My Angel Baby

My Angel Baby
Menemui Lia


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah Mawan berusaha meyakinkan Sam jika Lian itu tak sebaik yang dia kira, Sam malah terlihat marah dan menyalahkan Mawan yang katanya terlalu ikut campur urusan pribadinya.


Entah angin apa dan keberanian yang bagaimana yang mampu membuat Mawan hilang kesadaran hingga membuatnya berdiri disini, di depan kantor perusahaan keluarga Alexander.


Gedung megah itu dipandangi oleh Mawan dengan banyak pertanyaan di benaknya. Tadi sepulang sekolah, tanpa banyak pertimbangan Mawan melajukan motornya untuk datang ke tempat itu.


Orang yang berlalu-lalang dengan kepentingan mereka masing-masing hanya bisa Mawan pandangi tanpa ekspresi.


"Apa harus gue kesini? Apa gue bakalan dibolehin masuk ke dalam? Atau nanti gue hanya pulang dengan tangan hampa?" gumam Mawan dalam pertimbangannya.


"Tapi apa salahnya sih dicoba, toh apa yang gue lakuin juga demi kepentingan mereka. Salah satu anggota keluarganya kan sedang dalam bahaya" akhirnya tekadnya sudah bulat.


Langkah mantapnya mulai memasuki lobby kantor yang luas. Begitu masuk, Mawan disuguhkan dengan meja resepsionis yang berada di tengah ruangan.


Sisi kanan yang nampak kosong, tempat orang keluar masuk ke dalam kantor yang lebih jauh, ada toilet juga disana. Di tempat yang sedikit lebih masuk ke dalam.


Sedangkan di sisi kiri terdapat satu set sofa tamu yang terlihat nyaman dan bersih. Serta akuarium besar dengan ikan berwarna-warni di dalamnya. Ikan yang gemuk itu terlihat segar karena berada di tempat yang tepat dengan perawatan yang tepat pula.


Tata tuangnya sangat bagus menurut Mawan, hiasan dinding dan semua perabot di dalamnya terlihat mewah di mata Mawan yang hanya orang biasa.


"Ada yang bisa saya bantu, dik?" lamunannya di kacau oleh security.


"Eh, maaf pak. Saya jadi melamun" jawab Mawan sedikit tak enak hati, tapi raut wajah security itu tidaklah menyeramkan meski kesan tegas dan berwibawa ada di sana.


"Tidak apa-apa. Adik mau bertemu siapa? Atau ingin menjemput saudara yang pulang kerja mungkin?" tanya security itu karena melihat Mawan yang datang masih berseragam SMA dengan tas ranselnya.


"Ehm, saya Mawan pak. Teman sekolahnya Samuel, adiknya kak Lia. Apa saya bisa bertemu dengan kak Lia? Ada hal penting yang harus saya sampaikan secara langsung kepada beliau" jawab Mawan dengan sopan.


"Ehm, bu Lia ya. Sebentar saya coba tanyakan pada resepsionis dulu ya" jawab security itu sambil berlalu. Berjalan pelan menuju meja resepsionis yang selalu sibuk dengan telepon dan layar komputernya.


Entah apa yang mereka bicarakan, Mawan tak begitu jelas mendengarnya. Dia sedikit tak percaya dengan sambutan di kantor itu.


Awalnya Mawan pikir akan seperti di cerita-cerita novel, yang kehadiran si miskin akan di tolak dengan kemarahan oleh karyawan rendahannya, dan akan diselamatkan oleh di pemilik kantor.


Tapi rupanya semua itu tidak berlaku di kantor ini, karena semua pegawainya terlihat profesional dalam bekerja. Menganggap semua orang sama, Mawan bersyukur karena langkahnya dipermudah. Mungkin karena dia ingin membantu temannya.


"Mari saya antarkan ke ruangan Bu Lia. Kebetulan beliau sedang longgar saat ini" kata security itu.


"Baik pak. Terimakasih" ucap Mawan sambil berjalan mengikuti pria berseragam coklat itu, sambil tersenyum dan mengangguk selama perjalanannya untuk menyapa pegawai yang kebetulan berpapasan dengannya.

__ADS_1


Bersikap sopan kan harus meski tidak mengenali mereka. Itulah yang Mawan lakukan saat ini.


Setelah menaiki lift dan berjalan di beberapa lorong sepi, Mawan berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang bertuliskan 'Wakil direktur' di daun pintunya.


Seorang wanita cantik menyambut kedatangan Mawan dan pak security untuk mempersilahkan masuk.


"Silahkan dik, saya tinggal ke bawah dulu. Kalau nanti kamu kesulitan menemukan jalan untuk ke bawah setelah urusan kamu selesai, kamu bisa minta tolong mbak sekretaris ini untuk menghubungi saya" kata security itu.


"Iya pak, terimakasih" jawab Mawan sambil mengangguk paham.


"Silahkan dik, kamu sudah ditunggu oleh Bu Lia" kata sekretaris cantik itu mengambil alih pembicaraan.


Rupanya masih ada ruangan lagi di dalamnya, dengan pintu kaca yang bisa memperlihatkan suasana di dalam sana. Terlihat Lia sedang berkutat dengan laptop nya. Mawan jadi tak enak hati.


"Permisi bu, tamu ibu sudah datang" perkataan sekretaris itu membuat Lia mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan memandangi Mawan.


"Iya terimakasih. Kamu boleh keluar" ucap Lia.


"Baik bu, permisi" kata sekretaris itu dan berlalu pergi.


Mawan masih berdiri mematung selepas ditinggalkan sekretaris Lia.


"Iya kak, itu saya" jawab Mawan mendadak malu karena Lia masih mengingatnya.


"Silahkan duduk. Ada perlu apa sampai kamu datang kemari?" tanya Lia.


Mawan duduk di kursi, berhadapan dengan Lia yang dibatasi oleh meja lebar dan ada peralatan kantor diatasnya. Terlihat foto keluarga Samuel di atas meja itu. Nampak bahagia sekali mereka dengan baju sarimbit dan senyuman di wajahnya. Sangat terlihat wajah konglomeratnya.


"Ehm, saya ingin memberitahu sesuatu mengenai Lian, teman sekelas kami kepada kakak" kata Mawan setelah duduk dengan tegap.


Lia tertarik mendengarnya, sudah beberapa lama ini dia tidak lagi mencaritahu tentang gadis itu. Kiranya berita apa yang Mawan bawa hingga dia terlihat sangat serius.


"Maksud kamu Berlian?" tanya Lia.


"Iya kak. Maaf kalau saya lancang. Saya hanya khawatir dengan keselamatan Samuel. Jadi saya mencari tahu tentang Lian. Tapi setelah saya mendapatkan informasi tentangnya, sepertinya Sam tidak mempercayai semua yang saya katakan, kak. Dia sedang jatuh hati pada Lian, jadi semua yang dia lihat tentang Lian hanyalah kebaikannya saja" kata Mawan yang sudah mulai nyaman berbicara dengan Lia.


"Ya, akupun pernah memberitahu padanya. Dia juga tidak percaya. Ada beberapa hal yang belum kuketahui tentang gadis itu. Jadi agak sulit untuk meyakinkan Sam" kata Lia yang sudah sangat tertarik dengan topik pembahasannya.


"Apa yang membuatmu yakin jika Berlian itu berbahaya untuk Sam?" tanya Lia lagi.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Mawan malah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop coklat yang berisi semua informasi mengenai Lian dengan lengkap.


"Ini saya dapat dari kantor milik ibunya Lian, kak" kata Mawan sambil menyodorkan amplop coklatnya.


Lia menerima berkas itu dengan heran, "Setahu saya ibu Lian itu adalah pemilik bar. Bagaimana bisa kamu mendapatkan berkas ini?" tanya Lia.


"Itu karena saya menyusup ke dalam kantornya, kak. Saya sudah bertekad untuk mencari tahu tentang Lian yang sepertinya mempunyai niatan jahat pada Sam. Tapi malah Sam nya yang tidak percaya pada saya" jawab Mawan dengan wajah kecewanya.


"Bagaimana caranya kamu bisa masuk ke dalam sana? Tentunya penjagaan disana ketat, kan" tanya Lia lagi, sambil membaca berkas di tangannya.


"Saya menyamar untuk bisa masuk ke dalan bar itu kak. Menggunakan KTP milik pelanggan warkop emak saya" jawab Mawan jujur.


Lia mendongak setelah mendapat jawaban dari Mawan. Gadis itu tak menyangka jika Mawan rela berbuat hal yang berbahaya seperti itu demi Samuel. Lia jadi yakin untuk percaya pada Mawan kali ini adalah hal yang tepat.


"Informasi di dalam ini sangat detail. Itu berarti wanita yang dipanggil ibu oleh Berlian itu bukanlah ibu kandungnya" kata Lia.


"Sepertinya begitu kak, yang saua ketahui memang ibu Lian itu sudah meninggal dan dia diasuh oleh ayahnya yang seorang penjudi" jawab Mawan.


"Aku heran, kenapa Samuel bisa jatuh cinta pada gadis yang layar belakangnya todak jelas begitu" kata Lia sambil tetap membaca berkas yang Mawan bawa.


"Cinta itu datang dengan sendirinya, kak. Hati kita tidak bisa diperintahkan oleh otak untuk menghentikan rasa yang sudah ditetapkan olehnya. Jadi ya seperti Samuel yang tak bisa menggunakan logikanya untuk menghentikan rasa cintanya terhadap Lian" jawaban Mawan membuat Lia sedikit melongo, tidak menyangka saja jika anak sekecil Mawan sudah bisa berpandangan tentang Cinta, Lia selalu kalah dalam hal itu.


"Kamu bisa saja" kata Lia.


"Eh, maaf kak" ucap Mawan kadi salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa jika ucapannya terlalu berlebihan.


"Tidak masalah" jawab Lia.


"Lalu apa yang kamu harapkan dari saya dengan membawa semua informasi ini?" tanya Lia.


Dia ingin tahu seperti apa langkah yang Mawan inginkan setelah mengambil langkah seberani itu. Tidak mungkin jika dia hanya ingin agar Lia menegur Sam saja kan.


Kalau seperti itu, dia tidak harus seberani itu dengan mempertaruhkan keamanan dirinya sendiri untuk mendapatkan informasi sepenting ini, bukan.


Mawan pun sudah punya rencana tersendiri untuk hal ini. Dan semua rencana itulah yang membuatnya berani untuk menemui Lia secara langsung tanpa sepengetahuan Samuel.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2