
...💞💞💕...
...MAB by VizcaVida...
...|34. Bicara|...
...Selamat membaca...
...Jika suka, berikan like komentar, dan juga Vote dan hadiah jika berkenan....
...Terima kasih...
...[•]...
Angel merealisasikan keinginannya untuk mendatangkan Louis ke kediamannya, malam ini. Pria itu terlihat modis hanya dengan kaos polo putih dan jeans selutut berwarna coklat tua.
Seperti biasa, Angel masih akan tetap menyukai aroma musk dan rempah yang menguar dari tubuh pria yang menjadi kekasihnya hampir dua minggu lalu ini.
Pintu apartemen terkatup setelah Louis masuk, dan Angel mempersilahkan kekasihnya untuk duduk diruang tamu. Tidak ada yang berubah dari raut wajah Angel, dia masih tetap menatap Louis dengan sorot kagum dan cinta yang mendominasi. Entah mengapa, melihat Louis hampir membuatnya melupakan semua yang dikatakan Gita—orang yang baru ia kenal dan mengaku teman Louis—tadi siang.
Tujuannya mengundang Louis datang ke tempat tinggalnya adalah untuk bicara. Angel butuh kejelasan dan kebenaran akan informasi yang di berikan Gita.
Jika berita itu salah, Angel akan sangat bersyukur karena Louis bukanlah termasuk orang yang menyukai dunia bebas tanpa batasan. Karena setaunya, Louis bukan tipikal orang yang suka melakukan hal semacam itu. Dan sebaliknya, jika informasi itu benar, Angel akan berusaha menerima Louis apa adanya, seperti yang sudah ia janjikan pada pria itu. Tanpa paksaan, dia akan terus mencintai Louis seperti sedia kala.
“Mau minum kopi?” tawar Angel pada Louis. Suasana memang sudah canggung sejak awal. Jadi, hari ini bukan termasuk bagian dari alasan mood Angel yang kacau.
“Eum. Gulanya sedikit saja.” jawab Louis meng-amini niat baik Angel menyeduh kopi sebagai peneman keduanya berkencan di hari Sabtu ini.
Angel bergegas menuju dapur. Menyalakan kompor untuk memanaskan air, kemudian berjalan menuju pantry untuk mengambil toples berisi kopi hitam, dan juga toples gula, lalu ia letakkan di atas meja yang tidak jauh dari kompor berada. Lalu, Angel kembali ke pantry untuk mengambil gelas dan tataan gelas.
Jantungnya berdebar kacau memikirkan kalimat apa untuk memulai pembicaraan sensitif antara dirinya dan Louis nanti. Namun, semuanya semakin kacau ketika aroma Louis kembali tercium indera penciuman Angel. Kekasihnya itu sudah berdiri di sampingnya tanpa aba-aba.
“Tunggu saja disana, pa—”Angel sadar salah panggil, ia buru-buru meralat. “Maksud saya, sa-yang.”
Louis tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Ia menyandarkan satu sisi tubuhnya pada tepian meja dapur, kemudian melipat kedua tangan kekarnya di dada sembari menatap lekat wajah Angel, sang kekasih pujaan hati.
“Nah, begitu. Usahakan memanggil begitu setiap bertemu berdua.” katanya pada Angel yang masih sibuk menyiapkan secangkir kopi hitam untuk Louis. “Nanti, kalau sudah menikah, panggil nya beda lagi.”
Mendengar kata menikah, Angel menghentikan gerakan tangannya. Ia mendadak sangsi. Apa hal itu akan benar-benar terjadi dalam hidup mereka? Sedangkan disana, Mama dari Louis sendiri menentang hubungan keduanya. Ditambah lagi—
“Apa ya enaknya? Eum ... Daddy?”
Mendadak senyuman terbentuk di garis bibir Angel. Sejauh itukah Louis berharap pada hubungan mereka?
“Memangnya kamu papa saya?”
__ADS_1
“Sugar daddy.”
Angel menoleh kasar. Matanya melotot lebar seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.
“Ngomong apa sih?!” ketus Angel dengan wajah sudah merah seperti kepiting rebus. Ia malu sendiri saat Louis menyebut dirinya sendiri Sugar Daddy. “Memangnya tau arti Sugar Daddy?” goda Angel, lalu berjalan melewati Louis membawa secangkir kopi hitam yang sudah jadi menuju ruang tengah.
Louis menggeleng lugu dibalik punggung Angel. “Aku sering dengar kata-kata itu saat anak-anak berbisik, jadi ya ikut-ikutan saja.”
Angel menepuk jidat. Ada-ada saja kelakuan kekasihnya ini.
“Ngga baik artinya, sayang. Nggak usah ditiru.”
“Eh, masa'?”
Angel duduk di sofa, disusul Louis yang juga duduk di samping perempuan itu tanpa berhenti menatapnya.
“Memangnya, artinya apa?” tanya Louis, sepolos bayi baru lahir dan tak memiliki dosa.
Angel mendengus kan nafas lelah karena Louis masih belum mau mengakhiri topik Sugar Daddy-nya.
“Coba gugling aja deh, nanti bisa dibaca secara rinci dan jelas.” ketus Angel yang justru mendapat tawa dari Louis. “Takut salah bicara.”
“Iya deh. Nggak akan bahas itu lagi. Mau sayang-sayangan aja.”
Sungguh, Angel sendiri sampai bengong saat melihat sisi Louis yang seperti jablay seribu tahun ini. Berbeda sekali dengan Louis yang ia kenal saat di kantor dan Louis yang ia kenal selama ini. Sungguh seperti orang yang berbeda.
Louis memangkas jarak lebih dekat. Dia mengarahkan helaian rambut Angel yang tidak ikut terikat dan jatuh di depan wajah. Hingga akhirnya tatapan mereka bertemu.
Louis mengerjap. “Mari bicara kalau begitu.”
Tatapan Angel jatuh pada telapak tangan Louis yang kini menggenggam telapak tangannya.
“Aku tidak sengaja bertemu seseorang tadi pagi.”
“Perempuan, atau laki-laki?”
“Perempuan.” jawab Angel sembari kembali mengangkat wajah dan menatap mata Louis. “Namanya Gita.”
Mendengar nama itu, sontak raut wajah Louis berubah dingin. Jantungnya berdegup kacau oleh rasa khawatir akan sesuatu.
“Dia bertanya alamat kantor.” kata Angel menyambung kalimatnya.
Omong kosong. Louis tau betul jika Gita tidak perlu bertanya saja, sudah bisa sampai di gedung siaran miliknya. Lalu, untuk apa melakukan drama mura-han seperti itu?
Louis mengumpat dalam hati karena tidak mungkin Gita tiba-tiba muncul setelah mereka membuat kesepakatan, tanpa alasan. Dan sekarang, lagi-lagi dia ikut campur urusan asmaranya.
“Karena dia baik, jadi aku bersedia mengantarnya sampai didepan gedung.”
__ADS_1
Louis tidak bicara apapun. Dia masih ingin mendengarkan Angel berbicara.
“Selama perjalanan, dia cerita banyak. Termasuk tentang pertemanan kalian dulu.” lanjut Angel masih menautkan manik matanya kepada Louis yang juga tidak melepas sedikitpun sorotnya untuk Angel. “Dia bilang, dia mendapat undangan darimu untuk datang ke kantor secara pribadi.”
“Aku tidak pernah melakukan itu. Aku tidak pernah mengundang siapapun datang ke kantor kecuali untuk urusan pekerjaan.”
Ada rasa lega menjalar ke dalam bongkahan kecil dari bagian tubuh Angel, yakni hati. Dia merasa harus tetap percaya kepada Louis alih-alih termakan omongan dan meninggalkan pria yang selama ini menempati hatinya ini.
Memang, satu kenyataan lain yang akan ia dengar mungkin akan sangat menyakitkan. Tapi semua itu harus ia lewati, harus ia redam agar tidak menjadi satu hal yang akan menghancurkan mereka di masa depan.
Angel tersenyum. “Aku percaya padamu.” katanya, meraih satu sisi wajah Louis dan mengusapnya lembut penuh kasih sayang.
Louis yakin, bukan hanya itu yang dikatakan Gita. Pasti semua ini ada hubungannya dengan sang mama. Louis menebak demikian, karena ia tau selama ini Gita sudah tidak lagi mengusiknya. Wanita itu memegang janji dan kesepakatan yang sudah mereka buat bersama.
Melihat Gita yang tiba-tiba saja kembali muncul, Louis yakin jika semua ini terjadi karena campur tangan seseorang, yang Louis yakini adalah sang mama.
“Dia,” suara Angel tercekat oleh salivanya yang tiba-tiba meluncur melewati tenggorokan. Ia tidak rela mengatakan itu, karena saat ini Louis adalah kekasihnya. Hatinya berdenyut nyeri, dan begitu sakit.
Louis menyambut telapak tangan Angel yang masih berada di wajahnya, lalu menggenggamnya lembut lalu berkata, “Dia juga bilang, jika kami pernah terlibat sesuatu yang seharusnya tidak pernah aku lakukan.”
Angel tertunduk ketika matanya mulai berkabut. Ternyata, berusaha membohongi perasaan sendiri itu, rasanya percuma. Apalagi saat Louis mengatakan hal itu seolah membuat sebuah pengakuan. Sangat menyakitkan. Tapi, mungkin ini adalah salah satu jalan untuk mereka hidup tentram nantinya. Angel terus menguatkan hati.
“Aku tidak akan memaksamu percaya dengan semua apa yang akan aku katakan. Setelah mendengar apa yang aku katakan ini, keputusan ada di tanganmu, Ngel.”
Tatapan mata Angel kembali menajam ketika Louis menyebut namanya. Pria itu terlihat putus asa. Lalu, Louis menarik dirinya menjauh. Ia hanya takut jika Angel akan kecewa padanya setelah mendengar apa yang akan dia katakan ini.
“Yang dikatakan Gita itu, benar.”
Bagai dihantam gada, hati Angel luluh lantak. Airmatanya jatuh satu persatu dari ekor mata.
“Kami melakukan itu, tapi tidak dengan cinta. Aku mabuk berat, dan Gita memanfaatkan itu untuk menghancurkan hubunganku dengan mantan tunangan yang kamu sendiri, tau siapa orangnya.”
Angel mengesat airmatanya dengan telapak tangan. Dari tempatnya membeli, ia bisa melihat tatapan redup di mata Louis. Binar percaya diri yang biasa ia lihat itu, sirna.
“Setelah itu, kamu tau sendiri bagaimana keadaanku yang hancur. Bahkan nyaris gila karena kehilangan orang yang paling aku cintai saat itu.”
Louis menundukkan kepala. Ia menatap kedua telapak tangannya yang mengepal, dan rasa sakit itu kembali mendera raga dan harinya. Kelebat masa lalu kembali menghampirinya dan membuat tubuhnya seketika itu bergetar. Louis tidak sekuat itu jika mengingat kehilangannya pada sosok yang begitu berarti dalam hidupnya.
“Silahkan tinggalkan saya, jika kamu kecewa dengan masa lalu yang selama ini coba saya sembunyikan dari semua orang.” katanya, kembali membuat jarak dengan menyebut lagi dirinya dengan kata ‘Saya’.
Tapi, semua bayangan kelam itu hancur ketika sesuatu menyentuh bibirnya. Pandangannya terangkat dan wajah Angel berada tepat didepan wajahnya. Perempuan itu mengecup singkat bibirnya, dengan pipi dan mata basah berderai air mata. Dengan nafas hangat menyentuh permukaan kulit wajah yang membuat tenang.
“Aku tidak akan kemana-mana, apalagi meninggalkanmu.” kata Angel berbisik. “Apa kamu sudah lupa dengan komitmen kita?” lanjutnya sendu yang berhasil mematahkan rasa takut Louis akan kehilangan untuk kesekian kalinya.
Ya, mereka pernah berkomitmen untuk saling percaya. Mereka akan berusaha bersikap dewasa dan melihat masalah dari berbagai sisi.
“Aku percaya padamu. Dan aku,” Angel menjeda ucapannya, lalu menautkan lagi bibir mereka. “Aku mencintaimu, Lou.” []
__ADS_1
###
Pepet terus, Lou. Nggak ada wanita kayak Angel di dunia fiksi 😁