


"Kau bayar saja kalau punya uang. Ngomong-ngomong, kemana ayahmu yang pecundang itu?" tanya Eri.


"Ayah sedang pingsan di pinggir jalan tadi, dan saat aku mau menolongnya, anak buah ibu datang dan menyerang teman saya" ucap Lian.


"Maksudnya?" tanya Eri tak paham.


Pria bersetelan formal yang tadi membawa Lian ke bar itu maju, menyodorkan ponselnya yang rupanya terdapat video dari kejadian yang menimpa ayah Lian tadi pagi. Pria itu telah memvideokan kejadian itu di ponselnya.


Eri melihat dengan serius layar ponsel yang menampilkan kejadian itu. Dan mata Eri tertuju pada satu orang yang dia hafalkan dalam otaknya menjadi salah satu sasaran balas dendamnya.


Ya, orang itu adalah Samuel Darius Alexander. Anak lelaki dari keluarga Alexander yang harus mendapat bagian dari balas dendamnya.


"Siapa anak muda ini?" tanya Lian sambil memperlihatkan layar ponsel pada Lian.


"Oh, itu Sam. Temanku yang setiap pagi datang untuk memberikan sarapan untuk saya, bu" jawab Lian.


"Samuel?" tanya Eri menegaskan.


"Iya bu. Namanya Samuel" jawab Lian.


"Dimana dia bersekolah?" tanya Eri.


"Di SMAN xx, bu" jawab Lian lagi.

__ADS_1


"Apa ibu mengenalnya?" tanya Lian sedikit curiga.


Eri terdiam, dia hanya berfikir bagaimana bisa seorang keturunan Alexander bersekolah di sekolah biasa. Bukankah keluarga Alexander adalah salah satu donatur terbesar dari salah satu sekolah elit di kotanya? Tapi bagaimana bisa pangerannya harus bersekolah di sekolah umum?


"Tom, suruh anak buah kepercayaanmu untuk mencari tahu tentang Samuel ini. Setahuku dia adalah pangeran dari keluarga Alexander. Tapi bagaimana bisa dia bersekolah di sekolah umum?" perintah Eri pada Tomi yang kini menjadi tangan kanannya.


"Oke. Kau santai saja, besok pasti sudah ada semua info yang kau inginkan" jawab Tomi mantap, tugas pertamanya yang harus dilakukan dengan sangat baik.


"Dan kau, Lian. Mulai malam ini kau bisa mulai bekerja. Ingat untuk memakai seragam yang aku sediakan. Dan satu lagi, jangan pernah kau tergoda untuk melayani para tamu jika mereka ingin mengajakmu pergi ke kamar meski mereka membayarmu dengan mahal" pesan Eri sebelum Lian memulai tugasnya.


"Kenapa ibu baik pada saya? Bukankah ayah telah membuat ibu rugi?" tanya Lian.


"Aku hanya ingin kau tak menyesal di kemudian hari, Lian. Dan kau masih bisa mengusahakan cita-citamu jika kau masih menjadi gadis yang baik" kata Eri yang sebenarnya lebih menyesali perbuatannya di masa lalu hingga membuatnya harus berkecimpung di dunia gelap seperti sekarang.


"Baiklah bu. Terimakasih karena mau menampung saya. Ehm, apa saya boleh meminta satu permintaan sebelum saya menyetujui pekerjaan ini, bu?" tanya Lian bersyarat.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Eri sedikit curiga, takut saja jika Lian meminta yang tidak-tidak.


"Tolong bantu ayah saya yang sedang pingsan di jalanan" kata Lian yang masih saja mengkhawatirkan ayahnya yang jahat.


"Kau masih memikirkannya? Seharusnya akan lebih baik jika pria tua yang miskin itu mati saja bukan? Agar dia tidak lagi menyusahkanmu" kata Eri jengah.


"Jangan bu. Biar bagaimanapun dia tetap ayah saya. Jadi saya mohon ibu mau menolongnya" ucap Lian.


Lagi-lagi Eri merasa tersentuh hatinya. Meski ayahnya sudah bersikap sangat buruk, tapi Lian tetap saja menjadi anak yang berbakti.


"Kau ini bodoh atau tidak punya otak? Tapi baiklah, akan aku kirim orng untuk menolong pria brengsek itu" akhirnya Eri pun luluh dengan kebaikan Lian.


"Ah, sudahlah. Bicara denganmu lama kelamaan membuatku jengkel. Pergi saja kau ke kamar yang telah disediakan. Dan beristirahatlah karena nanti malam kau akan bekerja sampai menjelang pagi" ucap Eri.


"Baik Bu " jawab Lian dengan sopan.


"Tolong antarkan anak ini ke kamarnya. Dan pastika dia tidak kabur" pesan Eri. Dengan berbagai pengalaman yang dia dapatkan akhir-akhir ini, membuatnya merasa jika tak ada seorangpun di dunia ini yang patut untuk di percayai.


Seperti halnya Tomi yang terlihat sangat patuh dan selalu mendukung Norita, tapi nyatanya pria itu menaruh dendam yang cukup dalam terhadap Norita yang dipendamnya sejak lama.


Begitupun terhadap Lian. Meski gadis itu terlihat baik dan lugu, siapa tahu itu hanya kedoknya untuk menutupi sifat aslinya yang belum Eri tahu.




Sedikit terburu-buru, Gita menyusuri lorong rumah sakit untuk melihat kondisi Sam yang sudah masuk ke ruang rawat kelas tiga.



Seorang suster dari rumah sakit tempat Sam dirawat menghubunginya di pagi menjelang siang saat wanita itu sedang bekerja di kantornya.



Karena banyaknya kasus penipuan, Gita sempat tidak percaya jika Sam masuk rumah sakit. Hingga suster itu harus melakukan panggilan Video agar Gita mempercayainya.

__ADS_1



Dan disinilah dia sekarang, berdiri terpaku di ambang pintu ruang rawat rumah sakit yang dipenuhi pasien untuk mencari keberadaan Sam.



"Tante, aku disini" kata Sam sambil melambaikan tangannya.



"Sam, disitu kau rupanya" kata Gita yang kakinya juga melangkah mendekati brankar milik Sam.



"Bisa nggak sih ganti kamar, tan?" rengek Sam yang sedikit tak nyaman dengan ruangan kelas 3 dengan sepuluh orang pasien yang dirawat setelah mengalami kecelakaan.



Mereka sangat berisik, ada yang merintih sepanjang waktu, ada yang sesekali berteriak kencang hingga mengagetkan yang lain, ada juga yang tiba-tiba meninggal karena luka yang terlalu serius dengan penanganan yang agak santai. Sam jadi ngeri sendiri.



Gita mengedarkan pandangannya, dan memang sangat tidak nyaman jika beristirahat di tempat seperti ini.



"Sebaiknya kau pulang saja ya, Sam. Lagipula kelihatannya lukamu tidak begitu parah. Memangnya kamu kenapa sih sampai harus ke rumah sakit? " tanya Gita.



"Aku sedang menolong temanku yang dipaksa ayahnya untuk ikut pergi dengannya, tapi malah ada orang yang tiba-tiba memukulku dari belakang, tan. Sampai aku pingsan tadi, dan saat sadar aku sudah ada disini" ucap Sam sedikit melamun.



Pikirannya kini mulai resah karena tak bisa menolong Lian. Dan dia jadi bertambah khawatir karena memikirkan bagaimana nasib Lian sekarang?



"Kenapa melamun?" tanya Gita yang tiba-tiba melihat wajah sedih Sam.



"Sepertinya aku butuh bantuan kak Lia untuk mencari seseorang, tan" kata Sam Lirih, sungguh ekspresi sedih begitu tak pantas untuk Sam yang biasanya terlihat ceria.



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2