My Angel Baby

My Angel Baby
Bawa Aku Ke Duniamu, Aku Bosan Dengan Duniaku


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|23. Bawa Aku Ke Duniamu, Aku Bosan Dengan Duniaku|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Tubuh ramping dalam balutan kemeja cream dan celana jeans coklat tua, rambut berwarna pirang yang menggantung di bagian ujung bawahnya secara alami. Bibirnya yang lembab, mata bulat sedikit ke abu-abu-an yang diberi pemanis eyeshadow berwarna peach yang sangat cocok, alis tebal membentuk bulan sabit natural yang tertata rapi tanpa di beri penebal warna oleh eyebrow, serta bulu mata lentik yang tersapu maskara tipis namun begitu nyata menghasilkan aura berbeda pada garis wajah si gadis, berhasil menghipnotis seorang Louis.


Benar-benar cantik.


“Tolong bantu saya.” pinta Louis tulus dan berhasil mengundang tatapan mata Angel untuk terkunci dengan manik coklat milik pria rupawan ini. “Saya harap, dan juga mohon sama kamu, Angel. Bantu saya. Kamu bersedia jadi pacar sementara saya, kan?”


“B-baiklah. Mari kita coba.” jawab Angel, tidak sepenuh hati.


***


Jika kalian mengira Jenita akan menerima kehadiran Angel dengan tatapan lembut penuh kasih dan apa adanya, kalian salah. Beberapa hari yang lalu Angel memang diterima dengan tangan terbuka dan di sambut penuh suka cita. Lain hal dengan sekarang. Kedatangan Angel bahkan sama sekali tidak diharapkan oleh wanita berusia lebih dari setengah abad itu.


Jenita menyorot Angel dengan raut wajah sinis ketika tau dialah wanita yang dimaksud Louis. Jenita mendadak tidak suka pada sosok Angel, padahal, beberapa hari yang lalu mereka baik-baik saja, bahkan Jenita membuka lebar kedua tangannya ketika menyambut kedatangan Angel pertama kali di rumahnya. Jenita beranggapan bahwa Angel adalah penyebab dari penolakan Louis kepada sosok Liana. Dia juga dianggap sebagai orang yang paling dan harus bertanggung jawab atas semua rasa malu yang ditanggungnya dari keluarga Tantono.


“Jadi, kamu kekasihnya Louis?”


Angel yang duduk bersebelahan dengan Louis tampak takut. Kepalanya tertunduk, telapak tangannya dingin, diam-diam meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Kedatangannya di kediaman keluarga Hutama terbilang mendadak tanpa direncanakan matang. Louis meminta dan mengajaknya bertemu Jenita setelah ibadah mereka usai, tanpa membuang waktu lebih lama.


“Ya. Mama seharusnya sudah bisa menebak dan tau jawabannya tanpa harus bertanya lagi.” sahut Louis sinis ketika memberi jawaban yang sama sekali tidak diinginkan Jenita.


“Mama tidak bicara sama kamu, Lou.”


Louis menahan semua gejolak dan rasa kesalnya dalam diam. Dia menoleh ke arah Angel dan merengkuh telapak tangan Angel dalam genggaman telapak tangan besar miliknya. Hal itu sontak membuat Jenita melebarkan kedua matanya.


“Dan mama seharusnya memang tidak membutuhkan jawaban apapun.” sangkal Louis tak mau kalah. Dia tidak ingin mengulangi kesalahannya dahulu. Kali ini, dia akan berusaha yang terbaik untuk dirinya sendiri, melindungi dirinya sendiri dari rasa sakitnya hati ketika di patahkan. Dan tentu saja dia juga harus bisa menjaga perasaan Angel meskipun mereka tidak benar-benar menjalin hubungan. Kata-kata mamanya pasti akan sangat menyakitkan, sama seperti yang diterima Caca dahulu.


“Sejak kapan kalian menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih?” tanya Jenita menelisik. Ia melihat keraguan dari sepasang mata abu-abu milik Angel. Ia yakin pasti gadis itu akan terjebak pertanyaan yang ia lontarkan, dan berkata jujur.


“Mam,”


“Diam!!” sentak Jenita pada Louis hingga membuat Angel memejamkan mata karena terkejut. “Mama sedang bicara dengan dia!” serunya tajam dengan wajah penuh amarah sambil menunjuk presensi Angel.


Saat ini, Angel bisa merasakan genggaman tangan Louis semakin erat pada telapak tangannya, seolah memberitahu jika Angel hanya perlu yakin pada jawaban dan dirinya sendiri agar Jenita percaya jika mereka berdua memang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


“Jawab pertanyaan ku! Jangan hanya diam saja seperti orang bodoh.” teriak Jenita sangat keras hingga Angel merasa jantungnya seperti berhenti beberapa detik. Angel bisa merasakan berada di pusaran titik puncak kemarahan Jenita. Rasanya begitu menakutkan.


Ini memang salah Louis jika dilihat dari sudut pandang wanita itu, tapi Louis juga berhak menentukan pilihannya sendiri, bukan malah menjadi boneka oleh mamanya sendiri. Angel mencabut kata-katanya yang pernah mengagungkan Jenita sebagai wanita sempurna ketika mendidik Louis dengan baik. Kini sifat wanita itu muncul ke permukaan, Angel melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia tidak sebaik yang Angel pikirkan. Wanita itu arogan dan suka memaksakan kehendak.

__ADS_1


“Kami menjalin hubungan sekitar satu bulan yang lalu.” cicit Angel dengan suara teramat kecil, nyaris seperti sebuah bisikan.


Jenita terlihat sangsi. Ia mengerutkan kening tidak percaya, lalu tertawa sarkas.


“Bohong. Kalian pasti merencanakan ini untuk membodohiku, bukan?”


Jantung Angel seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Jenita begitu menakutkan ketika marah.


“Mam, seharusnya mama bersyukur karena masih ada orang yang mau menerima putra mama yang hampir gi—”


“Kamu sudah mempermalukan mama. Mencoreng nama baik mama di depan keluarga Tantono.” teriak Jenita membumbung seantero ruang tamu yang sangat luas itu ketika mendengar sangkalan Louis yang kesekian kalinya.


“Lalu mama maunya apa?!” tantang Louis, dengan nada bicara sangat rendah dan menusuk. “Mau aku menikahi wanita yang sama sekali tidak aku cintai?”


Jenita terpaku. Ia menatap sendu manik mata Louis yang sempat redup karena berakhirnya hubungan dengan Caca. Bahkan mungkin luka hatinya belum sembuh sampai hari ini. Tapi harkat dan martabat tetap harus dijunjung tinggi oleh Jenita saat nama Hutama melekat pada dirinya. Semuanya begitu berat, tapi ia tidak bisa berbuat apapun selain menjaga nama baik sang suami.


“Kalau perlu, lakukan.”


Mendengar jawaban Jenita, Louis mengepalkan tangan dan mengeraskan rahang. Ia bahkan menatap nyalang sang mama untuk menyalurkan rasa marahnya tanpa suara. Jenita benar-benar sudah menguras habis kesabaran Louis hanya karena keinginan wanita itu menguasai hidup putranya sendiri.


“Kalau mama tetap memaksa, jangan menyesal jika Lou melakukan sesuatu yang jauh lebih mengecewakan dimata mama suatu saat nanti.”


Louis berdiri, meraih lengan Angel dan membawanya pergi dari rumah yang sekarang kembali ia rasakan bagai neraka. Baru saja dirinya ingin berdamai dengan semua hal, tapi mamanya sendiri bahkan terkesan tak mau memberi kesempatan. Louis kecewa, bukan pada siapapun, tapi pada dirinya sendiri. Ya, mungkin lebih baik membenci dirinya sendiri dari pada membenci orang lain yang akan menambah dosa dan memperberat amalan buruknya.


Ia membuka pintu depan dan mempersilahkan Angel masuk kedalam mobilnya. Setelah itu, ia menyusul masuk dan duduk di balik kemudi, lantas membawa Angel keluar dari kawasan kediaman mewah mama dan papanya.


“Pak, maafkan saya tidak bisa menjalankan peran dengan baik didepan nyonya Hutama.”


Louis menoleh sejenak, kemudian kembali menatap kepada jalanan sembari menetralisir kemarahan dan juga nafasnya yang kacau. “Kamu nggak perlu meminta maaf atau merasa bersalah atas kejadian ini. Semua kekacauan ini karena ulah saya sendiri.” sahut Louis meyakinkan agar Angel tidak menyalahkan dirinya atas kemarahan sang mama.


Louis menepikan mobil didepan taman yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan elite tempatnya tinggal, kemudian mengusap wajahnya kasar dengan penuh frustasi. “Oh, god.” rin-tih nya seakan lelah dengan hidup yang ia jalani. Bukan, bukan hanya ‘seakan’, tapi Louis memang lelah dengan hidup yang ia jalani saat ini. Semua berjalan baik kecuali kisah cintanya. Ia tidak menduga jika kisah cintanya akan serumit dan semiris ini.


“Saya yang harusnya meminta maaf ke kamu, Ngel.”


Kata-kata Louis membuat kepala Angel sontak menggeleng.


“Ti-tidak, tidak.”


Louis mengu-lum senyuman di bibirnya ketika melihat raut wajah Angel yang menggemaskan ketika panik. Ia baru menyadari hal itu.


Dengusan nafas Louis kembali mengudara diantara deru mesin mobil yang masih menyala. Tidak ada musik, hanya suara nafas keduanya yang membaur dengan udara pendingin ruangan mobil. Lalu, Louis mengarahkan kedua lengan kekarnya di balik kepala untuk sandaran dengan tatapan lurus keluar.


“Maaf, karena saya membuat kamu ikut terjebak di sirkle keluarga saya yang ... rumit.” kata Louis lembut. Ia hanya ingin berterus terang kepada Angel. Tidak ada yang perlu ditutupinya lagi didepan Angel. “Karena saya, kamu juga jadi tau bagaimana tabiat mama saya yang sebenarnya.”


Angel menatap fitur samping wajah rupawan Louis, kemudian ikut menyorot keluar, ikut menyelami perasaan Louis yang mungkin saat ini sudah kembali lantak tak bersisa karena kecewa.


“Kemewahan yang selama ini orang lain lihat, tidak seperti kenyataan yang terjadi didalam hidup kami. Memang, kami tidak pernah kekurangan dalam hal finansial. Tapi saya tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus dalam keluarga saya sendiri.”

__ADS_1


Angel merasa prihatin mendengarnya. Ia bahkan berkaca-kaca karena sedih.


“Saya tidak pernah bisa marah berlebihan ketika kecewa sama mama, karena saya pernah melihat bagaimana beratnya perjuangan mama saya untuk hidupnya dan untuk kami. Untuk saya dan Robert.”


Angel mengalihkan sorot matanya ke arah Louis sekali lagi. Pria ini sedang mencoba membuka masa lalu padanya ya? Angel bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


“Masa lalu kami tidak patut didengar orang lain karena sangat memalukan.”


Angel mengerutkan dahinya semakin dalam.


“Saya masih menyimpannya begitu rapi, jauh dalam laci memori saya. Dan saya tidak pernah bisa melupakan itu semua, meskipun bertahun-tahun saya sudah mencobanya.” Louis menoleh dan mendapati manik mata Angel yang teduh saat melihat dirinya yang menyedihkan. “Angel,”


“Eumm?” sahut Angel tanpa sadar dan berhasil membuat Louis tersenyum kembali.


“Bagaimana kalau hubungan yang kita rencanakan untuk mengelabui mama tadi—” Louis menjeda. Berusaha menimbang apakah keputusannya ini akan berdampak baik atau buruk kepada perempuan itu. Tapi, ia bertekad bulat untuk melangkah ke masa depan dan membuka lembaran baru. Ia juga berjanji akan melindungi Angel jika suatu saat nanti, terjadi hal yang tidak ia ingin kan lantaran kenekatan sang mama. “Maksud saya, ayo kita mulai hubungan ini dengan, sungguh-sungguh.”


Angel tertegun di tempatnya. Otaknya dipenuhi dengan kelebatan omongan-omongan orang yang beberapa hari ini sudah menghakiminya sebagai wanita buruk. Ia tidak mungkin bisa melakukan ini. Louis bukan orang yang pantas untuknya. Pria itu terlalu sempurna.


Tidak ada jawaban, dan Louis semakin memperjelas tujuannya.


“Jadilah kekasih nyata untuk saya. Bawa saya kedalam dunia kamu. Karena sekarang, saya bosan dengan dunia saya.” []


###


Eaaaaa ...


Boleh komennya, akak...☺️


Mampir juga ke cerita lain Author Vi's ya ... Konflik dan genre nya beragam, mana tau suka ye kan . . . Kuy lah👇


—Vienna


—Another Winter


—Wedding Maze


—Wedding Dust


—Me Gustas Tu


—White


—Adagio


—Ivory


—Green

__ADS_1


—JyRu


__ADS_2