My Angel Baby

My Angel Baby
Bersiaplah Lian


__ADS_3

"Ibu? Tumben sekali ibu datang selarut ini?" tanya Lian sembari berusaha keras untuk membuka matanya.


Ini sudah bukan lagi larut malam, tapi sudah hampir pagi dan Lian mendapati Ery yang datang dengan tampang acak dan sepatu yang di jinjing.


"Diam saja kau gadis bodoh tak berguna. Biarkan aku masuk dan ingat, seharian besok jangan sampai ada yang menggangguku. Kalau ada yang datang kemari dan mencariku bilang saja aku tidak ada disini. Paham kau?" tegas Ery pada wajah lugu Lian yang seolah tanpa dosa. Gadis itu hanya melongo dan sesekali mengucek matanya selama Ery berbicara.


"Paham kan kau, Lian?" akhirnya sebuah bentakan harus Ery lontarkan karena Lian yang nampak tidak meresponnya.


"Mengerti, bu. Silahkan ibu masuk" ucap Lian sambil menutup pintu.


Ery memasuki ruang tamu dan memutuskan untuk duduk barang sejenak. Wanita itu nampak sangat letih. Terlihat saat dia berusaha memijit telapak kaki kotornya dengan jemari yang biasanya cantik.


"Ibu mau aku ambilkan air?" tanya Lian yang merasa kasihan.


"Boleh. Apa kau memasak makanan hari ini?" tanya Ery.


"Tadi aku hanya makan dengan telur goreng, bu. Kalau ibu mau, aku bisa menggorengkannya untuk ibu" tawar Lian berbasa-basi.


"Baiklah, aku mau dua telur mata sapi tanpa nasi dan juga teh hangat" ucapan Ery sedikit membuat Lian merasa menyesal karena telah menawarkan minum.


"Iya bu" jawab Lian yang mau tak mau harus membuatkan apa yang Ery pinta.


Tak berselang lama, kini rasa kantuk Lian sudah benar-benar hilang karena harus berkutat dengan dapur.


"Ini bu" kata Lian dengan membawa nampan berisi sebuah piring dengan dua buah telur mata sapi dan segelas teh hangat.


"Ibu datang sendirian saja? Tidak dengan supir?" tanya Lian, heran saja karena biasanya Ery selalu bersama supir dan berpenampilan cantik.


"Tidak. Aku bahkan kemari dengan berjalan kaki. Ahh, ternyata sangat melelahkan. Kau tahu, aku sudah berjalan hampir tiga jam tanpa henti. Berjalan melewati jalan kampung yang kotor dan kumuh demi tidak terlihat oleh anak buah Alexander yang menyebalkan itu" bibir Ery berceloteh panjang sembari memakan telur mata sapi dan sesekali menyeruput teh yang sedikit panas.


Lian hanya bisa diam dan berusaha menjadi pendengar yang baik. Memotong pembicaraan Ery saat emosi seperti sekarang ini hanya akan membuat Lian semakin berada dalam posisi sulit.


"Ah sudahlah, tidak ada gunanya juga berbicara padamu. Sekarang pergilah tidur. Oh iya, kapan haru terakhir ujianmu?" tanya Ery.


"Hari ini sudah hari terakhir, bu. Selanjutnya hanya diisi ujian praktikum saja untuk para murid yang nilainya dibawah rata-rata" jawab Lian lirih, dia ingat jika waktu untuk mencelakai Sam sudah dekat.


"Bagus. Besok bersiaplah untuk rencana kita" kata Ery.


Lian hanya bisa mengangguk dan berjalan pelan menuju kamarnya. Samar-samar Lian mendengar gumaman Ery.


"Kau boleh saja selamat untuk malam ini, Vi. Tapi dengan aku bisa mencelakai putrimu, dan sebentar lagi bahkan putramu, itu sudah membuatku merasa sedikit bahagia" gumam Ery.


Lian tak habis pikir, bagaimana bisa dia sampai masuk ke dalam jeratan Ery. Kini, Lian menyadari jika adanya Sam dalam hidupnya sudah terlalu penting. Bahkan Sam tahu apa isi hatinya meski dia tak mengatakannya.


Menghembuskan nafas berat, Lian berjanji dalam hatinya jika nanti dia berhasil mencelakai Sam, diapun akan mencelakai dirinya sendiri. Tanpa adanya Sam di dunia ini, diapun akan pergi.


Lian sudah bertekad dalam hatinya.




Bel berdering kencang, menandakan waktu untuk mengerjakan soal ujian sudah selesai. Guru penguji sudah mengunci komputer para peserta ujian agar tak lagi mengutak-atik perangkat komputer sementara jawaban mereka tentunya sudah tersimpan rapi di komputer induk.



"Ah leganya, ujian sudah berakhir" gumam salah satu murid.



"Jangan senang dulu, masih ada ujian praktikum" kata yang lainnya mengingatkan.



"Itu buat lo yang nilainya jelek, nilai gue bagus sih, jadi gue aman" komentar yang lain.



Sementara Lian hanya tersenyum dan memperhatikan sekitarnya. Suasana SMA yang pastinya nanti akan dia rindukan jika nyawanya masih melekat di badan kalau bisa melewati masa sulitnya yang sudah diambang mata.


__ADS_1


Tapi tak terasa bulir air matanya juga ikut turun saat menyadari jika dia harus mencelakai Sam di esok hari. Saat dimana sudah terencana tempat dan waktu untuk eksekusi dilakukan.



"Lo nangis, Li?" tanya Sam khawatir.



"Eh, enggak kon Sam. Kelilipan saja" sergahnya sambil mengucek mata.



"Oh... Gue kira nangis" ucap Sam yang tidak peka. Tapi di sisi lain cowok itu sangat perhatian pada Lian.



"Nanti ikut gue ke rumah sakit, ya? Gue mau jenguk kakak gue yang lagi ketiban sial, haha" tawa Sam terdengar renyah karena baru kali ini Lia yang tangguh terkalahkan oleh sebuah pisau kecil hingga kabarnya hampir membuat nyawanya ingin pergi.



"Kamu jangan jadi jahat, Sam. Kakak kamu sedang sakit malah ditertawakan" gerutu Lian sambil menggelengkan kepalanya.



"Iya, biar lo saja yang tetap jahat ya Lian" celetuk Mawan yang tiba-tiba ikut nimbrung di meja Lian.



"Gue sambit juga mulut lo, Wan" sahut Sam.



"Sudah jangan bertengkar. Aku pulang saja kalau kamu marah, Sam" kata Lian yang sebenarnya membenarkan ucapan Mawan.



"Jangan pulang dulu dong. Kan lo sudah janji mau ikut gue ke rumah sakit. Kebetulan hari ini gue bawa mobilnya kakak, jadi lo aman dari teriknya sinar matahari" kata Sam sambil menaik turunkan alisnya.




"Let's go. Tapi kali ini lo nggak usah ikut, Wan" kata Sam.



"Gue nggak minat, kerjaan gue hari ini banyak. Gue harus ngambil pisang di tempat yang waktu itu, Sam" kata Mawan mengingatkan kejadian pengeroyokan terhadap Sam di masa lalu, dan Lian hanya bisa menunduk tiap kali Mawan berusaha mengingatkan Sam akan kejahatannya.



"Ah lupain. Lo hati-hati di jalan, Wan. Apa perlu gue minta pengawalan dari anak buah papa?" tanya Sam yang sedikit mengkhawatirkan keselamatan Mawan.



"Nggak perlu, Sam. Yang jadi incaran mereka kan lo, bukan gue. Yasudah gue pergi dulu ya, takut kesorean" pamit Mawan sambil melambaikan tangannya.



"Yuk, Li. Kita pergi sekarang" ajak Sam dan Lian hanya bisa pasrah.



Beberapa menit berkendara, dua remaja itu sudah sampai di pelataran rumah sakit Persada, dan Sam membawa Lian berjalan memasuki rumah sakit itu cukup jauh. Menaiki lift hingga ke lantai enam, ruang VVIP nampak berjejer megah.



Tapi tetap saja tak membuat orang-orang suka untuk berlama-lama di tempat seperti ini. Lebih baik di rumah sendiri meski berkasur gabuk daripada tidur di ranjang nyaman tapi badan sedang tidak baik-baik saja.



"Selamat siang" ujar Sam saat memasuki ruangan Bougenville I, ada beberapa orang di dalam sana yang menimpali sapaan Sam. Lian sedikit gugup karenanya.

__ADS_1



"Siang" terdengar ucapan lirih daei bibir cantik Lia yang masih nampak lemah dan terbaring diatas ranjang.



"Nih kak, aku bawain buah-buahan biar kakak cepat sehat dan bisa cerewet lagi" kata Sam membiarkan Lian melangkah lebih maju dan menaruh bucket buah diatas meja nakas Lia.



Sudah ada banyak bucket dan ucapan 'Semoga lekas sembuh' yang berada di dalam ruangan itu. Padahal setahu Lian, masih baru semalam kakak daei Sam ini dirawat disini.



"Sayang, akhirnya mama bisa peluk kamu" ucap seorang wanita paruh baya yang masih nampak begitu cantik yang tiba-tiba menghambur untuk memeluk Sam saat wanita itu baru keluar dari kamar mandi.



Sam nampak begitu bahagia, dia membalas pelukan dari wanita yang Lian yakin adalah mamanya itu dengan tak kalah eratnya.



"Mama kemana saja sih? Sudah sejak hari Senin kemarin aku coba hubungi selalu saja sibuk. Padahal aku mau ujian nasional loh, ma. Kan aku butuh dukungan dan doa dari mama" ujar Sam manja dalam pelukan wanita cantik itu.



"Maafkan mama, nak. Ada sedikit masalah yang sudah bisa papa dan kakakmu atasi hingga membuat kakakmu jadi seperti ini" ucap Viviane sambil mengurai pelukannya.



"Siapa gadis cantik ini, Sam?" tanya Viviane yang menyadari jika Sam datang dengan seorang gadis cantik yang hanya berdiri saja sejak tadi.



"Oh, dia Lian, ma. Teman sekelas Sam. Dia cantik kan, ma?" tanya Sam manja saat Lian mencium punggung tangan Viviane.



"Dia nggak cuma cantik, Sam. Tapi juga sopan. Selama ini bahkan belum ada temanmu yang salim sampai mencium tangan mama selain Mawan" jawab Viviane bahagia.



"Tapi kamu juga harus tetap waspada, Sam. Nyatanya, burung Merak saat membuka bulunya dan terlihat sangat cantik, saat itu juga burung itu sedang bersiap untuk menyerangmu" ucapan Lia membuat Sam meliriknya dengan sangat tidak suka.



Sementara Lian hanya bisa menunduk takut, dalam hatinya Lian merasa jika rencananya sudah diketahui pihak keluarga Alexander, namun untuk sejauh ini dia sudah tak bisa lagi untuk mundur.



"Kakak ngomong apa sih? Sudah bagus Lian mau datang kesini untuk menjenguk kakak. Tapi malah sikap seperti ini yang kakak berikan padanya. Bahkan ini adalah pertemuan pertama kalian. Tapi kakak sudah menyindirnya dengan begitu keras" ucap Sam sedikit emosi.



"Lian ini anak yang baik, kak. Dia tidak akan pernah melakukan seperti apa yang kakak utarakan. Kenapa selalu pikiran buruk yang kakak berikan terhadap semua teman yang Sam bawa, hah? Apa kakak pikir kalau kakak adalah orang yang paling benar?" panjang lebar Samuel berpendapat kali ini jika sudah melukai harga diri Lian, sedalam itu dia jatuh hati padanya.



"Sudah nak. Jangan ribut di sini, ya. Mama mohon. Bukankah kalian juga sudah lama tidak bertemu? Apa kalian tidak rindu?" kata Viviane melerai pertengkaran kedua anaknya dengan kasih sayang.



"Ah, sudahlah. Lebih baik Sam pergi saja jika kehadiran Sam disini malah membuat Kakak merasa tak nyaman" kata Sam yang sudah ngambek.



"Ayo Lian, kita pergi. Maaf kalau perlakuan keluarga gue agak lain sama lo, ya. Gue yakin mereka cuma main-main saja, kok" kata Sam sambil menggandeng tangan Lian dan menariknya keluar ruangan tanpa memberinya kesempatan untuk berpamitan.



"Tunggu Sam. Tante, kak Lia, kami pergi dulu ya. Semoga kak Lia segera sehat" ucapan Lian masih terdengar meski Sam sudah menariknya hingga keluar ruangan.

__ADS_1



Viviane hanya bisa menarik nafas panjang, putranya masih sangat tempramental.


__ADS_2