
"Apa kamu percaya kalau kita hidup di dunia ini mempunyai kembaran, Lia?" tanya Johan sendu.
Dia sudah berada didalam ruangan Lia sore ini. Selepas bertemu dengan mominya tadi, Johan jadi merasa sedih. Bayangan masa lalunya kembali berkelebat dalam ingatannya.
Saat dimana mominya dengan tega berkeinginan untuk menghabisi nyawa Lia kecil yang saat itu masih seorang murid TK.
Mengingat itu semua membuat Johan kembali minder dan merasa tak pantas untuk sekedar dekat sebagai seorang teman untuk Lia.
"Lia, aku sedang bicara padamu. Kenapa kau diam saja sih?" tanya Johan lagi, menoleh pada Lia yang masih sibuk dengan layar laptopnya.
"Sebentar Jo, lagi tanggung ini. Tinggal satu laporan yang harus aku cek ulang" jawab Lia.
"Cg! Kau ini selalu sibuk sendiri dengan pekerjaanmu. Cobalah untuk menikmati hidup, Lia. Banyak sekali hal yang sangat indah yang sangat sayang sekali untuk kau lalui begitu saja" kata Johan yang kembali menatap rutinitas di pusat kota melalui kaca besar di ruangan itu.
Lia hanya diam, fokusnya untuk satu pekerjaan yang harus segera dia tangani sebelum mendengarkan curhatan bule galau yang akan butuh banyak waktu untuk diperhatikan selanjutnya.
Hingga beberapa menit berlalu, kopi dalam cangkir Johan sudah tinggal sedikit. Rasa peningnya sedikit terobati dengan menikmati pahitnya kopi tanpa gula sambil memandangi manusia yang berlalu lalang. Terlihat sangat kecil dari tempatnya saat ini.
"Enough Jo! Jangan lagi bersedih tanpa alasan" kata Lia.
Johan sedikit terkejut karena Lia yang tiba-tiba duduk menyandingnya di sofa panjang yang sengaja dia hadapkan pada jendela.
"Jangan melamun saja. Memangnya apa yang sudah terjadi padamu?" tanya Lia.
"Apa kau percaya kalau setiap orang di dunia ini punya kembaran meski bukan saudara?" kata Johan mengulangi pertanyaannya.
"Aku dengar sih begitu. Tapi aku tidak yakin juga sih. Karena aku belum pernah menemukan orang yang mirip denganku sampai saat ini" kata Lia.
"Kamu habis bertemu sama kembaran kamu ya?" tanya Lia dengan nada bercanda, tak biasanya cowok itu bertampang sedih begini.
"Aku tadi bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan momiku, Lia. Tapi saat aku menegurnya, dia bilang aku salah orang" kata Johan sambil menatap wajah Lia.
Terlihat raut wajah terkejut yang Lia tampakkan meski hanya sebentar. Mendengar jika akan berhadapan dengan wanita licik itu lagi membuat Lia sedikit berfikir negatif.
"Kau terkejut kan? Akupun sama. Sebenarnya aku rindu padanya, tapi rasa trauma atas semua kejahatannya membuatku merasa khawatir, Lia" kata Johan, sungguh hatinya bimbang kali ini, harus merasa senang atau sedih.
__ADS_1
"Seseorang bisa berubah, Jo. Semoga mamamu akan menjadi orang yang lebih baik setelah mendekam selama puluhan tahun di penjara" kata Lia.
Sebagai seorang wanita, Lia bukanlah tipe wanita yang bisa menenangkan dengan kata-kata. Jadi dia bingung harus bicara apa pada Johan kali ini.
"Ehm, tumben kamu tidak membelikan aku oleh-oleh?" tanya Lia, lebih untuk mengalihkan pembicaraan saja.
"Tentu aku membelikan sesuatu untukmu meski tidak di Raja Ampat. Tadi aku membeli ini di mall, dan saat itu aku bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan momiku. Atau memang dia adalah momi yang tak mau berterus terang padaku" kembali Johan teringat dengan kejadian tadi siang.
"Enough Jo. I dislike to see your ugly sad face" ledek Lia.
"Oke, kita bahas lainnya saja" kata Johan menyetujui.
"Misalnya" kata Lia.
"Sejauh apa hubungan kamu dengan Bayu saat ini, Lia?" tanya Johan.
Lia menghela nafasnya kasar. Setidaknya jangan membahas masalah Bayu juga kan kalau memang ingin beralih topik pembicaraan.
"Kenapa bertanya begitu?" tanya Lia.
"Kami tetap seperti dulu, sahabat yang lebih seperti kakak dan adiknya" jawab Lia.
"Ehm, adakah seseorang yang dekat denganmu secara pribadi saat ini, Lia?" tanya Johan.
"Hanya teman sebenarnya, tapi beberapa hari belakangan ini ada salah satu klien ku yang sepertinya menaruh hati padaku, Jo. Setiap hari dia meneleponku dan kami tak pernah membahas masalah pekerjaan saat kami mengobrol" jawaban Lia semakin membuat Johan merasa sedih.
Sampai saat ini, baik Johan dan Nayu sebenarnya masih sama-sama memperjuangkan untuk bisa mendapatkan hati seorang Lia. Tapi gadis itu sangat minim rasa pekanya terhadap masalah hati mereka.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau merasa cocok dengannya?" tanya Johan.
"Aku sendiri tidak tahu Jo. Aku tak bisa menentukan apa hatiku merasa bergetar atau timbul rasa yang spesial pada orang lain" ucap Lia santai.
"Jika laki-laki itu menyatakan perasaannya padamu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Johan lagi.
"Sebenarnya aku juga ingin seperti wanita pada umumnya, Jo. Ada seorang pria yang menjadi kekasihku. Menyibukkan diri dengan pacar, tidak melulu sibuk dengan pekerjaan" kata Lia.
__ADS_1
Johan semakin tak enak hati. Rasanya ingin sekali dia nyatakan rasa dalam hatinya untuk gadis di hadapannya itu. Tapi rasa sungkan lebih mendominasi terutama saat dia mengingat masa kecilnya, dan setelah dia bertemu mamanya tadi, semakin membuatnya merasa tak pantas untuk Lia.
"Kau tahu pepatah jika cinta itu tak harus memiliki, Lia?" tanya Johan semakin bersedih.
"Aku tahu, tapi aku tak menyetujui pepatah itu. Kalau menurutku, jika saling cinta maka berjuanglah. Jika salah satunya belum mengerti, maka jelaskanlah. Jika memang tak mengerti, maka carilah orang lain yang bisa mengerti perasaanmu" kata Lia sambil memandang indahnya hamparan kota dari balik jendela.
"Sayangi diri sendiri agar kau temukan bahagia, karena hidup itu cuma satu kali, Jo" ucap Lia, menoleh pada Johan dan memberikan seutas senyum.
Lia tak tahu saja jika dia sudah tersenyum seperti itu semakin membuat hati Johan berdesir hebat. Seperti ombak yang menepi ke bibir pantai, bunyi nyaringnya membuat otak Johan jadi tak bisa fokus. Lia terlalu berharga untuknya.
Ponsel Lia berdering saat Johan sedang memuaskan hatinya dengan memandangi wajah cantik itu.
"Aku senang sekali Jo, kak Bayu sudah menyelesaikan pendidikannya di LN" ujar Lia dengan riangnya, sementara Johan langsung memasang wajah kecut. Selalu saja Bayu membuyarkan kesenangannya.
"Baguslah. Dia sudah cukup tua untuk selalu berkutat dengan buku. Sudah seharusnya dia bekerja, tak lagi menjadi beban orang tuanya" jawab Johan sebal.
"Jo, jangan gitu dong. Kamu lupa kalau kak Bayu juga salah satu pemegang saham di Family Magazine dan juga di Nirwana Entertainment?" tanya Lia sedikit keberatan.
"Itu juga dia dapat dengan mengambil uang tabungannya sejak masih SD" kata Johan sambil terkikik.
"Setidaknya dia sudah menjadi anak yang hemat sejak kecil Jo. Tidak seperti kita yang masih suka berfoya-foya dengan uang orang tua kita saat seusianya" bela Lia.
"Aku sibuk belajar saat seusainya yang suka berhemat, Lia. Bahkan aku sedang berusaha mengobati hatiku atas semua kejadian yang telah aku alami. Bisa keluar dari rasa trauma di masa lalu itu sangat sulit" kata Johan.
"Iya, aku mengerti. Setiap orang punya pencapaian tersendiri dalam hidupnya. Sesuatu yang kita anggap biasa, mungkin bagi orang lain sangat berharga, kan?" kata Lia yang mengerti dengan kondisi dari masing-masing sahabatnya.
Johan akan banyak bicara tentang masalah hati dan traumanya saat tidak baik-baik saja, berbeda dengan Bayu yang hanya akan diam seribu bahasa saat sedang gundah, sedangkan Ken selalu menghamburkan uangnya untuk menyenangkan diri sendiri untuk mengobati luka hati, sementara Silvi lebih suka pergi treatment dan memanjakan dirinya saat hatinya sedang sakit.
Dan Lia, akan menjadi sasaran tempat curhat setelah hati mereka mulai sedikit tenang dan sudah mau berbagi kegundahan mereka.
Itulah yang membuat ke empat sahabatnya sangat menyayangi Lia yang lebih berfikiran terbuka.
.
.
__ADS_1
.