My Angel Baby

My Angel Baby
Menjadi wanita murahan?


__ADS_3

"Saran apa yang ingin tuan berikan pada saya?" tanya Eri.


Handoko masih terdiam, mengamati wanita yang hampir berusia empat puluh tahun namun masih nampak cantik dengan baju yang sedikit seksi, khas seorang Ruby yang tak pernah bisa dia hilangkan.


Sedangkan Handoko adalah duda beranak satu yang kini hidup sendirian tanpa istrinya yang sudah meninggal. Dan anaknya tengah membangun bisnis di luar negri.


Handoko, pria paruh baya itu berdiri dari kursinya. Dengan senyum penuh arti, pria itu mendatangi Eri yang duduk tenang dan mendekatkan bibirnya telinga Eri.


"Aku tahu kau sangat butuh uang untuk bertahan hidup kan, Eri? Ehm, bagaimana kalau kau tinggal saja di rumah ini untuk sementara" kata Handoko menjeda perkataannya.


Melihat bagaimana reaksi Eri setelah mendengar saran darinya yang ternyata sama saja dengan para pria hidung belang yang suka memanfaatkan situasi.


Ternyata Eri, wanita yang baru keluar dari kumpulan penjahat masyarakat itu terlihat santai dan diam saja mendengar ucapan menjijikkan dari petugas hukum itu.


"Kau bisa melakukan apa saja dirumah ini. Dan ehm, sebagai imbalannya aku tentu akan menafkahi mu dengan sangat baik dan aku tentu akan memberikan semua fasilitas yang engkau butuhkan" kata Handoko.


Eri terdiam, sudah bisa tertebak memang isi kepala dari pria hidung belang macam Handoko ini.


Menilik penampilannya, pria yang bertubuh proporsional ini pasti gemar berolahraga agar bentuk tubuhnya terjaga. Namun rambutnya yang menipis, bahkan cenderung botak tak bisa menghilangkan kesannya sebagai pria tua.


"Saran yang sangat menggiurkan, tuan. Kau sangat pandai membaca situasi. Kau tahu kalau aku sangat butuh uang untuk saat ini, dan aku juga tak punya tempat tinggal" kata Eri dengan senyum sinisnya, menyadari jika dia tak punya apa-apa.


"Tentu. Dan kau datang pada orang yang tepat" ucapnya.


"Tapi kau harus menikahiku" tantang Eri.


"Ehm, itu bisa diatur. Jika kau bisa membuatku merasa bahagia, maka semua yang kau mau akan aku berikan" jawab pria tua itu.


"Tapi aku mau kau berikan dulu uang hasil penjualan rumah orang tuaku, baru aku mau tinggal bersamamu" kata Eri, tentu wanita itu tidak akan menjadi bodoh dengan membiarkan penjualan rumahnya terkatung-katung.


"Itu sangat mudah bagiku, sayang. Berapa yang kau mau sebagai hasil penjualan rumah reot itu?" tanya Handoko.


Sebenarnya Eri sangat tidak suka dengan perangai sombong dan semena-mena dari pria ini. Tapi untuk melawan, dia masih harus bersabar karena tak bisa melawan kelicikan dengan otot, tapi harus dengan otak.


"Jika kau benar-benar pria kaya raya, berikan aku uang yang banyak sebagai hasil penjualan rumahku. Setelah itu, aku akan tinggal disini untuk sementara sampai aku menemukan rumah yang lebih sederhana dan cocok untukku" tawar Eri.


Lama hidup di penjara membuatnya banyak berpengalaman untuk menangani orang-orang dengan banyak watak dan perilaku.

__ADS_1


"Oh, kau sangat pintar sayang. Hari ini juga akan aku transfer uangnya. Akan aku buatkan kau kartu ATM khusus untuk menampung uang hasil penjualan rumahmu" ujar Handoko sambil berjalan kembali ke kursinya.


Menduduki singgasananya dengan perasaan bahagia karena setelag sekian lama hidup sendirian, akhirnya sebentar lagi dia akan punya teman serumah.


Tak dipungkiri jika sebagai pria normal, Handoko sering meminta jasa wanita panggilan untuk menemaninya menghilangkan nafsunya.


Tapi untuk menghindari dari para pesaingnya itu sangatlah sulit, persaingan antar pelakon di profesinya sangatlah sengit. Karena mengharuskan para pemainnya sebagai orang yang bersih dari kelakuan buruk, sekecil apapun itu.


Dan dengan datangnya Ruby Eria ke rumahnya tanpa undangan, membuat otak kotornya bekerja sepuluh kali lebih aktif.


Seperti kucing yang mendapatkan ikan asin, Handoko sangatlah senang.


"Apa jumlah ini kurang untuk rumah reot milik orang tuamu itu?" tanya Handoko sambil memperlihatkan layar laptop pada Eri.


Mata Eri sedikit membelalak melihat deretan angka yang tampil di layar itu, tapi sebisa mungkin dia menahan ekspresinya agar tak membuat Handoko semakin menilainya rendahan.


Angka yang fantastis, dan Eri sangat menyukainya. Sudah ada deretan rencana indah dalam otaknya seandainya dia tak tergiur dengan tawaran Handoko yang ingin menjadikannya seorang simpanan.


"Saya mau tuan selesaikan urusan atm untuk penjualan rumah saya hari ini juga. Dan setelahnya, saya akan tinggal disini untuk sementara waktu" kata Eri dengan senyum mengembang.


"Oh, kau semakin cantik dengan senyuman mu itu sayang. Pertahankan senyum indah itu saat bersamaku" kata Handoko dengan gaya menjengkelkannya di mata Eri.


"Untuk saat ini, kau bisa menempati kamarmu sementara aku menyelesaikan urusan jual beli rumahmu itu. Dan nanti malam, sambil kita candle light dinner romantis aku akan memberikan kartu ATM nya padamu" kata Handoko.


"Art ku akan mengantarmu ke kamar yang sudah disiapkan. Dan nanti akan ada orang yang mengantar gaun untukmu agar kai terlihat semakin cantik di acara kita malam nanti. Ehm, apa ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Handoko dengan perasaan senang yang luar biasa, akhirnya ada wanita secantik Eri yang bisa dia datangi kapan saja dia inginkan


Sebagai wanita yang tak kalah culas, Eri juga suka memanfaatkan situasi. Dan bertemu dengan pria culas membuat Eri pun harus semakin cerdas.


"Anda tahu kan tuan, kalau aku baru keluar dari penjara?" tanya Eri dengan nada sedikit manja.


"Ya, lantas?" tanya Handoko.


"Aku ingin perawatan tubuh agar bisa semakin prima saat bersamamu nanti" ujar Eri lagi.


"Oh tentu. Itu hal yang mudah. Kau pilih saja perawatan tubuh yang kau inginkan, tapi ingat, lakukan semuanya di kamarmu. Panggil mereka untuk datang kemari" kata Handoko.


"Tentu. Dan, terimakasih" kata Eri yang sudah membayangkan betapa nyamannya perawatan seperti yang sering dia lakukan dulu saat menjadi nyonya Alexander.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Belum lagi lamunan Eri usai, seseorang datang ke ruangan negosiasi itu.


"Masuklah" ucap Handoko.


"Tuan memanggil saya?" tanya wanita berseragam pink khas art.


"Antar nona ini ke kamar tamu, berikan pelayanan terbaik padanya dan lakukan apa yang dia perintahkan padamu" perintah Handoko.


"Iya, tuan" jawab ART itu tanpa berani menatap tuannya.


"Pergilah sayang, nanti kita bertemu lagi" kata Handoko dengan senyum nakalnya.


Eri hanya terdiam dan beranjak pelan dari kursinya. Berjalan mendekati si ART dan mengekor padanya.


"Nama saya Sumi, non. Kalau ada apa-apa, non bisa panggil saya" ucap ART itu memperkenalkan diri.


"Saya Eri, ehm... boleh saya bertanya sesuatu bik?" tanya Eri sambil terus berjalan menuju ke kamarnya yang ternyata lumayan jauh di lantai dua.


"Tentu, selama saya bisa menjawab pasti akan saya jawab" kata Sumi.


"Apa pernah ada wanita yang tinggal disini juga?" tanya Eri.


Sedikit ragu, Sumi melirik ke arah Eri. Bingung harus bagaimana menjawabnya.


"Bibik nggak usah takut, saya nggak akan bilang-bilang kok" bujuk Eri.


"Ehm, pernah non. Dulu saat ibu sakit, bapak pernah membawa wanita lain ke rumah ini. Dan setelah ibu meninggal, wanita itu nggak pernah kelihatan lagi" jawab Sumi.


Eri mengangguk dan terdiam setelahnya. Berfikir apakah langkah yang dia ambil ini sudah tepat atau malah sebuah kesalahan karena terkesan sangat murahan untuk langsung mau tinggal serumah dengan pria botak itu.


Tanpa dia sadari, jika hal itu malah akan menjadi awal kehancurannya yang kedua. Kisah balas dendamnya akan butuh waktu yang sedikit lebih lama karena kecerobohannya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2