
Senyuman kecil di bibir yang bergincu merah merekah membuat penampilan Eri semakin terlihat seksi.
Wajahnya semakin berbinar saat melihat laporan yang baru saja dia terima dari anak buah rampasannya.
Eri sedang menikmati senang dan mudahnya hidup sebagai seorang pemimpin, meski apa yang dia dapatkan telah membuat nyawa beberapa orang melayang. Tapi cukup sepadan dengan apa yang dia berikan pada anak buahnya yang Eri beri cukup banyak kelonggaran daripada pimpinan terdahulu.
"Kerjamu sangat cepat dan akurat. Aku suka dengan kinerja mu" puji Eri pada pria yang dia utus untuk mencari informasi mengenai Sam.
"Terimakasih, bos" kata pria itu senang, selama bekerja untuk Norita tak pernah sekalipun terdengar pujian dari madam tua itu, dan saat bosnya yang lebih muda ini sangat menghargai hasil kerjanya, rasa percaya diri pada pria itu semakin meninggi.
"Jadi, sang pangeran benar-benar sedang jatuh hati pada upik abu yang berada dalam genggamanku" gumam Eri.
"Bagaimana kalau penyaluran dendam ini kita tujukan pada sang pangeran saja terlebih dahulu? Anggota termuda dari klan Alexander yang masih minim pengetahuan tentang kehidupan" masih bergumam, Eri merasa senang karena dendamnya akan segera terbalas.
"Aku punya satu tugas lagi untukmu, Frans" ucap Eri pada pria yang bernama Frans, pria pembawa informasi tentang Sam.
"Ah kesaalll!!! Kemana sih lo Lian?" teriak Sam di tengah taman kota yang sudah sepi di suasana malam ini.
Tadi setelah dari kantor papanya, Sam masih tak ingin kembali ke rumah Gita. Tujuannya kali ini adalah sebuah taman kota yang jarang dikunjungi selain saat weekend.
"Harus kemana lagi gue nyari lo?" tanya Sam pada dirinya sendiri.
"Oh, atau besok pagi gue ke rumahnya saja dan bertanya pada ayahnya? Ehm, sepertinya memang lebih baik begitu" kata Sam masih bergumam.
Sam duduk dengan sebotol soft drink di tangannya. Hingga selarut itu, remaja pria itu masih belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya. Hanya bekal buatan Gita yang telah habis dia lahap tadi siang saat istirahat.
Kriuukkk....
"Ah, perut gue lapar" kata Sam sambil memegangi perutnya yang berbunyi cukup keras di suasana sepi begini.
"Pulang sajalah. Kangen masakan tante Gita yang lezat" gumam Sam.
Remaja itupun memasang resleting jaketnya, memakai helm dan bersiap pulang.
"Lagian kenapa cepat banget sih si Lian masuk ke dalam hati gue? Perasaan dulu proses pendekatan gue sama Mila sampai kita pacaran tuh lama banget. Dan usaha Mula buat menarik perhatian gue juga nggak main-main" Sam masih saja bergumam meski sudah berkendara.
"Lah ini si Lian bisa dengan mudahnya masuk ke dalam hati gue tanpa ada usaha loh. Bahkan gue yang tiap hari rugi karena harus ngasih dia sarapan" pikir Sam.
Tanpa Sam sadari, ada sebuah suara yang memanggilnya dengan nyaring saat harua berhenti di lampu merah.
"Saam... Saamm ..." teriak Mila yang berada di dalam mobil Nathan.
Namun kerasnya teriakan Mila tak terdengar oleh Sam yang pikirannya sedang tidak fokus.
"Dimana sih ada Sam?" tanya Nathan yang celingukan mencari orang yang juga dia kenali itu di dalam mobil di sekitarnya yang juga masih berhenti karena lampu merah.
"Itu, yang naik motor matic warna coklat tua di sana, yang pakai jaket jeans warna navy, Nat" kata Mila sambil menepuk pundak Nathan karena gemas.
"Sam naik motor? Ngarang lo Mil" kata Nathan tak percaya.
"Mana ada pangeran dari dinasti Alexander naik motor?" kata Nathan lagi.
"Gue nggak bohong, Nat. Itu Sam disana. Coba deh lo lihat" kata Mila sambil menunjuk ke arah Sam yang berhenti di barisan para pemotor, berbaris rapi sebelum garis putih zebra cross.
Sementara Nathan dan Mila berada dibelakangnya dan agak ke tengah. Dan Sam berposisi di palung pinggir berdekatan dengan trotoar.
Mila tak tahan. Sebenarnya dia sangat merindukan Sam bukan hanya sebagai pacar ATM nya, tapi juga sebagai pacar hatinya.
"Stop Mil, lo jangan turun sembarangan. Bentar lagi lampu hijaunya mau nyala" kata Nathan sedikit panik saat Mila yang tiba-tiba membuka pintu mobil dan keluar.
__ADS_1
Tapi sial bagi Mila, karena begitu dia keluar, lampu hijau sudah menyala. Hingga membuat deretan mobil yang berada di belakangnya harus membunyikan klakson secara berjamaah.
"Iya-iya sorry" gerutu Mila sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada sebagai tanda permintaan maaf pada pengendara lain.
"Gila sih lo Mil" kata Nathan.
"Kita kehilangan jejak Sam, Nat" keluh Mila yang kini menutup wajah sedihnya. Memang seseorang terasa begitu berarti saat dia sudah pergi, begitupun yang Mila rasakan. Bukan hanya dompetnya yang merindukan Sam, tapi ternyata hatinya juga.
"Memangnya lo yakin itu si Sam?" tanya Nathan menegaskan lagi.
"Iya, gue sangat yakin kalau itu Sam" rengek Mila.
Nathan semakin merasa heran. Sebenarnya kemana Sam pergi? Pihak sekolah menutupi alasan kenapa dan kemana Sam pindah. Tak ada seorangpun yang tahu berita tentang Sam selain kepala sekolah dan TU yang sudah disuruh untuk tutup mulut.
Sementara Sam sendiri tak mendengar teriakan Mila yang menyebut namanya. Karena selain memakai helm, rupanya Sam juga sedang memutar lagu rock untuk mengurangi rasa gundah dalam hatinya.
Hingga sampai ke teras rumah Gita, Sam baru melepaskan perlengkapan berkendaranya dengan gerakan malas.
"Aku pulang. Tante masak apa malam ini?" tanya Sam begitu memasuki rumah dan melihat Gita yang tengah dipijit oleh suaminya.
"Sayang sekali, tantemu tidak masak untuk makan malam karena kurang enak badan, Sam" jawab Tomi, suami Gita.
"Maaf ya Sam. Kamu delivery saja ya" kata Gita.
"Yah, sial banget sih hari ini. Padahal Sam lapar loh, tan" rengek Sam seperti anak kecil.
"Kasihan sekali. Begini saja deh, kamu mandi dulu, biar Tante saja yang memesankan makanan untukmu. Kamu mau makan apa?" tanya Gita sambil menikmati nyamannya pijatan sang suami.
"Tante jadi tersanjung, Sam. Cepat katakan kamu mau makan apa?" tanya Gita yang sudah siap dengan ponsel di tangannya.
"Apa saja deh tan. Terserah tante. Sam lagi males mikir" jawab Sam sambil berlalu.
"Ngambek atau lagi ada masalah sih, yang?" tanya Gita pada suaminya.
"Tanya kakaknya saja" jawab Tomi sambil mengendikkan bahunya.
Tak jadi memesan makanan, Gita malah menelepon Lia sesuai anjuran suaminya.
"Iya halo, ada apa kak?" tanya Lia setelah sambungan teleponnya diangkat.
"Adikmu itu lagi ada masalah, Lia?" tanya Gita.
"Sedikit kak. Tapi biarkan saja, nanti biar Lia yang mengatasi masalahnya. Memangnya kenapa kak?" tanya Lia.
"Ya nggak apa-apa sih, cuma nggak seceria biasanya. Aku takutnya dia ngambek, soalnya kakak nggak masak karena nggak enak badan, lah si Sam datang langsung tanya makanan" kata Gita menjelaskan.
"Waktu kakak suruh DO makanan saja, dia bilang terserah" lanjutnya.
"Oh, yasudah. Sebentar lagi biar Lia suruh orang untuk mengirim makanan ke sana ya kak. Kakak nggak usah repot-repot mengurus bayi besar itu" ujar Lia.
"Yasudahlah, terserah kamu. Kakak tutup ya teleponnya. Takut adikmu mendengar" kata Gita.
__ADS_1
"Iya kak, mungkin tigapuluh menit lagi makanannya sampai" ujar Lia yang selalu ontime.
"Oke. Bye Lia" jawab Gita sambil mematikan ponselnya.
Benar saja, sesaat setelah Gita menutup panggilannya, Sam datang dengan wajah yang sudah segar meski masih terlihat sayu.
Remaja itu segera bergabung dengan Gita dan suaminya yang sedang menonton televisi.
"Kamu nggak apa-apa Sam?" tanya Gita.
"Nggak apa-apa, Tan" jawabnya singkat.
"Patah hati, Sam?" tebak Tomi.
"Bagaimana om bisa tahu?" tanya Sam berpura-pura terkejut.
"Kau lembek sekali. Patah hati itu masalah mudah, sebagai seorang lelaki, pantang untuk bermellow ria seperti itu. Lakukan banyak hal positif agar rasa sedihmu teralihkan" saran Tomi.
"Om nggak tahu rasa sakitnya, sih" keluh Sam sambil memegangi dadanya.
"Sakit yang tak berdarah, om" imbuhnya lebih mendramatisir keadaan.
"Om ini lebih tua darimu, Sam. Tentu om juga pernah merasakannya. Tapi lelaki sejati harus kuat. Masih banyak yang harus kita kerjakan selain berdiam diri dengan pikiran kusut begitu" ujar Tomi.
"Kamu pernah patah hati, yang?" tanya Gita.
"Pernah lah" jawab Tomi.
Gita memicingkan matanya, seperti wanita pada umumnya yang selalu merasa tak nyaman saat pasangannya sedang membicarakan masa lalu. Tapi tetap saja para wanita suka sekali memancing pertanyaan yang akhirnya pasti akan membuat mereka ngambek.
"Tapi kau datang sebagai obat untuk menutupi luka di hatiku, sayang" kata Tomi.
Gita malah memanyunkan bibirnya. Kode keras dari seorang wanita yang sedang marah.
"Kaupun juga sama, Sam. Nanti pasti akan ada wanita yang lebih baik. Seperti om yang menemukan tantemu yang cantik dan pandai memasak ini" ujar Tomi sambil mencolek dagu Gita yang terus saja manyun.
Tok ... Tok... Tok...
Tamu yang datang menghentikan gurauan Sam, Gita dan Tomi.
"Biar aku saja yang buka pintunya" kata Gita yang meyakini jika itu adalah orang suruhan Lia.
Dan benar saja, saat Gita sudah kembali memang dia membawa banyak makanan di kedua tangannya yang langsung dia letakkan di meja, bukan di tempat makan.
"Nggak makan di meja makan, tan?" tanya Sam.
"Sudah, disini saja tidak apa-apa. Sambil nonton TV, Sam" ujar Tomi.
"Terserah sih" jawab Sam yang belum pernah sekalipun makan di ruang TV.
.
.
.
.
__ADS_1
.