
...MAB by VizcaVida...
...|37. Kita Ke Surabaya, Besok|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Mobil Louis sudah sepenuhnya meninggalkan rumah utama milik sang mama dan papa. Dia berhenti di salah satu area berambu lalu lintas bebas parkir untuk kembali melihat keadaan Angel yang sepertinya masih syok atas perlakuan mamanya.
Hatinya mencelos ketika mendapati tatapan mata Angel yang terlihat kosong. Louis merasa bersalah sudah melibatkan Angel kedalam lingkungan keluarganya yang bisa dibilang ... toxic?
Louis mengulurkan tangannya mengusap wajah Angel penuh kelembutan. Matanya sudah berkabut penuh airmata.
“Maafkan mama.” kata Louis mewakili sang mama.
Tidak seharusnya dia melakukan itu, tapi semuanya rela ia lakukan sebagai bentuk bakti seorang anak demi wanita yang pernah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya selama ini.
Angel yang mendengar suara Louis, segera mengangkat kepala. Dari tempatnya duduk dia bisa melihat kesedihan memenuhi raut wajah prianya itu. Angel tersenyum dan menyentuh telapak tangan Louis yang ada di sisi wajahnya. “Aku baik-baik saja. Mama kamu tidak salah apa-apa. Dia hanya berusaha melindungi kamu dari sesuatu yang mungkin menurut beliau salah.”
Kenapa Jenita menutup mata untuk gadis sebaik Angel?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Louis, dan berhasil membuat hati Louis semakin pilu hingga lelehan airmata sudah membasahi pipi tanpa ia duga sama sekali.
Melihat Louis menangis, Angel gelagapan. Dia melepas seatbelt yang mengekang tubuhnya, lalu bergegas meraih wajah Louis untuk ia usap. “Kenapa kamu menangis, sayang?” tanya Angel khawatir. Ia takut salah bicara dan membuat Louis terluka. “Maafkan aku jika aku salah bicara—”
“Tidak. Aku hanya kecewa, mengapa mama memperlakukan gadis baik seperti kamu, dengan cara seperti ini?” tutur Louis yang berhasil membuat Angel membatu. Sebaik itukah dirinya di mata Louis?
“Itu karena insting seorang ibu, yang mungkin tidak akan pernah salah.” jawab Angel jujur. Dia bahkan mulai ragu dengan dirinya sendiri yang mungkin nanti di masa depan akan mengecewakan orang lain. Terutama Louis, pria yang sudah mempercayakan hati padanya.
Ucapan Jenita tidak sepenuhnya salah, karena setelah perceraian kedua orang tuanya, Angel sempat mengalami trauma dan mentalnya sempat tertekan yang membuatnya tidak percaya sepenuhnya pada sebuah hubungan atas dasar cinta. Itulah alasan Angel selalu menolak kehadiran pria ketika usia remaja hingga menyentuh dewasa.
Tapi, semua pandangan akan rasa ketidak percayaan yang dijadikan Angel sebagai tameng untuk melindungi dirinya, runtuh perlahan-lahan setelah mengenal Louis dan memperhatikan pria itu setiap hari di tempat kerja. Angel jadi kembali bangkit dan mulai membenahi diri untuk membuka hati. Meski pada awalnya begitu sulit, tapi ia terus berusaha hingga akhirnya, dia jatuh cinta pada sosok atasan yang tidak mungkin ia jangkau.
Ya, Angel sengaja memilih orang yang sulit di jangkau agar dirinya masih memiliki batas dan tidak sakit terlalu jauh ketika perasaannya tidak tersampaikan. Tapi apa? Semakin hari, ia semakin mengagumi sosok Louis dan tidak bisa berpaling sedikitpun.
“Kamu benar, tapi menggunakan kekerasan itu salah besar. Tidak seharusnya mama memukulmu hanya karena dia kesal dan marah atas keinginannya yang tidak terwujud.”
Memang benar, tapi Angel masih bisa mentolerir apa yang dilakukan Jenita, karena memiliki alasan yang jelas. Dia hanya tidak ingin Louis jatuh pada pelukan orang yang salah. Yang mungkin, menurut insting Jenita, adalah dirinya.
“Mama keterlaluan,”
Angel mengusap lembut pipi basah Louis. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, sayang. Jangan seperti ini, oke?”
__ADS_1
Louis kembali menatap Angel. Dalam hati ia bersumpah untuk kesekian kalinya, jika dia tidak akan pernah melepaskan Angel. “Mungkin kamu akan menganggap ku pria tidak tau malu jika mengucapkan kata terima kasih.”
Angel tersenyum. “Tidak. Kamu lebih dari itu.”
Kening Louis berkerut mendengarnya. Apa maksud Angel?
Tawa dibibir Angel semakin lebar. Ia bisa membaca rasa penasaran di wajah Louis. “Kamu itu pria brengsek yang sudah berani merebut hatiku selama empat tahun, dan nggak peka-peka.”
Apa? Jadi—
“Kamu—”
Angel mengangguk sebelum Louis menyelesaikan ucapannya.
“Cukup menggelikan bukan? Aku mencintai atasanku yang saat itu memiliki tunangan. Mungkin kamu akan membenciku mati-matian kalau aku mengungkapkan perasaanku empat tahun yang lalu.”
“Kenapa harus aku?”
Angel mengedikkan bahu. “Entahlah. Inginnya cuma kamu, bukan orang lain.”
Topik sudah teralihkan sepenuhnya. Kesedihan yang tadinya memenuhi ruang kabin mobil, kini sedikit mencair oleh sebuah pengakuan yang dibuat Angel kepada Louis.
“Tapi untunglah, sekarang semua terbalaskan. Awalnya seperti mimpi saat kamu menawarkan sebuah hubungan padaku.”
Entahlah. Angel sudah kehabisan cara untuk mengungkapkan perasaannya, yang kini justru terdengar menggemaskan di telinga Louis. Wanita ini mencintai dirinya diam-diam, dan sekarang dia sedang berusaha mengungkapkan isi hatinya dengan cara yang membuat Louis ingin selalu menyunggingkan senyuman.
***
Kantor sudah riuh dengan desas-desus hubungan Angel dan Louis. Dalam forum gosip kantor, ada salah satu pegawai yang melihat Louis dan Angel sedang jalan berdua, dua hari yang lalu, kemudian mengambil gambar diam-diam dan mengirim foto mereka berdua makan di restoran mahal diluar jam kantor itu dalam grup yang diikuti hampir tiga perempat pegawai. Hal itu berhasil memicu asumsi mereka jika Louis dan Angel benar-benar memiliki hubungan spesial. Dan hari ini, hampir seluruh pegawai disini membicarakan Angel.
Ditambah lagi pengajuan cuti yang dilakukan Angel dan Louis secara bersamaan, mereka semakin menjadi-jadi.
“Kamu pasti mendengarnya kan, Ngel?” tanya Rita yang menata berkas untuk ia bawa saat menemani meeting Louis setelah jam makan siang nanti.
“Eumm.”
“Lalu, apa pendapat mereka benar? Apa kalian memang memiliki hubungan lebih dari atasan dan sekretaris?” kata Rita menelisik. Ia hanya tidak ingin termakan gosip dan ikut-ikutan berasumsi buruk pada Angel.
Perempuan dua puluh lima tahun itu mengangguk. “Kami akan menikah.”
Sumpah demi rumput yang bergoyang, Rita hampir mengumpat mendengarnya. Apa gosip itu benar? Gosip yang mengatakan bahwa Angel sudah memberikan tubuhnya secara cuma-cuma demi menjerat Louis?
“Menikah?”
Angel mengangguk lagi. “Ada satu hal yang membuat pak Louis ingin cepat menikahi saya, mbak.”
__ADS_1
Rita meneguk salivanya susah payah. Apa ia harus bertanya alasan itu juga?
Tapi belum sempat bertanya, Angel melanjutkan kalimatnya. “Saya tidak tidur atau menyerahkan diri untuk menjerat pak Louis. Ada masalah yang benar-benar pelik dalam keluarganya, dan membuat saya harus berjuang bersama dia, mbak.” kata Angel sedikit sendu. “Hubungan kami tidak seperti yang orang-orang bayangkan. Saya dan pak Louis mengambil keputusan ini juga tidak serta merta demi kesenangan. Kami tengah berjuang untuk sesuatu yang tidak harus diketahui oleh orang lain.”
Rita mengerti sekarang. Angel memang selalu bisa menjaga privasi Louis. Dan sekarang, masalah keluarga Louis pun, akan di tangannya.
Rita mendorong kursi kerjanya mendekat pada Angel, lalu memeluk perempuan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu. Ia mengusap dan menepuk punggung gadis yang sudah banyak menelan asam garam kehidupan itu, untuk memberikan dorongan semangat. “Semoga semuanya berjalan sesuai rencana kalian, dan menjadi keputusan yang akan membawa kalian dalam kebaikan juga kebahagiaan.”
“Ameen ... ” sahut Angel bersama senyuman yang membentang di bibirnya, dan membalas pelukan Rita.
Dan tanpa mereka duga, Louis keluar dari ruangannya, memergoki aksi peluk-memeluk seperti Teletubbies yang dilakukan dua sekretaris hebatnya itu.
“Ehm.”
Deheman Louis membuat mereka melepas tautan tangan dan menjauh. Hal itu membuat Louis mengu-lum senyuman dan membenarkan posisi jas nya.
“Materi untuk meeting siang ini sudah siap, mbak?” tanya Louis pada Rita yang memiliki usia tiga tahun lebih tua dibandingkan dirinya.
“Su-sudah. Pak.”
Louis tertawa, dan Rita terkejut dibuatnya. Pasalnya, selama bekerja disini dia tidak pernah melihat tawa lebar seorang Louis. Dia merasa menjadi pegawai yang beruntung seperti Angel.
“Ba-bapak tertawa?” tanya Rita jadi bingung sendiri.
“Iya, memangnya kenapa? Ada yang salah?”
Angel menyemburkan tawa. Wajah polos Louis muncul tanpa diminta. “Mbak Rita kaget, karena selama ini belum pernah melihat bapak tersenyum seperti itu.”
Jawaban sang kekasih membuat Louis menghapus jejak tawa di wajahnya. “Oh, begitu ya.” katanya polos. “Kalau begitu, selamat beristirahat. Jangan lupa makan yang banyak.”
Rita sadar kalimat itu ditujukan untuk siapa. Yang jelas bukan dirinya.
“Baik, pak.” jawab Angel dan Rita bersamaan.
Bagi Angel, tidak ada lagi hal yang perlu ia dengar dari orang lain, termasuk cemoohan banyak pegawai yang menyebutnya mura-han. Ia tidak peduli karena dia bukanlah perempuan seperti itu. Dia hanya perlu fokus pada tujuan nya bersama Louis. Dia hanya perlu mempersiapkan diri, untuk menjadi pendamping hidup pria yang ia cintai. Selamanya.
***
Dan setelah rutinitas hari ini berakhir, Louis mengantar Angel pulang. Kemudian tanpa Angel duga, pria tampan itu menyerahkan dua tiket pesawat kelas bisnis kepada Angel.
“Kita berangkat ke Surabaya, besok.” []
###
Alon-alon pokok kelakon a. k. a pelan-pelan asal terlaksana,
__ADS_1
sabar ya teman-teman ...☺️