
...MAB by VizcaVida...
...|21. Penolakan Halus|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Pacar jadi-jadian?
Pacar kontrak?
Pacar musiman?
Atau, pacar sungguhan?
Jelas yang terakhir itu tidak mungkin. Angel tau tidak akan memasukkan opsi terakhir dalam bayangannya. Tidak masuk akal menurutnya. Mana ada pacaran sungguhan sama pria mapan seperti Louis? Dia hanya tidak ingin kecewa sendirian nantinya. Jadi, Angel terus membuat benteng untuk dirinya sendiri agar tidak terlalu besar kepala dan berharap cintanya yang diam-diam itu, terbalas.
Suasana berubah semakin canggung saat di ruangan Louis hanya ada dirinya dan juga si pemilik tempat. Mbak Rita masih sibuk dengan tim panggung di hall utama bangunan bertingkat lima belas ini.
Angel tau, Louis hanya menggertak Lukas agar tidak lagi muncul di perusahaan siaran miliknya karena cukup mengganggu bagi Louis. Tapi, entah mengapa, wajah Angel tak bisa berhenti merona saat matanya tanpa sengaja bersinggungan dengan milik Louis. Ah, dia terlalu besar kepala. Apalagi saat Louis mengatakan mereka akan bertunangan dalam waktu beberapa bulan kedepan.
That's impossible.
“Maaf, saya lancang bicara begitu. Saya hanya tidak ingin Lukas mengganggu kamu lagi. Selain itu, saya juga tidak nyaman dengan dia.”
Angel menatap lurus Louis dengan sorot yang begitu sendu.
“Kalau boleh saya tau, apa alasan anda sampai merasa tidak nyaman dengan Lukas.” tanya Angel mencoba menelisik meski tidak berharap mendapatkan jawaban. “Setau saya, sifat Lukas memang seperti itu sejak saya mengenalnya. Dia agak rese.”
Louis tersenyum dari tempatnya berdiri di dekat bentangan kaca yang menghadap jalanan kota yang terlihat mulai padat di jam tiga sore.
“Saya juga tidak begitu tau tentang Lukas. Tapi ada satu hal yang mengingatkan saya tentang masa lalu saat melihat Lukas. Jadi, saya merasa tiba-tiba tidak nyaman kalau dekat atau berada disekitarnya.”
Angel masih belum mengerti sepenuhnya. Tapi ia mencoba memberikan anggukan sebagai jawaban untuk informasi yang baru saja ia dengar dari Louis.
“Baiklah. Saya mau pamit kalau begitu.”
Mendengar Angel yang pamit undur diri, Louis membalik badan dan menatap punggung sempit Angel yang telah membelakanginya.
“Tunggu,”
Langkah kaki jenjang berbalut jeans hitam legam dan sepatu convers yang dikenakan Angel terhenti. Ia pun berbalik dan mendapati Louis yang sudah memangkas jarak dan berhenti tidak lebih dari satu meter di depannya.
“Ya, ada sesuatu yang bapak perlukan?”
Louis terlihat berfikir. Ia sedang sibuk menyusun dan merangkai kata untuk memberikan penjelasan pada Angel tentang pengakuan yang meng-klaim Angel sebagai kekasihnya.
“Eumm ... tadi ... maaf. Saya benar-benar meminta maaf sudah lancang mengatakan jika kami adalah kekasih saya.”
Seperti yang sudah di tetapkan oleh Angel dalam hatinya jika menjalin hubungan dengan Louis adalah sesuatu yang Impossible. Tidak mungkin terjadi.
“Saya tidak masalah, pak. Saya juga minta maaf karena saya tidak bisa menghentikan Lukas dan memintanya pergi, hingga membuat bapak merasa tidak nyaman.”
Louis menyarangkan telapak tangannya pada saku celana dan menatap Angel dengan sorot lembut.
“Itu bukan salah kamu. Saya cuma tidak ingin Lukas mengganggu kamu dan membuat kamu tidak nyaman juga.”
__ADS_1
Sejujurnya, Angel merasa baik-baik saja dan sama sekali tidak terganggu oleh sikap dan sifat Lukas. Mengingat mereka pernah berada satu sekolah dan pernah dekat juga meskipun ujungnya Angel harus menolak pernyataan cinta Lukas dan membuat pemuda itu patah hati.
“Ah, iya. Jadi intinya, saya dan bapak tetap pada posisi pegawai dan atasan.”
Louis menahan sejenak ucapannya di tenggorokan. Dia ingin menyampaikan sesuatu, namun masih mencari topik yang pas untuk memulai. Karena hal ini menyangkut hati.
“Itu ... seandainya saya—”
Kalimat Louis terjeda oleh panggilan telepon dari atas meja kerjanya. Ponsel mahal itu bergetar.
“Maaf, silahkan kamu kembali ke meja kerja kamu. Nanti saya panggil jika membutuhkan sesuatu.”
Angel membungkuk lima belas derajat, kemudian berlalu dari ruangan Louis dengan gerakan cepat.
Louis segera meraih ponsel diatas meja itu, kemudian menjawab panggilan yang ternyata datangnya dari sang mama.
“Ya, mam.”
“Kamu cepet pulang. Mama ada acara makan malam kecil sama teman mama.”
Louis mengerutkan kening. Apa hubungannya makan malam bersama teman dan dirinya? Apalagi teman disini adalah teman sang mama.
“Kenapa Louis harus ikut? Itu kan acara mama?” protes Louis tidak setuju, ia tidak ingin mati bosan karena topik pembahasan para orang tua yang pasti akan sangat membosankan.
“Pokoknya, pulang sebelum jam tujuh malam. Mama tunggu.”
Panggilan berakhir begitu saja. Louis semakin di buat kesal karena ada begitu banyak kejadian yang membuatnya kehilangan mood baik. Apalagi mamanya itu tidak suka dibantah dan Louis di paksa menuruti apa yang menjadi keputusan serta keinginan mamanya. Jika itu bukan mamanya, Louis tidak akan sudi menuruti.
***
Meskipun tidak suka, Louis tetap fair dan sampai dirumah sebelum jam enam malam. Ketika langkahnya yang lelah itu menuju dapur untuk mengambil air minum dingin dari lemari pendingin, ia menatap meja makan yang sudah dipenuhi hidangan jamuan yang beragam jenis. Louis menghitung piring yang terpasang diatas meja, ada sekitar enam piring. Wah, ternyata tamu mamanya lebih dari satu orang.
“Mama adain acara apa sih, bi?”
Wanita bernama May itu tersenyum hangat. Wanita yang bekerja disini lebih dari separuh usianya itu kemudian memberikan jawaban mengambang yang membuat Louis menebak-nebak sendiri jika ada satu maksud tertentu dari pertemuan ini.
“Kata nyonya ada pertemuan keluarga, den.”
Pertemuan keluarga? Keluarga yang mana?
“Pertemuan keluarga?” tanya Louis sembari mengerutkan kening karena semakin tidak mengerti. Bibi May mengangguk.
“Lho sudah pulang? Cepetan mandi sana, gih. Tamunya sudah dalam perjalanan kesini.”
“Sebenarnya ada acara apa sih mam?”
Jenita menatap nanar pada putranya. Ia menaikkan kedua telapak tangan menuju pinggang. “Nanti juga tau sendiri.”
Mendengar jawaban dari sang mama semakin membuat Louis kehilangan minat. Ia meletakkan gelas yang sebelumnya ia pergunakan minum ke dalam westafel cuci piring, kemudian berniat pergi dari sana dan membersihkan diri.
Tapi, suara Jenita yang berteriak di kejauhan membuat Louis kembali menghentikan langkahnya.
“Pakai pakaian yang rapi.” seru mamanya tak mau dibantah.
Hingga beberapa saat setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk mandi dan berpakaian, Louis keluar dari kamar untuk melihat keadaan.
Dan yap! Misi mamanya adalah mencoba mengenalkan Louis pada seorang wanita lalu berniat menjodohkan dengannya. Jika kalian bertanya bagaimana Louis tau akan hal itu? Jawabannya adalah pemandangan yang ada meja makan sana. Disana ada sepasang suami istri dan seorang perempuan yang duduk membelakangi keberadaan Louis saat ini.
Louis tidak bodoh. Ia tau tujuan mamanya sekarang. Tebakannya pasti tidak akan salah.
__ADS_1
Langkah gontai membawa pribadi Louis bergabung di meja makan. Ia berjalan sembari membenarkan letak jam tangan di pergelangan tangannya. Sesuai dengan keinginan sang mama, Louis berpenampilan rapi. Sebuah kemeja berwarna gelap, celana bahan warna senada, dan rambut yang ditata rapi menyamping membuat aura kharismatik yang diturunkan oleh Hutama kepada putranya itu, muncul dan menjadi daya pikat tersendiri bagi setiap mata yang memandang pada sosok Louis.
“Nah, ini yang ditunggu sudah datang.” kata Jenita menyapa Louis yang memasang ekspresi datar ketika berdiri dan hendak menarik mundur salah satu kursi yang ada disamping mamanya berada. “Lou, perkenalkan. Ini keluarga Tantono, pemilik kebun teh dan perusahaan pengolah teh terbesar yang ada di puncak sana.” kata Jenita. Ia lantas kembali melanjutkan bicara dengan menyebutkan satu persatu anggota keluarga tersebut kepada Louis. “Itu pak Rudi Tantono,”
“Halo, selamat malam Lou.”
“Selamat malam, paman.” sapa Louis ramah tamah. Ia bahkan tersenyum kaku, lalu membungkuk sebagai sapaan salam hormat.
“Nah, kalau itu istrinya, Anita Tantono.”
“Selamat malam Lou.” sapa wanita itu ramah.
Melakukan hal yang sama, Louis membungkuk lima belas derajat sebagai sapaan dan salam hormat.
“Dan itu, Liana. Putri tunggal keluarga pak Tantono.”
Gadis itu tersenyum hangat ketika tatapan matanya bertemu dengan Louis. Sedangkan Louis yang merasa tidak begitu tertarik dengan acara seperti ini, masih mempertahankan senyuman kaku dan wajah datarnya ketika menyambut uluran tangan gadis belia diseberang meja.
“Liana, panggil saja Lia.”
“Louis.” jawab Louis singkat, tidak banyak bicara.
Anita tersenyum senang melihat putri semata wayangnya itu sedang tersipu. Rupanya Lia setuju dengan perjodohan yang hendak mereka lakukan itu. Padahal sebelumnya, gadis itu menolak mentah-mentah acara tidak masuk akal di jaman modern ini.
Lain halnya dengan Jenita yang terlihat antusias, Hutama nampak tenang dengan wibawanya yang melekat kuat. Ia bisa membaca ekspresi wajah putranya yang terlihat tidak nyaman, dan sepertinya tidak setuju untuk acara ini. Ia bahkan tak lepas menyorot Louis yang mulai menarik kursi dan duduk dengan pembawaan tenang di tempatnya.
“Jadi, acara makan malam ini diadakan untuk tujuan apa, ma?”
Louis terkejut. Ternyata papanya juga tidak mengetahui tujuan mamanya mengadakan makan malam dengan keluarga Tantono yang sukses memiliki lahan teh berhektar-hektar itu.
“Ah, bagaimana kalau kita bicara sambil makan malam saja, pa?”
Hutama tak bicara, akan tetapi mengangguk. Kemudian mulai memimpin do'a untuk mengucap syukur atas makanan yang dapat mereka nikmati hari ini. Dan makan malam pun dimulai setelah Hutama mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk.
Pembicaraan seputar bisnis, saham dan lain-lain menjadi topik pembuka. Kedua kepala keluarga itu seperti cocok, ditambah Hutama junior yang memang paham betul akan hal itu, menambah keselarasan gaya hidup mereka. Kemudian tak lama dari itu, Jenita menyampaikan maksud dan tujuannya membuat acara ini.
“Louis sudah hampir tiga puluh satu tahun, tahun ini. Jadi, saya berniat mengenalkan dia dengan putri pak tantono.” katanya menginterupsi keheningan yang menjadi jeda. Ia menunjukan kalimat itu kepada Hutama, suaminya.
Bingo. Tebakan Louis sama sekali tidak meleset. Pertemuan dadakan ini memang dirancang mamanya untuk melakukan perjodohan. Louis memilih tetap tak bereaksi atas ucapan mamanya.
Louis batal menyendok nasi. Lengan bagian bawahnya menyentuh tepian meja seraya otaknya yang berusaha mencari kalimat penolakan halus agar tidak terlalu mempermalukan dirinya sendiri dan keluarga. Dia sama sekali tidak setuju dengan ide Jenita untuk membuatnya terikat dalam janji suci pernikahan, tanpa cinta.
“Lia gadis yang manis dan cantik. Sepertinya akan pas bila disandingkan dengan Louis.” kata Jenita, jumawa sembari menatap putranya sendiri dengan anak gadis keluarga Tantono secara bergantian. Ia bahkan lupa jika pernah mengagumi sosok Angel yang pernah membuatnya berandai memiliki cucu berwajah bule.
“Terima kasih atas pujiannya, tante.” sahut Lia malu-malu. Ia tak bisa membendung rasa bahagianya membayangkan hidup bersama pria tampan dan mapan seperti Louis.
Sedangkan Louis, ia mengeratkan kepalan tangannya hingga gagang sendok itu menekan kuat dan membuat buku jarinya memutih.
Dengan kemampuan dirinya yang biasa memperlihatkan ketenangan, Louis mulai berbicara.
“Sebelumnya saya meminta maaf untuk menyela pembicaraan.” kata Louis sedikit ragu, tapi memilih untuk tetap jujur. “Mam, apa tidak sebaiknya kita berteman saja dulu. Saling kenal satu sama agar tau kepribadian dan watak masing-masing.”
Jenita sudah mendelik lebar. Ia tidak suka dengan cara Louis menolak idenya. Ya tentu saja, Jenita orang pintar yang tau akan gerak-gerik perilaku seseorang, apalagi putranya sendiri.
“Dan saya rasa, saya juga harus bicara terlebih dahulu kepada seseorang.”
Semua tatapan tertuju pada Louis. Pria itu merasa senang karena berhasil membuat seluruh atensi berpusat padanya saat ini. “Saya harus membicarakan ini terlebih dahulu dengan kekasih saya.” []
###
__ADS_1
Wkwkwk, kekasih khayalan yang hanya ada dalam imaji kamu, maksudnya Lou?