
"Bu, apa pakaian ini tidak terlalu pendek untuk saya?" tanya Lian setelah menilik penampilannya di cermin dengan seragam waiters ala sailor moon dengan rok sangat pendek.
"Sudahlah Lian, pakai saja itu dan lakukan tugasmu. Semua pelayan bar ini memakai baju yang sama denganmu" kata Eri yang ternyata cukup mengesalkan jika mengobrol dengan orang yang terlalu lugu seperti Lian.
"Tapi bu, kalau saja berjongkok sedikit saja pasti dalaman saya terlihat" keluh Lian lagi.
"Diam dan lakukan tugasmu. Atau kalau kau tidak mau melakukannya, aku tinggal membunuh ayahmu dan kubuang mayatnya ke kandang singa saja, bagaimana?" ancam Eri.
"Jangan bu. Baiklah, saya mau melakukan tugas saya. Tapi benar kan bu kalau saya hanya menyiapkan pesanan para tamu? Ibu tidak berniat menjual diri saya kan, bu?" tanya Lian menegaskan.
"Tentu saja. Kalau masih ada yang menggoda mu dan kau terlalu risih, kau bisa melaporkan pada tukang pukul" kata Eri.
"Iya bu, terimakasih" kata Lian sambil beranjak dari kantor Eri.
Dengan langkah gontai dan sedikit pikiran, Lian menuruni tangga untuk segera bergabung dengan pekerja lainnya yang sudah bersiap sejak tadi.
Pandangan mata nakal para pria hidung belang mulai menatap nyalang pada Lian yang memang tak hanya berwajah cantik, tapi bodynya juga sangat menarik.
Tamu pertama yang Lian layani sudah sangat nakal. Berulang kali pria itu menggoda Lian, bukan hanya dengan kata-kata saja, tapi juga dengan tangan nakalnya. Hingga saat Lian sudah tidak tahan dengan pria itu, Lian melaporkan perlakuannya pada tukang pukul di bar Eri.
Dan seperti yang sudah Eri katakan, bahwa tukang pukul itu memang memihak pada para pekerja si sana.
Lian masih bisa bersyukur karena keamanannya masih terjamin di tempat itu.
Pagi hari seperti biasanya, Sam dengan kotak bekalnya datang untuk menemui Lian ditempat biasa.
Dengan pipi yang masih lebam kebiruan, Sam menahan sakit saat wajahnya harua dilindungi oleh helm saat berkendara dengan motornya.
Sam celingukan mencari keberadaan Lian dengan menunggu di mulut gang. Hingga seseorang datang.
"Nyari Lian?" tanya seorang pria yang hanya memakai kaos dalam dan bercelana pendek.
"Eh, iya pak" jawab Sam dengan senyuman.
"Elo yang kemarin mukul bapaknya si Lian ya?" tanya pria itu lagi.
Sam hanya mengangguk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lian dibawa sama pria yang mukul lo kemarin. Waktu lo lagi pingsan, tuh orang langsung bawa Lian pergi pakai mobil" kata pria itu sambil menghirup rokok di tangannya.
"Kira-kira dibawa kemana ya pak?" tanya Sam bertambah khawatir.
"Mana gue tahu. Bukan urusan gue juga. Lagian bapaknya si Lian itu suka banget cari masalah. Nggak sama orang komplek, nggak sama orang luar. Dasar memang dia itu pria bego pembuat masalah doang, kasihan banget si Lian" kata pria itu menggerutu.
"Yasudah, saya permisi dulu pak. Mau sekolah" kata Sam memotong ungkapan hati pria itu.
Tanpa menunggu jawaban pria itu, Sam langsung saja tancap gas menuju sekolahnya.
Pagi itu membuat suasana hati Sam semakin kalut. Entah mengapa wajah Lian terlalu sering berkelebat dalam benaknya.
Padahal gadis itu baru beberapa hari saja dikenalnya. Tapi rupanya nama Lian sudah tersemat di salah satu bilik hati seorang Samuel.
Hingga bel istirahat berdering, Sam masih saja murung. Siswa yang biasanya membuat suasana kelas semakin ramai itu terlihat sedang bersedih.
__ADS_1
"Lo kenapa tong? Gue perhatiin dari pagi tuh muka ditekuk mulu. Untung ganteng, meski muka lo sebel masih kelihatan cakep" ucap Mawan, teman duduk terdekat Sam.
"Nggak apa-apa, Wan. Lagi bad mood saja" jawab Sam sambil memegangi kotak bekalnya yang setiap harinya selalu menjadi jatah untuk Lian.
"Tuh makanan dianggurin doang Sam? Sayang banget. Buat gue boleh?" tanya Mawan.
"Nggak" jawab Sam sewot.
Segera Sam membuka bekalnya yang rupanya hari ini Gita membuatkan ayam krispi lengkap dengan sambal dan sayuran. Tak lupa kerupuk dan anggur hijau sebagai penutupnya, juga sekotak kecil susu.
"Bekal lo kayak anak sd" cibir Mawan yang tak boleh mencicipi.
"Biarin, lo pengen kan? Makanya ngeledek" kata Sam santai, menikmati bekalnya dengan wajah Lian yang masih terbayang.
Dan begitulah, sepanjang kelasnya hari ini Sam tak bisa berkonsentrasi. Hingga saat bel pulang berdering, tujuannya kali ini bukanlah ke rumah Gita.
Sam sedang ingin berkunjung ke kantor papanya untuk menemui sang kakak.
"Sore tuan" sapa resepsionis di meja depan. Semua pegawai kantor sudah tahu siapa Sam.
Sam hanya mengangguk dengan sedikit senyuman. Dia masih terlalu kalut untuk membalas sapaan semua orang.
"Kak, aku masuk ya" teriak Sam yang langsung memasuki ruangan kakaknya setelah menaiki lift.
"Tumben. Ada apa?" tanya Lia yang masih bergelut dengan layar laptopnya dengan kacamata yang diturunkan saat melihat ke arah Sam.
"Kak, tolonglah adikmu yang tampan ini" keluh Sam yang berlutut di sebelah kursi Lia.
"Berlebihan" kata Lia singkat.
"Kenapa pipi kamu lebam?" tanya Lia.
"Kakak tidak usah pura-pura tidak tahu" jawab Sam.
"Kak, tolong Sam untuk mencari keberadaan seseorang" kata Sam berterus-terang, dia tahu kalau kakaknya itu sangat tidak suka berbasa-basi.
"Siapa? Gadis itu?" tanya Lia menebak saja.
"Bagaimana kakak bisa tahu? Uwah, jangan-jangan kakak ini cenayang ya?" kata Sam yang masih sempat bercanda.
"Yang kakak tahu, namanya Berliana Indah Pratiwi. Putus sekolah karena tidak ada biaya, punya ayah yang suka mabuk dan berjudi. Dan sekarang, dia dibawa oleh pria misterius" kata Lia tanpa melihat wajah sang adik.
__ADS_1
"Jadi, kakak tahu dimana Lian sekarang?" tanya Sam penuh harap.
"Sayangnya kakak kehilangan jejaknya saat para pria itu membawanya" kata Lia.
"Oh nooo. Please kak, tolonglah untuk mencarinya" kata Sam merengek manja.
"Jangan bilang kau menyukainya" tebak Lia.
"Urusan anak muda, kak" jawab Sam.
Seketika Lia melotot dan melepaskan kacamatanya.
"Kau pikir aku sudah tua?" bentak Lia.
"Tentu tidak, kak. Kau hanya sudah dewasa, sedangkan aku kan masih remaja" jawab Sam.
"Bisa saja kau menjawab. Akan aku usahakan. Tapi aku tidak janji karena baik aku ataupun kak Ken sedang terlalu sibuk belakangan ini. Kami sedang mengurusi pembukaan cabang Nirwana Entertainment di kota lain. Urusanmu, akan berada di list selanjutnya" kata Lia.
"Jangan begitu dong kak. Keburu terjadi sesuatu pada Lian jika kakak menundanya" rengek Sam lagi.
"Iya, akan kakak usahakan" jawab Lia sesantai mungkin.
"Ah, kakak nggak asyik. Aku pergi sajalah" kata Sam mulai beranjak dari posisinya yang masih berlutut di sebelah kursi yang Lia duduki.
"Tapi kakak harus tetap mengusahakannya ya kak. Aku akan menunggu kabar dari kakak secepatnya" kata Sam yang berbalik sebelum benar-benar keluar dari ruangan Lia.
"Pergilah Sam. Akan kakak usahakan" kata Lia.
"Dan satu lagi. Inilah saat yang tepat untukmu menguji salah satu teman yang bisa kau jadikan orang kepercayaanmu kelak. Jangan hanya masalah hati yang kau utamakan. Karena banyak sekali manusia kotor dan licik yang akan kau temui di puncak karirmu kelak. Jadi, saran kakak. Carilah minimal satu orang teman yang bisa kau percaya dari sekarang" kata Lia cukup panjang.
"Iya kak, iya. Kakak hanya terlalu tidak percaya pada orang lain" jawab Sam.
"Pengalaman membuat kakak berhati-hati. Daripada kau sendiri yang mengalaminya, bukankah lebih baik belajar dari pengalaman orang lain, Sam" jawab Lia.
"Iya kakakku yang paling cantik. Pokoknya jangan lupa ya kak, tolong carikan Lian. Nanti akan kuberi hadiah yang sangat menarik kalau kakak berhasil menemukannya" kata Sam sambil mengerling nakal, membuat Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Sam yang sebenarnya sedang bersedih itu masih menampakkan siai cerianya.
"Aki tidak janji" goda Lia dengan wajah serius.
Sam hanya tersenyum dan melambaikan tangan sebelum pergi. Dia tahu kalau kakaknya hanya berkata omong kosong.
Lia masih perhatian padanya meski Lia tak pernah mengungkapkannya, hanya saja tindakannya selalu membuat Sam merasa disayangi.
.
__ADS_1
.
.