My Angel Baby

My Angel Baby
Rencana Memberitahu Mama Jenita


__ADS_3

🎉SELAMAT TAHUN BARU 2023 🎉


SEMOGA SEMUA YANG KALIAN INGINKAN DAN CITA-CITAKAN DI TAHUN SEBELUMNYA, TERWUJUD DI TAHUN INI. AMIN ...


TERIMA KASIH SUDAH MENEMANI DAN MENDUKUNG PERJALANAN VI'S MENJADI PENULIS CERITA DISINI HINGGA TAHUN BERGANTI LAGI. TANPA KALIAN, PENULIS BUKAN APA-APA.


LOVE YOU ALL ❤️❤️❤️



...MAB by VizcaVida...


...|47. Rencana Memberitahu Mama Jenita|...


...Bab ini merupakan tanda konflik yang sesungguhnya akan segera dimulai, 😜...


...Selamat membaca...


...[•]...


Setelah terlibat perdebatan kecil untuk memutuskan terus bekerja atau berhenti, Angel memutuskan untuk mengambil cuti, dan itu menjadi kesepakatan dirinya bersama Louis yang diambil secara mufakat.


Hari ini, hari pertamanya mendapat libur kerja, Angel masih saja harus berlari kesana-kemari untuk menguras isi perut. Ia juga menyibukkan diri dengan membuat kue kesukaan Louis untuk menyambut kedatangan sang suami nanti sepulang kerja.


Senyuman terbentang di bibir Angel saat satu kue sponge buatannya sudah jadi. Selain kastengel, Louis juga suka kue sponge dan selalu Louis habiskan tidak memakan waktu sampai lebih dari dua hari. Dan satu lagi didalam oven, khusus ia buat untuk mertuanya, Jenita, yang akan ia kunjungi bersama Louis nanti malam.


Angel mengusap perutnya yang masih rata, kemudian tersenyum membayangkan sesuatu yang mungkin akan terjadi nanti ada dua kemungkinan. Pertama ia dan anaknya akan diterima. Dan yang kedua, mungkin akan tetap sama seperti sebelumnya. Akan tetapi Angel tidak ingin berprasangka buruk. Siapa tau Jenita berubah pikiran setelah tau dia sedang mengandung anak Louis, cucunya.


Sekarang masih pukul setengah satu siang dan mungkin Louis masih memiliki sisa jam makan siang untuk bisa ia telepon. Angel mendadak rindu pada sang suami.


Tak butuh sampai nada hubung ketiga, suara Louis sudah menyapa di seberang. Terdengar cukup khawatir, namun Angel menanggapinya dengan tawa meskipun tubuhnya terasa lemah.


“Enggak sayang,” jawab Angel ketika Louis bertanya apa dia membutuhkan sesuatu, atau ada hal yang harus dia lakukan dengan sesegera mungkin. “Cuma lagi kangen sama papanya adek.”


Terdengar tawa Louis yang membuat hati Angel merasa tenang. Sejak mengandung, suara Louis memang terdengar begitu nyaman untuknya. Jika hendak tidurpun, dia harus mendengar suara Louis. Entah bercerita tentang pekerjaan, atau berbicara random tentang berita saham ataupun gosip yang menimpa artis ternama yang sedang diliput tim nya.


“Adek, atau mamanya?”


Kali ini Angel yang tertawa. “Sepertinya memang mamanya.” jawabnya jujur yang memperkeras suara tawa Louis di seberang.


“Aduh sayang, jangan bikin aku pingin cepet pulang dong.” protes Louis lirih sedikit manja. Mungkin ini juga dampak kehamilan yang sedang Angel alami, Louis juga semakin manja padanya.


“Ya udah kalau gitu. Pulangnya hati-hati, ya.”


“Tentu sayang.”

__ADS_1


Lalu, Angel meremas ujung pakaian yang ia kenakan. Ia memberanikan diri bertanya pada Louis perihal rencana mereka yang hendak mengunjungi mama Jenita hari ini.


“Nanti, jadi ke tempat mama, kan?”


Hanya Jenita yang belum tau kabar kehamilan Angel. Louis memiliki banyak sekali pertimbangan saat Angel meminta untuk dipertemukan dengan mamanya. Diantaranya, Louis ingin memastikan jika Jenita tidak akan bicara kasar atau menyakiti perasaan dan hati, yang akan membuat Angel kepikiran.


“Iya. Kita kesana.” kata Louis tidak ingin membuat Angel kecewa dengan janji yang sudah ia buat sebelumnya. “Tapi, aku ingin mengingatkan sama kamu, sayang.”


Angel diam, dia menungguku kalimat Louis selanjutnya.


“Tolong semua ucapan mama yang kamu dengar nanti, jangan pernah dimasukkan hati, apalagi sampai kamu kepikiran.” kata Louis memperingati. Ia tidak ingin jika Angel akan terkejut dan berfikir hingga berdampak pada janin dalam kandungan dan juga kesehatan Angel sendiri.


“Iya sayang—”


Kalimat Angel terpotong karena bel apartemen tiba-tiba berbunyi.


“Ada tamu, sayang. Sebentar ya? Aku mau lihat dulu siapa yang datang.”


“Eum, jangan matikan teleponnya.” pinta Louis dan di iyakan oleh Angel.


Setelah meletakkan ponsel di atas meja ruang tengah, Angel bergegas menuju pintu apartemen. Ia sampai lupa tidak melihat interkom dan membuka pintu begitu saja. Dan dirinya dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang membuat Angel membeku di tempatnya berdiri.


***


Louis tidak mendengar apapun dari seberang. Ia mengerutkan kening, lalu melihat jam tangan yang melilit pergelangan tangannya. Angel sempat kembali namun sambungan telepon langsung terputus begitu saja tanpa kalimat penutup. Pesan pertamanya yang bertanya siapa tamu yang datang pun tidak dibalas membuat Louis sedikit was-was. Tapi dia sudah berpesan pada Angel sebelum berangkat tadi, untuk tidak menerima tamu yang tidak dia kenal.


Aku kembali kerja dulu ya sayang. Tolong hubungi aku jika ada yang kamu perlukan.


Setelah itu, Louis kembali meninggalkan ruang kerjanya dan menemui Rita untuk melakukan meeting yang sudah terjadwal.


Pekerjaan seolah tidak ada habisnya di akhir tahun, dan Louis harus berusaha profesional seperti ketika masih belum menikah dulu. Ia malah harus lebih bekerja keras sekarang, karena akan ada nyawa lain yang harus ia tanggung, meskipun ya ... materi sebenarnya bukanlah masalah untuknya.


Sedangkan Angel, kini menatap sebuah buket bunga yang beberapa menit lalu dikirim atas nama Louis. Senyuman mengembang sempurna, ternyata Louis seromantis ini padanya. Ia bahkan ingin menangis karena Louis yang memperlakukannya bak seorang ratu. Angel merasa sangat di cintai, setelah apa yang terjadi dalam hidupnya. Karena menjadi seorang anak dari keluarga broken home itu, tidaklah mudah.


***


Sore hari ketika Louis datang, Angel menerjangnya dengan pelukan yang tanpa diduga-duga. Louis tertawa karena tau penyebab Angel melakukan hal ini.


“Suka dengan bucket bunga nya?”


Angel mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Louis padanya. Dia benar-benar bahagia dan merasa menjadi wanita paling sempurna di muka bumi setelah mengenal Louis.


“Makasih, sayang.”


“Aku mau mandi dulu, udah gerah bau asem pula.” kata Louis menarik diri, tapi Angel masih betah memeluknya. Entahlah, sejak hamil Angel suka sekali menempel padanya. Tak peduli pagi, siang, atau malam. Jika ada waktu, Angel pasti akan menempel seperti permen karet padanya. “Sayang, papa nya adek mau mandi dulu. Bajunya kotor, bau asem.” bujuknya, yang membuat Angel mendongak menatap wajahnya. Bagi Angel, Louis itu selalu wangi, tidak pernah sedikitpun tercium aroma keringat di badannya.

__ADS_1


“Masih wangi, kok.” protesnya tidak berniat melepas Louis dari lingkaran tangannya.


“Iya, tapi bajunya kotor di pakek seharian keliling kantor.”


“Nggak mau. Masih kangen.” rajuk Angel, masih alot melepas suaminya yang sangat ia rindukan meskipun bertemu siang malam itu.


Lucu, Louis sampai gemas sendiri kalau Angel dalam mode manja begini. Ia pun mendekatkan hidungnya pada hidung Angel, lantas menggerakkannya pelan ke kanan dan kiri, lantas mengecup bibir sang istri sekilas.


“Iya, habis ini bisa peluk-peluk lagi kalau udah mandi. Tadi, katanya mau ke rumah mama Jenita. Mau kasih tau kabar gembira.”


Oh astaga, Angel hampir melupakan itu. Pelukan itu pun langsung terlepas.


“Ya udah, kamu mandi. Aku mau siapin sesuatu yang perlu aku bawa untuk mama Jenita.”


Louis tersenyum dan mengusap kepala Angel dengan menyematkan senyuman manis dan hangat di bibirnya.


“Kita buat mama senang hari ini.” kata Louis mencoba membohongi hatinya sendiri. Dia tau, hal itu tidak akan terjadi lantaran Jenita sudah bersikukuh dan mengeraskan hati untuk tidak menerima Angel, apalagi kehamilannya.


Sumpah demi dunia yang sedang berputar, Louis ingin sekali melepaskan kekesalannya pada satu objek yang bisa ia jadikan samsak kemarahannya yang ia tahan mati-matian.


“Tentu. Aku akan dandan cantik, juga membawa kue kesukaan mama kamu, sayang. Aku harap mama suka.”


Oh God, Louis ingin sekali memakai dirinya sendiri karena menyembunyikan satu kenyataan pahit itu dari Angel. Wanita yang menjadi istrinya ini terlalu baik, dan dia tidak sampai hati menyakiti perasaannya.


Bisa dibilang, ini bukan usaha pertama mereka mencoba mendekati Jenita. Tapi wanita itu terus menolak dan bersikukuh untuk tetap pada pendiriannya, tidak menerima Angel.


Dan setelah bersiap hampir satu jam, Angel terlihat begitu cantik dengan dress coklat susu sebatas bawah lutut, rambut diikat rapi menjadi satu bagian, flatshoes berwarna senada dengan dress, make up tipis yang mempercantik wajah, juga kue sponge, beberapa kotak kastengel dan juga kue nastar yang ia buat susah payah seharian ini untuk ia bawa berkunjung kerumah mertua.


Sesampainya didepan istana megah keluarga Hutama, Angel merasa gugup. Telapak tangannya berubah dingin dan berair. Ia takut kenyataannya nanti tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Dia takut Mama dari suaminya itu akan tetap pada keputusannya.


Lamunan Angel terburai saat telapak tangan Louis bergerak melepas seatbelt yang mengekang tubuhnya. Lalu dia memperhatikan fitur wajah sang suami. Jika saat dirumah tadi, Angel masih bisa melihat senyuman terbentuk pada garis bibir sang suami, sekarang yang terlihat hanya ekspresi datar seperti sedang mencemaskan sesuatu. Ekspresi yang sering Angel lihat saat Louis menghadapi problem di kantor.


Apa keputusan mereka datang untuk memberitahu kabar gembira ini, salah?


Angel mungkin menemukan jawaban itu dengan mudah dari ekspresi di wajah Louis, tapi sekali lagi, apa salahnya mencoba?


“Tolong bawakan kuenya untuk mama ya, sayang?” kata Angel lembut meminta tolong pada Louis yang segera dilaksanakan pria itu tanpa banyak berdalih.


Keduanya turun dari mobil, dan berjalan menaiki anak tangga menuju teras rumah.


Disaat Angel dan Louis masuk melewati bilah daun pintu, Jenita duduk di sofa ruang tamu sambil membaca surat kabar harian yang tadi pagi belum sempat ia tengok. Dengan gerakan cukup kasar, Jenita melepas kaca mata dan meletakkan surat kabar itu dia atas meja.


“Mau apa kamu datang kesini?!” []


###

__ADS_1


Mau nge-reog, mam. Gitu aja nggak tau. 😜


__ADS_2