
"Chip ditanam di dalam tubuh? Apa ada yang seperti itu? Kau pasti hanya bercanda nyonya Alexander yang malang, hahahaha" ejek salah satu dari pria itu, dan gelak tawanya menular pada kawannya.
"Kalian tidak tahu saja jika orang kaya seperti kami bisa saja melakukan apapun demi keselamatan anggota keluarganya. Bahkan seluruh anggota keluarga kami, semua ditanam chip yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan kami dimanapun kami berada" kata Viviane dengan penuh percaya diri.
"Masak sih?" tanya salah satunya dengan tampang bodoh, memaksa tawanya untuk berhenti.
Kini kedua pria itu saling pandang, mulai merasa ketakutan dalam dirinya.
"Begini saja, ehm... Nama kalian siapa?" tanya Viviane.
"Apa gunanya kau tanya itu?" jawab pria itu.
"Setidaknya, nanti saat suamiku datang menjemputku dengan timnya dan anggota polisi, kalian berdua akan aku selamatkan dengan alasan telah melindungiku selama berada di tempat ini. Jadi kalian bisa selamat dan kembali pulang ke rumah untuk bisa bertemu dengan istri dan anak kalian, bagaimana?" tanya Viviane memberi opsi.
"Tapi gue nggak punya bini" jawab salah satunya.
"Pacar punya, kan?" tanya Viviane yang membuat pria itu terbayang wajah janda kembang yang menjadi incarannya.
"Sekarang sebutkan nama kalian" pinta Viviane.
"Gue Junet, tapi benar ya lo bakalan selamatkan kita?" tanya pria yang bernama Junet itu, pria berkumis tipis dengan jaket kulit berwarna hitam.
"Tentu saja, Junet. Aku akan mengingat wajahmu. Dan kamu, siapa namamu?" tanya Viviane pada pria kedua.
"Gue Ismail, panggil Is saja biar keren" kata Is, si bujang tua.
"Oh, tentu saja Is. Sekarang aku ingin ke kamar mandi, karena sudah sejak kemarin aku tidak buang air kecil. Rasanya sudah penuh. Boleh kalian bantu aku ke kamar mandi?" tanya Viviane.
Junet dan Is saling pandang, mencari jawaban dari wajah bodoh yang sama-sama kebingungan.
Viviane menyunggingkan sedikit senyuman, perkataannya telah dipercaya oleh mereka berdua. Sekarang yang dia butuhkan adalah membiarkan keduanya percaya padanya agar keselamatannya terjaga setidaknya sampai seseorang menyadari keberadaannya di tempat ini.
__ADS_1
"Begini saja, rubah ikatan di tanganku ini dari belakang badanku ke depan. Agar aku tidak begitu kesulitan untuk berjalan dan membersihkan diri di kamar mandi nanti. Dan kalian bisa menjagaku dari balik pintu" ucap Viviane.
Setelah sedikit berfikir, akhirnya Junet mau memindah posisi ikatan tali di tangan Viviane. Sekarang tangan Viviane yang terikat ada di bagian depan. Hal itu sedikit memudahkan pergerakannya.
Viviane sedikit lega.
"Sekarang antarkan aku ke kamar mandi, ya" kata Viviane.
"Kita gendong lo gitu?" tanya Is dengan wajah polos tapi Viviane tahu jika dia tidak merasa keberatan.
"Bagaimana kalau kalian buka dulu ikatannya sebentar saja. Nanti boleh kalian ikat lagi setelah aku selesai dengan urusan toilet" usul Viviane.
Junet yang merasa telah menaruh harapan terhadap Viviane demi keamanan keluarganya tentu setuju. Dia melepaskan ikatan di kaki Viviane dan membiarkan dia berjalan sendiri.
"Terimakasih karena sudah percaya padaku. Aku janji tidak akan ingkar untuk menyelamatkan kalian berdua" ucap Viviane sebelum masuk ke dalam bilik toilet.
Dan benar saja jika kandung kemihnya memang sudah sangat penuh dan minta untuk di keluarkan.
Sedang asyik dengan kegiatannya, rutinitas pagi manusia yang ingin membuang sampah di perutnya juga Viviane rasakan.
Tok... Tok... Tok...
Junet mengetuk pintu toilet dengan kerasnya, keraguan membuatnya bingung dan takut jika Viviane akan berkhianat.
Dan memang begitulah manusia, jika berada di tengah kaum pengkhianat bermuka dua, maka kewaspadaannya akan semakin tinggi dan sangat sulit untuk meletakkan kepercayaan pada orang baru.
"Hei nyonya, apa kau masih di dalam? Kenapa kau lama sekali?" teriak Junet setelah mengetuk pintu toilet.
"Iya, aku masih di dalam sini. Kalian tidak usah khawatir. Sebentar ya, perutku mulas sekali" teriak Viviane yang masih belum tuntas dengan urusannya.
"Sial, kenapa wanita sangat lama dengan urusan mereka" kata Junet sedikit curhat pada sahabatnya, Is.
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya Is.
"Lo harus siap seandainya nanti lo punya pasangan, Is. Masalahnya, wanita itu kalau dandan lama, kalau nyuci lama, kalau ke toilet juga gitu, lama banget" keluh Junet.
"Bini lo gitu?" tanya Is santai sambil menyulut rokok.
"Iya. Dan gue yakin semua wanita itu sama. Makanya kalau nanti lo punya cewek, jangan pernah lo membantah mereka kalau masih mau sama tuh orang. Kebanyakan kaum pria kayak kita ini sulit banget move on, Is" kata Junet yabg kepikiran istri dan satu anaknya di rumah.
Sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah memberikan nafkah dari hasil kerjanya yang tidak halal seperti ini. Kemiskinan yang dia rasakan membuatnya rela melakukan apapun demi menghidupi keluarganya meski dari jalan yang tidak benar.
"Mulut Lo, Net. Sudah seperti pujangga" ejek Is yang tidak sempat Junet balas karena pintu toilet yang terbuka dan menampilkan wajah Viviane yang sedikit lebih cerah.
Junet dan Is terpesona kali ini. Karena aura kebaikan sangat terlihat dari cantiknya wajah Viviane.
"Hei, jangan tatap aku seperti itu. Nanti aku bisa besar kepala, tuan" ucap Viviane sambil tersenyum dan sedikit memukul dada dadi Junet dan Is agar keduanya tersadar.
"Oh, maaf. Apa semua orang kaya pasti berwajah cantik sepertimu, nyonya?" tanya Is memberanikan diri sambil membuntuti Viviane dari belakang saat kembali menuju kamar isolasinya.
"Tidak semuanya juga. Wajah yang cantik itu tidak diperlukan jika hati kita kotor, tuan. Hati yang bersih dan memiliki banyak kebaikan di dalamnya akan terlihat lebih menyenangkan daripada wajah yang cantik tapi hatinya buruk. Apa kalian setuju dengan ucapanku?" tanya Viviane sedikit menoleh, melihat kedua pria itu berfikir.
Kedua pria itu semakin berfikir, beluk juga setengah hari mereka berdua bertemu Viviane, tapi sudah banyak kebaikan yang Viviane tanamkan di hati kotornya.
Seumpama debu tebal diatas genting di akhir musim kemarau, awal hujan yang sedikit membersihkannya adalah ucapan Viviane yang bisa membasuh hati Junet dan Is.
Viviane pun juga terdiam kali ini, Dia yakin jika Junet dan Is ini adalah pria yang baik tapi sedang tersesat di labirin kejahatan yang dipimpin oleh Ruby.
"Aku janji pada diriku sendiri, saat nanti aku bisa keluar dengan selamat dari tempat ini, aku berjanji akan membawa serta kalian berdua untuk hidup yang lebih baik" tekad Viviane dalam hatinya.
"Aku akan memaksa bang Vicky untuk mau menampung kalian berdua di salah satu bisnisnya agar keluarga kalian bisa hidup dengan baik" batin Viviane lagi.
"Dan semoga aku benar-benar bisa selamat dari dendam Ruby" doa Viviane dalam hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja dia merindukan Samuel. Bagaimana kabar anak bungsunya yang sebentar lagi akan melakukan ujian nasional?
"Semoga semuanya bisa cepat berlalu agar Samuel bisa fokus pada ujiannya dan bisa segera lulus" batin Viviane yang tiba-tiba merasa melow.