My Angel Baby

My Angel Baby
Yes! Berhasil!


__ADS_3

"Sayang... Aku tuh rindu berat sama kamu. Kamu kemana saja sih? Aku kira kamu pindah ke luar negeri, tapi ternyata enggak. Kenapa kamu nggak menghubungi aku?" tanya Mila yang langsung memberondong Sam dengan begitu banyak pertanyaan.


"Siapa Sam? Pacar kamu ya?" tanya Lian tanpa ekspresi berlebih, membuat Sam semakin bingung.


"Siapa dia Sam? Jangan bilang kalau kamu selingkuh sama cewek ini" kata Mila dengan tampang judesnya pada Lian.


Sam jadi bingung sendiri. Tak pernah terlintas dalam benaknya akan berada di posisi seperti ini. Bisa-bisanya dia melupakan keberadaan Mila yang statusnya masih belum dia putuskan.


"Sam? Apa kabar lo? Nggak nyangka bisa ketemu disini" kata Nathan yang membawa dua buah es krim di tangannya.


"Eh, hai Nat. Kalian jalan barengan?" tanya Sam untuk mencari keselamatan diri.


"Gue cuma nganterin si Mila yang galau sejak lo tinggalin tanpa kabar" jawab Nathan, salah satu tangannya menyodorkan es krim pada Mila. Es krim strawberry vanilla kesukaan gadis itu. Sam hanya bisa melirik dengan ekor matanya.


"Lo kemana saja bro? Si Mila hampir depresi karena lo tinggalin tanpa kabar" kata Nathan lagi.


"Kayaknya kita butuh ngobrol berdua saja deh Sam. Ayo ke mobil kamu saja. Dimana kamu parkirin mobilnya?" tanya Mila.


Sementara Lian hanya memandang heran pada Sam. Dalam hatinya berkata, "Apa memang benar apa yang ibu Eri katakan bahwa Sam adalah anak dari orang kaya?".


"Gue nggak bawa mobil, Mil. Sekarang yang gue punya cuma motor ini" kata Sam menunjuk pada motor matic berwarna coklat yang Lia berikan padanya.


Mila memandang heran, tentu gadis itu tak percaya jika pangeran dari keluarga Alexander hanya mengendarai motor matic yang bahkan bukan keluaran terbaru.


"Kamu jangan main-main, Sam. Kamu bohong supaya aku ninggalin kamu gitu?" tanya Mila mulai bertampang sedih, sandiwara para wanita pecinta harta mulai dia lakukan. Hatinya masih tak percaya jika Sam tak mengendarai mobil.


"Suer, sekarang gue cuma orang biasa karena kakak gue yang punya andil terbesar di keluarga Alexander sudah tega membuang gue dari keluarga itu, Mil" Sam pun tak mau kalah untuk berdrama.


Apa saja akan dia lakukan agar Mila bisa dengan suka reka pergi meninggalkannya. Karena sudah ada Lian yang masik terlalu jauh ke dalam hatinya. Lian polos yang tak memandang orang lain dari harta duniawi saja.


"Tapi kayaknya memang motor ini deh yang Sam kendarai sewaktu kita ketemu di lampu merah waktu itu, Mil" kata Nathan mengingatkan Mila.


Mila sedikit berfikir, mengingat kejadian dimana dia berteriak kencang memanggil Sam yang tak terdengar oleh cowok itu.


"Kalian sering jalan bareng ya?" tanya Sam lagi.


"Penting buat kamu tahu tentang aku jalan sama siapa? Nathan cuma menghibur aku yang lagi sedih, Sam. Ternyata kamu kalah asyik sama cewek kampungan ini" kata Mila seolah menjadi orang yang paling tersakiti.


"Mulai sekarang, kita putus Sam. Aku nggak mau berhubungan sama cowok pembual kayak kamu" kata Mila sedikit berteriak, tak lupa tangannya sengaja mendorong dada Sam agar terlihat lebih menarik.


"Yes! Berhasil" gumam Sam dalam hatinya. Akhirnya kata putus itu keluar juga dari mulut Mila tanpa paksaan. Sam sangat lega.


Air mata keluar begitu saja saat Mila berdrama, Sam sampai heran bagaimana bisa Mila menangis secepat itu?


"Dasar wanita" gumam Sam dalam hatinya.


"Sam, kamu barusan putus ya?" tanya Lian yang sejak tadi hanya asyik menonton drama putus cinta ala Samuel.


"Hehe, iya Lian. Jadi, sekarang gue bisa bebas deh deketin siapa saja, termasuk lo" kata Sam sedikit tergelak, mencolek ujung hidung mancung Lian hingga gadis itu sedikit terkesiap.


"Enak saja. Kamu pikir aku bakalan mau gitu sama kamu? Wekk" kata Lian sambil menjulurkan lidahnya, lantas berjalan tak tahu arah dengan Sam yang memanggil namanya dari belakang.


Lian hanya tersenyum santai, dia tahu apa yang dia lakukan. Semua hal yang bisa menarik perhatian Samuel akan dia lakukan demi keselamatan ayahnya. Sungguh, belum ada rasa apapun dalam hati Lian terhadap Sam yang menjadi incaran banyak wanita.


Masih terlalu jauh urusan itu untuk menjadi prioritas di kehidupan Lian.


"Keinginanku hanya satu, bisa berdiri di kakiku sendiri saat sudah dewasa nanti. Jadi, sekarang saat ada kesempatan untuk belajar di sekolah, akan aku lakukan dengan maksimal. Tanpa harus memikirkan yang lainnya dulu" prinsip Lian dalam hidupnya saat ini.



__ADS_1


Hari ini Johan baru saja tiba dari Raja Ampat, satu hal yang dia lupa adalah membelikan hadiah untuk Lia, pujaan hatinya.



Jadilah dia pergi sendiri siang itu ke sebuah mall untuk mencarikan sesuatu agar bisa dibawa saat menemui Lia nanti malam di rumahnya.



Menuruni mobilnya dengan santai di parkiran basemen mall itu, Johan yang bertampang kebulean menjadi bahan yang indah untuk cuci mata.



Kaca mata hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih kemerahan membuatnya semakin terlihat macho. Setelan santai menjadi pilihan out fitnya hari ini.



Sedikit kebingungan, Johan tak mengerti selera wanita, apalagi selera Lia.



"Apa yang harus aku bawa untuknya?" gumam Johan sambil mengedarkan pandangannya, banyak sekali toko yang menjual keperluan wanita.



Hingga langkahnya yang tak fokus membuatnya tak sengaja menabrak seseorang saat berjalan.



Brugh!


Suara benda-benda berjatuhan menyadarkannya.




"Ouh, I'm sorry. Saya tidak sengaja" kata Johan setelah mengumpulkan kembali perlengkapan make up itu ke dalam tas milik seorang perempuan.



"It's ok. Tidak apa-apa" jawab wanita itu sambil menerima barangnya dari tangan Johan, dia tak bisa mengambil sendiri barangnya yang terjatuh karena pakaiannya terlalu minim bahan. Jika berjongkok, bisa dipastikan jika semuanya akan terlihat.



"Apa perlu saya ganti, madam? Saya takut bedak anda pecah karena terjatuh" kata Johan sambil melepaskan kacamatanya.



"Tidak perlu tuan. Tidak apa-apa, sungguh" kata wanita itu santai, sambil memandang pada Johan yang juga melihatnya.



"Wait! I think, I know who you are" kata Johan sambil berusaha mengingat sosok wanita yang tengah berdiri di hadapannya.



"Mom? Momi? Is that you?" tanya Johan yang cukup terkejut saat melihat wajah wanita fi hadapannya itu sangat persis dengan wajah Ruby, momi nya.



Wanita itu gelagapan, memang dia adalah Ruby yang kini lebih suka dipanggil Eri. Hatinya belum siap untuk bertemu dengan anaknya di waktu secepat ini.

__ADS_1



"Oh, bukan. Kamu salah orang. Aku bukan Momi kamu" kata Eri.



Setelah semua barangnya dia terima dan dia pastikan, Eri segera beranjak dari tempat itu.



"Tunggu! Wait! Tolong, berhenti sebentar nyonya. Saya hanya ingin bicara sebentar dengan anda" kata Johan yang tersadar dan ingin mengejar mominya.



Tapi Eri sungguh belum siap untuk sekedar menyapa anak semata wayangnya itu. Tanpa menoleh lagi, Eri segera pergi dengan langkah tergesa. Meski agak kesulitan karena dia memakai high heels.



Tak terasa air matanya terjatuh, meski tertutup oleh kacamata yang cukup besar, tak membuat raut kesedihan di wajahnya tertutupi.



"Tolonglah nyonya, saya ingin bicara sebentar" kata Johan yang sudah bisa mensejajari langkah wanita paruh baya itu.



"Tinggalkan saya anak muda, atau saya akan berteriak karena kau telah menggangguku" ancam Eri dengan masih mempercepat langkahnya.



Johan terdiam, seketika dia hanya bisa mematung dan melihat punggung wanita yang dia yakini adalah mominya itu semakin menjauh pergi.



Dan bisa dia lihat jika ada sebuah mobil yang menjemputnya setelah dia berhasil keluar dari mall itu.



Di dalam mobil Eri semakin merasa bersalah. Sebenarnya dia sangat merindukan putranya itu. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Johan di mall itu. Karena dari yang dia dengar, Johan dibawa Robi untuk tinggal di luar negri beberapa tahun setelah dia keluar dari bui, atas bantuan Vicky.



"Maafkan momi, Jo. Sungguh momi juga sangat merindukanmu. Tak ada siapapun lagi yang momi punya di dunia ini selain kamu. Tapi momi belum siap untuk bertemu denganmu, nak" isak tangis Eri semakin menjadi setelah duduk sendirian di dalam mobilnya.



"Kau tumbuh dengan sangat baik, Jo. Momi bahkan tak mengenalimu tadi jika kau tidak memanggilku dengan sebutan momi. Kau sangat tampan, nak" seutas senyum berkelebat di bibirnya sambil mengingat wajah tampan anaknya.



"Tunggu saat yang tepat nanti ya sayang. Kita pasti akan bertemu lagi" gumamnya sambil mengusap air mata. Berusaha tegar atas semua yang terjadi padanya.



.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2