
"Apa yang kamu inginkan dari saya sampai kamu rela melakukan semua ini, Mawan?" tegas Lia sekali lagi.
Niatnya untuk menggeretak Mawan, apakah benar dia adalah pria sejati yang tak akan mundur hanya karena satu geretakan saja. Atau dia hanyalah seorang anak SMA biasa yang masih bau kencur dan kurang percaya diri.
"Saya ingin membuat Lian mengakui sendiri tentang rencana jahatnya terhadap Samuel. Dan untuk melakukan itu, pasti akan ada banyak halangan dari Bu Eri atau anak buahnya" kata Mawan mengawali penjelasannya .
"Hal yang paling utama adalah mereka pasti akan menjadikan keluarga saya sebagai umpan agar saya menyudahi penyelidikan ini. Jadi saya minta tolong pada kakak untuk mengirim anak buah guna melindungi keselamatan keluarga saya saat mencari tahu dan mencari caranya" ucap Mawan penuh tekad.
"Saya ingin Samuel yakin jika ucapan saya itu benar. Dan semua yang saya lakukan semata untuk melindunginya saja. Saya sedikit tak enak hati saat dia mengatakan jika saya hanya ingin menjauhkannya dari Lian saja, karena saya tulus untuk melindunginya sebagai seorang teman" ucap Mawan tak seperti biasanya yang selalu ricuh dan ceria, sangat klop dengan Samuel yang juga humoris.
Hati Lia tergugah mendengar alasan dari Mawan. Memang seperti inilah seharusnya seorang pria sejati yang rela mengorbankan diri demi keluarga dan sahabatnya.
Lia jadi merindukan Nirwana tim yang sekarang sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Apa ada cara yang meyakinkanmu untuk bisa membuat Berlian bisa dengan suka rela mengatakan rencana jahatnya terhadap Samuel?" tanya Lia.
"Saya akan terus mencari tahu latar belakang Lian. Jika saya tahu kelemahannya, maka saya bisa menjadikan itu sebagai senjata agar Lian mau menyudahi aksi jahatnya , kak" jawab Mawan.
"Baiklah. Aku akan mengirim beberapa orang untuk mengamankan keluarga kamu. Dan kamu bisa bekerjasama dengan tim yang nanti akan aku perkenalkan padamu untuk mempercepat penyelidikanmu dan kamu bisa mendapatkan kembali kepercayaan dari Sam" perkataan Loa tentu membuat Mawan sangat lega.
Tak sia-sia dia menyempatkan diri pergi ke kantor ini semata untuk mencari bantuan, meski nanti saat pulang pasti emaknya kembali memarahinya karena pulang terlambat.
"Baiklah. Terimakasih karena kak Lia sudah mau percaya pada saya. Dan saya berjanji untuk tidak mengecewakan kalian. Saya pasti akan bisa mengungkap niat buruk Lian" optimisme dari Mawan sungguh Lia sukai.
"Saya rasa pertemuan kali ini sudah cukup kak. Saya mau pamit karena pasti emak sudah mencari saya" ucap Mawan undur diri sambil tersenyum canggung.
"Iya, silahkan. Pasti nanti kamu dimarahi sama emak kamu" balas Lia dengan tawa kecilnya.
Dan benar saja, saat Mawan sampai di rumahnya memang sang emak sudah menunggunya meski posisinya masih berada di warung.
Saat melihat Mawan datang, emak langsung menyambutnya sambil membawa sebuah kayu kecil untuk memukuli punggung Mawan yang terbungkus jaket tebal.
"Enak lo kelayapan mulu sejak bawa motor ke sekolah. Lebih baik lo naik angkot saja deh Wan daripada pulang sekolah lupa sama rumah" cerca emak si senja itu, sambil dilihat oleh pengunjung warung yang sedang ngopi sore.
Tidak ada rasa sakit yang Mawan rasakan pada setiap pukulan emak, malah Mawan merasakan kasih sayang dari seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
"Iya mak, Mawan minta maaf ya. Besok-besok janji deh bakal ngulangin lagi" kata Mawan sambil cengengesan, orang lain yang mendengarkan pun tak sungkan untuk ikut tersenyum.
"Apa lo bilang? Dasar anak kagak tahu diuntung. Masih sabar gue nanggepin elo ya. Kalau ini sandal sudah mendarat di muka elo, jangan salahin emak" kata emak sambil berkacak pinggang.
"Larii" kata Mawan masih tertawa, melakukan jurus kaki seribu memasuki rumahnya yang hanya berjarak dua meter dari warungnya.
Sementara kelakuan absurd keduanya ditanggapi tawa renyah dari pengunjung warung kopi emak.
"Kamu terlihat lelah sekali, Lia. Ada masalah?" tanya Bayu.
"Nggak ada kak, tapi memang akhir-akhir ini pekerjaanku sedikit menumpuk. Biasalah, akhir bulan" kata Lia sambil meregangkan ototnya.
__ADS_1
Keduanya bersama Ken sedang melihat aksi Silvi diatas panggung. Dia sedang melakukan fashion show di sebuah mall besar yang masih berada di bawah naungan rantai bisnis Alexander.
Acara milik desainer kondang yang bekerjasama dengan perusahaan Lia untuk memamerkan baju hasil karyanya.
"Silvi selalu tampil cantik" puji Lia sambil bertepuk tangan saat Silvi dengan tubuh idealnya terlihat sempurna memakai baju pesta bertabur batu Swarovski berwarna tosca.
"Bagiku kau lebih sempurna" celetuk Bayu yang dibalas deheman keras oleh Ken yang geli mendengar Bayu menggombal. Sungguh bukan keahliannya.
"Kau ini ada-ada saja, kak" balas Lia tanpa ekspresi berlebihan.
"Tapi aku jujur" kata Bayu singkat.
Dia hanya tak ingin jika Johan lebih unggul darinya dalam misi perebutan hati Lia. Sementara Ken hanya visa memutar bola matanya jengah.
"Disini saja. Atau pulanglah" kata Bayu.
Ken hanya bisa mendengus sebal. Dia sudah hafal karakter sahabatnya itu. Perkataan mengusir yang sebenarnya Bayu sedang ingin ditemani.
"Baiklah, aku akan fokus pada para model cantik yang sedang berlenggok itu daripada mendengarkan ocehanmu yang tidak bermutu itu dokter Bayu" ucap Ken sebal.
Dan benar saja jika Ken langsung melontarkan pandangannya pada panggung pendek yang panjang di depan matanya. Memuji kemolekan keturunan Hawa yang sedang berjalan santai dalam balutan baju yang indah.
"Bagaimana cara mengetahui saat seseorang sedang berkata bohong, kak?" tanya Lia serius meski pandangan matanya masih menatap pada Silvi yang asyik berlenggok ria diatas podium.
"Gunakan saja kemampuan hipnotismu untuk membuat mereka mengaku padamu, sesimple itu Lia" jawab Bayu dengan singkat.
__ADS_1
"Tidak semudah itu kak. Hipnotis tidak boleh digunakan untuk anak di bawah umur" jawab Lia.
"Sebenarnya ada sedikit hal remeh yang dilakukan si pembohong saat berkata bohong. Seperti sering berkedip, berbicara terbata-bata, dan dia tidak akan melakukan eye kontak saat berbicara denganmu. Hanya saja semua itu akan mustahil dilakukan oleh Ken, karena dia sangat mahir dalam berbicara" kata Bayu sambil menyindir sahabatnya.
"Bisa tidak kalau tidak membawa namaku dalam pembicaraan kalian? Menyebalkan sekali" keluh Ken yang tadi sudah merasa nyaman dengan memandangi lekuk tubuh molek dari para model di hadapannya.
"Hei, Bayu. Lihatlah wanita itu, sejak tadi memandangimu terus-menerus. Apa kau tidak tertarik untuk menghubunginya? Aku yakin dengan sekali tepuk, dia akan luluh di pelukanmu" kata Ken sambil menunjuk seorang model cantik yang sedang menunggu giliran tampil.
"Aku tidak tertarik, lagipula aku tidak sepertimu yang suka sekali berganti pasangan" jawab Bayu.
"Kalau kau tidak suka, boleh untukku saja?" tanya Ken lagi, sepertinya memang dia yang tertarik pada model itu.
"Terserah kau saja" jawab Bayu.
Lia sedikit melirik kedua pria ini, dalam hati sebenarnya Lia sedang menunggu jawaban Bayu tentang wanita itu. Dia merasa sangat keberatan jika seandainya Bayu merasa tertarik juga padanya, tapi mendengar penolakan Bayu membuat hati Lia menjadi lega.
Bagitupun saat melihat Silvi yang tengah berlenggok diatas cat walk masih sempat memberi kiss bye terhadap Bayu saat melewatinya, membuat hati Lia sedikit memanas. Lia tak bisa mengartikan perasaan itu, hanya saja setiap ada wanita yang mencari perhatian terhadap Bayu membuatnya sedikit memanas. Apa dia merasa cemburu?
Lia masih belum mengerti.
"Hello everyone, kenapa tidak ada yang mengabariku jika kalian sedang asyik disini?" tanya Johan dengan gaya humble nya, menyuruh seseorang yang duduk di dekat Lia untuk bergeser agar dia bisa duduk disamping Lia.
Senyum lebarnya memang tampan, Bayu lantas mengalihkan pandangannya dengan malas saat Johan menaikturunkan alisnya saat bertatapan dengan Bayu.
"Dasar pengganggu" ucap Bayu setiap kali melihat Johan datang disaat dia sedang bersama dengan Lia.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, Johan selalu tahu saat Nirwana geng sedang bersama dan membuat si bule tengil itu ikut berkumpul bersama.