
...MAB by VizcaVida...
...|52. Usaha Berdamai|...
...Perhatian!...
...Novel ini akan segera tamat. Jika memungkinkan, author akan mempublish cerita baru dalam waktu dekat....
...Selamat membaca...
...[•]...
Louis yang baru saja menginjak lantai apartemennya, harus dibuat bingung, panik, dan juga khawatir sebab tidak melihat keberadaan Angel dirumah. Telepon Angel pun tidak direspon. Louis benar-benar kebingungan dan takut.
Tanpa peduli rasa lelah yang menyerang seluruh titik tubuhnya, Louis menyambar kunci mobil dan bergerak cepat keluar kembali dari apartemen untuk mencari Angel.
Pikirnya kacau, ketakutan akan terjadi sesuatu yang buruk memenuhi setiap detik ia bernafas. Apalagi setelah melihat beberapa barang belanjaan yang diletakkan begitu saja diruang tengah, menambah runyam isi kepala Louis saat ini.
“Kamu kemana sayang?” gumamnya pelan sembari menekan tombol lift dengan tak sabaran. Setelah pintu lift terbuka, dengan segera ia menekan tombol basement tempat parkir kendaraan penghuni apartemen.
Louis berlari dan melompat masuk kedalam mobil, kemudian mengemudikan dengan kecepatan lumayan tinggi untuk menyisir setiap jalanan ibu kota. Dia tidak tau akan pergi kemana, tujuan juga tidak ada. Yang terbesit dalam otaknya hanya segera menemukan Angel, dimanapun.
Louis menurunkan kecepatan mobil dan memasang earphone di telinganya untuk kembali menghubungi ponsel Angel. Tapi tetap nihil, tidak ada jawaban.
“Kamu kemana?” teriak Louis disertai pukulan keras pada stir kemudi untuk menyalurkan semua yang ia rasakan saat ini. Perasaannya campur aduk hingga membuat kepalanya pusing.
Di tengah kota, Louis mengikuti arah jalanan. Tidak tau Angel akan ada disana atau tidak, yang terpenting dia harus tetap berusaha. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Angel dan janin yang ada dalam kandungan istrinya itu.
Dan tepat disaat dirinya sudah hampir putus asa mencari keberadaan Angel hampir tiga jam, ponselnya bergetar. Nama Angel muncul pada layar ponselnya yang kemudian, ia sambar dengan cepat.
“Halo. Kamu dimana?” sentak Louis membuat Angel diam tak menjawab. “Sayang, aku sedang nyari kamu. Kamu dimana?” lanjut Louis dengan suara panik yang tidak bisa ia sembunyikan sama sekali.
“Maaf. Aku tidak mendengar kamu telepon, sayang. Aku sedang sibuk.”
Sibuk? Memangnya apa yang membuat Angel sibuk setelah Louis memintanya untuk berhenti bekerja dan tidak melakukan hal yang memberatkan dia?
“Apa maksud kamu?” tanya Louis, masih dengan suara yang terdengar bergetar oleh rasa takut.
“Ah, ini. Aku sedang ada dirumah papa mama kamu.”
Louis membolakan kedua matanya. Mengapa dia tidak terpikirkan oleh hal itu? Memangnya, apa yang membuat Angel sampai datang ke sana dan sibuk? Louis sudah berfikir buruk jika mamanya lah yang meminta Angel datang kesana dan mengerjai istrinya.
“Mama yang suruh kamu kesana?” tanya Louis memastikan dugaannya.
“Eum. Iya.”
Rahang Louis mengeras. Mengapa namanya itu tidak berhenti mengganggu dirinya dan Angel. Louis semakin khawatir jika mamanya akan melakukan hal buruk pada Angel dan calon anaknya.
Louis menepikan mobil setelah menemukan tanda bebas parkir. Ia ingin fokus berbicara dengan Angel.
“Sayang, mengapa kamu datang tanpa aku. Tunggu aku disana. Jangan kemana-mana. Abaikan semua kata-kata mama. Oke?”
Tidak lagi membuang waktu dan menunggu jawaban dari Angel, Louis mengakhiri panggilan dan kembali memutar kemudi menuju rumah mamanya. Rasa takut terjadi pada Angel jadi berkali-kali lipat saat ia tau Angel berada dirumah utama, atas permintaan sang mama, dan sedang bersama mamanya.
__ADS_1
“Mama kenapa sih?” gerutunya sebal karena mamanya tidak pernah berhenti ikut campur dalam hidupnya. Semua kekesalan Louis bertitik pada keposesif ibunya. Ia bersumpah tidak akan lagi mau menginjakkan kaki di rumah itu jika terjadi sesuatu pada Angel.
Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu kini sudah terparkir begitu saja di depan rumah megah milik papa dan mamanya. Louis bergegas turun, berlari mendaki anakan tangga teras, lalu menerjang pintu begitu saja tanpa peduli jika terjadi sesuatu dengan pintu tersebut dan sang mama akan memarahinya habis-habisan.
“Angel. Sayang?” panggil nya dengan suara menggelegar memenuhi seantero ruang tamu.
Tak ada tanggapan, Louis berlari ke ruang tengah yang ternyata juga sepi akan tetapi aroma harum kue dari dalam alat pemanggang menyapa hidungnya. Langkahnya berubah lambat, jantung yang semula berdebar dan takut kini sedikit merasa tenang, hingga pemandangan yang ia saksikan kini, membuat Louis tidak percaya.
“Hai sayang?” sapa Angel ketika tanpa sengaja berbalik dan menemukan sosok Louis berdiri di ambang pintu dapur.
Sapaan Angel, sontak membuat sang mama ikut menoleh, kemudian tersenyum.
“Kamu ngapain?” tanya Louis dengan ekspresi datar. Benar-benar datar seperti meja makan yang ada tidak jauh dari Angel berdiri.
Angel tersenyum hangat, berjalan mendekatinya, lantas menyodorkan satu potong kue sponge yang berhasil ia buat bersama Jenita satu jam yang lalu.
“Bikin kue sama mama.” jawab Angel tenang, semakin mendekatkan kue pada bibir Louis dan berakhir mendapat satu gigitan besar yang membuat hati Angel lega.
Mendengar jawaban tersebut, Louis pun mengubah tatapan matanya pada sang mama. Ia masih bingung dengan keadaan yang ia dapati saat ini. Bagaimana mamanya bisa dekat dengan Angel, tanpa hujan, tanpa angin? Apa mamanya punya rencana baru untuk mengacau dirinya dan Angel?
“Nggak usah natap mama kayak gitu. Angel nggak mama apa-apain kok.” kata Jenita sambil meraih cetakan kue kering berbentuk Bunya dan mencetaknya diatas loyang yang sudah diberi mentega.
Tatapan Louis menyorot Angel, mengisyaratkan untuk sebuah pertanyaan ‘Apa yang terjadi?’.
“Mama mau belajar bikin kue sama aku, sayang.” kata Angel dibumbui sedikit kebohongan agar Louis tidak lagi mencurigai mamanya sendiri.
“Tapi kamu nggak boleh kecapean.” protes Louis tidak terima. Ini sama saja jika Jenita berusaha menyakiti Angel dengan dalih meminta tolong untuk membuat kue.
“Aku nggak apa-apa,” bisik Angel, memberi isyarat agar Louis tidak perlu khawatir akan keadaannya. “Mama yang melakukan semuanya, dan aku hanya memberi instruksi.”
Louis memicingkan mata. Ia tidak mau percaya begitu saja. Ia tau peringai mamanya seperti apa. Jadi, dia tidak akan begitu saja menerima pengakuan Angel yang mungkin, sudah disiapkan jauh-jauh sebelum kedatangannya kesini. Ia kembali mengintip keberadaan sang mama dari balik baju angel, yang sekarang, mamanya itu sedang sibuk dengan adonan dalam cetakan kerucut yang di ujungnya ada benda mengkilat seperti aluminium. Mamanya sedang sibuk mencetak kue kering.
Louis tercengang. Ia menatap Angel dan sang mama secara bergantian.
“Jadi—”
Angel meraih telapak tangan Louis dan menggenggamnya erat. Ia berharap Louis percaya dengan kenyataan.
“Tunggu kue buatan kami jadi diruang tengah.” titah Angel dengan suara yang sengaja dibuat agak sedikit keras agar Jenita ikut mendengar. Lalu, dengan gerakan kaki dan canggung, Louis berdiri.
“Baiklah. Aku akan menonton berita di televisi.”
Angel tersenyum. Ia membisikkan terima kasih karena Louis dengan cepat memahami maksudnya berbicara seperti itu. Dan suami kesayangan Angel itupun berlalu, menghilang dibalik dinding yang memisahkan ruang tengah dan dapur. Sedangkan Angel, kembalikan mendekati Jenita. Ia duduk di kursi yang tidak jauh dari mama mertuanya itu.
“Louis pasti tidak akan pernah mau menerima permintaan maaf dariku.”
Angel hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia tidak menyalahkan sikap skeptis Jenita akan penolakan Louis pada permintaan maafnya, lantaran memang sudah ternilai buruk bagi Louis.
“Tidak. Mama sudah tau bagaimana seorang Louis bukan?”
Tentu, Jenita sangat tau bagaimana peringai kedua putranya. Dia yang merawat dan membesarkannya sejak bayi.
Jenita mengangguk.
“Biar Angel yang melakukan itu. Mama temani dan bicara dengan Louis saja di ruang tengah.”
__ADS_1
Diam-diam Jenita sangat mengagumi sosok Angel yang sangat dewasa dan pandai menghangatkan situasi. Menantunya itu sangat baik, dan Jenita menyesal sudah membuat wanita sebaik Angel, pernah terluka oleh sikap dan ucapannya.
Angel mengambil alih adonan kue dari tangan Jenita, kemudian tersenyum dan meminta sang mama untuk segera menemui Louis dan berbicara banyak dengan dia.
“Terima kasih.” ucap Jenita yang sudah berdiri dan sekarang berjalan menuju ruang tengah, dimana putranya berada.
***
Louis memperhatikan televisi yang menyiarkan salah satu drama dari stasiun televisi miliknya. Ia akan memperhatikan dan menilai bagaimana kinerja tim yang mengurus bagian drama.
Hingga kehadiran Jenita menyita perhatiannya.
“Lihat apa?”
Pertanyaan basa-basi yang terdengar sangat canggung. Louis pun menjawab tak kalah canggung dari pertanyaan yang dilontarkan sang mama.
“Drama yang disiarkan anak-anak studio.”
Wah, pembicaraan yang sungguh berfaedah. Padahal selama ini, jika mereka bertemu begini, paling tidak yang dibahas itu tentang pasar saham, tentang bisnis masa depan, dan masih banyak lagi topik berat yang berhubungan dengan hal yang bisa menambah wawasan usaha dan menghasilkan uang.
“Mama yang minta Angel datang kesini.” aku Jenita tidak ingin membuat Louis salah paham pada sang istri.
Louis yang sudah mendengar terlebih dahulu dari Angel, hanya mengembuskan nafas besar dari hidungnya.
“Angel itu nggak boleh melakukan sesuatu yang memberatkan dia dan kandungannya, ma. Kenapa mama nggak kasih tau Louis aja dulu.” kata Louis sambil memutar pandangan untuk sang mama.
“Mama takut kamu nggak ngizini dia.”
Kedua bahu Louis luruh, ia tidak yakin dan percaya sepenuhnya pada ucapan Jenita. Hanya terus berusaha untuk bicara jujur dari hati.
“Kalau memang tujuan mama baik, Lou tidak akan pernah melarang Angel bertemu mama. Tapi, mama tidak suka dengan kehadiran Angel bukan? Jadi Lou hanya berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu pada istri dan calon anak Lou.” kata Louis jujur tak ingin menutupi apapun kepada mamanya. Terlebih Jenita yang memang tidak suka dengan Angel, membuat Louis was-was.
“Mama menyesal melakukan itu pada kalian.”
Louis masih diam mendengarkan.
“Mama sadar jika mama salah selama ini. Jadi mulai sekarang, mama ingin memperbaiki semuanya. Mama ingin menerima Angel dan calon cucu mama.” []
###
...Curhat dikit....
Abaikan jika tidak suka.
Mohon maaf untuk update ceritanya sedikit molor beberapa hari ini. Author sedang kurang fit. Kepala rasanya kliyengan kalau dibuat ngetik.
Terlepas dari kesehatan author yang sedang kurang bersahabat, ada satu hal yang membuat author merasa down dan ingin sekali berhenti menulis yang tidak bisa author ceritakan dengan bebas disini.
Untuk pembaca yang sudah tulus menemani Vi's berjuang menulis di sini, terima kasih sudah meluangkan waktu kalian yang berharga untuk mendukung karya tulis Vi's yang mungkin jauh dari kata sempurna. Jika nanti suatu saat kalian tidak lagi dapat notifikasi update dari author, mohon jangan kecewa. Mungkin saat itu terjadi, author sedang berada di titik lelah untuk berkarya, dan memilih menyerah.🙏
🥺
Demikian sedikit unek-unek yang ingin author bagi kepada kalian.
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Deep love, ❤️
Author Vi's