My Angel Baby

My Angel Baby
Agenda Baru


__ADS_3

"Kak Gita banyak berubah ya, aku sampai pangling. Sekarang cantik banget" kata Lia memuji kakaknya.


"Kau ini bisa saja. Bagaimana kabarmu? Kenapa tidak mengabariku kalau sedang ada di Jakarta?" tanya Gita.


"Maaf kak, sebenarnya aku dan mama sudah tinggal disini, pernah aku mencari kakak ke rumah yang dulu tapi ternyata kakak yang sudah pindah" kata Lia.


"Iya, kami sudah pindah dari rumah itu Lia. Sudahlah, yang penting kita bisa bertemu lagi. Hai tante Ane, apa kabar?" tanya Gita menghampiri Viviane yang menggendong Sam.


"Baik, sayang. Kamu bagaimana? Kau memang semakin cantik" puji Viviane.


"Kami semua baik, tante. Kebetulan kami juga sedang melihat pertandingan karate disini, beruntung bisa bertemu dengan kalian" kata Gita sambil menyalami Viviane.


"Kakak nggak nyangka kalau kamu menekuni karate sampai menjadi atlit, Lia. Kakak saja sudah lama nggak latihan semenjak pindah rumah. Kamu memang hebat" puji Gita lagi.


"Siapa anak yang tampan ini, An?" tanya Lisa, mama dari Gita yang sejak tadi penasaran terhadap si kecil Sam.


"Ini anakku, mbak. Namanya Samuel, panggil saja dia Sam Adiknya Lia, dan ini suamiku, Mas Vicky" kata Viviane memperkenalkan keluarganya, tak lupa juga kedua orang tua Vicky.


"Bukankah kakek ini yang dulu pernah bertemu dengan kita di sekolah saat kau masih TK ya Lia?" tanya Gita, rupanya ingatan Gita sangat baik.


"Iya, kau benar nak. Kita memang pernah bertemu sebelumnya" ujar Abraham.


Gita hanya manggut-manggut, tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan orang lain. Yang penting mereka bisa saling menghargai, untuk selebihnya, itu urusan masing-masing.


Sementara para orang tua sedang asyik mengobrol, Ken membisikkan sesuatu pada Lia.


"Hei Lia, siapa kakak yang cantik ini? Kenapa kau tidak memperkenalkan pada kami?" bisik Ken.


"Oh, iya. Kenalkan kak, mereka ini sahabatku. Yang ini Kak Bayu, ini Kak Ken dan ini Silvi" kata Lia.


Gita menyambut uluran tangan mereka satu per satu dengan ramah. Melihat senyum di wajahnya, semakin membuat Gita tampak cantik.


"Kak Gita cantik sekali" gumam Ken yang terdengar di telinga Gita.


"Hei anak kecil, kau sudah pandai memuji, ya" goda Gita sambil mengacak rambut Ken yang malah cemberut.


"Aku ini sudah kelas sembilan, kak. Bukan lagi anak kecil" kata Ken yang tak suka dipanggil anak kecil. Padahal tinggi badannya tidak jauh beda dengan Gita.


Gita hanya terkekeh mendengar ucapan Ken yang merasa tidak terima.


Gita yang sejak dulu sangat menyukai drama korea membuatnya mengikuti cara berpakaian dan gaya dari para gadis disana. Jadilah dia semakin cantik di usianya yang kini sudah masuk perguruan tinggi.


Mendengar ucapan Gita membuat Ken malu sendiri. Pria remaja itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Dan pertemuan mereka masih terus berlanjut karena keluarga Lia yang turut mengajak Gita dan mamanya untuk ikut makan bersama dalam rangka kemenangan Lia hari ini.


Hingga saat sampai diujung hari, kembali geng Nirwana, ditambah Johan yang selalu memiliki Feeling untuk ikut melakukan panggilan Video dengan Lia dan ketiga temannya telah bersama di depan kamera masing-masing.


Lia lebih memilih menggunakan ponselnya dan rebahan diatas ranjangnya yang nyaman, sama seperti Silvi dan Johan. Sementara Bayu selalu menaruh sebuah buku di pangkuannya sambil menatap layar laptop yang terbagi empat, sedangkan Ken yang juga menatap layar laptopnya sembari ada ponsel yang menyala di tangannya.


"Kau seperti terlihat sedikit limbung saat pertandingan tadi, Lia. Padahal lawanmu tidak sedang melakukan penyerangan terhadapmu. Memangnya apa yang saat itu kau rasakan?" tanya Bayu saat mereka sedang membahas tentang pertandingan Lia siang tadi.


Bayu memang sangat jeli saat melihat segala sesuatu. Hal sekecil apapun selalu terbaca olehnya. Pria kecil itu sudah nampak perfeksionis sedari dini.


"Kak Bayu jeli sekali, aku saja tak sampai melihatnya. Yang aku tahu, lawan Lia tadi siang sangat menyeramkan. Wajahnya sangat kaku dan tegang kayak kanebo kering" kata Silvi sambil terkekeh kecil.


"Kak Bayu benar. Tadi aku sempat merasa seperti semua di sekitarku sempat berputar. Ehm, rasanya seperti saat kita mabuk perjalanan. Terasa pusing dan mual" kata Lia membenarkan ucapan Bayu.


"Oh ya? Kenapa bisa begitu, Lia?" tanya Johan.


"Entahlah, Jo. Itu terjadi setiap kali aku melihat mata lawanku itu. Jadi, aku menyikapinya dengan menanamkan telingaku dan berusaha tak menatap matanya lagi. Tapi aku berusaha membaca pergerakannya dari bahasa tubuhnya saja" jawab Lia sambil mengingat mata lawannya saat membuatnya merasa lemah tadi siang.


"Apa dia punya ilmu di liar karate, ya? Seperti semacam hipnotis?" tanya Silvi, sebenarnya dia hanya menduga saja.


"Uwah, bisa jadi itu. Buktinya, Lia jadi limbung hanya dengan menatap matanya saja kan" kata Bayu membenarkan dugaan Silvi.


"Aku senang kita sepemikiran, kak" kata Silvi senang.


"Itu kan curang, tapi memang siapa juga yang bisa tahu kalau lawan Lia yang tadi itu punya ilmu yang begituan. Kan nggak terlihat kalau hanya dengan mata biasa. Baru kalau mengalami sendiri seperti Lia, kita bisa percaya" kata Silvi.


"Anak buah ayahku, rata-rata punya ilmu yang begituan. Semacam hipnotis. Ayah bilang, itu untuk keperluan pekerjaannya" kata Ken yang sekali berkomentar langsung membuat teman-temannya merasa tertarik.


"Ku jangan bercanda, Ken" kata Bayu.


"Aku tidak bercanda, Bay. Tapi, ilmu itu tidak semua orang bisa mempelajari dengan mudah. Karena butuh konsentrasi yang sangat tinggi" kata Ken menjelaskan.


"Kau sendiri apa pernah mempelajarinya?" tanya Bayu, sepertinya dia merasa tertarik dengan ilmu baru yang seperti itu.


"Pernah, tapi itu cukup sulit. Lebih baik aku menghafal rumus untuk komputerku daripada berkonsentrasi dengan menatap tembok yang tak ada specialnya" kata Ken santai.


"Boleh nggak kalah salah satu anak buah dari ayahmu mengajarkan ilmu itu padaku? Sepertinya aku tertarik dengan hal yang baru begitu" kata Bayu sedikit ragu.


"Bisa saja, ayahku tidak akan keberatan jika hanya mengirim satu anak buahnya untuk kita" jawab Ken.


"Apa ada lagi yang mau ikut belajar?" tanya Ken.


"Sebenarnya aku juga mau ikut, apa boleh kak?" tanya Lia.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Lia. Kau sendiri bagaimana, Sil?" tanya Ken.


"Kalau kalian ikut, akupun juga ikut" jawab Silvi yang sebenarnya tak begitu tertarik.


"Kau tidak ingin mengajakku juga, kak Ken?" tanya Johan yang sedari tadi hanya menyimak.


"Kau terlalu jauh, Jo" jawab Ken.


Kau tenang saja, Jo. Saat nanti aku sudah mahir, aku sendiri yang akan mengajarkannya padamu" kata Lia yang tak ingin Johan bersedih.


"Kau memang yang paling baik, Lia. Terimakasih" kata Johan yang merasa senang dengan perhatian Lia terhadapnya.


"Seandainya aku bisa melihat pertandinganmu tadi siang secara langsung, Lia" kata Johan dengan wajah sok muram.


"Sudahlah Jo. Tidak usah sok bersedih begitu. Yang penting kan Lia menang" kata Bayu yang merasa jika Johan selalu saja mencari perhatian dari Lia.


"Terserah aku dong, kak" kata Johan.


"Sudahlah, kalian ini kenapa tidak bisa akur, sih" keluh Lia.


"Teman-teman, sepertinya besok kita harus ke kantor papanya Lia deh. Kan sudah tiga harian kita nggak melihat perkembangan usaha kecil kita" kata Silvi mengingatkan.


"Boleh juga, tuh. Bagaimana kalau pulang sekolah besok kita sama-sama pergi ke sana?" tanya Bayu.


"Yang penting papamu mengizinkan, Lia" kata Ken singkat.


"Tentu saja boleh. Besok sore ya kita ke kantor papaku. Besok pagi aku akan minta izin padanya" kata Lia.


Hati Johan sedikit tercubit tiap kali Lia merasa bahagia dan bangga saat mengucapkan kata papa.


Johan merasa bersalah karena pernah merampas Vicky yang ternyata adalah papa kandung Lia.


Hingga saat mereka sudah merasa cukup larut, maka sambungan video itu harus segera diakhiri karena besok bukanlah akhir pekan yang bisa membuat mereka tidur lebih lama.


Tapi dengan sambungan video kali ini, kembali mereka bisa mempunya satu kegiatan baru untuk diagendakan di kemudian hari, yaitu mempelajari ilmu hipnotis seperti yang telah Lia alami hari ini.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2