My Angel Baby

My Angel Baby
Ajakan Menjadi Pacar ... ... Sementara


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|22. Ajakan Menjadi Pacar ... ... Sementara|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Louis tidak pernah menduga jika ia lahir ke dunia ini dengan kisah percintaan yang tertulis miris. Ingin mengeluh, tapi ini sudah garis tangan Tuhan menciptakan dirinya. Mau tidak mau, dia hanya harus mengikuti arus sebagai hamba yang taat.


Hari ini, dia berencana pergi ke tempat ibadah lebih pagi untuk merenung.


Penampilannya pagi ini tidak akan pernah gagal membuat siapa saja yang melihatnya kagum dan terpanah, tak terkecuali dua asisten rumah tangga keluarga yang memang selalu memuja-muji anak tuan mereka yang sangat tampan itu. Kemeja pas body berwarna biru langit, celana bahan hitam, sepatu pantofel hitam yang terlihat elegan, dan tidak lupa rambut yang disisir rapi kemudian di pomade, serta aroma musk bercampur rempah yang begitu mencerminkan kepribadian Louis yang tenang menjadikan pria tiga puluh tahun itu terlihat begitu mempesona.


Ia berjalan keluar area rumah menuju mobil pribadinya sambil membawa Bible di tangan kiri. Biasanya, dia akan pergi bersama mama dan papa ke tempat ibadah yang sama yang selalu mereka datangi bersama setiap minggu selama bertahun-tahun. Namun kali ini, untuk pertama kalinya Louis tidak ingin kesana. Beberapa waktu lalu dia melihat tempat ibadah di dekat kantor yang baru saja diresmikan, dia ingin menjadi jemaat disana, terlebih setelah kejadian dua hari lalu tentang perjodohan itu hubungan Louis dan mamanya berubah sedikit canggung setelah ada perselisihan kecil yang terjadi setelah keluarga Tantono meninggalkan kediaman mereka.


Setelah duduk di kursi kemudi dan meletakkan Bible nya di atas dashboard depan, Louis berdo'a meminta keselamatan, kemudian membuat gerakan menyentuh perpotongan kedua alis, lalu kedua sisi depan bahu kanan dan kiri, kemudian mengecupnya singkat. Ya, dia selalu melakukan itu setiap akan memulai hari. Mama dan papa yang mengajarkannya untuk selalu berdo'a dan mengingat Tuhan sebelum melakukan sesuatu. Sama seperti agama lainnya yang juga selalu memulai hari mereka dengan cara do'a yang berbeda-beda agar semua dilancarkan dan diberi kemudahan.


Mobil bergerak keluar pekarangan, melewati pagar otomatis dan roda mulai menggesa jalanan kompleks menuju tempat yang menjadi tujuan.


Sepanjang perjalanan, hening menemani Louis. Hanya sesekali bunyi lampu sign yang dinyalakan sebagai tanda untuk kendaraan lain agar memberinya ruang, atau bunyi beep kecil sebagai pengingat otomatis dari mobil ketika Louis melakukan sebuah kesalahan ketika berkendara.


Hingga tanpa sengaja kedua manik matanya melihat sosok Angel yang tengah duduk di salah satu halte bus yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggal perempuan tersebut.


Louis memutar kemudinya ke arah kiri perlahan-lahan setelah menyalakan lampu sign. Ia mendekat di tempat Angel berada. Sesampainya, ia menurunkan kaca jendela mobil dan tersenyum menyapa Angel.


“Hai, Ngel.”


Angel ya semula memperhatikan arah bus datang, kini mengalihkannya pada sosok Louis yang ada didalam mobil dan tersenyum padanya.


“Eh, pak Louis. Mau kemana, pak? Kantor?”


Tumben hari Minggu Louis lewat sini? Padahal seingat Angel, dia tidak pernah melihat Louis sekalipun lewat di jalan ini ketika hari minggu selama dia tinggal disini.


“Tidak. Saya mau ke tempat ibadah dekat kantor yang baru diresmikan minggu lalu.”


Wah, Angel juga mau kesana.


“Kamu mau kemana?” tanya Louis masih bertahan di posisinya berhenti.


“Saya juga mau kesana, pak.”

__ADS_1


Melihat penampilannya, Louis juga sudah menebak jika Angel akan melakukan ibadah seperti dirinya. “Kalau begitu bareng sama saya saja.” teriak Louis mempersilahkan Angel berangkat bersama dirinya saja dari pada menunggu bus. Bisa jadi teman ketika mengemudi, pikir Louis. “Yuk!” kata Louis, kemudian menekan salah satu tombol yang membuat pintu depan terbuka begitu saja. “Ayuk. Nggak apa-apa bareng saya saja.”


Angel terlihat ragu, namun tidak ingin menyinggung Louis, memilih untuk berdiri dan masuk ke dalam mobil mewah milik atasannya tersebut. Wajahnya merona ketika aroma khas seorang Louis menyapa hidungnya.


“Maaf ya pak, jadi merepotkan.” katanya sambil meraih seatbelt dan memakainya dengan lancar tanpa hambatan.


“Enggak. Mumpung searah. Biar ada teman ngobrol juga.” katanya berdalih, kemudian menjalankan mobil.


“Tumben bapak ibadahnya di daerah sini?” tanya Angel ingin tau. Matanya tidak sengaja menangkap Bible milik Louis diatas dashboard depan mobil. Ada dua huruf inisial yang tercetak di sudut sampul kulit berwarna biru tua yang membungkus Bible itu. LC. Coba tebak, apa kepanjangan dari dua huruf bergaya Handswriting itu.


Louis lagi-lagi tersenyum.


“Iya, lagi pingin cari suasana baru saja.”


Angel mengangguk setuju. Ia juga pernah seperti ini. Selain mendapat suasana baru, ia juga akan mendapat isi ceramah yang beragam dan bisa di petik hikmah positifnya.


Hening sejenak. Akan tetapi Louis kembali bicara. Isi pembicaraan yang krusial, layaknya curahan hati.


“Saya juga sedang ada sedikit selisih sama mama.” Angel menoleh, melihat pada pahatan Tuhan yang begitu sempurna yang ada disampingnya itu dengan ekspresi ingin tau yang ia simpan dan tahan di tenggorokan.


“Dua hari lalu, mama ngundang teman lamanya untuk makan malam ke rumah kami.” kata Louis memulai cerita, yang membuat dirinya dan sang mama akhirnya berselisih paham. “Tapi, makan malam itu punya tujuan lain yang sama sekali tidak meleset dari dugaan saya.”


Angel masih memperhatikan lekat meskipun Louis tetap fokus ke depan saat berbicara.


Angel merasa ngilu dan sakit di hatinya saat mendengar itu. Bulu di sekujur tubuhnya bahkan terasa merinding ketika suara rendah Louis menyampaikan kabar yang membuat dia merasa bak dihujam meteor dan di sambar petir di siang bolong.


“Mama pak Louis pasti sudah memilih yang terbaik untuk masa depan bapak—”


“Tapi saya sudah melakukan penolakan halus kepada mereka.”


Angel membolakan kedua matanya yang hari ini sedikit dipercantik oleh eyeshadow berwarna peach yang senada dengan warna bibirnya. Angel terlihat begitu cantik dan cute hari ini. Berbeda dengan ketika ia berada di area kerja dengan penampilan casual khas pegawai kantoran.


“Saya bilang sama mama saya, kalau saya harus membicarakan ini terlebih dahulu dengan pacar saya.”


Angel ingin menyemburkan tawa. Tapi melihat wajah sendu Louis, semua itu urung ia lakukan.


“Dan sekarang saya bingung, karena mama meminta wanita yang saya sebut sebagai ‘pacar’(sambil mengangkat kedua tangan dari stir mobil dan membuat tanda kutip dengan kedua jari telunjuk juga kedua jari tengah secara bersamaan) itu, untuk datang kerumah dan bertemu mama.”


Tawa itu sudah tak tertahankan dan lolos dari bibir Angel. Ternyata, semua orang yang terlihat sempurna itu, tidak sesempurna kelihatannya. Contohnya pria ini, pria yang selalu berhasil membuat hati Angel berdebar, pria yang selalu mencuri perhatian kaum hawa, dan pria yang selalu disorot atas kesuksesan yang tentu saja terlihat amat sangat sempurna dimata siapapun ini, ternyata memiliki sisi lain yang belum pernah diketahui oleh orang lain. Mungkin Angel adalah salah satu orang beruntung yang bisa tau akan hal rahasia ini.


“Jadi, bapak sedang mencari pacar, sekarang?” tanya Angel di imbuhi tawa kecil yang membuat Louis juga terkikik geli dengan sikapnya sendiri.


“Iya. Tapi mama pasti bisa tau dengan cepat kalau aku berbohong, melakukan settingan pacar palsu dengan orang asing.”

__ADS_1


Angel menelan ludah, bahkan hampir tersedak karena tawanya semakin kencang. Louis ternyata orangnya lucu.


“Ya kalau begitu, cari teman dekat bapak saja. Atau, orang yang bapak dan nyonya Hutama kenal. Pasti nanti mama bapak percaya.” usul Angel ini bisa diterima oleh otak genius Louis yang sekarang sedang kacau hingga si empu terlihat seperti orang bodoh.


Louis mengangguk setuju. Usul yang dikatakan Angel benar-benar briliant. Tapi masalahnya, siapa orangnya?


Otak Louis mulai menelisik isi ponselnya. Mengingat-ingat nama dan nomor kontak teman atau relasi yang ia kenal baik dan bisa di ajak bekerja sama dengan baik. Bahkan ia sampai menelisik semua nama yang ada pada grup SMP dan SMA yang ia ikuti sejak lama, sejak grup sekolah itu dibuat beberapa tahun silam.


Ada beberapa nama yang muncul menjadi kandidat. Tapi mereka pasti sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan berakhir menolak permintaan tolongnya yang terlalu ambigu. Louis mengurungkan niatnya, tidak jadi memilih teman sekolah. Itu bukan opsi yang baik.


Lalu, ia mulai mencari lagi kontak di ponsel yang bisa ia hubungi, dan nama Angel terselip disana. Ah, kenapa tidak kepikiran sejak tadi sih?


Louis menoleh sejenak untuk menilik keheningan Angel, lalu tersenyum. Ia ingin mengajaknya berkompromi. Semuanya tidak akan gratis, Louis akan memberikan kompensasi jika Angel bersedia. Semoga saja perempuan itu mau dan tidak merasa sedang direndahkan olehnya.


“Kalau ... misalkan aku minta tolong sama kamu, apa kamu mau?” tanya Louis ragu. Mobilnya sudah hampir sampai di lokasi tempat ibadah ketika mengatakan itu kepada Angel. Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati padanya pagi ini.


“Sa-saya?” jawab Angel terbata sambil menunjuk dadanya.


“Iya.” tapi sedetik kemudian. “Ah, lupakan. Kamu boleh menolak dan melupakan apa yang baru saja—”


“Kalau saya, apa nyonya Hutama tidak malah curiga?”


Benar juga. Tapi, Louis bisa beralibi untuk menutupi semua itu.


“Kita bisa bekerja sama dan membangun chemistry seperti drama.”


Angel hampir lupa jika Louis adalah pemilik sebuah stasiun televisi yang tentu saja tau banyak hal tentang sebuah cara membangun chemistry.


“Sa-saya tidak percaya diri, pak.”


Louis menoleh sejenak. Fokusnya kembali ke depan saat mobil memasuki area parkir yang sudah hampir penuh. Louis belum memberikan jawaban. Ia sibuk melihat kaca spion dan memutar stir kemudi untuk memarkir mobil. Dan setelah rem tangan di tarik ke atas dan mesin dimatikan, Louis kembali fokus pada wajah Angel yang entah mengapa pagi ini terlihat begitu manis dan cantik dalam waktu bersamaan.


Tubuh ramping dalam balutan kemeja cream dan celana jeans coklat tua, rambut berwarna pirang yang menggantung di bagian ujung bawahnya secara alami. Bibirnya yang lembab, mata bulat sedikit ke abu-abu-an yang diberi pemanis eyeshadow berwarna peach yang sangat cocok, alis tebal membentuk bulan sabit natural yang tertata rapi tanpa di beri penebal warna oleh eyebrow, serta bulu mata lentik yang tersapu maskara tipis namun begitu nyata menghasilkan aura berbeda pada garis wajah si gadis, berhasil menghipnotis seorang Louis.


Benar-benar cantik.


“Tolong bantu saya.” pinta Louis tulus dan berhasil mengundang tatapan mata Angel untuk terkunci dengan manik coklat milik pria rupawan ini. “Saya harap, dan juga mohon sama kamu, Angel. Bantu saya. Kamu bersedia jadi pacar sementara saya, kan?” []


###


Tolak atau terima?


Cuma pacar sementara lho gurls

__ADS_1


__ADS_2