My Angel Baby

My Angel Baby
Surprise untuk Johan


__ADS_3

Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday, Happy birthday,


Happy birthday to you...


Keluarga Alexander sedang bergembira sore ini. Senyum bahagia terlukis di wajah semua orang saat menyambut kedatangan Johan.


Bersama seorang art nya, Lia sengaja sedikit mendandani Johan agar terlihat semakin menawan sore ini.


Dengan balutan setelan jas berwarna hitam, Johan nampak begitu tampan dengan wajah bulenya.


Sementara Lia dengan balutan gaun yang tak kalah cantik tengah menuntun saudaranya itu untuk bergabung dengan keluarganya yang lain di ruang tengah. Tempat dimana pesta kecil untuk Johan diadakan.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga apa yang kamu cita-citakan bisa tercapai, God bless you always" sambut Viviane dengan sebuah kotak kado berukuran sedang di tangannya.


"Ini hadiah dari mama. Semoga kamu suka ya. Mama sayang sama kamu" ucap Viviane sambil memeluk Johan singkat, memberi kesempatan pada yang lainnya agar bisa juga memberi ucapan terhadap Johan.


"Terimakasih ma. Johan tentu sangat senang dengan hadiah ini" jawab Johan sambil membalas pelukan Viviane.


"Selamat ulang tahun, nak. Maafkan kami yang sempat mendiamkanmu beberapa bulan ini. Untuk ke depannya kami janji untuk selalu bertindak adil terhadap kalian berdua. Kalian berdua adalah cucu kami yang sangat kami sayangi" giliran Abraham dan Suzy yang mendekat dan memberi pelukan terhadap Johan kecil.


Isakan air mata menghiasi acara sore itu. Dimana Suzy yang merasa sangat bersalah karena telah memiliki emosi terhadap Johan yang tak tahu apapun tentang kesalahan orang tuanya.


"Ini hadiah khusus untukmu. Semoga kau mau memaafkan kami" tutur Suzy sambil memeluk cucu laki-lakinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih, kakek dan nenek adalah yang terbaik. Seharusnya Johan yang meminta maaf terhadap kalian" ucap Johan sambil menyeka air matanya, tak tahan untuk tak menangis melihat kedua kakek dan neneknya berair mata.


"Kau memang anak yang baik, Jo. Kami merasa sangat malu karena pernah menyepelekanmu" kata Abraham, menepuk pundak cucunya.


Johan berusaha tertawa dengan sikap kakeknya, meski masih ada linangan air mata yang ingin menuruni netranya.


"Kau ini cengeng sekali" ejek Lia, padahal diapun sebenarnya ikut menangis tadi. Tapi buru-buru Lia menyeka air matanya dan merapikan penampilannya agar bisa mengejek saudaranya itu.


"Ya, kau benar" tutur Johan terkekeh. Membiarkan Lia mengejeknya hingga puas.


"Selamat ulang tahun, Jo. Kau sahabat sekaligus saudaraku yang paling hebat" kata Lia, tak lupa dengan sodoran kotak hadiah yang lumayan besar.


"Hadiah darimu adalah yang paling besar, Lia. Apa isinya juga sebesar kotaknya?" tanya Johan yang mengundang tawa dari semua orang.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku bahkan sudah merencanakan hadiah ini jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahunmu. Kau ini, malah mengejeknya" kata Lia cemberut, membuat Johan semakin gemas untuk terus mengejeknya.


Mendengar perdebatan kedua makhluk kecil ini memang terasa sangat seru. Tapi kalau dibiarkan maka tidak akan cukup waktu seharian karena memang mereka sangat suka bercanda.


"Sudahlah, sekarang kita potong kuenya saja. Mama sudah sangat ingin mencicipinya" kata Viviane, entah mengapa dia merasa jika jue itu pasti sangat enak. Dan dia sudah tak sabar untuk mendapatkan sepotong kecil kie yang sudah mendapatkan sebuah permohonannya dari si kecil Johan.


"Tumben, biasanya mama tidak begitu menyukai kue rasa coklat" kata Lia heran.


"Tapi... " potong Johan yang celingukan mencari keberadaan sesosok orang yang tak dilihatnya sejak pagi tadi.


Ya, Johan sedang menunggu Vicky. Pria yabg sudah dianggapnya papa itu berjanji jika akan ada di hari ulang tahunnya. Tapi kenapa sejak tadi Vicky tak juga menampakkan dirinya?


Hal itu semakin membuat Johan merasa tak disayangi lagi oleh papanya itu.


"Apa mungkin papa benar-benar sudah melupakan aku?" keluh Johan dalam hatinya, kesedihan yang datang tiba-tiba itu membuatnya menunduk dalam. Dengan air mata yang sudah siap untuk meluncur jika saja tak ada yang menegurnya sesaat sebelum air matanya terjatuh.


"Jo, kau sedang menungguku ya?" tanya seseorang yang bersuara bariton berat, mengagetkan Johan yang tak menyadari jika sejak tadi dia menjadi pusat perhatian semua orang.


Johan mendongak, melihat ke arah sumber suara dengan senyum terkembang. Dia hafal siapa pemilik suara itu. Dan benar saja jika Vicky sudah datang di detik-detik terakhir sebelum rasa cengengnya merajai hati.


"Papa? Kau menepati janjimu" ucap Johan senang, hingga tak sadar dia memeluk erat Vicky karena memang sudah sangat lama Johan tak mendapatkan pelukan hangat dari papanya.


"Bahkan aku tidak datang sendiri. Kau mau lihat, siapa yang datang denganku hari ini?" tanya Vicky.


Johan mengangguk malu, menyadari sikapnya yang kekanak-kanakan tak harus dia perlihatkan di hadapan banyak orang seperti saat ini.


"Siapa yang datang, pa?" tanya Johan lirih.


"Kemarilah bung. Kau sudah kami tunggu" perintah Vicky pada seseorang yang masih bersembunyi dibalik pintu ruang tamu.


Dan saat pria itu datang, tanggapan berbeda diterima dari masing-masing orang yang ada di ruang tengah.


"Ayah!" teriak Johan dengan penuh semangat.


Tawa riangnya menyambut kehadiran sang ayah yang yak lagi memakai baju tahanan seperti saat Johan mengunjunginya di rumah tahanan.


Robi datang dengan style nya yang berbeda kali ini. Penampilan sedikit formal karena permintaan Vicky.


Celana bahan berwarna gelap dengan gesper, tapi dia memakai kaos polo berkrah karena Robi memang tak suka memakai kemeja apalagi jas. Dan sepatu kets berwarna gelap semakin membuat tubuhnya terlihat semakin sempurna meski dari segi wajah masih kalah daripada Vicky.


Ayah dan anak itu saling berpelukan erat dan cukup lama.

__ADS_1


Johan sangat senang melihat ayahnya bisa berada di rumah ini, itu tandanya dia sudah bukan lagi seorang tahanan, bukan?


Sedangkan tatapan sinis Lia berikan terhadap pria itu, karena Lia tahu apa yang Johan inginkan apabila ayahnya sudah tak lagi mendekam dibalik jeruji besi.


Ya, Johan ingin ikut dengan ayahnya dan pergi dari rumah itu. Sementara yang Loa inginkan adalah tetap bersama Johan dikediaman Alexander ini.


Vicky yang mengerti suasana hati putrinya segera mendekat dan menggendong Lia dengan penuh kasih sayang.


"Are you ok, honey?" tanya Vicky sambil mengusap sayang pada pucuk kepala anaknya.


"Kenapa papa bawa dia kesini? Aku tak suka jika Johan semakin bersikeras untuk ikut dengannya. Pokoknya Johan harus tetap berada disini" kekeuh Lia yang mendapat tatapan dari semua orang. Bahkan gadis itu sudah menangis tersedu di pundak papanya.


Viviane mendekat pada suami dan anaknya. Sejak tadi dia tidak begitu memperhatikan Lia karena terlalu merasa terharu dengan pertemuan antara Johan dan Robi hingga tak sadar jika Lia sudah menangis di gendongan papanya.


"Lia, sayang. Apa kau sudah pernah berbicara tentang hal ini dengan Johan sebelumnya?" tanya Viviane lembut.


"Maksud mama?" tanya Lia yang masih betah digendong Vicky.


"Apa kau tahu apa yang Johan inginkan dalam hatinya?" tanya Viviane lagi, fan Lia hanya menggeleng untuk menjawabnya.


"Johan ingin agar dia hidup dengan ayahnya, seperti yang kau inginkan untuk tinggal dengan papamu. Dan saat keinginanmu terwujud, apa yang kau rasakan?" tanya Viviane lagi.


"Tentu aku merasa senang, ma" jawab Lia polos.


"Begitupun dengan Johan. Saat ayahnya datang untuk menjemput, diapun merasa sangat senang. Jadi, tidak seharusnya Lia memaksakan keinginan ahar Johan tetap berada disini karena itu bukan kebahagiaan yang Johan inginkan. Apa kau mengerti, sayang?" tanya Viviane.


Lia masih terdiam. Mencerna dengan sepenuh hati apa yang sudah mamanya katakan.


Dan benar saja, memberi pengertian dengan lembut dan penuh kasih sayang memang membuat siapapun jadi mudah mengerti.


Kini Lia mengangguk paham. Dan saat melihat ke arah Johan yang ternyata juga sedang memperhatikannya semakin membuat Lia paham kalau memang rasa bahagia Johan adalah bersama dengan ayah kandungnya.


Karena kekayaan yang berlimpahpun kadang tak berarti jika hati sudah memilih kemana dia akan berlabuh.


Kekuatan ikatan ayah dan anak kandung memang tak bisa dipungkiri. Johan lebih bahagia bersama ayahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2