My Angel Baby

My Angel Baby
Perkembangan yang bagus


__ADS_3

"Hei pria pemalas, kau kedatangan tamu istimewa" ujar Merryl saat sampai di pusat cctv dan ada seorang pria tambun yang sedang tertidur di dalamnya.


"Oh, siapa itu?" tanya pria yang sedang terperanjat itu, bahkan dia hampir terjatuh dari kursinya.


"Hei Guntur, antarkan non Lia kemanapun dia mau. Dia adalah cucu dari Tuan Abraham. Jadi, perlakukan dia dengan baik" ancam Merryl.


"Baiklah cantikku, terimakasih telah mengantarkan tamu agung ini kemari" kata Guntur dengan kerlingan nakalnya terhadap Merryl. Membuat Lia dan ketiga temannya hanya bisa saling pandang dan merasa jijik.


"Saya pergi, non Lia. Silahkan utarakan semua maksud anda pada pria ini" ucap Merryl sambil berlalu, bahkan sebelum Lia sempat berucap Terimakasih.


"Baiklah, Apa benar anda nona Lia, putri dari tuan Vicky?" tanya Guntur sambil melihat ke buku catatannya yang ada di atas meja.


"Ya" jawab Lia singkat.


"Baiklah, mari ikut saya ke ruangan anda" ucap Guntur sambil mempersilahkan Lia dan temannya untuk berjalan mengikutinya.


Guntur menaiki lift dalam waktu yang cukup singkat, dan setelah keluar, ada beberapa ruangan besar dengan nama divisi berbeda di setiap pintunya.


Rupanya ruangan yang papanya sediakan berada lantai tiga. Guntur membuka sebuah pintu bercat coklat dengan tulisan Family Magazine crew.


Tempat yang cukup bagus dan luas karena ruangan itu cukup besar dengan dua penyekat yang berada di ujung ruangan dan diberi meja kerja di kedua sisi dan satu set sofa yang diperuntukkan jika ada tamu yang datang. Ada kamar mandi juga di dalamnya.


"Uwah, ruangannya sangat menarik. Papamu sangat baik, Lia" ujar Silvi yang langsung menduduki sofa empuk di hadapannya.


"Iya, akupun tidak menyangka jika papa memberi fasilitas yang cukup bagus disini" ujar Lia yang mengikuti pergerakan Silvi dan duduk dengan nyaman.


Terlihat dua orang wanita yang mengenakan semacam headphone dengan mic yang menyatu, mereka masih terlihat sedang berbicara dan asyik mengutak-atik keyboard untuk melihat layar komputer yang menyala di depannya.


Ken dan Bayu mendekati mereka dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Sementara Guntur masih berjaga di ambang pintu. Menunggu perintah dari para pebisnis kecil yang sedang mengawali karir mereka.


"Apa ada yang dibutuhkan lagi, non Lia?" tanya Guntur.


"Tolong ambilkan minuman untuk kami. Dan siapa yang bertanggung jawab terhadap ruangan ini, pak?" tanya Lia.


"Ada Pak Sis, pimpinan personalia yang biasanya diberi laporan oleh pegawai di ruangan ini" jawab Guntur, ternyata meski tambun dan mudah tertidur pria ini cukup bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.


"Baiklah, saya minta tolong untuk dipanggilkan Pak Sis dan jangan lupa ambilkan minuman sekalian untuknya" perintah Lia.


"Siap laksanakan, nona Lia" ucap Guntur sambil memberi hormat dan segera berbalik badan untuk melaksanakan perintah atasannya itu.

__ADS_1


"Uwah, kau keren sekali Lia. Sudah seperti bos sungguhan saja" kata Silvi sedikit terkikik.


"Tentu saja, kita harus tegas kan. Papa bilang untuk menjadi seorang pemimpin harus terlihat berwibawa" ucap Lia menirukan petuah papanya.


Lia mendekat pada Bayu dan Ken. Ikut melihat kegiatan kedua pegawainya yang masih belum bisa diganggu.


Rupanya, tugas mereka selain memberitahu informasi mengenai Family Magazine terhadap calon customer, mereka juga bertugas mengirim kumpulan foto pada orang-orang Ken di rumahnya yang bertugas mengedit dan mencetak foto itu menjadi majalah. Atau hanya mengirim file hasil akhir jika customer hanya meminta datanya saja.


"Semua mesin majalahnya kan ada dirumahmu ya, kak Ken? Kenapa tidak diletakkan di tempat yang berbeda, kak? Apa tidak terganggu dengan adanya banyak orang yang bekerja di rumah?" tanya Lia, membayangkan betapa ramainya rumah Ken dengan para pekerjanya.


"Model rumahku seperti gedung perkantoran ini, Lia. Ada sekitar sepuluh lantai dengan dilengkapi lift juga. Di bagian bawah adalah tempat usaha ayahku, dan di lantai sembilan dan sepuluh adalah rumah kami" kata Ken menjelaskan.


"Jadi, rumahku seperti sebuah apartemen. Tapi di lantai teratas, mamaku menyulapnya menjadi seperti kebun dengan banyak tanaman agar mama tak merasa jenuh saat harus stay dirumah dalam waktu yang cukup lama" kata Ken lagi.


"Uwah, pasti sangat menyenangkan" kata Lia sambil membayangkan rumah Ken.


"Percuma saja kau membayangkannya, Lia. Karena Ken tidak akan mengizinkan kita untuk bertamu ke rumahnya" kata Bayu dengan mata yang masih memperhatikan pegawai di depannya.


"Ayahku bilang, nanti kalau aku sudah dewasa dan mengerti dengan orang lain, maka aku sudah boleh mengajak temanku untuk datang bertamu. Dan sementara ini selama aku masih seorang pelajar, maka orang luar masih dilarang untuk datang" kata Ken.


"Kenapa memangnya? Apa gurumu tidak boleh berkunjung?" tanya Lia.


"Ada ruangan khusus untuk tamu. Tapi lantai sembilan dan sepuluh adalah kawasan terlarang untuk orang asing" jawab Ken.


Tak lama kemudian, seorang pria kurus berkacamata dengan beberapa berkas di tangannya datang dan masuk mengetuk pintu ruangan.


"Selamat sore, non Lia. Saya Pak Sis, yang selama ini mengontrol kinerja dari kedua pegawai anda" ucap pria kurus itu yang sudah duduk dengan serius di hadapan Silvi.


"Saya Silvi, itu Lia" jawan Silvi santai, menunjuk ke arah Lia sambil tetap memainkan ponselnya.


"Oh maafkan saya" ucap pria serius itu.


Lia, Bayu dan Ken mendekat. Kini mereka berlima duduk di sofa dan berniat memulai meetingnya sore ini agar bisa segera pulang.


"Saya Lia, pak. Jadi, bagaimana perkembangan dari Family Magazine ini menurut pandangan bapak?" tanya Lia.


Tapi belum sempat pria itu menjawab, Merryl datang dengan senampan penuh minuman dan camilan untuk Lia dan teman-temannya.


"Maafkan saya mengganggu, ini saya bawakan kudapan. Saya tahu kalian pasti sudah lapar" ucap Merryl tanpa rasa malu.

__ADS_1


Menurunkan isi dari nampannya dengan gerakan yang biasa saja meski hal itu membuat gundukan besar di dadanya tampil sempurna.


Lia yang belum terbiasa menjadi sedikit risih. Dia dan Silvi saling beradu pandang.


"Baiklah, mari kita bahas semuanya" ujar Pak Sis setelah kepergian Merryl.


"Maaf sebelumnya, pak. Siapa dan apa tugas Merryl yang sebenarnya di kantor ini?" tanya Lia penasaran.


"Wanita itu adalah pilihan dari pak Abraham, non. Kakek dari non Lia sendiri. Dan jabatannya di kantor ini sebenarnya setara dengan OB. Tapi, dia diberi akses yang cukup bebas oleh kakek anda dengan alasan yang sayapun kirang tahu" jawab Pak Sis.


"Untuk lebih jelasnya, bisa nona tanyakan langsung kepada pak Abraham. Dan sekarang, mari kita mulai meeting kita sendiri" kata Pak Sis melanjutkan.


Kini, kelima orang itu terlibat percakapan yang cukup serius. Sis menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti tentang perkembangan dari usaha kecil milik anak bosnya itu.


Beruntung mereka semua bukanlah anak dengan daya pikir yang buruk hingga Sis bisa dengan mudah memberi penjelasan pada mereka.


"Apa ada yang belum dimengerti?" tanya Sis setelah menjelaskan semuanya.


"Ternyata perkembangannya lumayan banget ya, kak. Dari modal awal kita, sudah berkembang lebih dari 50%" ujar Lia dengan senang.


"Jangan senang dulu, Lia. Kita masih belum memotong saldo itu dengan biaya gaji" ujar Bayu.


"Oh, tenanglah tuan kecil. Usaha ini masih berlangsung selama hampir tiga mingguan, dan sudah mencapai angka ini adalah hal yang luar biasa. Masih ada satu minggu ke depan untuk masalah gaji dari 2 orang customer service, 2 orang editor dan 1 orang serabutan" kata Sis.


"Laba yang kecil di awal usaha adalah lebih baik daripada minus. Karena kebanyakan perusahaan yang masih mengawali masa karirnya akan mengalami kerugian" ujar Sis lagi.


"Kita tertolong dengan adanya fasilitas dari orang tua kita, ya" kata Ken.


"Tidak masalah, tuan. Untuk belajar memulai bisnis, tidak ada salahnya untuk menggunakan fasilitas orang tua demi menghindari kerugian di awal-awal seperti sekarang ini" kata Sis.


"Benar. Baiklah, lalu bagaimana kinerja dari pegawai kita, pak?" tanya Lia lagi.


"Mereka bagus. Tidak pernah terlambat dan selalu profesional. Dengan gaji sesuai kontrak, mereka terbilang sangat memuaskan" kata Sis.


"Baguslah. Kalau begitu terimakasih atas bantuannya, pak" kata Lia setelah mengerti dengan semua hasil kerjasama mereka.


Selanjutnya, mereka berjanji jika ada kesempatan akan mencoba untuk lebih sering mengunjungi ruang usaha mereka dan akan mencoba untuk melakukan pekerjaan di dalamnya juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2