
...MAB by VizcaVida...
...|07. Hal Yang Tidak Bisa Di Pahami|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Hari Jum'at dinobatkan menjadi hari kemerdekaan bagi kaum pemburu dollar yang sabtu dan minggunya di nyatakan sebagai hari libur. Semua menyambutnya dengan suka cita, tak terkecuali Angel.
Pekerjaan yang menuntut profesionalisme, menguras tenaga dan otak, juga di wajibkan mengutamakan penampilan, tak sedikit banyak menjadi beban untuk Angel yang notabenenya adalah sebatang kara.
Tempat berkeluh kesah yang Angel miliki adalah rumah, dan tempat mencari ketenangan yang Angel percaya adalah tempat bekerja dan rumah ibadah. Hanya tiga tempat itu yang menjadikannya seperti orang lain yang hidup normal tanpa cacat di dalam hubungan keluarga. Mau bagaimana lagi, Angel tidak bisa lari kemana-mana, sebab dia memang tidak punya tempat untuk melarikan diri selain ketiga tempat yang selalu ia tuju tersebut. Ia di paksa keras menerima keadaan, tanpa diperbolehkan berharap.
Jam menunjuk angka empat sore, dan Angel sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, termasuk menyusun jadwal Louis untuk seminggu kedepan.
Ia mengemasi barang-barang nya yang tidak begitu banyak. Hanya ada ponsel, dan Tote bag yang hari ini menemaninya bekerja. Ia tersenyum ketika melihat layar komputer yang sekarang sedang menampilkan warna biru langit, nama perusahaan, dan diujung bawah terdapat nama Louis.
Lalu ia meraih mouse nirkabel, mencari tombol shutdown untuk mematikan komputer. Setelah itu, Angel meraih totebag nya dan berjalan meninggalkan meja kerja dan melakukan absensi pulang pada mesin ceklok.
Ketika semua sudah rampung, Angel segera memutar tumit, meraih gagang pintu, dan bergegas meninggalkan ruangan yang selalu membuatnya berada dalam satu oksigen yang sama dengan Louis, walaupun terpisah oleh kaca tebal yang menjadi penghalang dadakan ketika mama pria itu melihat ruangan putranya dan sang sekretaris membaur menjadi satu.
Louis sempat menolak usulan mamanya itu dengan alasan kurang efektif. Dan alasan lain lebih serius yang Louis katakan adalah, tidak akan terjadi apapun antara dia dan sekretaris nya, dan hal itulah yang memang menjadi nyata. Louis tidak pernah berbuat macam-macam atau hal aneh kepada sekretaris yang selalu ada di sekelilingnya. Tapi, keputusan sang ratu tetap valid. Kaca itu dibentangkan menjadi sekat yang memisahkan ruangan antara Louis dan dua sekretaris nya, Angel dan Rita.
Memikirkan tentang Louis, Angel baru ingat jika dia tidak melihat atasannya itu seharian penuh. Pria itu sibuk di lapangan bersama Rita untuk mengecek semua kesiapan panggung dan tim yang dibentuk untuk mensukseskan event besar yang akan digelar dua minggu kedepan.
Tiba-tiba langkah kaki Angel bergerak cepat menuju satu area yang ia tau merupakan tempat untuk mengadakan Event. Ia bahkan tidak peduli perutnya yang sudah keroncongan karena belum diisi sejak siang hari demi melihat sosok Louis sekarang, saat ini juga.
Sesampainya disana, dengan mudah Angel menemukan sosok yang sangat ia kagumi itu.
Pria yang memiliki tinggi lebih menonjol dari yang lain, kemeja biru langit yang dilipat sebatas siku, rambut pendek rapi menyamping yang di beri pomade, kulit putih dan wajah rupawan, Angel menggeleng samar mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu. Biar kan saja dia mengagumi dari jauh seperti ini. Karena jika sampai rasa kagumnya ini diketahui oleh si empu, Angel yakin hubungan mereka dalam bidang pekerjaan atau apapun, tidak akan baik-baik saja.
Satu helaan nafas mengudara dari hidung Angel. Baiklah, sudah cukup melakukan pengintaian diam-diam hari ini. Angel berencana akan membeli makanan dan satu cup kopi untuk menemaninya melihat drama di Netflix nanti. Mengakui jika dirinya tidak punya pasangan di malam minggu memang sangat memalukan, tapi berdiam diri di rumah lebih menguntungkan. Begitu prinsip Angel.
“Ups.” pekik seseorang ketika tidak sengaja menabrak Angel dan mengotori blazernya dengan se-cup capuccino panas.
Angel sedikit mengaduh dan mengibaskan blazer itu menjauh dari permukaan kulitnya, agar tidak melepuh terkena panas. Dan hal itu membuat rasa bersalah di benak pemuda yang menabraknya itu muncul begitu saja.
“Maaf, aku tidak hati-hati saat berjalan.”
Lokasi mereka memang berada di sudut bangunan yang menghubungkan dengan ruangan staff.
“Eh, kamu Angel kan?”
__ADS_1
Mendengar namanya disebut oleh orang yang ia rasa tidak pernah di kenalnya, Angel mendongak. Senyuman di wajahnya mengembang begitu saja setelah tau siapa yang ada di depannya kali ini.
“Lukas?” kata Angel yang kemudian diangguki oleh si pemilik nama.
Lukas adalah kakak kelas satu tingkat Angel ketika duduk di bangku SMA. Mereka sempat dekat karena Lukas memang mengejar Angel saat itu. Namun kedekatan mereka berakhir ketika Angel menolak pernyataan cinta dari si pria berwajah bule dengan pupil mata berwarna ocean blue itu.
“Rupanya masih inget sama aku ya? Kirain udah lupa.” celetuk pemuda yang tinggi badannya hampir sama dengan Louis itu. Namun yang membedakan, Louis itu memiliki wajah khas Asia yang begitu dominan, sedangkan Lukas memiliki wajah orang amerika bercampur Asia yang memang mampu membuat setiap kaum hawa yang melihatnya, ingin menjerit.
“Inget lah. Kamu itu makhluk paling usil yang pernah aku temui di dunia ini.”
Mendengar jawaban itu, Lukas cukup senang.
Usia mereka terpaut satu tahun lebih enam bulan. Namun sama sekali tidak terlihat karena mereka sama-sama terlihat lebih dewasa sekarang.
“Kamu kerja disini?” tanya Lukas ingin tau.
Angel mengangguk sebagai jawaban. “Sudah empat—eh, hampir lima tahunan disini.”
“Kerjanya apa?” tanya Lukas masih kepo. Matanya mengikuti garis hitam yang menggantung dileher Angel, lalu tertumbuk pada ID Card yang tersemat didalamnya. “Sekretaris.” gumam Lukas dengan mata sedikit melebar. “Jadi, kamu sekretaris Om Louis?”
Om?
Angel mengerutkan keningnya dalam.
“Louis, om kamu?”
Astaga, Angel sampai tertawa. Pria ini masih saja bertindak sesukanya seperti dulu. Suka mengganti-ganti nama orang, suka iseng, suka membuat kesal karena kesombongannya, dan satu hal lain, masih saja tampan seperti dulu.
“Kamu ini, masih aja nggak berubah.”
Lukas terkikik geli mengingat masa lalu tengilnya ketika usia SMA.
“Udah berubah kok, Jel—”
“Heh! Jangan panggil aku dengan nama itu lagi!” ketus Angel ketika ingat namanya yang bermakna malaikat itu, justru dirubah Lukas menjadi sebuah nama makanan yang Angel tidak tau entah dari mana asalnya, Jeletot. Kurang kerjaan sekali kan?
“Nama kamu Angel, Kan?”
Angel diam memperhatikan. Siap menerima keusilan lain pria bernama Lukong ini. Lho, kenapa Angel jadi ikut-ikutan menyebut nama usil yang ia anugerahkan kepada pria menyebalkan ini?
“An-gel. Dibaca Enjel. Jel, itu bagian nama kamu juga.”
Berurusan dengan Lukas membuat kepalanya mendadak pusing.
“Terserah kamu. Aku pusing, mau pulang.”
__ADS_1
“Lho. Boss nya belum pulang, kok pegawainya sudah semangat sekali pingin merat*?”
Astaga, kata-kata pria ini.
“Dia udah ada yang ngurus. Sekretaris lain selain aku. Jadi aku bisa pulang lebih dulu karena pekerjaanku udah rampung.”
Lukas tersenyum ceria. Satu ide muncul didalam kepalanya.
“Ngopi yuk. Mumpung belum kemaleman.”
Angel menatap heran. Bukankah pria ini tadi datang ingin menemui Louis. Lantas mengapa sekarang justru mengajaknya meminum kopi?
“Lain kali aja deh, Kong.”
Tuh rasain. Vibesnya jadi kayak penunggu hutan kan?
“Aku cuma sebentar di Jakarta. Jadi nggak ada waktu lagi untuk menunda reuni kecil-kecilan ini.” paksa Lukas yang membuat sisi diri Angel menimbang dengan cermat.
Yang Angel tau, Lukas meninggalkan Indonesia setelah lulus kuliah. Ia tinggal di Amerika bersama ayah dan ibunya. Lalu, dari berita di grup SMA yang ia ikuti, Angel mendengar jika Lukas sekarang menjadi seorang photografer sukses dan ternama disana.
“Aku traktir deh.” usulnya masih belum menyerah mengajak Angel menikmati sisa sore dengan meminum kopi bersamanya.
“Oke deh. Karena gratis, aku nggak mau nolak.” kilah Angel tak mau dianggap metrealistis, meskipun ia tau Lukas melakukannya dengan tulus. Pria ini, meskipun usilnya nggak ketulungan, kebaikan hatinya lebih besar dari sebuah gunung dan samudra.
Lukas tertawa keras hingga menarik perhatian beberapa orang yang sedang sibuk disana, tak terkecuali Louis.
Tatapan pria itu tertuju pada dua orang yang bercengkrama di bagian atas ruangan yang menghubungkan dengan ruang kerja staff administrasi perusahaan. Ia sedikit tercengang melihat kehadiran saudara sepupunya itu di tanah air. Pasalnya, yang ia tau Lukas sudah tidak berminat pulang kesini setelah mengubah kewarganegaraannya menjadi penduduk negara yang mendapat julukan dengan nama negara Paman Sam itu.
Entah mengapa, satu sisi dirinya begitu ingin tau ketika melihat keakraban diantara Angel dan Lukas. Ia sama sekali tidak tau jika mereka berdua adalah alumnus satu almamater. Lalu, fokusnya pada dua objek itu terpecah ketika Rita memanggil namanya untuk yang kesekian kali.
“Bapak sedang melihat apa?” tanya Rita, mengikuti arah pandang Louis yang ternyata tidak ada siapapun disana.
“Ah, tidak. Bagaimana tadi?”
“Nanti, Justin akan naik ke panggung setelah . . .(bla . . . bla . . .)”
Fokusnya kembali pecah. Ia tak mampu lagi mendengar dan menangkap suara Rita yang teredam degup jantungnya sendiri, juga rasa ingin taunya terhadap keakraban antara Lukas dan Angel.
“Ada hubungan apa mereka?” gumamnya dalam hati. “Kenapa mereka terlihat akrab begitu?”
Dan yang tidak disadari bahkan oleh Louis sendiri, raut wajah dan perilaku nya berubah menjadi sedikit kesal dan uring-uringan.
Ia tidak tau mengapa bisa jadi seperti itu.[]
###
__ADS_1
*Merat\= Pergi