My Angel Baby

My Angel Baby
Kecurigaan Mawan


__ADS_3

"Kenapa cemberut saja, Lia?" tanya Bayu di jam makan siangnya, sudah hampir satu bulan ini dia magang di salah satu rumah sakit terbaik ke kotanya.


"Aku kesal sekali pada Sam. Dia itu sangat keras kepala dan tidak percaya pada perkataanku, kak" keluh Lia.


Akhirnya dia punya tempat yang tepat untuk mengutarakan semua isi hatinya. Selain kepada papanya, Lia sering curhat tentang apapun pada Bayu yang lebih dewasa dan selalu sabar menghadapi sifat manjanya yang jarang sekali orang ketahui.


"Kesal kenapa? Tolong kamu ceritakan yang jelas biar nanti aku bisa memberimu saran jika aku bisa" kata Bayu serius, dia selalu sangat perhatian pada Lia meski untuk hal yang sepele.


Mendengar jawaban Bayu, dengan antusiasnya Lia menceritakan semua hal mengenai kedekatan Sam dan Lian beserta ayahnya yang kurang ajar.


Sementara tentang Eri, Lia masih minim informasi karena memang data mengenai dirinya sangat minim. Timnya harus bekerja ekstra untuk perempuan itu.


Meski dengan sedikit emosi, Lia bisa bercerita dengan jujur. Tak ada yang dia tambahi atau dia kurangi tentang kejadian yang sebenarnya.


Bayu pun mendengar semua keluh kesah Lia dengan seksama. Dia selalu serius demi menenangkan hati Lia.


Setelah puas bercerita, Bayu mengangguk paham dan berusaha mencerna semua kejadian itu terlebih dahulu.


"Kamu tidak akan bisa menasehati Sam yang sedang jatuh cinta, Lia. Ibaratnya kau sedang menyuruh pemabuk untuk berhenti minum disaat dia sudah mabuk berat" kata Bayu lembut.


"Lalu aku harus bagaimana, kak?" tanya Lia.


"Biarkan saja dulu, awasi dan amati. Untuk Lian, informasi dari Sam kalau dia itu sangat baik dan polos. Dugaanku ada orang dibelakangnya, cari tahu dengan hati-hati karena pasti mereka sudah menyiapkan semuanya dengan sangat rapi" ujarnya lagi.


"Selalu dampingi Samuel, karena jika target dari musuhmu ini hanya Samuel saja, bisa dipastikan jika akan ada rencana lain dari mereka untuk selanjutnya terhadap Sam. Tapi jika target mereka adalah seluruh keluargamu, maka untuk beberapa waktu ke depan, posisi Samuel masih aman karena mereka alan lebih berhati-hati" saran Bayu terdengar lebih masuk akal bagi Lia.


"Kau benar kak. Memang sudah sepatutnya aku bertanya pada seorang dokter yang lebih bisa membaca karakter orang ya" kata Lia yang sudah bisa tersenyum.


"Lantas bagaimana dengan pria yang akhir-akhir ini sedang dekat denganmu itu?" tanya Bayu sedikit sakit hati, tapi demi kebahagiaan Lia, dia pasti bisa rela.


"Tian? Dia baik. Kami masih dekat di level biasa kak. Meski sebenarnya kami sama-sama saling tertarik" ujar Lia sedikit bersemu merah di pipinya.


Dan Bayu tidak suka saat Lia akan blushing terhadap pria lain. Meski hatinya sakit, Bayu berusaha tetap tenang, tak seperti Johan yang akan langsung bicara blak-blakan.


"Ehm, kau terlihat semakin putih setelah menetap hampir lima tahun di luar negri, kak. Pasti banyak wanita yang datang menggodamu, ya?" tanya Lia dengan candanya.


"Apa kau lihat aku semakin tampan?" tanya Bayu dengan wajah datarnya, sembari menghabiskan makan siangnya.


"Lumayan lah" jawab Lia tak mau jujur untuk kali ini.


"Kalau kau tahu aku tampan, kenapa kau tidak tertarik padaku saja? Kenapa susah-susah mencari pria lain di luaran sana?" tanya Bayu.


Lia tertawa mendengar perkataan Bayu yang dianggapnya hanya bercanda. Padahal sebenarnya Bayu serius saat mengatakannya. Hanya saja, saat serius ataupun bercanda itu sangat sulit untuk membedakannya. Bayu terlalu flat.


"Kakak ada-ada saja. Bisa diamuk Silvi kalau aku nekat mendekatimu, kak" jawab Lia.


"Jika seandainya Silvi tak ada hati padaku, dan hanya sebatas kekaguman, apa kau mau tertarik padaku?" tanya Bayu lagi.


"Ehm, sepertinya bisa dipikirkan ulang" jawab Lia sambil terkikik.


Lia tak tahu ada keseriusan dalam perkataan Bayu yang dinilainya hanya candaan semata.


Dan seperti biasanya, Lia selalu merasa lebih lega setelah bisa berbagi masalahnya dengan Bayu. Pria yang sudah lebih dari lima belas tahun selalu menemaninya dalam keadaan apapun sebagai sahabat.




Dua hari berlalu, hari pertama sekolah bagi Sam dan Mawan setelag kejadian pengeroyokan saat itu.

__ADS_1



"Eh Wan, tumben lo duluan yang datang daripada gue" kata Sam yang sudah terlihat sangat sehat, luka di keningnya hanya ditutup plester, sedangkan luka Mawan masih tetap ditutupi perban yang melilit.



"Babe gue terlalu semangat buat nganter gue ke sekolah, buat ngebonceng gue pakai motor baru. Makasih sekali lagi ya , Sam" kata Mawan.



"Iya sama-sama" kata Sam yang sudah duduk di dekatnya.



"Ehm, Sam. Apa Lian ada hubungi lo?" tanya Mawan sedikit ragu, dia ingin melihat tanggapan Sam saat membahas Lian agar tak salah langkah.



"Nggak ada Wan. Kalau gue chatt, dia balas. Tapi kalau gue telepon malah nggak diangkat" jawab Sam sambil celingukan, berharap bisa segera bertemu dengan Lian tentunya.



"Lo nggak ngerasa aneh gitu sama dia? Setelah ngajak lo ke pantai dan lo dibegal, terus dia seperti menghilang gitu padahal tahu kalau lo selamat" ujar Mawan.



Ekspresi Sam kembali berubah setiap kali ada yang berusaha menjatuhkan nama baik Lian di matanya. Sungguh Sam sudah di mabuk cinta.



"Lo mau bilang juga kalau Lian dalang dari semua ini?" tanya Sam sedikit ngegas.




"Memangnya ada yang bilang gitu ke lo? Gue sih nggak menyalahkan dia, Sam. Cuma gue khawatir sama keadaannya, kan kita nggak menemukan Lian di TKP saat itu" kata Mawan berusaha mengembalikan mood Sam.



"Oh gue kirain lo sama seperti kakak gue yang bisanya cuma menuduh Lian tanpa bukti" kata Sam.



"Lo benar Wan, gue juga merasa khawatir sama keselamatan Lian. Lagian kemana tuh anak ya, kenapa nggak muncul juga sih padahal sudah jam segini" kata Sam yang sedikit gelisah.



"Tuh tuan putri Lo masih otw kesini. Lelet banget dah jalannya kayak siput" kata Mawan berusaha melucu, berharap tembok es yang barusan Sam bangun bisa segera mencair.



"Lian, lo nggak apa-apa kan?" tanya Sam yang langsung bergegas menghampiri Lian yang baru selangkah memasuki kelasnya.



"Aku baik kok, Sam. Terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku. Kondisi kamu dan Mawan bagaimana? Apa kalian sudah membaik?" tanya Lian.


__ADS_1


"Gue sudah lebih baik, kalau si Mawan masih sedikit parah. Lihat saja dandanannya masih seperti mumi" kata Sam sedikit geram, inginnya Lian hanya perduli padanya, tapi ternyata Mawan juga diperhatikan.



"Sam nggak boleh gitu dong, kan Mawan sudah berani menolong kamu meski bersenjatakan pisang" kata Lian.



"Kok lo bisa tahu kalau gue pakai pisang buat melawan mereka, Lian? Padahal waktu gue lihat Sam yang hampir ditikam, gue nggak lihat kalau ada lo di sekitar sana" kata Mawan menanggapi candaan Lian.



Niatnya ingin menghibur hati Sam, tapi Lian malah kelepasan bicara dan Mawan kenapa jadi sangat tanggap begitu?



"Ehm, aku tahu dari cerita Sam. Hehe, iya kan Sam?" tanya Lian.



Sam sedikit berfikir, "Apa gue sudah cerita sama lo? Kan lo nggak angkat telepon dari gue, Lian" tanya Sam.



Lian jadi sedikit salah tingkah, tapi Sam tak melihat gelagat mencurigakan itu. Sementara Mawan, entah darimana jiwa detektifnya malah tumbuh subur. Gerak-gerik Lian terbaca ganjil dimata Mawan.



"Benar kok Sam, kamu cerita sama aku di wa. Apa perlu aku tunjukin ke kamu?" tanya Lian sambil menjulurkan ponselnya.



"Coba sini gue lihat" kata Mawan.



"Hush! Wan, itu nggak sopan namanya. Sudahlah Lian, gue percaya kok sama lo. Mungkin memang gue yang lupa. Yasudah, lo balik ke tempat duduk lo ya, sudah bel" kata Sam.



Lian bisa bernafas lega kali ini, nasibnya tertolong oleh nyaringnya suara bel hingga bisa membuyarkan interogasi pagi oleh Mawan.



"Ok, nanti kita ke kantin ya kalau sudah istirahat" kata Lian.



Meski sedikit aneh, Sam tentu senang karena Lian berinisiatif mengajaknya ke kantin. Biasanya mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca di jelas atau ke perpustakaan.



Mawan yang jeli semakin curiga terhadap Lian, tapi Sam yang sedang dilanda cinta malah semakin berbunga-bunga hatinya.



.


.

__ADS_1


.


__ADS_2