My Angel Baby

My Angel Baby
Bodoh


__ADS_3

"Keren bro, nggak nyesel gue ikut masuk ke dalam sini meskipun berbahaya" Mawan sedikit terkejut saat Willy dengan wajah sumringahnya keluar dari ruangan yang tadi dimasukinya.


"Sttt, jangan berisik Wil. Kita harus segera keluar dari sini" ucap Mawan sedikit tergesa, feeling-nya mengatakan akan terjadi hal yang tak bagus.


"Mau kemana bro? Pintu keluarnya kan sebelah sana" ujar Willy yang ingin keluar lewat pintu yang tadi dia masuki.


"Gue rasa sebaiknya lewat sana saja. Gue khawatir kalau mereka sudah kembali ke tempat semula, maka mereka bisa melihat kita keluar dari sini, kan?" kata Mawan tak setuju.


"Benar juga lo, bro. Kita cari jalan lain ya" ucap Willy setuju, dan perasaannya mulai menciut kali ini. Rasa takut sepertinya sudah menyeruak di dalam hatinya.


"Biasa saja sih muka lo. Ekspresi takut lo nggak bisa ditutupi" kata Mawan sedikit mengejek, dia tak menyangka jika Willy ternyata sepengecut itu.


"Sialan lo. Suasana genting begini masih sempat ngejek gue" kata Willy tak menyangkal jika dia memang merasa takut.


Mata Mawan semakin awas melihat ke segala arah. Dan benar saja jika banyak cctv terpasang disana. Beruntung dia sudah merombak penampilannya sedemikian rupa, dan sekarang, yang terpenting adalah bisa keluar dari tempat ini.


"Sial! Jalannya bercabang" gumaman Willy terdengar oleh Mawan yang mendapati wajah panik Willy.


"Kayaknya ke kiri, bro" kata Willy.


"Gue rasa kanan" ucap Mawan.


"Lo buta? Disana gelap, pasti buntu. Tapi di sebelah kanan lampunya terang, pasti kita bisa keluar jika lewat sana" kata Willy bersikeras.


"Oke, kita berpencar saja. Lo ke kiri dan gue ke kanan" balas Mawan.


"Oke. Dan jika lo salah jalan, sorry banget kalau gue nggak bisa bantuin lo" kata Willy dengan sedikit keberatan dengan barang rampasannya yang berada di dalam tas ransel yang dia bawa ke kampus hari ini.


"Oke, berlaku sebaliknya" balas Mawan yang tak menyangka jika selain pengecut, Willy ternyata juga tidak setia kawan.


"Apa? Lo berpikir kalau gue nggak setia kawan?".


Perkataan Willy membuat Mawan sedikit terkesiap sebab sepertinya dia tahu isi hati seseorang, atau hanya sebuah kebetulan saja?


Mawan memerhatikan lekat wajah Willy sebelum berpencar, sangat terlihat jika dia cemas entah karena apa.


Dan Mawan kembali melanjutkan langkahnya setelah Willy mendengus dan balik badan untuk mengambil arah sesuai hati nuraninya, begitupun Mawan.


Derap langkah Mawan seolah tak terdengar, dia sangat hati-hati agar bisa keluar dengan selamat dari tempat ini. Mawan masih sangat menyukai masakan emaknya, jadi dia harus selamat bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Penerangan yang sangat minim membuatnya harus ekstra jeli dalam melihat. Karena bisa saja ada musuh yang sengaja bersembunyi di suatu tempat.


Ceklek!


Benar saja dugaan Mawan, baru saja hatinya berucap untuk berhati-hati, sudah ada seseorang yang ingin masuk ke dalam sana.


Mawan segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Bersandar penuh awas di belakang lemari kabinet yang besinya terasa sudah cukup dingin.


Terlihat dua orang pria juga berjalan mengendap tanpa berinisiatif untuk menyalakan lampu ruangan. Mawan bahkan menahan nafasnya saat satu dari mereka berhenti melangkah dan berdiri di dekatnya sambil celingukan seolah tahu kalau ada dia di sekitarnya.


Dan keberuntungan masih berpihak padanya setelah beberapa saat memastikan, pria itu nampak mulai melangkah lagi untuk lebih dalam memasuki ruangan itu.


Kini Mawan sudah cukup aman saat kedua orang itu sudah tak terlihat dari pandangan. Segera dia beralih ke pintu dimana dua orang tadi masuk.


Belum aman rupanya, Mawan masih harus mengintip dengan membuka sedikit pintu itu untuk memastikan jika tak ada yang melihat ke arah pintu itu.


Tapi memang dasar penjahat yang memang suka menyelundup, Mawan melihat ada seorang pria bertato dengan badan gempalnya sedang awas memandangi pintu dimana Mawan ingin keluar.


"Sial! Gue harus nunggu sampai kapan ini biar tuh orang pergi" gumam Mawan sedikit khawatir. Takut saja jika dia orang dibelakangnya akan kembali ke tempat ini.


Seutas senyumnya mengembang saat pria itu pergi. Mawan segera keluar dan memandangi ruangan dimana dia baru saja keluar.


Nampak ada tulisan 'Toilet dalam perbaikan' yang menggantung di daun pintu ruangan yang tadi.


Mawan sengaja menggunakan baju double untuk memudahkannya dalam menjalankan misi.


Kini, dia hanya mengenakan kaos oblong dengan celana pendek dan memasukkan bajunya ke dalam tas punggung kecil yang dia selipkan di dalam bajunya tadi. Tak lupa sekalian dokumen yang baru saja ditemukan, dia masukkan ke dalam tas itu.


"Sialan! Merepotkan saja!" telinga Mawan mendengar seseorang sedang mengumpat, tapi derap langkah yang dia dengar tak hanya satu orang saja. Kembali mode awas dia aktifkan.


"Gue harus bisa keluar dengan selamat, gue masih sayang sama emak" gumam Mawan bertekad dalam hatinya.


Setelah mendengar suara daun pintu yang sedikit di gebrak, Mawan segera keluar dari bilik toilet dan berhasil kembali ke dalam bar.


Hiruk pikuk suara dentuman musik dengan para wanita yang menari diatas meja bertiang besi nampak membuatnya sedikit kaget, karena wanita diatas meja itu hampir tel*n**ng.


Sontak Mawan membelalakkan matanya seolah tak percaya. Dia masih terlalu bau kencur untuk melihat dunia yang begitu luas dengan bermacam-macam isi dan jenisnya.


"Gila sih. Dosa nggak kalau gue sedikit lebih lama" gumamnya, malah kini badannya sedikit bergoyang karena tak sengaja menikmati dentuman musik yang lantang dan menyenangkan.

__ADS_1


Tapi saat kebetulan dia melihat para kru dari bar itu yang nampak masih belum bisa menemukan targetnya, Mawan terbangun dari kenyamanannya.


"Nggak boleh kayaknya, gue harus segera keluar" gumamnya lagi.


Diapun melangkah menuju pintu keluar dengan mata masih mencuri pandang pada para wanita penari itu, bahkan badannya masih ikut bergoyang sambil berjalan pelan mengikuti irama musik yang di mainkan oleh dj cantik diatas panggung sana.


"Kalau sudah dewasa, sesekali boleh kayaknya gue main ke tempat beginian" gumamnya sambil terus tersenyum.


Sedikit tergesa, saat Mawan sudah sampai di parkiran, rasa cemas kembali menggerogoti hatinya.


Takut saja jika seandainya para penjahat di dalam sana tiba-tiba melihatnya dan mengejarnya.


Kini ingatannya jatuh pada Willy. "Bagaimana nasib elo di dalam sana Wil? Semoga lo juga bisa keluar dengan selamat" kata Mawan dalam hatinya.


Dan rupanya, dia bisa aman saat melewati para security yang berjaga di pintu keluar masuk bar itu.


Mengendarai motornya, kini Mawan nampak sengaja berhenti di sekitaran bar itu. Memandangi gedung tinggi yang barusan dia kunjungi untuk mencari sesuatu yang bahkan tidak ada urusan dengan hidupnya.


"Heran gue sama diri gue sendiri" gumamnya.


"Kenapa juga gue bisa nekat mempertaruhkan nyawa gue cuma demi seorang Samuel? Bisa saja kan gue biarin saja tuh anak menyesal dengan sendirinya" lanjutnya bergumam.


"Tapi nggak apa-apa Sam. Karena lo dan keluarga lo sudah terlalu baik sama keluarga gue, jadi nggak ada salahnya kalau gue sedikit membayar hutang Budi ini atas nama kesetiakawanan" katanya dengan penuh kebanggan karena sudah berhasil keluar dari mulut buaya.


Tak begitu lama dia mematung di pinggir jalan seperti ini, Mawan dibuat terkejut saat beberapa orang terlihat keluar dari pintu samping bar itu dengan membawa sebuah bungkusan kresek besar yang digotong oleh beberapa orang dewasa.


Orang-orang itu terlihat buru-buru saat menaikkan bungkusan plastik itu ke dalam bagasi mobil yang sudah ditunggu.


Setelah memandangi sekitarnya, orang-orang itu masuk ke dalam mobil dan segera tancap gas.


Entah hal bodoh apa yang merasuki pikiran Mawan, malah dia dan sepeda motornya ikut tancap gas juga membuntuti mobil berkaca hitam itu.


Kenapa juga kamu tidak langsung pulang saja sih, Wan?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2